
Radian masih berjongkok di pinggir gundukan tanah yang masih basah itu, taburan bunga memenuhi gundukan tanah itu. muka lelah, mata sembab menjadi pemandangan yang dilihat semua orang tadi di wajah Radian, begitu juga dengan yang Ganis lihat. Pemandangan yang sangat tidak disukai oleh Ganis, melihat orang yang disayangi dirundung oleh pekatnya duka.
Aziza, Wanita lemah lembut yang dipilih oleh Radian, wanita yang membuatnya patah hati saat itu. Belum sempat dia mengenal lebih dekat dengan wanita itu, kini dia sudah berpulang selamanya.
“Mbak Aziza…maafkan aku belum sempat mengenalmu lebih dekat, kita belum sempat menjadi sahabat, tapi aku yakin kamu adalah orang yang sangat baik” ujar Ganis sambil mengelus pusara Aziza. Radian menatap nanar pusara istrinya. Luka hatinya begitu nyata terlihat.
“Aku benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan dia” ujarnya pilu. Ganis melihat wajah Radian, mengulurkan tangannya, mengusap pundak laki-laki itu menenangkan.
“Mbak Aziza tahu Mas, betapa Mas Radian mencintai Mbak Aziza” Ganis menghibur. Radian tersenyum hambar.
“Iya Nis, terima kasih sudah datang sepagi itu sama suami kamu, aku tidak tahu harus menghubungi siapa tadi”
“Iya Mas, sama-sama”
Langit hari ini begitu cerah, berbanding terbalik dengan suasana hati Radian, dan tentu yang dirasakan Ganis.
Rasa sesal masih memenuhi relung hati Radian, kehilangan anak tidaklah cukup, bahkan Ibu dari anaknya ikut berpulang dari kecelakaan itu.
Saga mendekat ke arah Ganis dan Radian, para pelayat yang lainnya sudah meninggalkan area makam.
“Aku pamit dulu ya” ujar Saga pada Radian, Radian menoleh lalu berdiri untu bersalaman dengan Saga.
“Terima kasih banyak atas kedatangan Tuan ke pemakaman istri saya dan membantu keluarga kami” ujar Radian, Saga membalas salam Radian sambil menepuk pundak Radian.
“Sama-sama, yang sabar ya…”
Ganis ikut berdiri di samping Radian, melihat kedua laki-laki itu akrab.
“Aku pulang dulu ya Mas” Ganis juga ikut pamit.
“Terima kasih sekali lagi, Ganis dan Tuan” ucap Radian.
Ganis dan Saga meninggalkan Radian yang masih berdiri di samping makam Aziza. Tak berapa lama setelah kepergian Ganis dan Saga, Radian juga meninggalkan tempat tersebut.
***
__ADS_1
Alex nampak sibuk dengan mobilnya, mobil kesayangan berwarna putih itu sudah beberapa hari tidak dikendarainya. Sore ini dia menyuruh pembantunya membersihkan mobilnya.
“Yang bersih, jangan meninggalkan noda sekecil apapun” ujarnya tegas.
“Baik pak” ujar laki-laki muda itu, noda darah kering yang ada di ban mobil itu nampak agak susah dibersihkan olehnya.
“Ingat, jangan sampai ada noda yang tertinggal”
“Baik Pak”
Alex menghembuskan nafas, untung saja saat itu jalanan sepi, sehingga dia bisa meninggalkan tempat itu tanpa harus berhubungan dengan polisi, jika tidak, pasti dia sudah meringkuk di penjara.
“Semua gara-gara Anaya dan Saga brengsek itu” umpatnya, dia duduk di kursi dekat garasi, tangannya dengan cepat mengambil rokok dan menyulutnya, lalu menyesapnya hingga mengepulkan asap.
Sejak kejelasan penolakan Anaya, hatinya menjadi kacau, penolakan yang sungguh menyakitkan. Setelah apa yang dia lakukan untuk Anaya, kini dia benar-benar tidak ada artinya buat Anaya, ditambah lagi dengan gertakan Saga yang akan menyingkirkan dia dari perusahaan. Membuatnya benar-benar kacau balau.
“Mereka membuatku menjadi penjahat” gumamnya sambil meremas putung rokok di asbak, lalu dia kembali mengambil sebatang rokok dan menyalakannya kembali.
Pandangannya mengarah pada pembantu laki-laki yang sedang membersihkan mobilnya tersebut, nampak laki-laki itu benar-benar membersihkan mobilnya dengan serius.
Barata duduk di kursi sebelah Alex. Dia sadar, jika dia memiliki andil besar mengapa putranya menjadi semakin bengis.
Alex masih diam saja saat menyadari dia duduk di dekat Alex, putranya masih memainkan rokoknya.
Alex masih heran dengan kepitusan Papanya, mengapa dulu dia seolah dendam kesumat terhadap keluarga Saga, namun di akhir-akhir ini seolah dia menjadi penyelamat keluarga Saga dan membuat kekacauan. Alex melirik Barata dengan kesal.
“Kamu marah dengan Papa?” tanya Barata. Alex masih terdiam, dia kembali meremas putung rokok di asbak. Lalu meletakkan rokok yang masih di dalam bungkusnya di meja dengan cara melemparnya.
“Papa yang membuat rencana ini hancur” ujar Alex akhirnya membuka suara.
Barata menghela nafas panjang, putranya memang bengis, namun tidak akhir-akhir ini, dia nampak seperti seorang penjahat.
“Papa mendadak menjadi sok malaikat, hingga menyebabkan semua berubah haluan” protesnya. “Anaya yang dari awal Papa doktrin membenci Saga, kini berbalik cinta mati pada laki-laki itu, dan itu apa artinya Pa? itu sama dengan Papa membunuh hatiku”
“Maksud kamu apa?” tanya Barata.
__ADS_1
Alex membuang muka, “Gara-gara dia mencintai Saga, cintaku padanya tertolak” jelasnya. Barata tersenyum mendengar perkataan putranya, membuat Alex semakin muak dengan laki-laki tua itu.
“Kalaupun Anaya tidak mencintai Saga, apa kamu juga yakin jika dia akan mencintai kamu?” Barata seolah mengejek.
“Setidaknya aku masih ada peluang Pa” Alex kehilangan naluri sehatnya karena cinta butanya pada Anaya.
“Cinta membuat kamu seperti ini” Barata kembali mengejek. “Lalu, kamu berbuat onar apa lagi?” tanya Barata curiga, Alex terdiam, melihat sorot tajam Barata ke arah mobilnya.
“A..apa?” tanya Alex.
“Jangan bohong, kamu habis berbuat ulah apa lagi Lex?” tanya Barata serius, melihat pembantu laki-laki tadi menggosok bagian ban mobil dengan sekuat tenaga.
Alex terdiam seribu Bahasa, tidak mungkin dia menceritakan secara gamblang jika dia menjadi penabrak orang.
“Itu bukan darah binatang kan?” tanya Barata lagi, lagi-lagi Alex masih terdiam mendengar Barata bertanya. “Papa tahu Papa tidak bisa menebus kesalahan di masa lalu, namun setidaknya Papa tidak ingin mati membawa banyak dosa masa lalu, itu sebabnya Papa membuka semua kebenaran di masa lalu” ujarnya membuka cerita.
Alex masih terdiam seperti anak kecil yang sedang dimarahi oleh Bapaknya.
“Jika Papa dulu kekeh bilang jika keluarga Saga yang membunuh orang tua Anaya, itu murni kesalahan Papa yang iri dengan kesuksesan keluarga Saga, sehingga timbulah niat jahat itu, Papa sendiri tidak menyangka jika Anaya akan menaruh dendam, hingga Papa harus membuka semua kebenaran”
“Papa gila, harusnya Papa melakukan sedari awal, bukannya sudah begini” Alex protes.
“Itulah mengapa, penyesalan bukan di awal Lex, Papamu sudah tua, Papa juga tidak tahu kapan Papa akan mati, harusnya kamu yang muda bisa berpikir jernih tentang masa depan kamu, bukan malah hura-hura tidak jelas”
“Papa itu yang tidak jelas” cecar Alex, dia seolah benar-benar kehilangan kewarasan.
“Lex, Papa selama ini diam dengan apa yang kamu lakukan, kamu suka bermain-main dengan berbagai macam wanita, kamu yang suka berbuat sesukamu, kini Papa ingin mengatakan pada kamu, bahwa Papa tidak suka dengan apa yang kamu lakukan, kamu masih muda, masih banyak kesempatan, berubahlah”
Alex mendecih, ingin rasanya dia mengumpat mengeluarkan segala gundah yang ada di hatinya.
Kini dia merasa benar-benar hancur, cintanya pekerjaannya, dan bahkan Barata yang seolah tidak melindunginya lagi.
“Akuilah kesalahan yang sudah kamu perbuat sebelum terlambat, Papa akan selalu menerima keadaan kamu” ujar Barata, dia bangkit dari kursinya lalu meninggalkan Alex.
Jangan lupa like dan vote. thank you...
__ADS_1