
“Kamu sakit?” tanya Nyonya Rima yang sedari tadi memperhatikan Ganis, kini hanya mereka berdua, Saga sudah bertolak menuju kantor, sedangkan Tuan Candra bersama perawat sedang berada di taman samping rumah.
“Sudah baikan Ma” Ganis mengelak.
Nyonya Rima mendekat dan menempelkan telapak tangannya di dahi Ganis, nampak sedikit terkejut, karena terasa panas.
“Kamu sakit, ayo kita ke dokter” ajak Nyonya Rima. Nyonya Rima adalah orang terbaik di rumah ini yang menerima Ganis, meskipun Nyonya Rima tahu jika Ganis bukanlah menantu yang sesungguhnya dia harapkan.
“Tidak usah Ma, nanti juga baikan, efek hujan kemarin itu Ma” Ganis tersenyum, dalam hati dia sangat Bahagia mendapatkan perhatian dari Mama mertuanya.
“Mbak Marni, tolong ambilkan obat penurun panas di lemari obat” teriak Nyonya Rima.
“Iya Nyonya” balas Mbak Marni segera menuju tempat yang dituju. Tidak terlalu lama, Mbak Marni datang membawa obat yang dimaksud.
“Ini Nyonya” Mbak Marni menyerahkan obat untuk Ganis.
“Terima kasih Ma” Ganis menerimanya dengan tersanjung.
“Sama-sama, kamu jangan segan-segan kalau di sini, anggap saja sebagai rumah kamu sendiri, bagaimanapun juga kamu adalah menantu keluarga ini, atau kamu bisa panggil Mbak Marni atau yang lainnya untuk melayani kamu, jangan apa-apa dikerjakan sendiri. Kamu paham?” Nyonya Rima menegaskan.
Ganis mengangguk, sungguh dia tidak enak hati berada di rumah ini yang semuanya serba ada, apa-apa tinggal panggil asisten rumah tangga yang jumlahnya lebih dari 5 orang, hanya saja Ganis belum hafal siapa saja mereka yang ada di sini. Tapi bukan karakter dia yang apa-apa selalu minta dilayani.
“Saga, saya yakin kamu punya penilaian tentang dia” Nyonya Rima lekat memandangi Ganis, seolah dia ingin tahu penilaian Ganis tentang putra semata wayangnya. Ganis gelapagan. Kalau saja dia boleh jujur, maka dia akan mengatakan jika Saga adalah laki-laki yang sombong, menyebalkan, tidak peduli dengan orang lain, dingin. Tidak ada hal baik yang ingin dia katakan.
“Tuan Muda…adalah lelaki yang sangat serasi dengan Nona” kalimat itu yang meluncur dari mulut Ganis. Nyonya Rima hanya tersenyum mendengar kalimat itu. “Dan Tuan muda adalah seseorang yang sangat menyayangi Nona” Ganis menambahkan.
“Apakah kamu sudah lama bekerja dengan Anaya?”
“Setahun lalu Ma, tepatnya setelah Ibu saya meninggal, saya bekerja dengan Nona Anaya”
__ADS_1
“Apakah kamu tahu sekarang dia di mana?”
Ganis menggeleng, terakhir kali bertemu, Anaya tidak mengatakan apapun, hanya info dari Radian waktu itu yang menyatakan jika Anaya akan ke Belanda. Itupun Ganis tidak mempercayainya 100 persen.
Di tengah pembicaraan dengan Nyonya Rima, Tuan Candra datang menghampiri. Nyonya Rima dan perawat yang merawat Tuan Candra meninggalkan Tuan Candra dan Ganis. Beberapa detik tidak ada pembicaraan. Ada rasa canggung yang besar yang sedang dirasakan Ganis.
“Saya ingin melihat anak saya menikah di tengah kondisi saya yang semakin menurun, saya berharap dia menikah dengan gadis pilihannya yang dia sukai, sejak awal saya tidak pernah ingin tahu siapa gadis yang ingin dinikahi” Tuan Candra memulai pembicaraan. Ganis duduk mendengarkan sambil memperhatikan Tuan Candra, lelaki itu terlihat lelah dan menahan sakit, entah sakit apa yang diderita oleh Tuan Candra. Sorot matanya masih tajam meskipun terlihat cekung, hidungnya sama mancungnya dengan hidung Saga.
“Saya tidak pernah ingin memilih siapa yang diinginkan Saga dalam hidupnya, tapi saya sangat terkejut saat tahu jika ternyata yang dinikahi adalah kamu, bukan tunangannya”
“Maafkan saya Tuan…” Ganis mulai membuka suara.
“Saya kecewa, hanya saja asalkan Saga Bahagia, maka jangan ada perpisahan antara kalian, karena ini sudah jalan kalian untuk saling memiliki” Tuan Candra menambahkan.
Ganis terdiam beberapa saat, memang Tuan Candra tidak tahu menahu dengan masalah yang sebenarnya terjadi. Mungkin saja Tuan Candra menganggap bahwa Ganislah yang merebut Saga, Ganislah yang menjadi penghianat hubungan Anaya dan Saga, atau Tuan Candra menganggap jika Sagalah lelaki brengsek yang menghianati Anaya dan lebih memilih menikah dengan asisten Anaya.
“Jika semua ini pilihan Saga, saya bisa apa? Saya hanya ingin melihat dia Bahagia” ujarnya. Ganis mengangguk.
“Mengapa kamu masih memanggilku Tuan?” tuan Candra protes.
“Oh..maaf Pa…”
“Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini, jaga nama baik keluarga, jaga nama baik Saga, kamu adalah ratu nantinya”
Makjleb, kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh Tuan Candra seolah menjadi beban berat yang harus dia pikul sekarang. Dia adalah bagian dari keluarga ini, keluarga yang bukan main-main, keluarga dengan nama besar, keluarga yang sebenarnya sangat hangat. Lantas, mengapa Nona Anaya memilih untuk pergi meninggalkan Saga? Adakah rahasia yang tidak diketahui olehnya.
Baru sehari menjadi bagian keluarga ini, Ganis merasa beban yang dia rasakan sungguh bukan main-main. Dimulai dari sudut pandang yang berbeda, jika Saga dan Nyonya Rima menganggapnya hanya “istri sandiwara”, tetapi Tuan Candra menganggap dia adalah mantu yang sangat dicintai oleh Saga.
“Iya Pa, terima kasih sudah sangat baik menerima saya yang dengan lancang hadir di keluarga ini” Ganis merendah, dia sudah tidak tahu harus berbicara apa. Keluarga ini terlalu baik dan hangat sebenarnya, bahkan dengan kekurangan dan kesalahannya dia ada di keluarga ini pun, mereka masih mau menerima dan memperlakukannya dengan sangat baik.
__ADS_1
“Tolong jaga Saga, jangan sampai lepaskan dia” pinta Tuan Candra, matanya lekat menatap Ganis penuh harap. Di situ Ganis tahu jika Tuan Candra sungguh sangat menyayangi putra stau-satunya tersebut. Ada rasa bersalah yang bergelayut dalam otaknya, mengapa dia menjadi seorang pembohong di keluarga ini? Tenggorokan Ganis terasa tercekat, kali ini benar-benar tidak bisa mengatakan apapun.
Sepanjang hari Ganis menghabiskan waktu berada di kamar Saga, hanya berbaring setelah minum obat, sesekali memejamkan matanya, hanya saja dia tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Sesungguhnya dia ingin tidur di kamar lain agar bisa leluasa dan tidak mengganggu aktivitas Saga, tapi tidak memungkinkan karena sepertinya akan menaruh curiga Tuan Candra. Ganis meringkuk di sofa dekat jendela, kali ini dia sudah menggunakan selimut. Dia sengaja mengambil selimut di kamar lainnya. Demam di tubuhnya berangsur turun, berkat obat yang diberikan oleh Nyonya Rima.
Selepas makan malam, Ganis Kembali beristirahat di kamar. Terdengar langkah kaki selepas pintu kamar terbuka, perlahan mata Ganis membuka. Dilihatnya Saga memasuki kamar, mata Ganis membuka dengan sempurna. Benar saja, ini bukan mimpi, Saga memasuki kamar. Saga melonggarkan dasi dan membuka kemejanya kemudian memasuki kamar mandi. Tidak dihiraukannya Ganis yang sedang ada di kamar tersebut.
Ganis membuka lemari dan mengambilkan baju untuk Saga, piayama warna abu-abu. Ganis meletakkannya di atas ranjang.
Sekitar 30 menit Saga menghabiskan waktu di kamar mandi, seperti biasa dia keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk warna putih di pinggang, Ganis sudah tahu jika Saga akan segera keluar dari kamar mandi, dia merebahkan dirinya di sofa dan membelakangi pandangan agar tidak melihat Saga. Saga melirik ke arah Ganis yang sedang rebahan, menatap piyama yang sudah disiapkan Ganis di atas ranjang, beberapa detik dia ragu untuk memakainya, tapi akhirnya dipakai juga.
“Kamu nggak usah repot-repot menyiapkan semua ini” Saga membuka percakapan, Ganis masih rebahan.
“Tidak apa-apa, saya sudah biasa melakukannya untuk Nona”
“Aku bukan Nona kamu!” tolak Saga.
Peeeet………
Tiba-tiba mati lampu. Ganis refleks bangun dari rebahannya, sedangkan Saga panik mencari HP.
“Sial lowbat” umpatnya, tangannya sibuk mencari lilin di laci samping ranjangnya, mencari lilin di sana dan korek api. Tidak berapa lama, lilin menerangi kamar tersebut. Saga bernafas lega, sedangkan Ganis duduk di atas sofa sambil menekuk lututnya lengkap dengan selimut.
“Dasar, sudah aku bilang berkali-kali, kenapa genset juga tidak berfungsi” Saga mengomel, Ganis hanya mendengarkan.
“Saya akan ambil lampu di bawah Tuan” Ganis membuka selimut dan bersiap untuk turun mengambil lampu.
“Tetap di sini, jangan kemana-mana” pinta Saga, tangannya memegang pergelangan tangan Ganis erat.
__ADS_1
like itu gratis ya man teman, please...tinggalin like kalian sayang-sayangku....biar aku tambah semangat nulisnya....^^