
“Aku ingin taaruf dengan seseorang, dia gadis yang baik, hanya beberapa kali bertemu” Radian menambahkan.
Sebentar….gadis yang baik, hanya beberapa kali bertemu? Ganis mencerna kalimat itu, dia merasa bertemu dengan Radian sudah ratusan kali, karena memang bekerja di tempat yang sama dulunya. Kaki Ganis terasa agak lemas sekarang.
“Dia gadis yang pemalu, tapi dia gadis yang cantik, dia mirip kamu, dari tingginya, perawakannya, mirip, makanya aku meminta bantuanmu untuk memilih semua ini, aku yakin ukuran baju dan cincin akan sama, ya…paling selisih sedikit.
Duaaar……
Seakan petir menyambar, kaki Ganis terasa semakin lemas mendengar itu semua. Ganis mengatur nafas dan emosinya, jangan sampai kecewanya terlihat di depan Radian saat ini juga.
“Kamu nggak keberatan kan dengan yang kamu lakukan tadi?”
Ganis menggeleng pelan, tak sanggup jika menjawab dengan kata, tenggorokannya terasa sakit.
“Terima kasih sudah banyak membantu, aku bingung harus minta tolong ke siapa, terus kepikiran kamu, ya sudah, terima kasih ya” Radian menarik tangan Ganis , menggenggamnya erat, Ganis menunduk menyembunyikan rasa kecewanya. Menghirup nafas panjang-panjang agar dia benar-benar bisa menguasai emosinya.
“Sama-sama mas” balas Ganis, kini dia mencoba mengangkat kepalanya, mengatur nada suaranya
agar terdengar normal. Tak lupa dia menyunggingkan senyum di bibirnya.
“Kamu memang teman yang baik” Radian melepaskan tangan Ganis. “Ayo aku antar kamu pulang” pinta Radian, tangan kirinya membukakan pintu untuk Ganis.
“Oh, maaf mas, aku nggak bisa pulang bareng” Ganis menolak.
“Oh kenapa?” tangan Radian masih memegang pintu terbuka tersebut.
“Aku lupa kalau ada janji dengan temanku, kebetulan mau ketemuan di sini, ini barusan dia mengirim pesan” Ganis mengangkat HP dari tasnya, dia mencari alasan agar bisa pulang sendiri.
“Jam berapa? Aku tungguin sampai temanmu kemari ya” Radian menawarkan, Ganis menggeleng pelan.
__ADS_1
“Nggak usah mas, mas Radian pulang saja, dia sudah sampai kok, aku masuk dulu ya” Ganis melambaikan tangannya dan kembali masuk ke dalam mall.
Sesungguhnya dia hanya beralasan, setelah kembali masuk ke dalam mall, Ganis kembali keluar mall dan memesan taksi online. Sepanjang perjalanan, dia menahan air matanya. Radian mau menikah, dan apa yang dia lakukan seharian ini? Hanya sebuah lelucon. Mengapa Radian tidak mengatakan dari awal, jika mengatakannya, setidaknya rasa sakit itu tidak akan sesakit ini.
Ganis membanting dirinya di sofa kamar Saga, tanpa mandi, tanpa cuci muka, masih dengan pakaian yang sama. Matanya mulai berair, air matanya tumpah dengan bebas.
***
Besok adalah hari di mana Saga akan resmi menjabat sebagai presiden direktur Arjuna Group. Sekertaris Li mengingatkan Saga agar segera pulang ke rumah mempersiapkan diri dan tidak terlalu larut dengan pekerjaannya hari ini. Saga menuruti apa yang diucapkan sekertarisnya.
Saga membuka pintu kamar yang tidak terkunci, gelap gulita.
Apakah Ganis belum pulang? Batinnya.
Segera dia menyalakan lampu kamar, saat menoleh ke arah sofa, dia terkejut. Melihat Ganis telungkup, rambutnya acak-acakan, banyak tisu berserakan di bawah sofa. Perlahan Saga mendekat ke arah sofa, dilihatnya dengan seksama, gadis itu nampaknya sedang terlelap tidur, Sebagian rambunya menutup wajahnya, namun
masih kelihatan samar-samar.
Ganis mengucek matanya, nampak sembab karena terlalu lama menangis. Dilihatnya sekeliling, di luar sudah terlihat gelap, sedangkan lampu kamar sudah menyala. Berarti Saga sudah pulang. Ganis terduduk di sofa, matanya menerawang, kakinya menjejak di lantai, rambutnya masih berantakan.
“Hoah…!” teriak Saga sesaat setelah keluar dari kamar mandi, dia terkejut melihat Ganis duduk dengan keadaan seperti itu. Ganis melirik sejenak, lalu kembali menerawang.
“Kamu seperti hantu, cepetan mandi, oh ya…sebelum mandi bersihkan kotoran-kotoran itu, dasar jorok” Saga menggosokkan handuk ke kepalanya. Tidak ada respon dari Ganis.
“Heh…!” ucap Saga, namun tetap sama, tidak ada respon dari Ganis. Air matanya kembali meleleh.
“Kamu kenapa sih? Kenapa kamu lebih menakutkan jika seperti ini!” teriak Saga, kini dia menghentikan aktivitasnya, meletakkan handuk di tempatnya dan mendekati Ganis.
“Kamu kenapa?” nadanya kini melemah, lebih ke nada lembut nan perhatian. Uhuk…
__ADS_1
Tangis Ganis semakin pecah, kini dia meraung-raung, Saga mengusapkan telapak tangan kanannya ke wajahnya sendiri, heran dengan apa yang dilihatnya.
“Ditanya malah nangis” Saga duduk di atas ranjangnya, tapi mereka berhadapan.
Ganis mengambil tisu dan mengusap air matanya, perlahan dia tenang. Dengan sembarangan dia membuang tisunya.
“Hayah….” Gerutu Saga, Ganis tidak peduli. Kini Saga duduk di samping Ganis. Membiarkan gadis itu menenangkan diri dan mau bercerita dengan apa yang terjadi. Namun Ganis masih saja terdiam.
“Kamu mau mie?” tanya Saga sambil bangkit berdiri, lalu menuju rak di mana Ganis menyimpan mie instan di sana, dia berjongkok di depan rak mini itu, tangannya mulai memilih mie.
“Atau…” Saga mengembalikan mie di rak dan menutupnya kembali, dia kembali berdiri dan berjalan mendekati Ganis. Membuang selimut yang masih digunakan menutup tubuh Ganis, rambutnya masih berantakan, lantai pun penuh dengan ceceran tisu. Saga menarik tangan Ganis, gadis itu sekarang berdiri tepat di depan Saga.
“Buruan mandi atau aku suruh mbak mbak di bawah mandiin kamu!” teriaknya. Ganis menatap Saga kesal, dia tidak ingin melakukan apapun sekarang.
“Buruan!” teriak Saga lagi, tanpa menunggu teriakan berikutnya, Ganis terpaksa masuk ke kamar mandi dan melakukan apa yang disuruh Saga.
30 menit Ganis berada di kamar mandi, Saga sudah rapi, kaos berkerah warna putih dan celana jeans sudah melekat di badannya, tak lupa mengenakan jam tangan sporty warna hitam di pergelangan tangan kirinya, tak lupa dia menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
Ganis agak terkejut saat melihat Saga sudah rapi, dia melirik sejenak penampilan Saga yang berbeda dari
biasanya. Biasanya Saga lekat dengan penampilan setelan jas dan kalau malam piya. Sekarang Saga nampak fresh.
Ganis berlalu, dilirik juga tumpukan tisu yang tadi berserakan, sudah tidak ada lagi di sana, mungkin saja Saga sudah memanggil pelayan untuk membersihkannya. Ganis menyisir rambutnya dan menguncirnya. Matanya nampak sembab karena menangis, dia mencoba menutupinya dengan poni. Ganis kembali duduk di sofa. Saga geram melihat gadis itu tidak peka dengan apa yang dilakukannya.
“Heh, ganti baju sana, kita pergi” ujar Saga.
“Kemana?”
“Biar kamu nggak meraung lagi di kamar ini, berisik!” Saga menarik tangan Ganis lagi, terpaksa Ganis membuka lemari dan memilih baju ganti yang akan dikenakan untuk keluar.
__ADS_1
Nyonya Rima dan Tuan Candra sedang tidak berada di rumah, dan Saga juga sudah berpesan kepada pelayan agar tidak menghidangkan makan malam, karena dia akan makan di luar. Tanpa bertanya lagi, Ganis mengekor mengikuti Saga masuk ke dalam mobil. Seperti biasa, Saga tidak menggunakan sopir pribadi.