
Rumah Anaya
“Apa kamu merasa ini tidak berlebihan, Ann?” tanya Alex, tangannya memegang gelas berisi minuman yang disuguhkan oleh asisten rumah tangga Anaya.
“Kenapa? Atau jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta sama gadis bodoh itu dan tidak tega melakukan yang lebih parah terhadapnya?” ujar Anaya geram, dia tidak menyukai berita yang menyebutkan jika Ganis selamat.
“Ann, kamu jangan keterlaluan, kembalilah ke rencanamu, gadis itu tidak salah apa-apa”
“Aku mau mengubah rencanaku” Anaya menatap Alex tajam, laki-laki itu terdiam, dia tahu jika Anaya sedang mempunyai keinginan, maka bagaimanapun dia akan mewujudkannya, dia sangat keras kepala.
“Hah…mau kamu apa?”
“Semua gara-gara Papa kamu!” Anaya menaikkan volume suaranya, membuat Alex menatapnya, tangannya meletakkan gelas di meja. “Mengapa dari awal selalu mendoktrinku jika yang membuat kecelakaan itu adalah keluarga Saga? Bahkan aku tidak pernah tahu jika akulah orang yang paling disayang oleh Tuan Candra” Anaya menerawang, dia baru tahu dari mulut Barata, Papa Alex beberapa hari lalu. Jika semua yang dia ceritakan itu adalah bohong belaka.
“Papa dan Mama murni kecelakaan, bukan dibunuh oleh mereka, mengapa Papa kamu tega denganku selama ini?” Anaya mulai berkaca-kaca. “Bahkan seharusnya aku yang beneran menikah dengan Saga”
“Ann…” Alex berdiri mendekati Anaya, dia berada di samping Anaya, memberikan tisu, air mata gadis itu mulai meleleh.
“Kamu bisa mulai dari awal, bukankah perjanjianmu dengan Ganis akan berakhir beberapa bulan lagi, tidak lama, kamu bisa kembali pada Saga” Alex menghibur.
“Kamu pikir, dengan aku berbuat seperti ini, keluarga mereka masih akan menerimaku, begitu?” Anaya kembali terbawa amarah. “Aku sudah menghancurkan reputasiku sendiri”
“Apa itu artinya kamu benar-benar mulai jatuh cinta pada Saga?” tanya Alex, dari awal rencana, Anaya selalu menyangkal jika dia ada perasaan dengan Saga, dia hanya ingin balas dendam atas kematian kedua orang tuanya.
Memori Anaya kembali pada peristiwa setelah kecelakaan kedua orang tuanya, setelah kedua orang tuanya dinyatakan tewas mengenaskan dalam kecelakaan, Anaya bahkan tidak sempat melihat pemakaman kedua orang tuanya. Barata membawanya ke Belanda, dia dibesarkan di sana oleh keluarga Barata, bertahun-tahun hingga akhirnya dia kembali untuk membangun bisnis di negeri ini. Bertahun-tahun pula Barata selalu mengatakan jika keluarga Tuan Candra lah yang mengakibatkan kecelakaan itu, dendam dan amarah memenuhi hati Anaya. Hingga dia ingin sekali menghancurkan keluarga Tuan Candra, dan jalan satu-satunya adalah dengan mendekati Saga. Laki-laki yang dia kenal secara tidak sengaja, pesonanya digunakan untuk menjerat cinta Saga. Hingga semua rencana awal berjalan dengan lancar, dia menyusupkan Ganis untuk bisa masuk ke dalam keluarga Saga, akan membuat Saga jatuh cinta pada Ganis, lalu meminta Ganis meninggalkannya. Dengan begitu akan ada banyak berita miring dan isu yang berkembang, dan yang paling dia inginkan sebenarnya adalah membunuh Tuan Candra secara perlahan. Dia sangat memahami jika penyakit jantung kronis yang diderita Tuan Candra itu cukup rentan dengan berita-berita negatif tentang keluarganya. Dia ingin bermain cantik, tidak ingin mencolok bahwa semua ini adalah ulahnya, maka Ganis adalah senjatanya.
“Gadis bodoh itu telah menguasai segalanya, bahkan dengan caranya, keluarga itu menerimanya dengan baik, dan…dan..aku merasa dia telah merebut hati Saga” ucapan Anaya melemah.
"Bukankah itu yang kamu katakan pada dia, Ann? kamu ingin semua berjalan seperti ini kan?"
“Semua gara-gara Papa kamu!” Anaya berteriak. “Sekarang aku harus bagaimana?”
“Tenang Ann, aku akan bantu kamu, jangan selalu membawa Papaku, bagaimanapun juga, dia sudah berjasa dalam hidup kamu” Alex membela Barata.
“Pikirkan bagaimana aku menyingkirkan gadis itu dan aku bisa masuk ke keluarga Saga” imbuh Anaya.
__ADS_1
“Apakah kamu memang hanya ingin Saga atau ada hal lain?” Alex menyelidik.
“Apa maksud kamu?” Anaya melipat kedua tangannya ke depan. “Apa kamu punya rencana lain selain itu? Jangan mimpi!” Anaya menebak Alex, laki-laki di depannya tak ubahnya Barata, dia ingin harta dari Saga.
“Jangan buat ulah” Anaya mengingatkan. Alex tersenyum.
“Hanya mengambil satu dari puluhan cabangnya, aku rasa tidak masalah” Alex tersenyum sinis.
“Sama saja, kalian jahat” Anaya membuang muka, Alex tertawa melihat gadis itu.
“Kita sudah terlanjur Ann, jadi tanggung jika kita harus mundur. Jangan pernah berpikir kamu adalah orang baik, kamu juga tak ubahnya seperti kita" Alex tersenyum sinis, Anaya semakin kesal mendengarnya.
Kediaman Saga
“Jadi kamu mau pulang kampung?” Tuan Candra melemparkan pertanyaan untuk Saga dan Ganis yang duduk di sofa di depannya.
“Iya Pa” jawab Ganis, setelah dia benar-benar pulih dari cederanya, dia ingin sekali pulang kampung sekedar berziarah ke makam Ibunya.
“Alhamdulillah sehat Pa” jawab Ganis riang.
“Pastikan kamu benar-benar sehat lho, Mama tidak mau jika kejadian mengerikan itu terulang lagi” imbuh Nyonya Rima.
“Kamu, mumpung libur panjang, kamu harus ikut” Tuan Candra menunjuk Saga, ada tanggal merah yang bertepatan dengan akhir pekan, sehingga memang ada waktu libur tiga hari. “Biar Papa segera punya cucu, sekalin kalian bulan madu di sana”
“Tapi Pa…ehm…cuma sehari saja kok” sahut Ganis, untuk apa membahas bulan madu. Bahkan di sana tidak ada hotel, yang ada adalah perkampungan khas desa yang indah tapi sama sekali tidak ada hotel, jarak hotel dari rumahnya cukup jauh. Yang ada hanya hamparan sawah yang luas, pegunungan, dan juga sungai penuh bebatuan yang sangat sejuk airnya.
“Menginaplah, cari penginapan” Tuan Candra tidak menerima alasan.
“Iya Pa, aku akan berangkat” sahut Saga, tidak ingin berlama-lama berdebat. Ganis menatap Saga.
“Dan lagi, setelah acara liburan, segera rencanakan acara resepsi kalian, jangan ditunda-tunda lagi” imbuhnya.
Saga dan Ganis saling menatap bergantian, mengapa Tuan Candra kembali membahas resepsi lagi dan cucu.
__ADS_1
“Iya” jawab Saga singkat.
Malam semakin larut, percakapan hangat keluarga itu harus berakhir, Tuan Candra dan Nyonya Rima pamit
beristirahat, begitu juga dengan Saga dan Ganis. Mereka naik ke lantai 2, menuju kamar Saga.
“Apa Tuan yakin mau ikut?” Ganis membanting tubuhnya ke sofa.
“Kenapa?” Saga menyenderkan tubuhnya ke dinding, tangannya terlipat di dada.
“Di sana itu tidak semewah di sini, yang ada hanya hamparan pertanian”
“Memangnya kamu mau menetap di sana atau bagaimana?” Saga mendebat. Sebenarnya dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, jangan sampai peristiwa di resort itu terjadi lagi pada gadis yang ada di dekatnya itu.
“Ehm…ya tidak sih, tapi kan…” Ganis khawatir jika Saga tidak akan nyaman berada di kampung halamannya.
“Hanya sehari kan? Tidak selamanya kan?” Saga membantah. Mengapa laki-laki itu ngotot sekali ingin ikut.
“Iya” suara Ganis melemah.
“Dan kita akan bulan madu” Saga mendekati gadis itu, lalu tersenyum jahil.
“Tuaaaan!” Ganis mencoba melempar Saga dengan bantal, namun Saga berhasil menghindar, bantal warna coklat itu jatuh di lantai.
“Tidurlah, besok berangkat pagi” sahut Saga, kemudian dia berlalu menuju kamar mandi untuk berganti baju dan gosok gigi.
Terima Kasih sudah menunggu, jangan lupa like ya...^^
__ADS_1