Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 82 : Menjadi Malaikat Cintamu


__ADS_3

Alex nampak datang ke kantor polisi, dia membawakan baju dan kebutuhan lainnya dari rumah Anaya. Meskipun penolakan mentah-mentah dirinya oleh Anaya, dia masih peduli pada gadis itu. tak lupa dia membawakan makanan untuk Anaya.


Anaya nampak kelelahan berada di ruang penyidikan, Alex dipersilahkan untuk menemui Anaya. Rambut Anaya nampak lusuh, begitu juga wajahnya benar-benar terlihat kelelahan.


“Aku bawakan baju dan keperluanmu, semua dipersiapkan oleh asisten rumahmu” Alex duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari Anaya. Anaya mengusap wajahnya.


“Aku tidak ingin kamu juga menghakimiku” Anaya berpesan.


“Aku sudah cukup menghakimimu kemarin-kemarin, saatnya kamu merenunginya sekarang” ujar Alex. Anaya menatap Alex tajam, lalu kembali lagi menunduk.


“Apa kamu senang aku akan masuk penjara?” tanya Anaya lalu tersenyum hambar, menertawakan dirinya sendiri.


“Ann” Alex menatap Anaya. Anaya tidak melakukan kontak balik, dia nampak menyandarkan kepalanya di sandaran kursi lipat. “Jika aku tertawa atas keadaanmu sekarang, aku tidak akan mungkin repot-repot selalu mengingatkan kamu kemarin-kemarin”


“Cukup Lex, aku butuh pengacara” desahnya.


“Iya, nanti aku bantu carikan”


“Yang bisa membuat aku bisa keluar dari sini”


“Aku tidak menjamin, Ann”


 Anaya mendongak, dia tidak ingin mendengar kalimat itu. Di saat seperti ini pun egonya masih tinggi.


“Semahal apapun dia, tolong carikan asal aku bisa keluar dari sini” geramnya.


“Ann…” Alex menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak mau membusuk di penjara”


Alex menghela nafas panjang.


“Bagaimana berita di luaran sana?” tanya Anaya, dia sudah tidak memegang HP sejak ditangkap, HPnya menjadi salah satu barang bukti yang akan diteliti oleh petugas.


“Haruskah aku cerita?” ujar Alex datar, Anaya mengangguk perlahan, dia paham hanya dengan jawaban seperti itu dari Alex. Ini akan menjadi salah satu berita heboh di luar sana.


“Aku benar-benar hancur” ujarnya tertawa hambar. “Aku hancur” ulangnya.


            Pemberitaan tentang Anaya benar-benar masif, beberapa wartawan nekat nongkrong di depan kantor Saga untuk mengorek informasi. Tidak hanya tentang Anaya, isu jika Saga menikahi Ganis hanya sebagai istri mainan pun mencuat kencang, sehingga timbul ketidaknyamanan. Bahkan ada yang mengatakan jika Ganis sengaja hadir karena ingin menyingkirkan Anaya dari samping Ganis.


“Tuan, semua sudah menunggu” ujar sekertaris Li.


“Pak Li, buatkan mereka tempat khusus, aku akan konfirmasi kepada mereka sekali saja”


“Baik Tuan”

__ADS_1


Sekertaris Li melaksanakan perintah Saga, para wartawan dipersilahkan berada di sebuah ruangan, Saga akan memberikan pernyataannya terkait dengan kasus yang membelis Anaya.


Suasana ruangan sangat ramai, beberapa wartawan bersiap dengan peralatannya, kamera, kertas, bolpoin, alat rekam, dan sebagainya. Ruangan sudah siap digunakan. Hanya saja Saga belum datang.


Sekertaris Li berjalan di samping Saga, mengetahui Saga telah masuk ke dalam ruangan, para wartawan mendadak hening. Mereka bersiap mendengar pernyataan dari Saga.


Saga duduk di sebuah kursi, sebuah meja dengan banyak micropon di depannya. Sekertaris Li duduk di samping Saga.


“Selamat siang para wartawan dari berbagai media, saya Saga Arjuna Putra Candra ingin memberikan klarifikasi terkait dengan kasus yang sedang terjadi, saya harap setelah ini cukup”


Para wartawan sibuk mengabadikan momen, baik dengan rekaman video atau memotret.


“Terduga tersangka adalah benar mantan kekasih saya, namun karena ada beberapa hal, dia memutuskan meninggalkan saya, dan akhirnya saya menikah dengan istri saya. Untuk isu-isu yang beredar di luar sana bahwa istri saya hanya istri mainan, konspirasi, atau mengatakan bahwa istri saya sudah merebut saya dari sisi Anaya semua bohong, tolong hentikan. Saya mencintai istri saya sebagaimana yang kalian lihat saat


pesta kemarin”


“Apakah Anaya dendam dengan keluarga Anda Tuan? Sehingga melakukan ini?” tanya seorang wartawan perempuan.


Saga melihat ke arah wartawan tersebut, beberapa detik terdiam.


“Itu ranah penyidik, nanti jika sudah ada rilis kasus, kalian akan mengetahuinya” jawab Saga bijak.


“Tuan, apakah benar jika Anaya adalah putri dari Tuan Raharja yang diisukan meninggal karena kecelakaan itu?” tanya seorang wartawan laki-laki.


“Benar, bahwa dia adalah putri dari Tuan Raharja yang tidak lain adalah sahabat Papa saya. Dan saya tegaskan di sini, bahwa masalah sudah jelas, Papa saya tidak ada hubungannya dengan meninggalnya Tuan Raharja”


“Saya rasa pertanyaan itu cukup privasi, tolong jangan melihat hal itu lagi. Tidak ada perjodohan di antara kami sekarang, intinya hargai keluarga kami, jangan sangkut pautkan dengan dia lagi. Saya sudah bahagia dengan istri saya. Maaf, saya tidak bisa membuka semuanya di sini” Saga nampak sangat tenang menjawab semua pertanyaan yang diutarakan para pewarta.


“Sekali lagi saya ingatkan, saya sudah bahagia dengan istri saya, dia tidak bersalah sama sekali dalam masalah ini”


Saga menutup wawancara, dia berdiri dari kursinya, membenahi jasnya, lalu menundukkan kepalanya memberikan salam penutup pada para pewarta.


Saga dan sekertaris Li meninggalkan ruang wawancara. Beberapa wartawan saling bersahutan menanggapi berita yang baru saja mereka dapatkan.


Seputar keberadaan Ganis dalam hidup Saga memang menjadi pertanyaan besar, namun mereka tidak mendapatkan kejelasan pasti dari Saga.


            Saga seolah menutup kasus yang berhubungan dengan Anaya erat-erat sekarang. Jika kemarin dia masih


menganggap Anaya sebagai temannya, kini dia benar-benar tidak ingin mengenal Anaya. Jika waktu bisa diulang, dia tidak ingin mengenal Anaya dalam hidupnya.


“Tidak boleh begitu, Mas…bagaimanapun kita bisa belajar dari masa lalu” urai Ganis, dia meletakkan kepalanya di dada bidang Saga. Saga mengelus kepala Ganis.


“Dia benar-benar keterlaluan” geramnya.


“Tanpa Nona, kita tidak akan bertemu” Ganis terkekeh, Saga ikut mengembangkan senyumnya. Benar juga apa yang dikatakan oleh Ganis.

__ADS_1


“Iya kan?” Ganis mendongak melihat wajah Saga, laki-laki itu masih menyunggingkan senyumnya.


“Sekarang kamu wajib bahagia, setelah apa yang kita alami sejauh ini, terlebih kamu”


Ganis mengangguk.


“Kita sama-sama harus bahagia”


“Aku lapar” seru Saga.


“Aku ingin makan di luar” teriak Ganis.


“Mari kita lakukan” sahut Saga.


“Naik motor”


Saga mendengus saat mendengar permintaan Ganis.


“Mau kemana lagi sayang naik motor? Makan bakso lagi?”


“Ide bagus” Ganis menyeringai.


“Baiklah, aku ganti baju dulu”


“Tidak usah!” seru Ganis sambil terkekeh, Saga melihat dirinya di depan cermin, celana kolor gambar sponge bob warna kuning terang tengah dia kenakan.


“Jangan bercanda” ujar Saga sambil mengulum senyum.


“Gantiiiii!” teriak Ganis.


“Gantiin” ujar Saga manja. Ganis menggeleng, dia mencari baju di lemari dan bersiap berganti baju untuk keluar. Sementara Saga kembali memeluk Ganis dari belakang dengan gemasnya.


“Ayo buruan Mas…katanya lapar”


“Sebentar lagi, aku masih ingin memelukmu”


Ganis membiarkan Saga memeluk tubuhnya beberapa saat sebelum dia berganti baju. Tidak ada ucapan yang bisa menggambarkan rasa syukurnya saat ini, suami yang sayang padanya dan sangat mencintainya.


“Mas…”


“Hehm…” sesaat setelah Saga melepaskan pelukannya.


“Aku mencintaimu” ujar Ganis sambil memegang kedua pipi Saga.


“Mendengar ucapanmu membuat laparku hilang dan ingin berganti dengan aktivitas lainnya” Saga tersenyum nakal.

__ADS_1


Ganis menggeleng.


“Em…em…No!, kita keluar sekarang, aku rindu makan bakso denganmu” sergah Ganis, Saga menurut, dengan langkah perlahan dan kepala menunduk memperagakan anak kecil yang sedang merajuk, dia pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan bersiap pergi.


__ADS_2