
Saga sengaja menjemput Ganis, meskipun Ganis sebenarnya tidak ingin menganggu waktu kerja Saga, karena dia tahu Saga sedang sibuk di kantor. Dan dia bisa pulang dengan hanya menghubungi Isnan, sopir keluarga Saga.
“Senang ketemu anak-anak?” tanya Saga. Ganis mengangguk.
“Akhirnya bisa melihat mereka lagi, bisa melihat mereka tertawa” Ganis membenahi anak rambut yang agak berantakan di dahinya. “Harusnya Mas tidak usah jemput, aku tahu Mas sedang sibuk”
“Kenapa? Sudah beres, tinggal lihat hasilnya, semoga bisa berpengaruh positif di perusahaan” ucapnya penuh harap dengan pemimpin baru, yaitu Salwa.
“Bagaimana dengan pemimpin barunya?” Ganis ingin tahu, dia melihat ke arah Saga.
“Yaah…semoga saja tidak meleset, dari catatan sih OK” Saga melihat ke arah jalan raya.
“Cewek apa cowok?” Ganis mendadak ingin tahu, pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
“Cewek” jawab Saga enteng.
Ganis menoleh ke arah Saga. Cewek? Gumamnya dalam hati.
“Mungkin seumuran juga dengan aku, tapi aku menaruh harapan besar, semoga dia benar-benar bisa memberikan angin segar untuk anak perusahaan itu” harapnya lagi, Ganis masih menatap Saga.
“Apakah dia cantik?” tanya Ganis datar, Saga tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya dari jalan raya ke arah Ganis.
“Namanya juga perempuan, masa iya dia ganteng” jawab Saga setengah bercanda, Ganis cemberut. “Kenapa?” tanya Saga, mengembalikan pandangannya ke arah jalan raya.
“Cantik ya?”
“Cantikan kamu, istriku, istriku tidak ada duanya”
Saat mendengar ucapan itu, tidak ada senyum yang mengembang dari bibir Ganis, tidak seperti biasa, rasanya dia menjadi uring-uringan.
Saga memperhatikan istrinya yang bersikap tidak biasa, tidak tersenyum seperti biasanya. Tangan kiri Saga mengelus rambut Ganis pelan.
“Jangan cemberut dong…kita makan di luar sekalian ya?” Saga menawarkan. Ganis mengangguk. “Sekalian cari kado buat Mama”
“Iya Mas” jawabnya singkat.
Saga menghentikan mobilnya di sebuah Mall, memarkirkan mobilnya di parkir utama. Mereka masuk ke dalam mall, Ganis memasuki sebuah toko tas bermerk, Saga mengikutinya. Ganis memilih beberapa tas yang sekiranya cocok dipakai untuk Nyonya Rima.
“Ini bagus nggak?” Ganis mengangkat tas ukuran sedang berwarna krem. Saga meraih tas yang Ganis ulurkan, mengamatinya. Meskipun dia tidak mahir memilih tas yang sekiranya cocok untuk Mamanya, dia tetap saja memberikan idenya.
“Bagus sih, kalem” komentarnya.
“Ini saja ya?” Ganis memastikan. Saga mengangguk, mengangkat kedua jempolnya.
__ADS_1
“Ini mbak” Ganis mengulurkan tas tersebut kepada penjaga toko, penjaga toko segera melayaninya.
“Kamu tidak sekalian beli?” tanya Saga. Ganis menggeleng, dia kembali memperhatikan beberapa tas meskipun dia tidak berminat untuk membeli,
“Mahal mas” ujarnya, Saga tersenyum mendengar jawaban dari Ganis.
“Berapa sih?” tanya Saga.
“Mahal pokoknya” Ganis mengibaskan tangannya.
“Udah pilih saja sesukamu, jangankan satu, satu toko aku belikan” kelakar Saga.
“Nggak ah Mas, lagi nggak ingin beli tas”
“Pengennya apa?” Saga menatap Ganis lekat, lalu tangannya meraih tangan Ganis dan menggandengnya, mereka melangkah menuju kasir untuk membayarnya.
“Kamu” ujarnya sambil bergelendot manja di lengan Saga. Saga tertawa melihat Ganis begitu manja, berbeda dari biasanya.
Ganis yang biasanya jarang cemburu mendadak tiba-tiba bad mood saat membicarakan salah satu karyawan Saga, Ganis yang biasanya jarang terlihat manja mendadak sangat manja.
“Seutuhnya buat kamu” Saga mengeratkan genggaman tangannya, hingga beberapa orang yang ada di toko tersebut serasa baper melihat mereka berdua.
Seusai membayar di kasir, Saga dan Ganis keluar dari toko. Sebuah bungkusan tas itu siap di bawa, Saga dengan sigap membawa barang tersebut. Dengan tangan kanannya masih menggamit tangan Ganis erat.
“Lets do it” ujar Saga tanpa ragu. Ganis tersenyum, mereka berdua antri di depan untuk membeli tiket.
Tanpa ragu Saga mengiyakan apa yang menjadi keinginan Ganis, meskipun dia sendiri agak horor masuk gedung bioskop yang gelap.
Ganis membeli popcorn dan dua gelas minuman yang akan di bawa masuk ke dalam gedung bioskop.
Saga membantu Ganis dengan membawa dua gelas minuman tersebut, mereka berjalan menuju gedung bioskop tersebut. Lorong yang temaram, dan tibalah mereka berada di gedung bioskop yang masih terang dengan lampu karena film belum mulai.
Mereka berdua duduk di deretan atas, Saga duduk di sebelah kiri Ganis. Saga mencoba merilekskan dirinya sendiri sebelum ruangan itu benar-benar gelap.
“Mas…!” pekik Ganis.
“Kenapa? Ada apa?” Saga ikut berseru karena Ganis memanggilnya dengan sedikit berteriak kaget, takut terjadi apa-apa dengan Ganis.
“Aku lupa kalau kamu takut gelap” pekiknya lagi.
“Sudahlah, duduk diam, genggam tanganku, dan aku akan baik-baik saja” Saga mencoba menenangkan Ganis yang panik, meskipun sebenarnya dia juga deg-degan.
“Tidak…kita keluar aja yuk, mumpung belum mulai filmnya” ajak Ganis sambil bersiap berdiri.
__ADS_1
“Eh jangan, katanya ingin nonton, ya sudah nonton aja” Saga menarik tangan Ganis. Ganis menggeleng.
“Tidak Mas, ayok keluar”
“Sudah duduk saja” Saga menarik tangan Ganis dan memintanya kembali duduk di kursinya, tangan Saga menggenggam tangan Ganis erat. Ganis akhirnya nurut, ada rasa bersalah, mengapa dia lupa jika Saga takut gelap.
Lampu mulai dimatikan karena film akan segera mulai, gelap mulai memenuhi ruangan. Saga mengeratkan genggamannya pada tangan Ganis. Ganis meraih tasnya, mencari HP dan menyalakan flash agar Saga bisa sedikit tenang.
“Aku baik-baik saja” ujar Saga pelan, tangannya masih menggenggam erat tangan Ganis.
Tak berapa lama, layar bioskop menyala dan memperlihatkan adegan film yang mereka tonton, tak lagi gelap gulita seperti sepersekian detik tadi.
Hampir 1,5 jam mereka berada di gedung bioskop, Ganis sangat menikmati film yang ditontonnya, iku terhanyut dengan apa yang dilihatnya, bahkan Saga harus beberapa kali mengambilkan tisu untuk Ganis, karena entah mengapa istrinya mendadak cengeng hanya dengan melihat adegan di film. Air matanya meleleh begitu saja.
Mereka keluar dari gedung bioskop, rasa lapar yang mendera mereka berdua sejak tadi memaksa langkah kaki mereka memasuki sebuah restoran yang ada di mall tersebut.
“Tuan…” ucap seseorang dengan suara nyaring. Saga terhenti, begitu juga Ganis.
Seorang wanita dengan perawakan seksi tersenyum ke arah mereka berdua, Saga memicingkan mata. Jelas ingat dengan wanita tersebut. Ganis melihat wanita tersebut dengan seksama, lalu beralih melihat ke arah Saga.
“Selamat malam Tuan dan Nona” ujarnya sambil membungkukkan badan, pakaian yang serba mini membuat mata Ganis sepet. Lalu dia membuang pandangan.
“Malam” jawab Saga lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. Baru tadi siang dia meminta wanita itu tidak berpakaian seksi, akan tetapi kini malah semakin parah. Baik, itu bukan urusan dia, karena ini di luar pekerjaannya.
Salwa mendadak kikuk, dia mencoba merapatkan cardigannya untuk menutup tubuhnya yang sedari tadi terlihat seksi hanya dengan tangtop warna pink.
Ganis terdiam, menghela nafas panjang. Dia yakin Saga mengenal wanita yang ada di depannya itu.
“Oh silahkan Tuan, maaf jika mengganggu” ujar Salwa salah tingkah, mengapa dia harus menyapa Saga. Dan dia yakin jika yang ada di samping Saga adalah istrinya.
Salwa menganggukkan badan lalu keluar dari tempat tersebut, dia baru saja selesai makan. Ganis menyunggingkan senyumnya dengan hambar. Sementara Saga masih dengan ekspresi datarnya.
Seusai Salwa keluar dari tempat tersebut, Saga memilih tempat untuk mereka berdua. Ganis hanya diam saja.
Rasanya dia ingin kembali uring-uringan. Beberapa menit mereka terdiam sambil menunggu pesanan makanan datang.
“Siapa?” tanyanya kemudian, dia tidak tahan ingin tahu siapa wanita seksi tadi.
“Oh itu pengganti Alex” jawab Saga enteng.
“Ih…kenapa seksi sekali?” gumamnya dalam hati.
“Ayo makanan sudah datang, makanlah yang banyak” ujarnya setelah mendapati pelayanan membawa makanan pesanan mereka. Ganis masih saja diam, tangannya dengan malas menyendokkan makanan ke mulutnya. Hatinya terasa dongkol.
__ADS_1
Meskipun ini bukan cerita yang istimewa, tapi Author pastikan akan memberikan nuansa yang berbeda, bukan seperti kebanyakan. So...tenang saja ya para readers...hehe. tetap ikuti, ini bukan cerita ikan terbang. hehehe jangan lupa like, vote, gift, rate. and Happy Reading.....