
Ganis kembali ke kamarnya, dia duduk merenung di atas ranjang. Dini sedang berbicara dengan sekertaris Li di luar. Pertemuannya dengan Salwa membuka tabir kecemburuan yang selama ini dia pelihara, kini penyesalan yang tersisa di hatinya.
Tak seharusnya dia menanamkan rasa cemburu tersebut, tak semestinya dia menganggap jika Salwa adalah gadis yang akan merebut Saga darinya.
Prasangka yang tidak baik membuat hatinya sendiri yang terluka, mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Dari kejadian ini dia banyak belajar, bahwa tidak seharusnya dia berburuk sangka.
Ganis menelan salivanya, tenggorokannya terasa sakit. Dia malu pada dirinya, malu pada keadaan yang menderanya. Hingga dia tidak menyadari pintu terbuka. Saga melihat istrinya tengah bengong duduk di atas ranjang.
Saga mendekati istrinya yang sedang bersila di atas ranjang, dia memeluk Ganis dari belakang. Ganis tersentak, lalu menoleh ke belakang. Dia hafal betul dari bau parfum itu.
"Mas..." Ganis mengelus tangan Saga yang melingkar di tubuhnya.
"Kamu sedang melamun ya? sampai-sampai tidak menyadari kedatanganku?"
Ganis tersenyum, tebakan Saga benar adanya. Dia melamun dan tidak menyadario kedatangannya.
"Mas..." Ganis menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya. Saga melepas pelukannya, lalu dia beralih duduk di depan Ganis. Siap menjadi pendengar yang baik buat istrinya. Kali aja Ganis akan menceritakan perihal kejadian kemarin sore itu.
"Mas....aku merasa angat bersalah pada Salwa" ucapnya membuka percakapan. Saga mengangkat sebelah alisnya. "Iya...ternyata aku salah tentang dia, salah semua"
Saga masih terdiam, ekspresi wajahnya sudah kembali, dia masih belum berkomentar, dia masih ingin mendengar Ganis bercerita.
"Teryata dia orang yang sangat baik, tadi aku ketemu dia dan ngobrol dengannya" Ganis menyunggingkan senyumnya. "Dan ternyata selama ini aku salah, aku salah sudah cemburu buta padanya"
Saga melihat istrinya dengan tatapan lembut, lalu dia tersenyum. Akhirnya waktu jugalah yang menjawab semua ini, ada rasa tenang yang Saga rasakan. Akhirnya Ganis mengerti dan memahami hubungannya dengan Salwa, hanya sebatas rekan kerja.
"Bahkan dia rela mengorbankan dirinya" Ganis menggigit bibir bawahnya. "Dan aku yakin tidak semua orang bisa melakukannya, bahkan dia tidak mengenalku secara baik"
"Aku senang mendengarnya" balas Saga, tangannya bergerak memegang tangan Ganis dan mengelusnya perlahan.
"Ternyata dia teman satu sekolahanmu ya Mas?"
Saga kembali mengangkat alisnya, kali ini kedua-duanya naik ke atas, mencoba mengingatnya, namun dia lupa. Lalu dia mengangkat kedua bahunya.
"Ih dasar pelupa!" Ganis memukul lengan Saga pelan.
"Serius yang, aku lupa...." jawab Saga sambil terkekeh.
"Lupa atau sengaja lupa?" tanya Ganis menggoda.
__ADS_1
"Iya serius, aku itu kebanyakan lupa sama teman-temanku dulu, apalagi yang nggak sekelas" Saga membela diri.
"Eh katanya dia mau tunangan dua minggu lagi ya Mas? kita datang ya..." Ganis sumringah.
"Iya...kapan itu dia ngasih undangan ke aku, tapi aku belum sempat kasih tahu kamu"
"Semoga keadaannya segera membaik, jangan sampai acaranya batal" harap Ganis, dia memasang wajah iba.
"Iya...semoga lekas membaik...Amin...." timpal Saga.
"Kita hari ini pulang kan Mas?" tanya Ganis penuh harap.
Saga melihat istrinya, diam sesaat dan menatap lekat. Lalu dia mengangguk.
"Yeeeessss" Ganis bahagia, dia mengepalkan kedua tangannya ke udara. "Eh tapi Nona Salwa masih harus di sini" mimik wajahnya kembali sendu, rasa bersalahnya kembali menyelimuti hatinya.
"Aku senang bisa pulang, tapi dia masih harus di sini" gumamnya lirih. Saga turun dari ranjang, dia lalu berdiri di samping Ganis dan memeluk istrinya.
"Nanti kalau kamu sudah pulang, kamu masih bisa jenguk dia" Saga menghibur. Ganis mengangguk, kedua tangannya memeluk pinggang Saga erat. Saga mencium ujung kepala Ganis lembut.
"Nanti kamu pamitan sama dia"
"Iya Mas.., oh ya Mas sudah ketemu dia?" tanya Ganis sambil mendongak ke atas melihat wajah Saga.
"Oh..." Ganis mengangguk.
"Sudah sana, kamu istirahat saja dulu, nunggu dokternya kesini, nah kalau memang keadaan bagus, nanti sore kita beneran pulang"
"Iya Mas..." Ganis mengangguk-angguk, lalu dia merebahkan diri di ranjang.
***
Saga keluar kamar saat Ganis sudah terlelap tidur, dia merapatkan selimut Ganis. Saga menutup pintu perlahan agar tidak membangunkan Ganis.
Saga duduk di samping sekertaris Li, Dini sudah pamit pulang saat Saga tiba di rumah sakit.
"Pak Li, saya mencurigai satu nama" ujarnya sambil menerawang. Sekertaris Li melirik ke arah Saga.
"Apakah itu Alex?" Sekertaris Li menebak, Saga mengalihkan pandangannya dari tembok ke arah sekertaris Li, tidak menyangka jika mereka satu frekuensi pandangan.
__ADS_1
"Tapi aku tidak mau berprasangka dulu, hanya menebak saja, tolong pantau. Aku sendiri belum bisa bertanya lebih lanjut pada Ganis. Aku takut dia masih trauma dengan kejadian itu, aku yakin dia punya cerita"
"Baik Tuan, saya dengar bahwa Alex juga ada hubungannya dengan meninggalnya istri dari Radian" jelas sekertaris Li. Saga menatap sekertaris Li tajam. Dia sama sekali tidak tahu tentang hal itu.
"Lalu?"
"Dan polisi sepertinya sedang mengincarnya" imbuh sekertaris Li.
Saga mengepalkan sebelah tangannya, jika benar Alex yang juga melakukan hal ini kemarin, maka dia tidak akan tinggal diam.
Saga menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Alex.
"Menurut Isnan, dia seperti tidak asing dengan wajah dibalik topi yang menutupi sebagian wajahnya, Tuan"
Saga masih terdiam.
"Kemungkinan adalah Alex, sayang dia tidak sempat mengejarnya"
"Baik Pak Li, kawal kasus ini, kalau bisa aku akan turun tangan langsung untuk menindak Alex, pastikan jika benar dia yang terlibat"
***
Saga membukakan pintu kamar untuk Ganis, Ganis merasa senang akhirnya bisa pulang ke rumah. Rumah sakit bukanlah tempat yang menyenangkan baginya.
Seusai mencuci muka dan tangan serta kaki, Ganis segera merebahkan diri di atas ranjang yang empuk.
"Sayang minta tolong ambilkan HPku" ucap Ganis. Saga mengangguk, dia mendekat ke arah sofa dan mengambil HP Ganis yang ada di dalam tas.
"Terima kasih" ucap Ganis setelah mndapatkan uluran HP.
"Sama-sama sayang" jawab Saga.
Ganis melihat-lihat galeri foto yang ada di HPnya.
"Mas....!" serunya. Saga yang akan bersiap masuk ke dalam kamar mandi mendadak menghentikan langkahnya, dia kembali berbalik dan mendekati Ganis.
"Ini" Ganis menunjuk sebuah foto yang memperlihatkan sebuah mobil yang mengikutinya sebelum kejadian kemarin.
Saat Ganis merasa ada yang aneh dengan mobil yang membuntutinya, dia memotret mobil tersebut. Kali aja akan berguna nantinya, dan seolah ini menjawab firasatnya.
__ADS_1
Saga mengambil alih HP Ganis dan melihat mobil tersebut, tertera nomor polisi mobil tersebut, terlihat dengan jelas. Saga menghela nafas, satu petunjuk ada di tangan.
"Semoga ada petunjuk Mas" gumam Ganis berharap. Saga mengangguk.