Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
Tiga Puluh : Cinta Atau Kasihan?


__ADS_3

Flashback on


Saga melihat Ganis sedang berkaca-kaca, padahal saat itu mereka sedang menikmati makan mie, Ganis awalnya makan dengan lahap, tetapi saat mendengar lagu yang liriknya sedih, mata gadis di depannya itu mendadak berkaca-kaca, air matanya hampir tumpah. Keinginan untuk menghiburnya terancam gagal. Segera dia menghentikan aktivitas makannya dan berdiri mendekati penyanyi itu.


“Mas dan mbak, tolong hentikan lagu galaunya, ehm…ada yang lagi galau” pinta Saga.


“Oh, terus gimana mas?” tanya sang gitaris, vokalisnya nampak kebingungan.


“Gini aja mas, mbak, saya private request, semalaman ini lagu-lagunya yang happy” Saga mengeluarkan uang dan menyawer penyanyi tersebut.


“Oh siap mas, terima kasih”


Seusai memberikan instruksi dan uang tips untuk penyanyi tersebut, Saga kembali ke mejanya, nampak Ganis sudah bisa menguasai air matanya, Saga melanjutkan makan. Dia sama sekali tidak ingin Ganis bersedih. Satu hal yang membuatnya sedih adalah melihat seorang perempuan menangis.


            Setelahnya, dia melihat Ganis bisa perlahan melupakan luka batinnya, hingga waktu itu datang, dia melihat undangan yang tergeletak di meja. Saat itu Ganis tengah tertidur di sofa, tapi setidaknya gadis itu tidak menangis tersedu-sedu lagi seperti saat patah hati yang pertama, tapi Saga tetap saja tidak tenang. Awalnya Saga telah


menjadwalkan meeting penting dengan para investor di resort pada hari pernikahan Radian, di saat itu pula dia memutuskan untuk menjadwal ulang dan dia akan menemani Ganis ke pernikahan Radian.


Sebelumnya, Radian telah menyiapkan persiapan untuk Ganis, setelah dari pesta pernikahan Radian, dia akan mengajak Ganis serta ke resort untuk menginap, biar tidak ada galau di hati Ganis.


“Siapkan baju dan lainnya untuk seseorang” ujar Saga meminta butik store yang dinaunginya untuk menyiapkan segala keperluan Ganis, dimulai dari baju, celana, sepatu, dan lainnya kepada salah satu karyawan butik.


“Siap Tuan, ehm…kira-kira orangnya seberapa Tuan?” tentu saja jika akan membeli baju dan lainnya, dia harus mengetahui ukurannya, Saga mencoba menerka.


“Dia tidak terlalu tinggi dan tidak gemuk, kalau sepatunya sekitar ukuran 37” jawab Saga, dia ingat saat sepatu Ganis berada di rak yang sama dengan sepatunya.


“Baik Tuan, akan saya siapkan”


“Iya” Saga duduk di ruang VIP menunggu pesanannya.


Karyawan yang tadi melayaninya kembali menemui Saga, Saga meletakkan majalah yang sedang dibukanya.

__ADS_1


“Ada apa lagi?”


“Maaf Tuan, ehm…untuk…untuk ********** bagaimana Tuan? Ehm…maksud saya ukurannya berapa?” tanya karyawan tersebut malu-malu.


Saga berfikir sejenak, “Dalaman?” ulangnya, dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh karyawan tersebut.


“Iya Tuan, maksud saya itu bra”


“Oh…” Saga nampak bingung harus bagaimana, bagaimana dia bisa tahu ukuran bra.


“Kira-kira saja” ucap Saga cuek, karyawan itu tidak membantah dan melaksanakan apa yang Saga perintahkan. Setelahnya dia menghubungi salon dan menyuruhnya untuk merias Ganis di rumahnya segera, dia ingin saat dia sampai di rumah, Ganis sudah siap dan pergi. Sementara dia memilih batik sebagai kostum yang akan dia pakai.


Rasa penat setelah seharian bekerja di kantor, selain itu dia harus ke butik untuk persiapan pakaian Ganis dan lain-lain, kini dia sudah sampai di rumah. Dia sengaja memilih pulang segera agar Ganis tidak berangkat terlebih dahulu ke kondangan, dia ingin ikut menemani gadis itu. Dalam hatinya, dia tidak tega jika tiba-tiba gadis itu bersedih sendirian di tengah pesta. Dia tidak peduli dengan apa yang ada di dalam hati Ganis, dia ikut pergi ke kondangan bersamanya, di sana dia juga sengaja memainkan piano dan bernyanyi. Hobby yang sudah lama sekali tidak pernah dia lakoni, keadaan yang tiba-tiba ingin dia lakukan saat itu juga. Bahkan dia merasa sedang bernyanyi dari hati, lagu janji suci mengalun dengan indah. Dia berharap, apa yang dia sampaikan lewat lagu benar-benar tersampaikan pada Ganis.


Flashback off


***


“Mau saya antar ke kamar Tuan?” sekertaris Li membungkuk memberikan hormat.


“Apakah dia sudah pulang Pak Li?”


“Sudah Tuan, Nona pulang sebelum petang” jawab Pak Li.


“Baik, kita segera ke kamar”


“Baik Tuan”


Sekertaris Li memanggil sopir kendaraan khusus pengantar tamu yang disediakan resort, agar mengantar mereka ke kamar Saga.


Tak membutuhkan waktu lama, Saga sudah sampai di resort tempat dia menginap, sekertaris Li pamit undur diri untuk kembali ke kamar yang lain. Saga segera membuka pintu kamarnya, lampu kamar sudah menyala, tidak ada suara dari dalam kamar, hening. Saga melihat Ganis sedang tidur meringkuk di atas sofa, nampaknya gadis itu kelelahan karena seharian berjalan-jalan. Terdapat bunga mawar putih dan merah tergeletak di atas meja, mungkin saja dia sengaja membelinya dari petani bunga yang ada di sekitar resort. Rencana untuk mengajaknya makan malam gagal, dia tidak tega membangunkan gadis itu.

__ADS_1


Saga menuju kamar mandi untuk segera mengguyur badannya yang terasa lengket karena seharian bekerja, karena acara dipadatkan, sehingga esok pagi tidak ada kegiatan meeting lagi. Para tamu dapat menikmati waktunya dengan bersantai atau berlibur, begitu juga dia.


Saga berganti pakaian dengan kaos dan celana jeans, sepertinya dia harus keluar karena kelaparan. Dia sengaja tidak ikut bergabung makan malam dengan para tamu dengan harapan bisa makan malam dengan Ganis, tapi ternyata gadis itu tertidur dengan lelapnya. Saga berjongkok di depan sofa tempat Ganis meringkuk, wajahnya


berhadapan dengan wajah gadis itu. Dia memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama.


Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu sudah bisa melepaskan Radianmu?


Ganis mengubah posisi tidurnya, Saga kaget dan hendak beranjak agar tidak membuat gadis itu besar kepala jika dia tahu kalau Saga sedang memperhatikannya. Tapi mata Ganis masih tertutup rapat, dia tidak bangun. Saga sudah bersiap meninggalkannya, melangkah beberapa langkah. Namun dia berhenti lagi dan menoleh ke arah Ganis. Lalu dia kembali mendekati gadis itu, tangannya yang kuat mengangkat tubuh mungil gadis itu dan merebahkannya di atas ranjang. Menutupi tubuh gadis itu dengan selimut.


Saga berada di lantai 2, tempat yang sama saat dia sarapan tadi pagi, terlalu malam dia menikmati hidangan makan malamnya. Piringnya sudah kosong, hanya secangkir kopi yang masih menemaninya malam ini, suasana juga sudah sepi, Saga beralih duduk di pojok dekat pagar tempat tersebut, meskipun di sekeliling hanya hamparan bukit, namun lampu yang menghiasi mampu memecah kegelapan.


Aku mendadak bodoh karena kamu. Saga tersenyum kecil, tangannya mengangkat gelas berisi kopi, lalu menyesapnya.


Saga merogoh HP yang ada di saku celananya, dibukanya akun portal berita yang tengah ramai memberitakan tentang dirinya dan pernikahannya.


Aku tidak tahu dengan perasaanmu, hanya saja aku sudah terbiasa dengan keberadaanmu.


Sebuah tangan merangkul Saga dari arah belakang, kedua tangan itu merangkul pinggangnya dengan nyaman, dan dirasakan pula ada kepala yang bersandar di punggungnya.


“Apakah kamu sudah benar-benar jatuh cinta padaku? Kan aku sudah bilang, jangan besar kepala dan merasa semua itu untukmu. Kamu jangan main belakang, pura-pura tidur, tapi sekarang kamu bersikap seperti ini” ujar Saga dengan angkuhnya, tapi tidak dengan hatinya, ada rasa tenang mendapat perlakuan itu. Tidak ada jawaban dari ucapannya, Saga melepas tangan yang melingkar di pinggangnya, berbalik badan dan melihat seseorang yang telah memeluknya tadi.


Mata Saga nanar melihat gadis yang ada di depannya, apakah dia sedang bermimpi atau ini benar-benar kenyataan. Gadis itu tersenyum dengan sangat manis. Saga terdiam mematung.


 


 


 


Terima kaasih untuk pembaca setia...

__ADS_1


Happy Reading ^^


__ADS_2