Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 64 : Keputusan (Bertahan atau Lepaskan?)


__ADS_3

Ganis memperhatikan seisi ruangan sebelum dia meninggalkan ruang tersebut, dia hanya membawa koper yang berisi beberapa pakaiannya. Belum ada gambaran mau kemana setelah ini, hanya dia yakin jika dia akan segera mendapatkan pekerjaan setelah ini, berbekal pengalamannya bekerja di kantor Anaya dulu.


Ganis menutup gorden jendela, beberapa kali dia melihat ke luar, memastikan kedatangan Saga. Dia harus berbicara kali ini, menyampaikan keputusan yang akan dia ambil. Hari sudah malam, namun belum nampak kedatangan Saga. Ganis melirik jam dinding yang ada di kamarnya, pukul 23.00, Ganis memutuskan berdiri dan


menyeret kopernya keluar kamar. Rumah sudah sepi, para asisten rumah tangga sudah beristirahat di peraduan masing-masing setelah seharian berjibaku dengan pekerjaannya.


Ganis menutup pintu kamar seusai dia keluar dari kamar tersebut, dia menyeret koper perlahan agar tidak menimbulkan bunyi. Perlahan dia membuka pintu utama, hawa dingin menyeruak. Mendung masih menggelayut, dan nampak gerimis kecil mulai turun.


Ganis melihat sekitar, tenang, dan sedikit gelap. Belum ada tanda-tanda kedatangan Saga. Dia meletakkan koper di samping kursi kayu yang ada di teras. Tangannya saling meremas, dia sedang gugup.


Dari jauh dia melihat pos security, nampak lengang, dan tentu saja tidak bisa melihat keberadaan Ganis di teras, karena lampu sedikit temaram, ditambah ada pepohonan rindang yang menghalangi pandangan langsung ke teras.


Ganis melirik jam tangan di pergelangan tangannya, sudah hampir 30 menit dia berada di sana. Dan kini hampir tengah malam.


“Apakah dia tidak pulang?” gumamnya sambil berdiri, berjalan mondar mandir.


Terdengar suara pintu gerbang terbuka, Ganis menghentikan langkahnya, spontan melihat ke arah gerbang. Sebuah mobil hitam masuk ke halaman yang luas itu. Jantung Ganis bertalu-talu, dia yakin jika yang tiba adalah Saga, yang sudah dia nanti sejak tadi.


Ganis berdiri mematung, menyiapkan diri dan mentalnya untuk mengatakan apa yang sudah dia pikirkan seharian.


Dilihatnya dari jarak beberapa meter, laki-laki jangkung itu keluar dari mobil, jantungnya semakin berdegup, sudah beberapa hari dia tidak melihat paras Saga. Rasa rindu menderu dalam hati, ingin rasanya dia mengusap pipinya dan mengatakan “aku merindukanmu”.


Setelan jas berada di tangan kiri Saga, perlahan laki-laki itu mendekat, sedangkan mobil warna hitam yang dikendarai sekertaris Li mulai meninggalkan halaman.


Laki-laki itu terdiam mematung, rambutnya nampak berantakan, wajahnya nampak sangat lelah, tapi dia tidak menghindari Ganis. Ini adalah waktu yang tepat untuknya untuk berbicara.


Beberapa detik tidak ada percakapan di antara mereka, mereka tengah sibuk dengan pikiran masing-masing.


            Saga melihat Ganis tengah berdiri berhadapan dengannya, hanya berjarak beberapa meter. Perlahan dia mendekat, begitu juga Ganis. Sehingga jarak antara mereka semakin dekat. Saga melemparkan setelan jasnya di salah satu kursi kayu yang ada di teras. Kemeja warna putih itu digulung hingga sikunya, dia benar-benar lelah.


“Mas…” sapa Ganis, mencairkan kebekuan. Saga hanya menatap gadis itu, ingin rasanya dia menghambur memeluknya. Tidak ada jawaban dari Saga.


“Mas, aku salah dan aku minta maaf, aku hanya…”


Saga melirik ke arah koper yang tengah berada di belakang Ganis.


“Hanya ingin menyampaikan apa yang selama ini menjadi ganjalan dalam hidupku” ucap Ganis lugas, dia sedang berusaha sebisa mungkin tidak menangis. Saga masih terdiam mendengarkan apa yang diucapkan Ganis.


“Maaf sudah datang tiba-tiba, he..he…ini sudah berulang kali aku katakan padamu Mas, jujur aku tidak pernah tahu alasan sebenarnya mengapa Nona Anaya mengirimku kesini, hanya saja aku memang punya hutang padanya, ehm…aku kira bukan hutang awalnya” Ganis tersenyum nanar, dia yang dari awal mengira bahwa Anaya tulus


membantunya, bahkan dia menganggap bahwa Anaya adalah malaikat yang membantunya kala itu.

__ADS_1


“Hingga terpaksa aku menandatangani dan dengan keadaan yang sangat tidak aku inginkan, begitu juga kamu, kita akhirnya menikah”


Ganis mengatur nafasnya, agar tetap bisa melanjutkan ceritanya.


“Tapi aku sama sekali tidak tahu, baru tahu akhir-akhir ini jika Nona memiliki hubungan dengan keluarga ini, tapi aku sungguh tidak tahu awalnya…”


“Nona juga pernah mengatakan jika dia adalah orang yang seharusnya menjadi istri kamu Mas, aku rasa kalian memang berjodoh” suara Ganis tercekat saat mengatakan itu, dia menunduk, melihat kedua kakinya, air matanya hampir tumpah.


Saga masih terdiam memperhatikan gadis itu, masih setia mendengarkan hal yang sebenarnya sudah dia ketahui.


“Tepat 6 bulan, perjanjianku dengan Nona Anaya sudah usai, itu artinya…aku juga harus meninggalkan semua, maafkan aku Mas, dan maafkan aku juga gara-gara aku Tuan Candra…” tak sanggup dia melanjutkan kalimatnya, menyangkut meninggalnya Tuan Candra membuat emosinya campur aduk. Ganis mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


Beberapa detik terdiam, dia mulai bisa menguasai dirinya, wajahnya kembali mendongak, melihat wajah Saga yang lelah namun terlihat sangat teduh, mata tajam itu memandangnya, hingga dia merasa tidak sanggup menatapnya.


“Sudah?” suara Saga baru terdengar setelah beberapa waktu terdiam. Agak serak, sedang menahan rasa sakit di tenggorokannya. Melihat Ganis sedang dalam proses menyerah.


Ganis mengangguk, lalu tersenyum pias. Setidaknya dia sudah menyampaikan apa yang harus dia sampaikan sebelum dia benar-benar pergi.


Saga melihat ke arah koper, lalu menunjuk dengan jari teluntuknya. Ganis ikut melihat ke arah koper.


“Aku mau pamit Mas, silahkan Mas mengurus semuanya” Ganis tidak menjelaskan secara gamblang, tapi Saga memahami maksud yang diinginkan gadis itu, dia ingin berpisah darinya.


Saga kembali memandang wajah Ganis.


Saga mengeluarkan tangan kiri yang sedari tadi berada di saku celanya, perlahan dia memegang kedua pundak Ganis, agak sedikit menunduk agar bisa melihat gadis itu dengan jelas dan lebih dekat.


“Lihat mataku” ucap Saga pelan, Ganis perlahan mendongakkan wajahnya, berusaha keras menatap wajah Saga. Mata mereka beradu.


Hawa dingin menjelang tengah malam membuat suasana semakin syahdu ditambah gemricik gerimis.


“Kamu tahu mengapa aku marah?” tanya Saga, langkah awal untuk meluruskan mengapa dia mendiamkan Ganis selama beberapa hari, bahkan hampir 2 minggu.


Sejenak Ganis terdiam, lalu dia mengangguk.


“Karena aku sudah menipumu…mas”


Saga tersenyum kecil, hampir tidak terlihat jika dia sedang tersenyum.


“Aku mendiamkanmu bukan karena itu”


Jawaban Saga membuat rasa percaya diri Ganis perlahan kembali.

__ADS_1


“Bukan juga kematian Papa yang aku rasa sudah takdir” Saga kembali mengingat isi tulisan yang ada di agenda Tuan Candra.


“Aku marah karena aku takut, aku takut jika kamu…pura-pura cinta padaku”


Ganis membuang pandangan, kini dia melihat gerimis yang sedang turun dengan intensitas sedang.


Kini dia gamang, apa yang harus dia lakukan? Tekad yang tadinya bulat untuk pergi dan berpisah dari Saga seolah memudar.


Ganis mencerna ucapan Saga, bagaimana laki-laki itu menganggap dia hanya pura-pura cinta.


“Bahkan kamu tak sekalipun mengatakan mencintaiku” Saga tertawa hambar, menertawakan dirinya sendiri.


Bukan berarti aku tidak mencintaimu, Mas….


“Benarkah kamu ingin pergi?” pertanyaan itu menyentakkan hati Ganis.


“Benarkah kamu hanya pura-pura mencintaiku?”


Ganis masih terdiam, belum bisa menjawab semua pertanyaan yang sebenarnya sudah ada jawaban dalam dirinya.


“Aku sudah cukup terluka dengan masa laluku, kamu datang…dan mungkin tidak pernah kamu sadari, kamu menyembuhkan Lukaku, tapi kenapa setelah semua kembali normal, kamu ingin membuat luka yang lebih berat lagi?”


Ganis tersanjung mendengar penuturan itu, itu artinya Saga merasa jika keberadaannya berarti. Sementara Ganis juga merasa bahwa selama ini Saga juga mengobati banyak luka hatinya, terlebih saat patah hati dari Radian.


Air mata kembali berkumpul di kelopak matanya, bersiap untuk tumpah. Kali ini dia terharu mendengar ucapan yang tidak dia duga sebelumnya.


Kegamangan benar-benar menyelimuti dirinya.


“Lihat aku Ganis, lihat mataku” Saga mengangkat dagu Ganis, melihat dengan jelas jika air mata gadis itu siap tumpah.


“Jika kamu ingin pergi, katakan kamu tidak mencintaiku”


Air mata kembali tumpah, tidak ada kalimat yang keluar dari bibirnya, dia terisak. Mengapa jadi seberat ini, hanya ingin pamit saja mengapa sesulit ini.


“Katakan jika kamu tidak mencintaiku” ulang Saga. “Aku mencintaimu” imbuh Saga. Dia masih menunggu jawaban dari Ganis.


Hayooo...kalian tim mana ni? Bertahan Atau Lepaskan?


 


Para readers yang baik hati, kalau aplikasi noveltoon para readers masih versi lama, maka vote tidak bisa kebaca, sayang sekali vote nya nggak masuk. Bisa diupgrade versi terbaru noveltoonnya agar bisa terbaca votenya...

__ADS_1


Happy Reading^^


__ADS_2