
Semenjak menyadari kehamilannya,Ganis menjadi agak malas untuk berdandan. Hanya karena akan datang ke sebuah pesta pernikahan, Ganis merias wajahnya dengan make up tipis-tipis, agar tidak terlalu terlihat polos. Sebuah dress warna peach dengan perpaduan brokat dia kenakan. Kali ini dia sudah tidak berani mengenakan sepatu atau sandal dengan hak tinggi. Rambut dibiarkan tergerai, hanya mengenakan penjepit di sebelah kiri.
Ganis sudah bersiap turun dan berangkat, Isnan sudah menyiapkan mobilnya. Karena tidak ingin kemalaman, maka
sore ini dia memutuskan akan berangkat. Dia akan lebih tenang jika segera sampai dan menunggu Saga di kantor.
"Sudah siap mang?" tanya Ganis pada Isnan yang tengah berdiri di dekat mobil.
"Siap Bu..." Isnan membukakan pintu untuk Ganis, Ganis mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.
Mobil mulai meninggalkan rumah mewah tersebut.
"Agak macet Bu, tidak apa-apa ya? maklum jika sore begini banyak kendaraan.
"Tidak apa-apa mang, yang penting kita sampai dengan selamat"
Ganis mengirimkan pesan pada Saga jika dia sudah berangkat, tidak ada balasan dari suaminya. Itu artinya jika Saga tengah sibuk dengan pekerjaannya.
Mobil melaju dengan agak perlahan, volume kendaraan memang benar-benar padat merayap persis seperti apa yang dikatakan oleh Isnan.
Ganis memperhatikan kiri kanan situasi yang ada di sekitar. Suasana pertokoan yang ramai, suasana trotoar yang
juga ramai oleh para pejalan kaki.
Ganis menoleh ke belakang, melihat banyak mobil juga yang sedang berjalan dengan merayap.
"Parah ya mang ini macetnya?" ujar Ganis.
"Iya Bu..." Isnan terkekeh, "Menguji kesabaran"
"Apa tadi mang Isnan sudah mengecek mobil?"
"Sudah Bu, kenapa?" tanya Isnan heran, tidak biasanya Ganis bertanya demikian.
"Oh ya sudah, nggak tahu kenapa kok perasaanku kurang enak gitu mang" Ganis mengibaskan tangannya, mencoba membuang jauh firasatnya.
"Insyaallah nggak apa-apa Bu, keadaan mobil baik kok"
__ADS_1
"Ok"
Ganis menoleh ke belakang, melihat mobil berwarna hitam, jalanan yang tadi padat merayap kini mulai terurai namun mobil tersebut masih membuntuti.
"Apakah hanya firasatku saja?" gumamnya dalam hati. Ganis menoleh ke belakang lagi tetap berpikir
positif jika mobil tersebut memiliki tujuan yang sama dengannya.
***
Hari sudah sore, Salwa beberapa kali mengusap wajahnya dengan sapuan tangannya. Dilihatnya jam tangan yang ada di pergelangan tangan kanannya, sudah menunjukkan pukul 5 sore. Niat hati ingin segera pulang, karena malam nanti dia ada acara dengan seseorang. Salwa menyudahi pekerjaannya, layar laptop sudah dia off kan. Salwa menutup layar laptopnya, dan menyimpannya di salah satu lemari brangkas. Dia segera menyambar blazer warna hitam yang tersampir di kursinya, tas warna hitam tidak lupa dia bawa.
Baru saja dia melangkah meninggalkan ruangannya, tepat setelah tiga langkah meninggalkan pintu tersebut, HPnya berdering. Nama sekertaris Li terlihat di layar HP.
"Pak Li?" dahi Salwa mengernyit, dia segera menggeser tombol hijau di layar.
"Halo..." sapa Salwa.
"Maaf Nona Salwa, anda posisi di mana?" tanya sekertaris Li di balik sambungan telepon.
"Anda diharapkan datang ke kantor pusat, ada sesuatu yang harus dibicarakan"
"Oh baik Pak Li, saya akan segera kesana" jawabnya.
"Baik Nona, kami tunggu"
"Iya Pak Li"
Salwa menekan tombol merah, sehingga komunikasi terputus. Dia kembali memasukkan HPnya ke dalam tas, dia segera mempercepat langkahnya menuju lift.
Tak lama dia sudah berada di dalam mobil, sebelum menyalakan mesin mobilnya, dia kembali menambil HP yang tersimpan di dalam tas, dia menuliskan pesan untuk seseorang jika dia akan terlambat nanti.
Setelahnya, Salwa meletakkan HPnya di sampingnya, mesin mobil dia nyalakan, dan mobil segera melaju, menuju kantor pusat.
"Ok...jadi pulang lebih awal kali ini harus ditunda dulu" gumamnya, jalanan agak padat, sehingga lajunya pun melambat.
__ADS_1
Salwa merasa ini adalah bagian dari saah satu resiko pekerjaan, tak masalah baginya jika harus mendadak ada kerjaan di saat dia sudah bersiap untuk pulang.
HP yang tergeletak di sampingnya kembali berdering, Salwa melirik ke layar HP. Dia tersenyum saat melihat nama tersebut tertera di layar, Salwa mengambil HP tersebut dengan tangan kirinya. Dia meletakkan HP tersebut di telinga kirinya, dengan cara mengangkat bahu kirinya, agar HP tidak jatuh dan kedua tanganya bisa kembali memegang kemudi.
"Halo...iya..maaf ya mungkin aku telat nanti...,aku janji selepas nanti selesai aku langsung nyusul kesana"
Senyum tersungging di bibirnya, dia juga fokus melihat jalan raya.
"Iya, aku hati-hati...ok sampai nanti ya..."
Kembali dia mematikan HPnya, da komuniksi kembali terputus. Laju kendaraan sudah tidak serapat tadi, sehingga dia menambah kecepatan mobilnya.
***
Sudah ada beberapa macam obat yang sudah dia minum sejak tadi malam, rasa depresi sedang dia rasakan. Semakin hari semakin terasa parah. Alex sejak sore tadi meninggalkan rumah, hal itulah yang sekarang menjadi aktivitas rutinnya, benar-benar sudah di luar kendali. Barata sudah tak berkutik dibuatnya.
Kini dia memaju kendaraan menuju rumah Saga, tidak ada hal yang dilakukan, begitulah hampir setiap hari dilakukan. Ketika sampai di sekitar perumahan sana, dia hanya diam berada di mobil, mengawasi setiap pergerakan dari rumah Saga, kemudian dia pergi. Begitu yang selalu dia lakukan.
Begitu juga hari ini, dia kembali berada di sana, duduk diam di balik kemudi, membuka kaca mobil, dia memakai topi dan juga kacamata hitam untuk menyamarkan dirinya.
Tiap kali ada satpam komplek, maka dia akan selalu beralasan menunggu temannya.
Matanya menangkap objek yang menyenangkan, saat melihat salah satu mobil warna hitam keluar dari balik pagar rumah Saga. Nampak dari samarnya kaca mobil, Ganis sedang duduk di bangku kedua.
Alex tersenyum sinis, jiwa depresinya membuat seperti penjahat berdarah dingin.
Mobil yang ditumpangi Ganis melewatinya, Alex segera memutar balik mobilnya, dan dari jarak yang tidak terlalu dekat dia mencoba mengikuti laju mobil yang dikemudikan Isnan.
Alex melepas kacamata hitam agar bisa melihat dengan jelas laju kendaraan yang ada di depannya tersebut, dia menyalakan musik keras-keras di dalam mobilnya. Rambutnya yang sudah mulai memanjang dibiarkan begitu saja, nampak sangat berantakan. Alex benar-benar merasa depresi dengan keadaan dirinya.
Sesekali dia berteriak mengikuti lirik lagu rock dari balik sound di mobilnya, mata elangnya masih berhasil mengikuti laju mobil yang ditumpangi Ganis.
Sambil bernyanyi tidak karuan, dia nampak menggelengkan kepala ke kanan ke kiri. Sesekali dia tersenyum sinis.
Dia muak dengan hidupnya, dengan yang sedang dia hadapi. Dan dia merasa ini semua bermula dari Saga, dan Saga lah yang harus bertanggung jawab, begitulah isi otaknya.
__ADS_1
Seniiiinn.....terima kasih banyak yang sudah memberikan votenya ^^, yang enggak ngasih ya sudah...seikhlasnya. wkwk. Happy Reading semua, sehat-sehat ya semua....