
Ganis harap-harap cemas, mau tespeck saja rasanya jantungnya tidak karuan. Seolah ingin keluar dari tempatnya.
“Bagaimana kalau hanya telat biasa? Mas Saga sudah senang banget lagi” Ganis menggigit bibirnya sendiri, Saga masih belum kembali dari apotek. “Kok dia teliti banget sampai tahu jika aku telat? Aku sendiri saja lupa” Ganis menggaruk rambutnya.
Dia masih mematut dirinya di depan cermin, menyisir rambutnya. Tangannya meraba wajahnya.
“Apa aku terlihat berbeda?”
Lalu dia berdiri, melihat pantulan dirinya di depan cermin. Mengelus perutnya yang terlihat sangat rata.
“Duh…aku semakin deg-degan” Ganis kembali mengelus perutnya sebelum dia kembali duduk di kursi.
Sementara Saga sampai di apotek.
“Ada yang bisa saya bantu Mas?” tanya seorang apoteker saat melihat Saga datang, dia menggunakan masker sehingga tidak dikenali bahwa itu adalah Saga.
“Ehm…testpack mbak” ujarnya tanpa sungkan, beberapa pembeli yang ada di sampingnya nampak menoleh ke arahnya, namun Saga tidak peduli.
“Yang merk apa Mas? Ada merk A merk B dan lainnya”
“Bedanya apa Mbak?” tanya Saga, karena dia tidak tahu sama sekali apa perbedaannya.
Apoteker tersebut menjelaskan dengan seksama dari merk A hingga merk-merk yang lainnya.
“Ya sudah Mbak, saya beli semua merk dari yang murah sampai mahal” putus Saga akhirnya.
“Semua Mas?” tanya apoteker memastikan.
“Iya” jawab Saga mantap. Tanpa bertanya ulang, apoteker tersebut melayani Saga dengan mengambilkan barangnya.
Saga segera membayar semua barang yang sudah dia beli, lalu dia berjalan kembali menuju hotel yang tidak jauh dari tempatnya membeli tespack tersebut.
Hatinya benar-benar senang, entah mengapa dia sangat yakin jika Ganis sedang hamil.
Pintu kamar terbuka, Ganis duduk di sofa, dia melihat ke arah Saga yang sudah kembali menutup pintu kamar. Hatinya semakin tak karuan, Saga mendekat ke arahnya dengan membawa satu kantong plastik warna putih, yang tentunya berisi testpack.
__ADS_1
Ganis menerima kantong plastik tersebut dari Saga, tangannya terasa gemetaran, tenggorokannya tercekat. Disuruh testpek saja rasanya seperti disuruh meneguk racun.
“Ayo cobalah” Saga nampak tersenyum menyemangati. Ganis meneguk salivanya, Saga sangat bersemangat, dia benar-benar takut jika hasilnya tidak sesuai dengan keinginannya bagaimana. “Ayo sayang…jangan takut, kalaupun hasilnya tidak sesuai, aku tidak apa, kita bisa mencoba lagi” Saga menaik turunkan alisnya.
Dengan langkah yang terasa berat, bahkan sangat berat Ganis berjalan ke arah kamar mandi untuk melakukannya.
Ganis menutup pintu kamar mandi, dia berjalan mondar-mandir terlebih dahulu sambil membawa bungkusan alat tes. Dia menghela nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
Saga menunggu di depan pintu kamar mandi, juga mondar-mandir tidak jelas.
Ganis mulai membuka alat tes yang dibeli Saga, Ganis melongo saat melihat ada sekitar 10 alat tes yang dibeli oleh Saga.
“Terniat ini mah” gumam Ganis sambil membuka segel alat tersebut. Tangannya benar-benar bergetar.
Ganis kembali menghela nafasnya, dia sudah siap mencelupkan satu alat tes ke tampungan air seninya.
Dia mulai mencelupkan alat tes tersebut, tak tega, dia memejamkan mata selama beberapa menit. Memejamkan mata dengan rapatnya, jantungnya semakin bertalu-talu tidak karuan. Tangannya juga bergetar..
Saga masih mondar-mandir di depan pintu kamar mandi, bahkan dia lupa jika dia belum mandi. Tangannya terasa dingin, tidak biasanya dia merasa deg-degan parah seperti ini, tapi sekarang terasa parah.
Hampir 10 menit Ganis berada di dalam kamar mandi, bagi Saga 10 menit seperti 10 tahun, lama sekali. Ingin rasanya dia mengetuk pintu dan meminta Ganis segera keluar dari kamar mandi dengan membawa hasil tesnya.
Sebuah alat tes yang biasa yang dia gunakan pertama kali untuk mencoba, terdapat dua garis samar berwarna merah. Ganis tertegun selama beberapa waktu, dia mengedipkan matanya berkali-kali untuk memastikan jika yang dilihatnya adalah benar adanya.
“Benar apa enggak?” Ganis bergumam.
Dia meletakkan hasil tes tersebut, lalu mulai membuka alat tes lainnya dan melakukan sesuai petunjuk untuk mengetes kembali. Total 10 alat tes dia gunakan semua. Dan yang menunjukkan 2 garis ada 8, sedangkan 2 lainnya ada tulisannya “yes” itu artinya bahwa dia hamil.
Ganis tertegun masih tidak percaya, dia menutup mulutnya dengan tangan, matanya mulai berkaca-kaca, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Aku hamil?” ujarnya pada diri sendiri.
Sudah hampir 20 menit Ganis berada di dalam, Saga masih mondar mandir. Pintu terbuka perlahan, Saga melihat Ganis yang mematung di depan pintu dengan wajah tanpa ekspresi, tangannya dia sembunyikan dia belakang.
Saga menunduk, melihat wajah Ganis penuh harap. Tidak ada kata yang keluar, hanya tatapan mata.
__ADS_1
Sekilas dia melihat ada air di mata Ganis, sekiranya Ganis menangis di dalam tadi. Saga menenangkan dirinya sendiri sebelum bersiap menenangkan Ganis.
Saga mendekap istrinya, “Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa, dan kamu juga jangan bersedih ya” hibur Saga.
Ganis memundurkan langkahnya, dia mengulurkan 10 tespek yang sudah dia bersihkan tersebut ke depan. Saga melihatnya dengan seksama.
“Maksudnya apa?” tanya Saga.
Ganis tersenyum.
“Kamu hamil?” tanya Saga tidak percaya. Ganis mengangguk. “Kamu hamil?” ulang Saga dengan suara bergetar.
“Iya Mas” jawab Ganis, dia kembali terharu.
Saga memeluk Ganis erat, betapa bahagianya dia dengan apa yang dia dapatnya. Tak terasa air mata bahagianya menetes di pipi. Begitu juga Ganis, mereka berdua sedang teramat sangat bahagia.
Ganis mengusap air matanya, setelah dia melepaskan diri dari pelukan Saga.
Saga mengambil tisu dan mengelap air mata Ganis.
“Aku tidak percaya aku akan menjadi seorang Ayah” ujar Saga masih dengan suara bergetar.
“Sama Mas” Ganis meletakkan deretan hasil testpect tersebut di meja rias, dia berjalan menuju sofa dan duduk di sana, Saga mengikutinya.
“Apa kamu sedang tidak menginginkan sesuatu?” tanya Saga. “Ngidam?” Saga menjelaskan.
Ganis menggeleng, sama sekali dia tidak ingin sesuatu, atau belum. Entahlah, yang pasti dia tidak merasaka tanda-tanda yang signifikan khas orang hamil, mual muntah pun tidak.
“Aku sama sekali tidak tahu kalau aku lagi hamil” Ganis tersenyum. “Kamu terlalu teliti” Ganis mencubit pipi Saga gemas.
“Ha..ha…aku senang sekali” Saga mengepalkan kedua tangannya ke udara.
Sepanjang malam seusai makan malam, mereka bercakap dengan sangat antusias. Membayangkan bagaimana mereka nantinya akan menjadi orang tua, bagaimana Saga menginginkan banyak anak pada Ganis, sementara Ganis tidak ingin memiliki banyak anak, baginya 2 cukup.
Banyak hayalan-hayalan yang mereka pikirkan, siapa nama mereka? Laki-laki atau perempuan nanti anak pertama mereka. Bagaimana ekspresi Nyonya Rima saat tahu jika dia akan segera memiliki cucu pertama.
__ADS_1
Bagaimana dengan pemberitaan di media nantinya saat tahu jika cucu konglomerat dari keluarga Candra akan hadir di dunia ini.
Betapa mereka sangat bersyukur dengan apa yang mereka dapatkan, betapa Tuhan sangat baik kepada mereka.