
Saga mengetuk-ngetuk mejanya dengan jemarinya, berharap segera mendapat pencerahan tentang apa yang harus dilakukannya. Pikirannya sungguh keruh, biasanya dia dengan cepat bisa mengatur pikirannya. Setelah dari pemakaman tadi, dia belum bisa berpikir dengan jernih.
“Siapa?” gumamnya sambil memikirkan calon yang tepat untuk pemimpin pengganti Alex.
Saga berdiri dari kursinya, hari sudah siang, nampak di luar begitu terik, terlihat dari balik jendela kaca ruangan kerjanya. Saga memperhatikan lalu lalang kendaraan dari atas, mobil-mobil nampak kecil dari pandangannya.
Saga menghela nafas panjang.
“Buatkan saya kopi” ujarnya sesaat setelah memencet sebuah nomer yang terhubung dengan ruang OB.
Tak selang berapa lama, kopi yang dia minta datang, disajikan sesuai dengan keinginannya, hangat, tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit.
Saga menyesap kopinya perlahan, pandangannya masih memperhatikan lalu lalang kendaraan dari jendela kaca. Saga meletakkan cangkir warna putih di atas mejanya. Segera dia mengambil HP dan melakukan panggilan untuk sekertaris Li.
Saga segera mengadakan rapat dadakan setelah memutuskan untuk memecat Alex sebagai pimpinan dari divisi transportasi. Dia harus bertindak cepat memulihkan citra anak cabang perusahaan tersebut agar masih bisa terselamatkan.
“Saya ingin mempercepat perekrutan pemimpin yang memang memiliki citra yang bagus di bidang tersebut, entah itu orang baru atau orang lama dari perusahaan kita” Saga memberikan gambaran.
“Baik Tuan” Farel mengangguk.
“Ada pandangan?” tanya Saga mengedarkan pandangan ke seluruh peserta rapat. Anya nampak sedang berpikir, Anya adalah tim kepala bidang sumber daya manusia yang ada di perusahaan pusat yang ditangani Saga. “Anya?” ujar Saga. Anya nampak bersiap memaparkan pandangannya.
Dia membuka sebuah agenda yang dibawanya. “Ada Tuan” ujarnya.
“Silahkan” Saga memang terkenal sangat cepat dalam merespon sesuatu hal.
“Ada salah satu kandidat dari anak perusahaan yang ada di luar kota ini, dia seorang yang sudah 3 tahun berada di sana, saya rasa dia cakap jika berada di bidang ini”
“Besok saya ingin bertemu dengannnya”
“Baik Tuan” ujar Anya.
Rapat segera berakhir setelah mendapatkan pencerahan dari Anya. Saga bangkit dari kursinya diikuti oleh sekertaris Li. Kemudian dia kembali ke ruangannya.
Harapannya tercerahkan saat Anya memaparkan siapa orang yang sekiranya bisa menggantikan kekosongan pimpinan setelah Alex dipecatnya.
Saga menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya, satu beban yang memenuhi otaknya beberapa hari perlahan terasa berkurang. Semoga saja apa yang dia inginkan segera terwujud.
***
Saga , Ganis, dan Nyonya Rima berada di ruang keluarga setelah makan malam berakhir. Ganis mengelus pundak Saga, sementara Nyonya Rima duduk berhadapan dengan mereka berdua.
“Bagaimana suasana kantor?” tanya Nyonya Rima, melihat gejolak media yang begitu masif memberitakan perusahaan akhir-akhir ini.
“Akan segera aku tangani Ma, doakan saja semua lekas membaik” ujar Saga.
“Iya, aku yakin kamu bisa” Nyonya Rima memberikan semangat, hanya itu yang dia bisa. Karena dia sama sekali tidak tahu seluk beluk bagaimana perusahaan berjalan.
__ADS_1
“Mas mau kopi?” tawar Ganis pada Saga, Saga menoleh ke arah Ganis. Mengelus pipi Ganis perlahan, lalu menggelengkan kepalanya.
“Terima kasih sayang, tapi sedang tidak ingin kopi, aku hanya ingin ini” Saga menyandarkan kepalanya di pundak Ganis sebelah kiri. Nyonya Rima tersenyum melihat tingkah Saga.
“Libatkan Pak Li, pasti dia sangat membantu”
“Tentu Ma”
“Semoga setelah ini semua berjalan lancar, dan ajaklah Ganis berjalan-jalan, honeymoon atau apalah”
Ganis tersenyum mendengarnya. “Tak apa lah Ma, lagian ini perusahaan sedang butuh kasih sayang” Ganis tersenyum.
“Bener kata Mama lho, iya Ma..nanti sekalian merayakan ulang tahun Mama, aku yakin setelah ini akan membaik kok” Saga nampak yakin.
“Oh..kapan itu?” bisik Ganis.
“Sebentar lagi” Saga menjawab tak kalah berbisik.
“Ah..Mama sudah tua, tidak usah ada perayaan atau apa, kalian saja yang liburan” Nyonya Rima mengibaskan tangan kanannya.
“Eh jangan Ma, semakin seru kalau kita liburan sekeluarga, bareng-bareng” sahut Ganis, Saga mengangguk, dia kembali menegakkan kepalanya, kini tangan kanannya merangkul pundak Ganis.
“Ya sudah terserah kalian saja lah, yang pasti kadonya nanti…”
“Mama minta apa?” sahut Saga sebelum Nyonya Rima menyelesaikan kalimatnya.
“Cucu” jawab Nyonya Rima cepat.
“Tuh…Mama sudah ingin cucu” Saga menguyek rambut Ganis gemas, Ganis tersenyum malu.
“Iya, sudah saatnya Mama menggendong cucu” imbuh Nyonya Rima.
“Siap Ma” Saga mencubit pipi Ganis.
“Aduh…” Ganis mengusap pipinya.
“Oh ya, yang meninggal tadi itu teman kamu Nis?”
“Oh iya Ma, yang pernah menjenguk di rumah sakit saat aku sakit itu Ma”
Nyonya Rima mencoba mengingat-ingat, “Lupa sih Mama” jawabnya sambil tersenyum. “Kecelakaan?”
“Iya Ma”
“Harusnya bisa ditemukan itu penabraknya” sahut Saga datar.
“Memangnya tabrak lari?” tanya Nyonya Rima terkejut.
__ADS_1
“Iya Ma, lagi hamil, anaknya meninggal, Mbax Aziza kritis dan akhirnya meninggal” sahut Ganis dengan raut wajah sedih.
“Kasihan sekali” Nyonya Rima menimpali dengan raut wajah tak kalah sedih. “Kalau kemana-mana hati-hati ya Nis”
“Iya Ma” Ganis mengangguk. Semenjak kejadian tersebut, Saga pun mendadak protektif, kemana-mana dia meminta Ganis diantar oleh sopir.
Mereka berdua sudah pindah ke balkon kamar Saga, menikmati malam dengan seporsi mie instan. Salah satu terapi yang biasa dia lakukan setelah penat seharian dengan pekerjaan.
“Mas, biasanya memang ada perayaan ya di ulang tahunnya Mama?” Ganis meniup gulungan mie instan yang ada di garpu.
“Iya, yaa…biasanya lebih ke seperti momen doa bersama begitu” Saga mencoba mengingat acara tahun lalu, di mana saat itu Tuan Candra masih ada. Di mana acara ulang tahun Nyonya Rima dilakukan di rumah saja dengan konsep doa bersama, hanya mengundang kerabat dekat.
“Kita buat acara yang sama nanti?” tanya Ganis sambil mengaduk kuah mie instan.
“Boleh, ada ide?”
Ganis menggeleng, belum ada ide sama sekali di kepalanya.
“Ehm….atau kita ke villa saja, sudah lama sekali aku tidak menginap di villa, sekalian kita undang anak-anak panti, nanti kalau kamu mau liburan sendiri sama aku, ya nanti kita atur lagi” usul Saga. Ganis berbinar mendengar ide Saga.
“Ide bagus Mas, masalah liburan kita pikir nanti, bagiku berdua denganmu di tempat seperti ini sudah seperti liburan” Ganis menyunggingkan senyumnya, mie yang ada di tempatnya sudah tandas.
Saga ikut tersenyum, “Sejak kapan kamu pandai merayu?” ujarnya sambil menowel pipi Ganis.
“Sejak kamu juga pandai merayu, akhirnya aku ketularan” Ganis membalas dengan mencubit kecil pipi Saga.
***
Sesuai arahan Saga, hari ini juga calon pimpinan baru untuk salah satu cabang perusahaannya datang ke kantor pusat untuk bertemu dengan Saga selaku presiden direktur.
Seseorang itu tengah menunggu kedatangan Saga.
Saga baru saja keluar dari lift khusus yang biasa dia gunakan untuk mencapai ruangannya, Farel segera menyusul ke dalam ruangan dan melaporkan jika seseorang yang ditunggu telah tiba. Saga mempersilahkan untuk segera menemuinya di dalam ruangannya.
Seseorang mengetuk pintu ruangannya, Saga mempersilahkan masuk. Tangan dan pandangannya masih fokus pada dokumen yang sedang dia tanda tangani.
Seseorang masuk, dengan rok di atas lutut, kemeja kerja warna putih dibalut sebuah blazer warna krem, rambutnya tertata dengan rapi membentuk sebuah sanggul modern.
“Selamat pagi pak” sapanya sesaat setelah memasuki ruangan Saga.
Saga mendongak saat mendengar seseorang menyapanya. Sejenak dia melihat ke arah wanita itu, tinggi proporsional dan cantik, setidaknya itulah gambaran tentang wanita itu.
“Pagi” balas Saga. “Silahkan duduk” ujarnya.
“Terima kasih Pak” jawabnya sambil tersenyum, akhirnya dia bisa bertemu dengan presiden direktur secara langsung. Senyumnya mengembang memperhatikan Saga, nampak masih sama seperti yang dilihat dulu.
__ADS_1
Lanjut nggak? lanjut nggak? terima kasih yang sudah setia memberikan vote rekomendasinya untu cerita Author ini, yang belum hayuk lah kasih. hehehe. terima kasih juga yang sudah memberikan like dan masih setia membaca....