
Perlahan, Ganis mulai bisa menguasai emosinya dan bersikap lunak pada dirinya sendiri, berusaha menerima kenyataan bahwa inilah takdir yang harus dia hadapi. Meninggalnya Tuan Candra adalah sebuah beban baginya, tapi dia mencoba berdamai dengan keadaan ini. Jika waktu bisa diulang, maka lebih baik dia akan berada di penjara karena hutang uang dengan Anaya. Namun semua sudah lalu, tidak ada waktu yang bisa dia ulang.
“Kamu lekas sehat ya, aku pulang dulu” pamit Radian, tangannya meraih piring yang masih ada beberapa potong apel di atasnya. Kemudian di letakkan di atas meja.
“Terima kasih atas kedatangannya mas”
“Sama-sama”
“Salam untuk mbak Aziza ya” Ganis mencoba tersenyum.
“Iya nanti aku sampaikan”
Radian melambaikan tangannya sesaat sebelum menutup pintu kamar. Ganis mengehela nafas, memejamkan matanya untuk kembali beristirahat.
Bruuuk….
Belum juga terlelap, Ganis dikejutkan suara benda jatuh. Dia kembali membuka matanya melihat apa yang terjadi, Dini memunguti sesuatu dari lantai, terlihat beberapa buah yang dibawa dengan paperbag terjatuh di lantai.
“Ah maaf Nona, Nona jadi terbangung gara-gara saya” Dini masih memunguti buah yang jatuh.
“Tidak apa-apa mbak Din, baru datang?”
“Iya” nampak Dini tergopoh, wajahnya juga sedikit panik.
“Kamu tidak apa-apa kan mbak Dini?” karena wajah Dini berbeda, seperti sedang ada masalah.
“Oh…tidak Nona” Dini sudah selesai memunguti buah yang jatuh, kini dia memindahkan ke atas meja dengan membuang paperbag yang koyak.
“Maaf saya baru datang Nona, tadi macet di jalan”
“Tidak apa-apa”
“Nona tidak apa-apa kan?” Dini nampak khawatir.
“Tidak mbak, mbak Dini malah yang terlihat ada apa-apa” Ganis mengernyitkan dahi. Dini tersenyum kikuk. Sebenarnya memang dia yang tidak baik-baik saja, baru saja mendapatkan semprot amarah dari Saga karena meninggalkan Ganis sendirian dan malah berduaan dengan Radian.
Dini celingukan.
“Mencari siapa mbak Din?”
“Eh…itu…tidak Nona…” Dini menjalankan perintah, untuk memastikan jika Radian sudah pergi.
Ganis tersenyum heran melihat tingkah Dini yang tidak seperti biasanya.
“Nona mau aku kupasin buah?” tawar Dini sambil mengangkat sebuah jeruk berwarna orange segar, senyum mengembang di bibirnya, dia harus melayani Ganis sebaik mungkin sesuai permintaan Saga.
__ADS_1
“Terima kasih mbak Din, tadi sudah makan buah kok, masih kenyang, nanti saja ya, sekarang aku mau tidur”
“Oh iya Nona, silahkan istrirahat, biar saya berjaga di sini”
“Terima kasih mbak Din” ujar Ganis, lalu memejamkan mata.
Mulai detik ini, ultimatum dari Saga adalah, jangan meninggalkan Ganis, Dini harus tetap berada di rumah sakit menunggu Ganis.
Dini dudui di atas sofa sambil menyalakan televisi dengan volume sekecil mungkin agar tidak menganggu Ganis yang sedang tertidur.
***
Anaya melambaikan tangan ke arah Saga yang celingukan mencari sosoknya saat memasuki kafe tersebut. Saga melihat Anaya melambaikan tangan, kemudian dia berjalan ke arah meja Anaya. Gadis itu nampak cantik seperti biasanya, senyumnya mengembang melihat Saga mendekati mejanya.
“Hai…tiba-tiba sekali ingin bertemu?”
Saga menarik kursinya, lalu dia duduk berhadapan dengan Anaya.
“Ada apa?”
Saga mengeluarkan selembar kertas yang sengaja dia bawa, kertas itu dia simpan di kantong celananya.
Anaya sudah menduganya jika suatu saat Saga akan mempertanyakan hal itu padanya. Anaya mengambil nafas dalam-dalam, lalu melihat ke arah kertas yang kini ada di meja tepat dihadapannya. Kertas yang berisi perjanjian dia dengan Ganis 6 bulan lalu.
“Jelaskan semuanya” ujar Saga dingin.
“Aku sudah tahu dari awal jika dia tidak datang kesana atas kemauannya, tapi bukan itu jawaban yang aku inginkan” Saga mencecar.
“Karena uang dia datang” Anaya membela diri, seolah Ganis lah yang meminta adanya perjanjian itu.
Saga menatap Anaya tajam, apakah dia harus percaya dengan apa yang dibicarakan oleh Anaya atau tidak. Anaya nampak tenang.
“Sudah jelas kan karena uang dia mau menggantikanku sementara menjadi istrimu, dan sekarang dia sudah selesai, jadi dia pergi, kemarin-kemarin aku meminta dia pergi tanpa harus membongkar semua ini, tapi dia sudah terlanjur nyaman dengan kekayaan keluarga kamu”
“Diam!” Saga memotong.
“Kenapa? Kamu tidak percaya? Jelas-jelas dia yang menginginkan adanya perjanjian ini karena saat itu aku memang belum siap menikah denganmu” ujarnya dusta.
Saga tersenyum sinis.
Flashback On
“Maafkan saya Tuan, berani-beraninya meminta bertemu dengan Tuan” ujar Anaya sambil membungkukkan badan saat melihat Tuan Candra datang dengan salah satu asisten yang tidak dia kenal.
“Kita bertemu lagi” ujar Tuan Candra datar.
__ADS_1
“Iya Tuan, dan maaf sebelumnya telah meninggalkan kekacauan saat itu” yang dimaksud Anaya adalah tentang gagalnya pernikahan Saga dan dirinya.
“Aku yang seharusnya meminta maaf, karena kesalahan putraku” Tuan Candra bersikap kstaria, merasa baghwa Saga yang bersalah atas kekacauan itu.
“Oh..tidak Tuan, saya di sini untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi”
Tuan Candra nampak terkejut, rahasia apa sebenarnya yang ada di balik semua ini. Sepertinya Anaya sedang berbicara serius sekali berkaitan dengan hal tersebut.
Anaya mengeluarkan secarik kertas yang berisi perjanjiannya dengan Ganis 6 bulan lalu, Tuan Candra meraih surat tersebut, membaca perlahan, rasa terkejut nampak menyeruak dari mimik wajahnya. Tidak menyangka jika menantu yang sangat dia sayangi tega membohonginya. Setidaknya itu gambaran awal yang dia rasakan.
“Dia mengetahui rahasiaku, sehingga dia menginginkan perjanjian ini agar mendapatkan uang dariku” Anaya dusta, dia pura-pura menangis di hadapan Tuan Candra, agar laki-laki yang ada di depannya bersikap simpati padanya.
“Rahasia?” suara Tuan Candra nampak bergetar.
“Anda mengenal Raharja?” pertanyaan Anaya menyentakkan hatinya, nama sahabat karibnya disebut oleh gadis yang ada di depannya. “Iya Tuan, akulah putri satu-satunya, akulah yatim piatu itu” ujar Anaya sambil menatap Tuan Candra.
Tuan Candra semakin terkejut dengan fakta-fakta yang mulai terkuak.
“Iya Tuan, akulah orang yang seharusnya menjadi jodoh putra Anda, yang seharusnya menjadi menantu Anda. Tapi apa, aku memperkerjakan orang yang licik seperti Ganis” Anaya kembali mengarang cerita. “Saat aku mempercayainya, dan dia sudah aku anggap seperti adik sendiri, dia menghianatiku. Dia tahu kelemahanku, semua tentang diriku dan juga rahasia-rahasia perusahaanku” ujarnya kembali menitikkan air mata pura-pura.
Tuan Candra masih terdiam mendengarkan cerita karangan Anaya.
“Dia tahu jika aku sangat mencintai putra Anda, hingga pada akhirnya dia mendekati Saga juga” Anaya mengusap air matanya dengan tisu. Melihat jika Tuan Candra sudah masuk ke dalam cerita karangannya.
“Lalu dia mengajukan perjanjian itu, demi apa aku harus menyelamatkan perusahaanku agar tidak dibuat hancur olehnya. Dengan syarat dia meminta uang dan meminta Saga”
“Aku tidak percaya, dia perempuan yang baik” Tuan Candra masih membela.
“Awalnya aku juga seperti Tuan, tapi itu hanya terlihat di luarnya Tuan, coba Tuan cerna, di situ dia menyanggupi untuk melepas Saga dalam tempo pernikahan 6 bulan. Itu artinya dia ingin mengeruk apa yang dimiliki oleh putra anda sebelum mencampakannya”
“Omong kosong” ujar Tuan Candra lirih.
“Dia yang omong kosong Tuan, dia bilang cinta pada Saga, ok…awalnya aku menyangka itu adalah benar-benar, tapi ternyata itu hanya cara licik dia menghancurkan hatiku. Dia penipu yang manis”
Flashback off
“Kenapa kamu tidak mengatakan terus terang jika belum siap menikah denganku? Dan malah menyuruh dia datang sebagai penggantimu?” cecar Saga.
“Itu karena…karena aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Papamu jika kamu gagal menikah”
Saga membuang mukanya, lalu tersenyum sinis. Jawaban yang sama sekali tidak masuk akal.
“Bagaimana kamu begitu yakin jika Papa akan baik-baik saja saat aku menikah dengan dia?, sangat tidak masuk akal”
Saga bangkit dari kursinya, meninggalkan Anaya tanpa berkata apapun lagi, jawaban yang dia inginkan tak juga sesuai harapan. Anaya menatap punggung Saga hingga laki-laki itu menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
“Semua karena Ganis tidak memenuhi apa permintaanku” gumam Anaya lirih. Dia tahu, skenario yang dia susun kacau.
Jika melampaui 100 like, sehabis tarawih Author akan up lagi. terima kasih yang sudah membaca, jangan lupa untuk vote ya....