Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 93 : You’re The One


__ADS_3

Tidak ada hal yang mencurigakan di kantor seharian, Ganis seharian hanya menghabiskan waktu di dalam ruangan Saga. Sesekali dia rebahan di sofa ruangan Saga, bermain HP, atau bermain di komputer yang ada di salah satu sudut ruangan Saga.


Beberapa kali Saga keluar ruangan untuk berbincang dengan sekertaris Li atau Farel. Ganis menjadi tidak enak sendiri, karena dia ikut Saga ke kantor, dia merasa Saga tidak sebebas biasanya.


Apa yang menjadi kecurigaannya tidak terbukti, tidak ada wanita seksi tadi malam wara wiri di kantor ini.


Saga membuka pintu ruangan, Ganis masih rebahan di atas sofa. Saga melepas jasnya, dan ikut rebahan, menyempil di tempat sempit itu.


“Aku sudah selesai bekerja, mau kemana setelah ini?” Saga berbisik di telinga Ganis.


“Hah sudah?” Ganis melirik jam tangannya. Saga mengangguk.


“Iya, kamu mau ngajak kemana sayang?” tanyanya masih dengan suara berbisik.


“Jangan begini, nanti kalau ada yang masuk ke ruangan bagaimana?” tanya Ganis panik, Saga melingkarkan tangannya di perut Ganis.


“Tenang sudah aku kunci, aman” ujar Saga sambil menciumi rambut Ganis.


“Si seksi kok tidak kelihatan?” tanya Ganis penasaran.


“Hehm…jadi kamu kesini mau menemani aku atau mencari dia?” tanya Saga.


“Dua-duanya” jawab Ganis.


Saga tertawa mendengar jawaban Ganis, lalu dia memainkan bibir Ganis dengan jarinya.


“Istriku kalau cemburu semakin membuatku gemas” Saga masih memainkan bibir Ganis dengan jarinya. “Sayangku…istriku….ehm…dia itu ada di anak cabang perusahaan, tidak mungkin wara wiri di sini, lagian percayalah…aku sama sekali tidak tertarik dengannya”


“Serius?” tanya Ganis, dia membalikkan badannya, menghadap Saga.


“Iya, berjuta juta rius” Saga menganggukkan kepalanya. “Besok ikut kerja lagi tidak?” tanya Saga.


Setelah ditimbang dengan seksama, maka Ganis menggeleng. Dia lelah mengikuti aktivitas Saga di kantor, meskipun dia tidak melakukan apapun di kantor, tapi badannya terasa lelah. Lebih baik dia di rumah saja.


“Beneran nih? Aku tidak apa loh kalau kamu mau ikut”


“Tidaaak, aku capek” sahut Ganis. “Tapi beneran ya, jangan macam-macam”


Tidak ada jawaban dari mulut Saga, dia memandang istrinya lekat, tanpa aba-aba, dia mencium bibir Ganis. Itu sudah cukup menjadi jawaban atas kegundahan hati Ganis.


Darah Ganis terasa berdesir mendapatkan perlakuan dari Saga, gundah hatinya perlahan mencair, sejatinya dia sangat mempercayai Saga suaminya, bahwa Saga adalah laki-laki yang bisa dia percaya dalam hidupnya. Hanya saja Ganis tidak bisa mengontrol perasaannya.

__ADS_1


Saga melepaskan ciumannya, memandang lekat Ganis, tangannya mengusap bibir istrinya dengan lembut.


“Lihat mataku, percayalah…bahwa kamu cuma satu, dan aku tidak akan pernah ada untuk orang lain dalam hal cinta” ujar Saga sambil menatap lekat mata Ganis, suatu kalimat yang benar-benar meluncur dari ketulusan hatinya.


“Aku mencintaimu Mas” ujar Ganis sambil melingkarkan tangannya di perut Saga.


“Aku lebiiih lebihhhh mencintaimu, tetaplah seperti ini”


Rasa aman, rasa tenang, tengah mereka rasakan berdua. Pada dasarnya, inti dari sebuah hubungan adalah rasa saling percaya, rasa saling menjaga, dan saling tetap jatuh cinta dengan caranya masing-masing.


***


Mereka berdua baru saja keluar dari kantor EO, Saga memutuskan menggunakan EO untuk acara perayaan syukuran pertambahan usia Nyonya Rima nantinya.


Beberapa kali Saga memijat kepalanya, terasa agak pusing. Ganis memperhatikan Saga, beberapa kali Saga mengedipkan matanya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya.


Ganis memakai sabuk pengaman dan bersiap untuk pulang.


“Mas kenapa?” tanya Ganis sambil memegang tangan kiri Saga yang sudah siap di kemudi. “Sakit?” tanya Ganis lagi. Saga menggeleng, dia tidak ingin Ganis cemas.


“Tidak apa-apa” jawabnya lalu menyalakan mesin mobil, hari sudah sore. Beberapa kali Saga terbatuk.


“Jangan bohong deh Mas” Ganis menurunkan tangannya, beralih ke dahi Saga. Terasa hangat. “Tuh kan….demam” ucap Ganis, wajahnya berubah menjadi agak panik mendapati Saga sedang kurang sehat.


“Kita ke dokter ya?” ajak Ganis.


“Tidak usah, cukup kamu saja dokter pribadiku” Saga menyunggingkan senyumnya, Ganis mencebikkan bibirnya.


“Kuat nyetir?”


“Eh jangan salah, kita akan segera sampai rumah”


Perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit terasa sangat lama bagi Ganis, hal itu karena rasa khawatirnya terhadap Saga. Belum pernah dia menghadapi laki-laki yang kini jadi suaminya itu sakit. Baru kali ini.


Ganis turun dari mobil, menunggu Saga menutup pintu mobilnya. Lalu mereka masuk ke rumah.


Saga dan Ganis langsung menuju kamarnya, Ganis melihat Saga yang nampak agak pucat sedang melepas jas dan kemejanya.


“Tidak usah mandi mas” pinta Ganis, Saga melihat istrinya, nampak Ganis terlihat mengkhawatirkannya.


“Tidak apa, lengket rasanya badanku”

__ADS_1


“Jangan Mas, nanti malah masuk angin”


“Iya…baiklah” Saga mengalah, dia masuk ke kamar mandi untuk gosok gigi dan mencuci mukanya, sementara Ganis mengeluarkan kemeja dan jas yang tadi dipakai Saga, lalu dia kembali ke kamar, membuka lemari dan memilihkan piyama untuk Saga. Piyama dengan warna abu-abu telah dia letakkan di atas ranjang, siap dikenakan Saga.


Ganis menguncir rambutnya, setelah Saga keluar dari kamar mandi, dia akan segera mandi membersihkan diri.


Beberapa kali Saga terbatuk, Ganis mendekati Saga yang hanya sebentar berada di kamar mandi. Ganis kembali memeriksa suhu badan Saga hanya dengan punggung tangannya.


“Mas pakai piyamanya dulu, aku ambilkan obat ke bawah” Ganis bergegas akan meninggalkan Saga.


“Ettts….mau kemana?” Saga menarik tangan Ganis. Ganis menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Saga.


“Mau ke bawah ambil obat”


“Mandi dulu sana” perintahnya, “Mandi dulu, aku tidak apa”


Ganis menuruti apa kata Saga, dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan segera menyegarkan dirinya.


             Saga sudah minum obat dan sudah rebahan di ranjang, Ganis memintanya untuk segera tidur setelahnya. Namun Saga tidak mempedulikan perintah Ganis.


“Jangan nakal, ayolah tidur” Ganis duduk di ranjang, tepat di samping Saga. Dia mengambil guling dan memeluknya.


“Daripada memeluk guling, mending sini peluk aku” rengek Saga, Ganis mengulum senyum melihat tingkah Saga.


“Ayo Mas..istirahat, biar demamnya lekas turun, dan kamu sehat kembali” Ganis menatap Saga sambil memasang wajah pura-pura galak. Saga beringsut, meletakkan kepalanya di pangkuan Ganis, dengan sebelumnya dia mengambil guling yang dipeluk Ganis dan melemparnya sembarangan di lantai.


“Inginnya tidurnya begini” Saga benar-benar menikmati membaringkan kepalanya di pangkuan Ganis, Ganis menghela nafas panjang melihat tingkah Saga, namun dia diam saja. Tangannya mengelus rambut Saga.


Tiba-tiba Saga duduk.


“Kenapa?” Ganis terkejut dan menarik tangannya dari rambut Saga.


Saga turun dari ranjang, lalu mendekati nakas, melihat HPnya.


“Sial”


“Kenapa?” Ganis menyipitkan matanya, nampak heran.


"Aku nge-charge HP dari tadi, nggak penuh-penuh” Saga memeriksa daya batrai HPnya.


“Rusak kali Mas” Ganis merebahkan diri.

__ADS_1


“Bukan HPnya yang penuh, tapi malah cintaku padamu yang full" Saga mencoba ngegombal, Ganis melihat Saga, sejurus kemudian dia melempar bantal ke arah suaminya. Saga dengan sigap menangkap bantal terbang, lalu dia kembali ke atas ranjang, merangsek menggelitik Ganis.


Udah dari pagi mau up, tapi banyak banget rintangannya. (curhat nggak penting ini mah. wkwkwk). jangan lupa like dan vote...terima kasih....


__ADS_2