
Persiapan resepsi hampir rampung, WO yang ditunjuk Saga sangat bekerja keras mewujudkan pernikahan sesuai keinginan Saga dan Ganis. Undangan mulai disebar, baju pengantin, cincin, dan segalanya sudah mulai selesai dikerjakan.
“Kamu jangan ikus stress memikirkan pestanya, nanti kamu sakit” Nyonya Rima mengingatkan.
“Iya Nona” imbuh Dini.
“Siap Ma, siap Mbak Dini”
“Semua sudah dihandle WO, pasti akan baik-baik saja”
Meskipun hanya pesta saja, Ganis tidak bisa menutupi rasa tegangnya, karena akan melibatkan banyak orang nantinya. Jika saat akad nikah dia juga hampir pingsan karena rasa groginya, dan kini meskipun Saga sudah ada di sampingnya dan siap menjadi garda depan untuknya. Ganis menghela nafas panjang, membayangkan saja dia sudah deg-degan.
“Ada sekitar 2000 undangan yang disebar” Nyonya Rima menyesap teh yang dihidangkan oleh Dini.
“Banyak sekali, Ma?”
“Itu saja tidak semuanya, Nis” Nyonya Rima tersenyum. “Tentu masih akan ada banyak yang protes karena tidak mendapatkan undangan”
“Semoga berjalan lancar ya Ma” harap Ganis.
“Amin”
“Kamu jaga Kesehatan, itu tadi pesan Mama, jangan sampai stress”
“Iya Ma”.
Terdengar langkah kaki mendekat ke arah Ganis dan Nyonya Rima, Ganis menoleh. Sebuah tangan mengelus rambutnya.
“Mas” sapa Ganis.
Saga mengecup kepala Ganis, tidak ada rasa canggung meskipun di depan Nyonya Rima.
“Mas sudah makan?” tanya Ganis.
“Em…sudah”
Saga duduk di salah satu kursi kosong di dekat Ganis, hari ini Saga memutuskan untuk pulang siang hari.
“Mama ke dalam dulu” pamit Nyonya Rima.
“Iya Ma” sambung Ganis. Tinggalah mereka berdua yang ada di kursi teras samping. Saga terlihat segar, nampaknya dia baru saja mandi, rambutnya masih terlihat basah. Hanya dengan mengenakan celana pendek dan kaos tanpa kerah kesukaannya saat di rumah.
“Kamu banyak makan gih, jangan sampai pas hari H nanti kamu sakit, lihat tuh, kamu sudah terlihat kurus” Saga mengedikkan dagunya.
“Masa sih mas?” Ganis melihat pergelangan tangannya sebagai tolok ukur dia kurus atau gemuk.
Saga menggaruk rambutnya.
“Oh ya, gimana musiknya nanti, jadi pakai youtuber kesukaan kamu itu?” beberapa waktu lalu Ganis mengutarakan ingin mendengarkan pasangan duet tersebut untuk mengisi acara pesta pernikahannya.
“Tapi aku juga ingin Mas nyanyi buatku” ujarnya manja, disambut tawa kecil Saga.
“Tidak mau, aku sudah pensiun”
__ADS_1
“Tidak ada yang lebih indah dari alunan denting piano dan suaramu, Mas” Ganis merayu.
“Kurang maut non rayuannya” Saga tergelak, meskipun dia memiliki kemampuan di bidang musik, namun dia jarang memperlihatkan, bahkan hampir tidak ada waktu untuk itu.
“Aku grogi meskipun baru membayangkan pestanya, pasti akan banyak orang-orang penting yang hadir. Oh, apakah ada presiden?" Ganis menyeringai.
"Kamu mau undang presiden? bisa sekali" Saga menjawab enteng.
Ganis melambaikan tangannya. "Tidak Mas, nanti aku bisa pingsan"
“Ada aku, semua akan baik-baik saja” Saga kembali memastikan. Ganis tersenyum senang.
***
Anaya duduk di kursi kebesarannya, pekerjaan akhir-akhir menyita waktunya, lumayan bisa sedikit melupakan Saga. Alex semakin sering mengajaknya keluar untuk sekedar menghabiskan waktu bersama.
Sudah sekian lama dia tidak bertemu dengan Saga, namun tidak berarti dia bisa melupakannya. Dia masih menyimpan rapat laki-laki itu di hatinya, dan masih sangat berharap Saga menjadi miliknya suatu saat nanti.
Tok…tok…tok…
Terdengar suara pintu ruangannya diketok.
“Masuk” ujarnya sambil menandatangani berkas dokumen. Seorang wanita muda masuk ke dalam setelah mendengar perintahnya.
“Selamat siang Nona” sapa wnaita tersebut masih berdiri.
“Pagi, Dera…” balas Anaya, Dera adalah asisten baru yang dia rekrut beberapa bulan yang lalu. “Silahkan duduk” perintah Anaya masih sibuk dengan aktivitasnya.
“Terima kasih Nona”
Pandangan Anaya tertuju pada sebuah benda yang dibawa oleh Dera, terlihat warna hitam dan warna emas mendominasi.
“Apa itu?” tanya Anaya ingin tahu.
“Ini Nona, ada kiriman” Dera menyerahkan sebuah undangan kepada Anaya, Anaya menerima benda tersebut. Hening, tidak ada suara. Anaya membuka plastik yang membungkus undangan mewah tersebut.
Pandangannya fokus melihat tulisan yang tertera di sana. Saga dan Ganis yang menjadi tokoh utamanya.
“Yang benar saja” gumamnya.
Dera masih terdiam memperhatikan Anaya, dia tidak paham dengan apa yang terjadi.
“Dera” panggilnya, tangannya menutup undangan tersebut, lalu meletakkan undangan tersebut di atas mejanya.
“Iya Nona?”
“Siapkan gaun terbaik buatku”
“Baik, Nona”.
Pintu ruangannya kembali terbuka, Anaya melihat sosok yang baru saja masuk tanpa mengetoknya terlebih dahulu.
“Alex?” gumamnya. Alex masih mengenakan setelan jas lengkap. Dia mendekat ke arah Anaya. Dera berdiri dari kursinya dan memohon pamit untuk kembali melakukan pekerjaannya.
__ADS_1
“Sudah terima undangannya?” tanya Alex duduk di meja depan Anaya santai.
Anaya mengedikkan dagu, matanya memandang undangan yang ada di meja. Alex mengangkat kedua alisnya. Bukan masalah saat dia mendapatkan undangan tersebut, bahkan dia merasa sangat senang karena ternyata Saga dan Ganis bisa Bersatu, itu artinya dia mempunyai kesempatan untuk mendapatkan Anaya, gadis impiannya sejak dulu.
“Aku akan datang” ucap Anaya yakin.
“Baguslah, tunjukkan jika kamu sudah move on dari semuanya”
“Bukan…” sergah Anaya. Mata Alex membulat saat mendengar sergahan Anaya.
“Bukan?” Alex mengulang kalimat Anaya.
Anaya tersenyum kecil, dia datang bukan karena dia sudah move on. Hanya saja dia ingin datang, hatinya masih sama.
Alex menggaruk rambutnya, masih belum mengerti apa yang ada di pikiran gadis di depannya itu.
“Aku masih belum bisa move on darinya, dan aku harap suatu saat nanti melihat mereka berpisah, dan pesta ini hanya akan tinggal sejarah yang menyakitkan buat mereka”
“Ann…” Alex mendesah membuang hembusan nafasnya, mengusap wajahnya dengan sapuan jemarinya.
Anaya melihat Alex dingin, laki-laki itu akhir-akhir ini suka ikut campur dengan hidupnya.
“Sudahlah Lex, aku tidak bisa memaksakan hatiku. Kumohon kamu mengerti”
“Ya…ya…”
“Sudah makan?” tanya Alex mengaburkan bahasan, dia tidak mau berdebat lebih panjang lagi.
Anaya menggeleng, Alex turun dari mejanya. Mengajak Anaya untuk makan di kantin yang ada di area perkantoran tersebut.
“Enak ya kerja bisa sesantai ini kamu?” Anaya menyindir.
Alex tertawa mendengar ucapan Anaya, dia memang bisa seenaknya meninggalkan kantor.
“Aku sudah lama tidak melihat kamu membawa wanita-wanitamu” Anaya kembali melontarkan kalimatnya. Alex mengangkat kedua alisnya, tangannya meletakkan sendok di piring, mengambil tisu dan mengelap bibirnya dari sisa makanan yang menempel.
“Hah…itu sudah berlalu” sergahnya. Anaya tertawa tidak percaya dengan kalimat Alex.
“Mana mungkin player macam kamu bisa berhenti”
“Nanti aku buktikan” ucapnya lalu meneguk air, terasa sejuk masuk ke kerongkongannya.
“Aku pun tidak yakin jika kamu tidak punya anak dari mantan-mantan kamu” Anaya iseng, kali ini dia ingin mengulik kehidupan Alex.
Alex kembali tertawa setelah meletakkan gelas kosong, “Kenapa?”
“Pasti anakmu ada di mana-mana” ucapnya.
“Jangan konyol, aku juga memikirkan sejauh mana aku melangkah” Alex membela diri, dan memang, meskipun dia suka tidur dengan banyak wanita, tidak satupun dari mereka yang hamil, karena Alex benar-benar memperhitungkannya.
“Lex…!” Anaya berseru.
Alex melihat gadis itu.
__ADS_1
“Tidak adakah cara untuk membuat acara Saga dan Ganis sedikit berantakan?” Anaya memainkan gelas yang ada di depannya sambil tersenyum jahat.