Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 100 : Our Way


__ADS_3

Diam-diam Alex masih peduli dengan apa yang terjadi di perusahaan Alex. Bahkan dia meyakini jika salah satu cabang perusahaan yang dia pegang itu akan hancur selamanya, namun yang dilihat kini berbeda, anak cabang itu bisa bangkit dan berkembang dengan baik.


Diam-diam Saga telah menemukan pengganti dirinya yang lebih mumpuni, usahanya untuk menghancurkan anak cabang dan merusak Arjuna Group gagal.


"Sial" Alex membanting HPnya di atas ranjang. Dia berjalan mondar-mandir di kamar, rambutnya nampak sangat berantakan.


"Dia selalu beruntung" gumamnya, kilatan dendam memenuhi matanya.


Belum lagi kasus tabrakan yang dilakukan olehnya yang kini mulai diproses oleh pihak berwajib, Alex mulai ketar-ketir.


    Alex kembali mengambil HP yang tadi dia banting ke ranjang, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya. Tak lupa dia mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja dekat ranjang. Dia segera keluar dari kamarnya, dan menutup pintu sembarangan. Di ruang keluarga nampak Barata sedang menonton televisi, Alex melewatinya begitu saja tanpa menyapa. Barata melihat putranya yang tanpa menyapanya juga nampak tak ingin mencampurinya, sudah beberapa hari Alex nampak kacau.


Alex mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli dengan apa yang terjadi. Meskipun dia tahu jika polisi sudah mulai menyelidiki tentang kematian Aziza, namun hal ini tidak menyurutkan niatnya untuk bertemu dengan Anaya. Hanya Anaya yang bisa menjadi teman bicaranya saat ini.


Alex memarkir mobilnya di parkir yang telah disediakan, lalu dia masuk ke dalam dan melaporkan kepada sipir untuk bisa menjenguk Anaya.


Alex duduk di kursi tunggu yang sudah disiapkan, seperti biasanya, Anaya akan muncul di kursi seberang yang dihalangi oleh kaca.


Belum sempat Anaya duduk di kursinya, dia tersenyum kecut melihat kedatangan Alex yang nampak sangat kacau. Alex melirik ke arah Anaya, melihat gadis itu terlihat semakin kurus.


"Kamu apa kabar?" tanyanya, sambil menyerahkan sekotak makanan kepada Anaya melalui celah yang ada di dinding kaca bagian bawah.


"Kamu yang apa kabar Lex? kamu nampak sangat kacau" sindirnya, dia menarik kursi dan duduk di sana, kini mereka sudah duduk berhadapan.


Alex tersenyum hambar, dia tidak melihat ke arah Anaya, dia sedang mengetuk-ngetuk jarinya di meja di depannya, mencoba menetralisir emosinya.


"Dia berhasil kembali dalam usahanya"


"Saga maksud kamu?" tanya Anaya sambil melipat tangannya. Alex mengangguk kesal, tidak ingin rasanya dia mendengar nama itu disebut. "Dia itu terlalu kuat Lex, Aku berani bertaruh jika kamu tak akan mampu merobohkan apa yang sedang dia bangun sekarang" cemooh Anaya.


Alex tahu apa yang dia dengar dari Anaya adalah sebuah kalimat sindiran buatnya, tapi dia tidak marah. Malah dia semakin yakin jika suatu saat nanti dia akan bisa menghancurkan Saga hingga hancur berkeping-keping.


"Aku tidak pernah tahu berita di luar sana" gumam Anaya.


"Di luar sana masih sama, masih membicarakan tentangmu sesekali, perusahaan kamu yang mulai entah kemana arahnya, membicarakan tentang kebahagiaan keluarga Saga, dan tentu polisi sedang menyelidiki kasus kematian Aziza" Alex tersenyum kembali, kalimat terakhir membuatnya seperti *******.


"Masih punya nyali kamu datang ke sini?" Anaya melotot.

__ADS_1


"Kenapa? aku tidak pernah takut dengan apapun Ann" Alex nampak percaya diri.


"Lalu apa yang membuatmu kacau?" Anaya akhirnya ingin tahu apa yang terjadi.


"Aku hanya...hanya ingin melampiaskan dendamku pada Saga" ujarnya tanpa menutupi. Anaya memainkan bibirnya, lalu dia mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.


"Apa rencanamu?"


"Kita lihat saja nanti, perlahan aku akan ada dalam hidupnya dan menhancurkan bangunan yang dia bangun sekarang, bahkan dia tak akan bisa lagi merasakan bahagia" Alex menatap Anaya dengan kejam.


"Satu kata buatmu Lex, GILA!" Anaya tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Asal kamu tahu saja, di penjara itu tidak enak" Anaya menjelaskan.


"Terserah, mau ke penjara kek, mau ke neraka kek, yang penting aku mau dia tidak bahagia. TITIK!"


    ***


Sementara itu, Salwa yang secara khusus mendapat peringatan dari Saga tentang penampilannya saat di kantor mulai mengubah penampilannya agar tidak mencolok dan terlihat seksi. Sebenarnya dia agak keberatan dengan apa yang diucapkan oleh Saga, lebih tepatnya aturan tersebut. Namun dia menghargai dan tidak menolaknya.


Kemeja yang agak longgar dengan rok di bawah lutut kini menjadi busana yang dia kenakan ke kantor, karena hal tersebut adalah kesehariannya, maka dalam kehidupan sehari-hari, dia masih mengenakan pakaian sesui dengan gayanya.


Salwa mamakai kacamatanya, dan kembali menatap layar laptop. Sudah beberapa jam dia berada di ruag kerjanya, kinerja yang dia lakukan nampak memberikan dampak yang bagus bagi perusahaan yang sedang dia pegang. Ada perasaan senang, karena dia bisa menjawab tantangan sang presiden direktur. Namun dia juga harus bekerja keras untuk itu, agar perusahaan yang sedang dia pegang bisa lebih baik lagi. Suatu kehormatan dan kebahagian jika dia bisa melakukannya.


"Silahkan masuk" ujarnya, pandangannya beralih dari layar laptop ke pintu yang terbuka.


Nampak Farel masuk ke dalam ruangan Salwa, Salwa melemparkan senyumannya. Farel mengangguk dan membalasnya dengan senyum.


"Silahkan duduk" ucap Salwa sambil mempersilahkan dengan tangannya.


"Terima kasih Nona Salwa" Farel duduk di kursi, lalu dia mengambil berkas yang dia simpan di tasnya. Salwa melepas kacamatanya. "Ini Nona" Farel menyerahkan berkas yang ada di map warna biru.


Salwa menerima map tersebut dan mulai membacanya. Dia nampak senang dengan apa yang dia terima.


"Saya sudah melaporkannya pada Tuan Saga"


"Terima kasih Pak Farel" begitulah Salwa memanggil Farel, meskipun usia mereka tidak terpaut jauh, bahkan Salwa lebih tua dari Farel. "Saya kemarin juga melaporkan kepada Tuan Saga secara langsung dan meminta keputusan beliau tentang hal yang akan saya ambil" terangnya. Kala itu Salwa sedang terdesak dan mau tidak mau meminta Saga untuk memberikan pertimbangan mengenai kerjasama transportasi dengan beberapa sponsor. Meskipun dia sebagai nahkodanya, namun menyangkut hal ini, hal krusial. Dia tidak mau melakukan blunder, sehingga dia terpaksa menghubungi Saga.


"Apakah Tuan masih belum berada di tempat?" tanya Salwa.

__ADS_1


"Belum Nona, Tuan masih berlibur" jawab Farel. Salwa mengangguk.


"Saya ada beberapa hal yang perlu saya bicarakan dengan beliau, baiklah saya akan tunggu hingga beliau pulang"


"Jika memang mendesak, Nona bisa melalui sekertaris Li" Farel memberikan ide.


"Oh tidak, saya akan menunggu Tuan Saga saja, tak apa"


"Baik Nona"


    Salwa memberikan dokumen baru kepada Farel agar di bawa ke kantor pusat. Sementara dokumen yang tadi dia simpan di lemari berkas.


"Jika Pak Farel sibuk, dokumennya biar diambil sama staff saya tidak apa-apa" Salwa menarwakan, karena selama ini untuk urusan dokumen penting, maka akan dilakukan oleh orang perusahaan, tanpa kurir.


"Oh tidak apa-apa Nona, ini adalah salah satu bagian dari tugas saya"


Salwa tersenyum, tangannya mengulurkan berkasnya. Farel menerimanya dan menyimpannya ke dalam tas. Selepasnya dia pamit undur diri.


Salwa melihat jam tangannya, sudah jam 1 lebih, perutnya terasa keroncongan. Sudah saatnya dia makan siang. dia berdiri dan meregangkan tangannya. melemaskan otot-otot yang terasa tegang. Dia mengambil HP dan segera keluar dari ruangannya.


Dari jarak kejauhan dia melambaikan tangannya pada seseorang yang menunggunya dia dalam mobil, Salwa tersenyum lalu mendekat ke arah mobil tersebut. Mereka janjian untuk makan siang bersama.


 


        Sementara itu liburan belum usai, bahagia terus saja terasa. Saga tak hentinya mencurahkan perhatiannya pada Ganis. Diam-diam dia meletakkan kado di tepi ranjang saat Ganis sedang berada di kamar mandi untuk mandi.


Sementara dia sedang duduk manis di sofa menonton tayangan televisi seraya menunggu Ganis keluar dari kamar mandi.


Ganis keluar dari kamar mandi dan mendekat ke arah Saga. Matanya memicing melihat sebuah kotak kado berpita  berwarna perak mengilat.


"Bukalah" Saga mengulum senyumnya, dia tidak pandai dalam memberikan kejutan. Yang dia ingat, Ganis tidak suka dengan hal yang berlebihan.


Ganis mengambil kotak tersebut dan perlahan membukanya, tawanya pecah saat melihat apa yang ada di dalam kotak tersebut.


 


 

__ADS_1


 


Hai..hai para readers yang baik hati, maafkan Author yang akhir-akhir ini bakal tidak teratur up. Padahal sudah ada beberapa chapter yang sudah jadi, sayangnya laptop Author mendadak blue screen, hiks...sedihnya. Dia harus dibawa ke service centernya. Gini nih harus memanfaatkan waktu sambil pinjem komputer di meja kerja. wkwk (Curhat). Semoga laptopnya segera sehat dan bisa up setiap hari ya....please jangan tinggalin Saga dan Ganis ya...hehe. jangan lupa like dan votenya. thank you......


__ADS_2