Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 80 : Jalan Terang


__ADS_3

Suasana mendadak tegang, saat para petugas mencoba membawa Anaya keluar dari ruangan tersebut.


“Atas dasar apa anda akan membawa saya ke kantor polisi?” teriak Anaya. Para peserta rapat yang tadinya hening, seolah bergejolak, mereka saling berbisik satu sama lainnya. Penasaran dengan apa yang terjadi.


“Anda dapat berbicara lebih lanjut di kantor, mari Bu, jangan sampai kami memakai cara kami jika Ibu tidak mau bekerja sama” ujar seorang polisi dengan pakaian tanpa seragam.


Anaya tersenyum kecewa, mau tidak mau dia menuruti apa yang dikatakan oleh polisi. Akhirnya dia meninggalkan ruangan rapat tepat dengan para staff dan rekan pebisnis lainnya. Mereka semakin dengan sesuka hati membicarakan Anaya yang tiba-tiba di bawa ke kantor polisi.


Alex masih berada di sekitaran kantor Anaya, dia pun melihat sendiri bagaimana 2 buah mobil sedan datang ke kantor Anaya, beberapa orang dengan jaket warna hitam yang dia yakin bahwa orang tersebut adalah anggota polisi. Tepatnya 6 orang yang dilihat Alex.


Dia memperhatikan dari jauh, apa yang dia takutkan benar-benar terjadi, Alex menghembuskan nafas. Dia masih berdiam diri di dalam mobilnya.


Tak berapa lama, dia melihat Anaya dibawa oleh 6 orang tadi. Alex memejamkan matanya, gadis yang dia cintai benar-benar akan meringkuk di penjara.


“Akan aku buktikan jika aku tidak bersalah” teriak Anaya pada salah satu anggota polisi, hanya saja polisi tersebut tidak menanggapinya. Anaya dimasukkan ke dalam mobil sedan, kemudian 2 mobil beriringan meninggalkan kantor Anaya. Alex melihat semuanya, hatinya kelu namun dia tidak bisa berbuat apapun.


Dera dan beberapa pegawai kantor masih bengong tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, pemimpin perusahaannya dibawa oleh polisi.


“Kita tunggu saja, semoga ini kesalahpahaman” ucap Dera kepada para pegawai yang lain. Lalu mereka kembali masuk ke dalam kantor untuk melanjutkan pekerjaan meskipun fokusnya sudah hilang.


***


            Saga tengah berada di dalam mobilnya, sekertaris Li memenuhi keinginan Saga untuk mencari keluarga


orang yang mendorong Ganis. Dia masih berdiam diri di dalam mobil, mobil itu berhenti di sebuah jalan desa. Pandangannya menyapu segala penjuru yang ada di objek yang dilihatnya, sebuah rumah dengan dinding bambu, nampak sangat sederhana dan tidaklah luas. Terdengar juga suara tangisan anak kecil dari dalam rumah.


“Sejak kami tahu, bahwa pelaku pendorongan itu adalah laki-laki itu, kami hanya mengawasi Tuan, kamu belum berani untuk menyeretnya” ujar sekertaris Li.

__ADS_1


Saga masih memperhatikan rumah bambu itu. dilihatnya seorang perempuan dengan pakaian lusuh yang sedang menggendong bayi. Saga memejamkan matanya, situasi yang dia lihat sungguh ironis.


“Menurut informasi yang kami dapatkan kemarin, istrinya sama sekali tidak tahu dengan apa yang dilakukan oleh suaminya, Tuan, mereka memiliki 5 anak, dan yang digendong itu adalah anak yang paling kecil, berusia sekitar 5 bulan” sekertaris Li menunjuk arah wanita yang sedang menenangkan anaknya yang menangis.


Saga keluar dari mobil, sekertaris Li mengikutinya dari belakang. Wanita yang sedang menggendong anak itu melihat ke arah Saga dan sekertaris Li. 2 anak kecil keluar dari rumah sambil membawa mainan butut, umurnya sekitar 4 tahun dan 2 tahun. Saga semakin mendekat, langkahnya sudah memasuki halaman rumah yang ditumbuhi rumput liar, tidak ada pagar rumah.


“Maaf, Tuan mencari siapa?” tanya wanita itu ramah, anak laki-laki yang ada digendongannya sudah diam. Sedangkan dua anak yang keluar tadi berada di samping Ibunya, terdiam melihat Saga dan sekertaris Li datang.


Saga dan sekertaris Li dipersilahkan masuk ke dalam rumah, tidak ada kursi mewah di dalamnya, hanya tikar sederhana, Saga duduk di sana bersama sekertaris Li. Wanita tersebut memanggil seorang anak yang lebih besar untuk menggendong adik bungsunya, agar dia leluasa berbicara dengan Saga dan sekertaris Li.


“Maafkan suami saya Tuan” bibirnya mulai membuka percakapan setelah sekertaris Li menjelaskan jika Saga ada hubungannya dengan penangkapan suaminya. “Saya sama sekali tidak tahu jika suami saya terlibat dalam kasus itu” urainya, air matanya meleleh. Saga masih terdiam, pandangannya kembali menyapu keadaan rumah wanita itu.


“Saya harus melakukan apa yang harus saya lakukan” ujar Saga kemudian, datar dan tanpa ekspresi.


“Iya Tuan, saya paham, apa yang dilakukan suami saya memang kejahatan” wanita itu pasrah.


“Saya siap Tuan, saya siap memberikan kesaksian yang dibutuhkan”


“Baik” ujar sekertaris Li.


“Selama ini siapa yang bekerja?” tanya Saga penasaran.


“Suami saya Tuan, kadang saya juga bekerja jika memang ada pekerjaan nyuci”


Saga menelan ludahnya, seperti buah simalakama, serba dilema, di satu sisi dia merasa tidak tega dengan apa yang dilihatnya, di satu sisi dia harus menjebloskan suami wanita itu karena memang melakukan tindakan kriminal.


“Saya sama sekali tidak menyangka jika suami saya tega melakukannya, dia juga tidak pernah bercerita apa-apa” ujarnya, air matanya masih saja mengalir, sesekali dia mengusap dengan sisi baju lengannya.

__ADS_1


            Sepanjang perjalanan meninggalkan rumah wanita itu, Saga terdiam. Hatinya dipenuhi dengan sesuatu yang menyakitkan hatinya. Apa yang ada di benak Ganis jika istrinya itu mengetahui apa yang terjadi. Saga menghela nafas panjang.


HP nya berdering nyaring, sesaat dia mengeluarkan HP dari saku.


“Hallo…iya…”


Setelah beberapa saat terdiam mendengar lawan bicara, Saga menutup pembicaraan. Kembali dia menghela nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Sekertaris Li melihat apa yang dilakukan Saga dari kaca depan.


            Beberapa portal berita online memberitakan perihal penangkapan Anaya terkait dengan perencanaan pembunuhan yang dilakukan. Dengan cepat pula berita tersebut menyebar ke segala penjuru, tak lupa nama Saga dan Ganis berada di sana, menjadi bagian dari narasi beritanya.


Ganis sedang membaca sebuah buku di sofa kamarnya, siang yang panas membuatnya tidak ingin kemana-mana, hanya ingin menghabiskan waktu di kamar sambil makan cemilan dan membaca buku.


Sesekali dia terhanyut dengan apa yang dibacanya, kacang methe yang ada di toples hampir tandas, tidak terasa dia sudah mengemil sebanyak satu toples. Ganis menutup bukunya dan meletakkan di sofa, dia mendekati dispenser, mengambil air di sana lalu meneguknya dari gelas. Bosan membaca buku, Ganis beralih menyalakan televisi. Tangannya berhenti memencet remote kontrol saat melihat breaking news dengan Headline “Penangkapan Pebisnis Muda Anaya”.


Ganis mengeraskan volume televisi agar dia tidak salah menangkap isi berita, apakah yang dia lihat benar-benar berita yang benar.


“Nona!” Ganis menutup mulutnya dengan tangan, seolah tidak percaya saat melihat wajah Anaya yang meskipun ditutupi masker itu terlihat. Dia yakin jika Anaya yang ada di televisi adalah Anaya yang dia kenal.


Ganis mengambil HP yang tergeletak di nakas, mencari nomor kontak Saga. Beberapa kali dia mencoba mneghubungi suaminya, namun tidak tersambung.


Narasi di berita menyatakan jika Anaya terlibat dalam kecelakaan yang terjadi pada istri pimpinan Arjuna Group.


“Aku?” Ganis menunjuk dirinya. “Nona?” Ganis masih tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.


 


Terima kasih para readers atas dukungannya, oh ya kemarin ada yang komen bilang nggak hot nggak seru, pesan Author : Kalau mau cari yang hot bukan di sini tempatnya.

__ADS_1


Mengenai visual, antara ingin ngasih dan enggak. takutnya kurang sesuai dengan selera para readers. hehe


__ADS_2