
Ganis memejamkan matanya, hembusan nafas Saga terasa hangat di wajahnya, jantungnya berdetak kencang, seakan baru saja berlari marathon. Bibir Saga mendekati bibirnya. Ganis semakin merapatkan matanya.
Cekleek
Terdengar suara pintu terbuka, Saga buru-buru menjauhkan wajahnya dari Ganis. Ganis membuang wajahnya, tangan kiri yang sedang memegang potongan apel kembali diangkat. Saga mengambil nafas panjang, Ganis mencoba menguasai rasa gugupnya.
“Tuan” seketrais Li menganggukkan badannya.
“Kamu ini seperti bayi, lihat bibirmu beleepotan” Saga mengambil tisu dan mengelapmsekitar bibir Ganis. Ganis melongo, bahkan tangan kirinya ikut meraba bibirnya, tidak ada noda sama sekali.
Dia sedang bersandiwara. Pekik Ganis dalam hati.
Saga meletakkan tisu di ranjang sembarangan, dia kemudian turun dari ranjang dan mempersilahkan sekertaris Li duduk di sofa.
“Ada beberapa berkas yang harus Tuan tanda tangani” sekertaris Li membuka tas dan mengeluarkan isi dokumen. Saga membuka dokumen tersebut, membaca sejenak, lalu menandatanganinya.
“Ada lagi Pak Li?”
“Tuan, akan ada pertemuan sekitar sebulan lagi dengan investor untuk bidang transportasi”
“Baik Pak Li, persiapkan sebaik mungkin, jika Pak Li merasa kerepotan, mintalah bantuan Farel” Saga menyebut salah satu orang kepercayaannya.
"Iya Tuan"
Sekertaris Li melihat ke arah Ganis, gadis itu nampak sedang menikmati potongan apel yang tinggal beberapa potong. Dia tersenyum kecil, dalam hatinya dia sangat bersyukur melihat Ganis sudah membaik.
“Apakah sudah ada perkembangan penyelidikan Pak Li?” tanya Saga, karena dia ingin tahu mengapa kecelakaan yang dialami Ganis bisa terjadi.
“Polisi masih melakukan penyelidikan Tuan”
“Baik, jika ada kabar, segera kabari”
“Baik Tuan, permisi saya mohon undur diri”
Selepas sekertaris Li undur diri, Saga kembali mendekati Ganis, dia kembali duduk di tepian ranjang Ganis. Pipi Ganis terasa panas, mungkin saja kali ini masih memerah karena mengingat kejadian tadi.
“Kenapa mukamu begitu?” Saga mengejek. Ganis menggeleng, ingin rasanya dia memukul Saga. Jujur saja dia malu dengan kejadian tadi, semoga Saga tidak tidak membahasnya lagi.
__ADS_1
“Um…Tuan bisakah aku minta tolong?” ujarnya mengalihkan perhatian, jika tidak, dia akan mati kutu karena mengingat kejadian tadi. Apalagi mereka kini hanya berdua lagi, adegan ciuman gagal itu masih saja memenuhi otaknya.
“Apa?”
“Aku ingin menyisir rambutku”
“Di mana sisirnya?”
Ganis menunjuk sebuah laci, kemarin Dini membawakannya untuknya. Saga segera mengikuti arahan Ganis, membuka laci tersebut dan mengambil sisir warna pink yang tersimpan di pouch.
“Ini” Saga meletakkan di depan Ganis, gadis itu menatap Saga lama.
“Apa lagi?” tanyanya.
“Tanganku kan sakit, mana bisa aku menyisir rambutku”
“Jadi maksudmu? Hiiisssh” Saga mendengus, seumur-umur baru kali ini dia harus menyisiri rambut orang lain. Ganis bergeser agak ke depan, Saga berpindah ke samping Ganis, agak lebih ke belakang agar bisa menyisir rambut Ganis. Perlahan tangannya menggerakkan sisir di rambut Ganis.
“Yang rapi Tuan” imbuh Ganis.
Saga menekuk wajahnya, mengapa dia seperti seorang pegawai salon yang sedang melayani customer.
“Kok begini? Belum rapi ini” Ganis meraba rambutnya, bersungut-sungut protes. “Diikat saja Tuan”
“Kamu merepotkan sekali, lebih baik aku telpon Dini saja”
“Eh tidak udah Tuan, aku nggak mau merepotkan mbak Dini”
“Oh…jadi kamu lebih suka merepotkan aku daripada Dini? Aku yang bertanggung jawab ke ribuan karyawan, tega-teganya kamu” Saga mengomel, bukannya takut, Ganis malah ingin semakin menggoda Saga.
“He..he..he” Ganis terkekeh, terlihat barisan giginya yang putih itu saat mendengar Saga sedang mengomel.
“Bukan begitu maksudku Tuan” Ganis masih terkekeh.
“Mana karetnya?” meskipun protes, dia masih saja mau menuruti permintaan Ganis.
“Di sana” Ganis menunjuk laci yang sama. Saga mengambilnya dan menguncir rambut Ganis sekenanya, bahkan jauh dari rapi. Ganis tersenyum, puas mengerjai Saga.
__ADS_1
“Aku mau keluar, aku bosan di kamar” Ganis turun dari ranjang dengan hati-hati.
“Kamu mau kemana?” Saga mengikuti gadis itu perlahan. Ganis mendekati laci tadi, mengambil lipstick, bibirnya terasa kering dan pucat, jadi dia akan mengoleskan sedikit lipstick di bibirnya.
“Hah…kamu masih sempat memikirkan itu walau hanya jalan-jalan di depan kamarmu?” Saga terheran, dia menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Ganis melirik Saga sebelum mengoles lipstick itu ke bibirnya.
“Tuan tidak mau kan kalau aku trelihat tidak cantik saat berjalan-jalan dengan Tuan?” Ganis tersenyum menggoda Saga. Wajah laki-laki itu cemberut merasa semakin dikerjai oleh Ganis.
“Nggak mau, aku mau di sini saja, silahkan kamu keluar sendiri” Saga duduk di sofa. Ganis mengoleskan liptik di bibirnya. Setelah selesai, dia meletakkan kembali di laci.
“Tuan tega ya melihat istrinya keluar dari kamar sendirian sambil membawa tiang infus?” Ganis memesang wajah melas.
“Kamu….” Saga tidak melanjutkan kalimatnya, dia merasa terprovokasi, akhirnya dia berdiri dan mendekati Ganis, tangannya mengambil alih tiang infus yang tadi akan dibawa ganis. Ganis meringis menahan tawa, akhirnya dia bisa mengerjai Saga sepuas ini. Saga memasang wajah cemberut sambil mengikuti Ganis keluar kamar.
“Apa lagi sekarang?” ujar Saga dengan wajah kesalnya. Ganis menggeleng, mereka berjalan perlahan di lorong menuju lift yang ada di ujung lorong. Ganis berjalan di depan, sedangkan Saga mengekor di belakang sambil membawa tiang infus.
Mereka tiba di lantai bawah, sama seperti posisinya tadi, Saga mengekor, dia berjalan malas.
“Kamu mau kemana sih?”
“Aku mau ke kantin, Tuan bawa uang?” Ganis menoleh ke belakang, Saga menghentikan langkahnya, tangan kiri Ganis menghadap ke atas, seperti anak kecil yang meminta uang sama Bapaknya. Ganis menatap gadis itu gemas, mengapa sehari ini dia benar-benar merasa dikerjai oleh gadis itu. “Aku pengen beli es krim” Ganis menambahkan. Saga masih mengantongi tangannya di sakunya.
“Kenapa kamu kolokan sekali, es krim? Jangan konyol!” Saga masih tidak mengabulkan.
“Tuan jangan pelit” Ganis kembali memprovokasinya, Saga membuang nafas, sejak kapan dia menjadi manusia yang tertindas seperti ini. Akhirnya Saga berjalan ke arah kantin rumah sakit dan membuka tutup kaca yang isinya terdapat ratusan es krim aneka rasa. Mata Ganis berbinar, akhirnya dia memilih es krim cone warna coklat.
“Terima kasih Tuan” Ganis mneyeringai, tanpa dikomando, Saga membukakan penutup es krim tersebut. Ganis menepi dan duduk di kursi sambil menikmati es krimnya, Saga tidak mau berdebat lagi, apapun terserah Ganis. Ada bekas lelehan coklat di atas bibir Ganis, Saga mengusap bibir Ganis dengan jarinya. Ganis berhenti memakan es krimnya, saat mendapat perlakuan manis tersebut, kembali jantungnya berdetak lebih kencang. Sehari ini jantungnya mendadak tidak aman karena ulah Saga.
“Ih om bucin” celotehan suara dari anak laki-laki yang berjalan di depan mereka.
“Hush…nggak boleh begitu, nggak sopan” ujar seorang wanita yang membawa infus anak laki-laki tersebut. Nampaknya itu adalah Mamanya. Anak kecil laki-laki dan Mamanya berlalu begitu saja.
Ganis dan Saga melihat anak laki-laki itu, buru-buru Ganis mengelap bibirnya sembarangan dengan tangan kirinya. Sementara Saga salah tingkah.
“Kalau sudah, ayo kembali ke kamar, kamu mau jadi artis di sini? Mau pamer kalau punya suami tampan seperti aku. Hah?” Saga berdiri di depan Ganis, Ganis membuang bekas es krimnya di tempat sampah sampingnya, lalu dia berdiri. Mereka berjalan menuju lift untuk kembali ke kamar Ganis di lantai 3.
Saga menekan angka 3, pintu lift terbuka, mereka masuk ke dalam lift, hanya mereka berdua. Tidak ada percakapan di antara mereka, Ganis sudah lelah mengerjai Saga hari ini, sebenarnya hal tersebut dilakukan untuk mengalihkan rasa gugupnya atas peristiwa yang terjadi hari ini.
__ADS_1
Tiba-tiba lift terhenti, lampu yang ada di dalam tidak menyala, Saga memegang erat tangan kiri Ganis. Ganis membiarkan tangan Saga menggenggam erat tangannya, agar laki-laki itu bisa membuang rasa paniknya.