Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 65 : Aku Mencintaimu, Ganis...!


__ADS_3

“Aku mencintaimu” kalimat itu berulang kali terucap dari bibir Saga. Ganis hanya bisa mendengar tanpa bisa mengatakan apa yang ada di hatinya.


Batinnya bergejolak, apa yang harus dia lakukan sekarang. Bertahan atau melepaskan?


Air matanya kembali meleleh, entah menahan kesedihan atau sedang terharu dengan apa yang terjadi saat ini.


Tangan kanan Saga memegang pipi Ganis, mengusap air mata perlahan dengan tangannya langsung. Matanya nampak teduh meskipun lelah di wajahnya terlihat jelas.


“Apakah kamu masih sakit?” tanya Saga mengusap pipi Ganis lembut, dia kembali menunduk agar bisa melihat wajah Ganis dengan jelas. Bukannya menjawab, air mata malah keluar lebih deras.


Betapa baiknya laki-laki yang ada di hadapannya, dia salah duga. Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang?


“Aku terluka saat melihatmu sakit, aku tidak mau melihatmu terluka sedikitpun” tambahnya. Bahu Ganis terguncang karena isakan tangisnya.


“Aku ingin kamu tetap di sini, jangan pergi, dan kita mulai dari awal lagi”


Saga menurunkan tangannya dari pipi Ganis, kini dia memeluk gadis itu erat di dekapannya. Ganis tenggelam dalam pelukannya.


Ganis bisa merasakan aroma parfum yang dipakai Saga, aroma yang menjadi favoritnya.


Beberapa lama Ganis tenggelam dalam pelukan Saga, Saga membiarkan gadis itu menangis sesukanya, bahkan dia rela kemejanya basah oleh air mata gadis itu.


Rintik hujan semakin deras, bercampur dengan angin malam yang dingin. Mereka sedang menumpahkan perasaan yang selama ini menjadi ganjalan di hatinya.


Perlahan Ganis menarik dirinya dari pelukan Saga. Dia mendongak, melihat wajah Saga yang sayu namun damai, laki-laki itu memberikan senyum menawannya.


“Apakah kamu masih ingin pergi?”


“Katakanlah jika kamu tidak mencintaiku” imbuh Saga.


Bukan itu, karena sejatinya Saga sudah menguasai hati dan perasaannya sekarang, tidak ada yang lain selain Saga, tapi dia masih bingung dengan apa yang harus dia lakukan.


“Sudah malam, masuklah, pikirkan, kamu baru sembuh tidak baik terkena angin malam, besok kita bicara lagi”


Saga menoleh ke arah koper, tanpa menunggu persetujuan, dia membawa koper tersebut masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Ganis melihat apa yang dilakukan Saga, tak berapa lama, meskipun ragu, dia melangkah kembali masuk ke dalam rumah, menuju kamar di lantai bawah, kamar yang ditempati selama beberapa hari terakhir.


            Saga melepaskan kemeja, sudah dini hari, setelah mandi, dia mencoba memejamkan matanya. Tapi tidak berhasil, dia kembali ke posisi duduk di tepi ranjang. Bagaimana gadis itu ingin meninggalkan rumah ini? Mau kemana dia?. Dia menyadari jika perlakuan dia selama akhir-akhir ini membuat gadis itu terluka. Saga menghembuskan nafas dari mulutnya, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


Dia berdiri, berjalan mondar-mandir di kamarnya. Setelah beberapa lama, dia memutuskan untuk turun ke lantai bawah, jangan-jangan Ganis mencoba meninggalkan rumah ini tanpa sepengetahuannya.


Dia berjalan perlahan menuruni anak tangga, ruangan nampak gelap. Dilihatnya pintu kamar yang ditempati Ganis, tertutup rapat. Mungkinkah gadis itu sudah tidur?


Saga duduk di sofa dekat kamar tersebut, setelahnya dia merebahkan dirinya. Memastikan jika Ganis akan tetap berada di rumah ini.


            Ganis masuk ke dalam kamar saat Saga memintanya untuk memikirkannya kembali keputusan itu. Koper yang tadinya akan dibawa, entah dibawa kemana oleh Saga. Mungkin di bawa naik ke lantai 2, di kamarnya. Ganis duduk di tepi ranjang, merenungi apa yang baru saja terjadi.


Apakah benar apa yang dia dengar? Bahwa Saga menginginkannya? Dan dia tersenyum kecut saat mengingat Saga memprotes dirinya karena tidak pernah bilang jika dia mencintai Saga.


Ganis mencoba mengingat, memang benar, dia tidak pernah mengatakan itu. bukannya tidak mau, hanya saja dia takut.


            Ganis duduk di gazebo taman samping dekat kolam ikan, hari sudah siang. Dia masih belum menemukan jawaban apa yang akan dia utarakan pada Saga. Dia mencintai Saga, tapi di satu sisi dia masih belum yakin dengan perasaan Saga padanya, apakah itu serius?


“Permisi Nona” sapa Dini.


“Mbak Din” Ganis menoleh, agak terkejut dengan kehadiran Dini.


“Tidak apa mbak, ada apa?” tanya Ganis ramah, dia bergeser, memberikan ruang untuk Dini agar duduk di sana. Dini hanya berdiri di dekatnya.


“Apakah Nona sudah makan siang? Waktunya Nona minum obat” Dini mengingatkan, dia memang belum makan siang dan belum minum obat.


“Belum, nanti saja Mbak”


“Maaf Nona, Tuan Saga meminta Nona segera makan dan minum obat”


Ganis menoleh ke arah Dini, “Tuan Saga?” tanya Ganis memastikan tidak salah dengar.


“Iya Nona”


Mengapa dia tidak menghubungiku secara langsung? Ganis mengeryit.

__ADS_1


“Saya bawakan makanan kesini ya?” tawar Dini. Dini membalikkan tubuhnya dan bersiap masuk ke dalam mengambil makanan.


“Ehm…nanti dulu mbak” Ganis mengulurkan tangan, Dini menghentikan langkahnya.


“Eh, iya Nona?”


“Sini dulu” Ganis memberikan isyarat dengan tangannya agar Dini duduk di sampingnya. Dini menurut, sebelum duduk di samping Ganis, dia menundukkan kepalanya memberikan hormat sebagai tanda dia minta izin untuk duduk bersama Ganis.


“Tuan Saga menyampaikan itu?” Ganis sedikit ragu sehingga ingin memastikan. Antara tidak percaya.


“Iya Nona, bahkan tadi Tuan tidur di sofa dekat kamar Nona” imbuh Dini.


Ganis memicingkan mata, untuk apa Saga tidur di sana? Apakah dia takut kalau Ganis akan kabur?. Senyum mengembang di bibirnya. Dini melihat Ganis ikut tersenyum.


“Dan apakah Nona tahu kemarin-kemarin itu saat Nona sakit?”


“Um?” Ganis memperbaiki posisi duduknya, dia menaikkan semua kaki ke atas gazebo, agar lebih nyaman berbincang dengan Dini.


“Tuan adalah orang yang pertama kali saya hubungi saat Nona masuk rumah sakit, dengan keberanian yang super nekat, dan Tuan pulang dengan segera saat itu” Dini menyeringai. “Tapi Tuan tidak pernah menemui Nona secara langsung, diam-diam beliau melihat Nona saat Nona sedang tidur”


“Tapi kenapa?” tanya Ganis lirih.


“Kurang tahu Nona” ujar Dini. “Nona…”


“Hem?”


“Nona jangan pergi…” pinta Dini, Ganis terperanjat mendengar kalimat yang seperti sebuah permintaan. Diam-diam Dini tahu jika Ganis semalam membawa koper keluar rumah, hanya saja dia tidak berani untuk bertanya. “Maaf Nona, bukannya ikut campur, tapi Tuan Saga terlihat sangat-sangat mencintai Nona” imbuh Dini, matanya nampak berkaca-kaca.


“Mbak…”


“Nona orang baik, jangan pergi”


Ganis tersenyum kecil, menghela nafas. Matanya memandang ikan yang sedang berebut makanan di kolam renang. Ganis kembali melemparkan makanan ikan ke kolam. Batinnya terasa tenang, entah mengapa. Dia harus menunggu Saga hingga sore ini sebelum memutuskan apakah dia akan tetap tinggal atau pergi.


Dini undur diri meninggalkan Ganis sendirian di gazebo, Ganis berjanji akan makan siang dan minum obat setelah ini.

__ADS_1


“Aku mencintaimu” kalimat Saga kembali bergema di telinganya. Tangan Ganis menutup toples makanan ikan. Lalu Ganis memejamkan mata untuk menenangkan dirinya sebelum akhirnya dia masuk ke dalam rumah untuk makan siang dan minum obat.


 Sepertinya bisa up 2 chapter, gas dulu like nya ya...200. Happy Reading ^^


__ADS_2