Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 72 : Road to Wedding Party


__ADS_3

“Selamat datang Tuan Sada dan Nona Ganis” Sapa owner dari Attrich’s WO menyambut kedatangan Saga dan Ganis. “Suatu kehormatan anda datang ke tempat kami”


Saga tersenyum kecil, sementara Ganis menganggukkan kepala. Mereka dipersilahkan duduk.


“Apa yang bisa bantu untuk Tuan Saga dan istri?” tanya wanita dengan nama Attrich dengan sangat ramah.


“Kita ingin menggunakan jasa WO di sini” Saga langsung to the point.


“Terima kasih sudah memilih kami, Tuan”. Wanita itu sangat senang dengan klien yang ada di hadapannya, setidaknya akan menjadi promosi bagi usahanya. “Nana…” panggilnya pada seorang karyawannya.


“Ya bu?” seorang karyawan yang dipanggil namanya segera mendatangi ruang tersebut.


“Tolong tampilkan paket-paket pernikahan dari WO kita kepada Tuan Saga dan Nona Ganis”


“Baik Bu” Nana bersiap untuk menampilkan sebuah tampilan video yang menayangkan berbagai paket pernikahan yang bisa mereka tangani, mulai dari indoor ataupun outdoor. Ganis dan Saga memperhatikan.


Ganis bingung harus memilih yang mana, karena ini mendadak tanpa rundingan terlebih dahulu.


“Bagaimana Tuan dan Nona? Demikian paket pernikahan dari kami, silahkan anda bisa menentukan”


“Bagaimana?” tanya Saga kepada Ganis, Ganis menoleh ke arah Saga, dia belum bisa menentukan.


“Atau mungkin Nona dan Tuan memiliki suatu konsep pernikahan impian, bisa anda utarakan dan akan kami wujudkan sesuai konsep pilihan”


“Mas…dulu kan kita waktu akad sudah pakai konsep outdoor, bolehkah kita indoor kali ini?” tanya Ganis.


“Ehm…terserah, aku ikut”


“Indoor mbak” ujar Ganis.


“Bisa Nona”


“Aku pilih yang terbaik dari semua paket pernikahan yang ada di sini, nanti biar istriku yang menambahkan mau konsepnya bagaimana”


“Iya Tuan”


“Aku bingung Mas” Ganis tersenyum malu, Attrich tersenyum melihat pasangan yang ada di depannya.


“Tidak apa-apa, Nona. Mungkin besok Nona bisa kesini lagi untuk memaparkan konsepnya kepada kami”


“Terima kasih mbak, ehm…bolehkah saya pakai bunga mawar yang banyak nantinya?” Ganis membulatkan matanya, sejak kecil, dia menginginkan impian menikah dengan banyak hiasan bunga mawar.


“Bisa Nona, bahkan Nona bisa request warna bunga yang Nona inginkan”


Ganis berbinar mendengarkan penuturan dari Attrich, Saga mengangguk. Dia sendiri tidak paham dengan konsep, dia akan mengikuti apa kata Ganis. Baginya, jika Ganis suka, maka dia pun akan menyukainya.


“Saya minta semua dari sini saja, biar cepat”


“Oh iya Tuan, ehm…maaf saya lupa, untuk waktunya kapan ya?”


“Bulan depan” ujar Saga tanpa ragu. Ganis menoleh ke arah Saga dan Attrich bergantian. Attrich agak terkejut mendengarnya. Apakah memungkinkan dengan waktu satu bulan mempersiapkan semuanya.


“Satu bulan ya?”


“Iya, saya yakin WO kalian bisa” ucap Saga tenang.


“Kami akan bekerja keras Tuan”


“Harus”

__ADS_1


“Mas…” ujar Ganis terlalu khawatir Saga memaksakan.


“Tidak apa-apa” ujar Saga menenangkan.


“Silahkan Nona dan Tuan memilih undangan dan juga souvenir” Attrich mengajak mereka ke sebuah ruangan yang memperlihatkan koleksi undangan dan juga souvenir pernikahan.


“Bisa request juga?” tanya Saga.


“Bisa Tuan”


“Kamu mau bagaimana?”


“Undangan?” tanya Ganis.


“Iya, undangan dan souvenirnya juga” jawab Saga sambil memperhatikan macam-macam undangan di atas buffet mewah yang ada di depannya.


“Ini bagus” Ganis mengambil sebuah undangan yang terlihat elegan dengan dominasi warna hitam dan emas.


“Oke, yang ini mbak, nanti jumlahnya akan dihubungi asisten saya”


“Baik Tuan”


“Untuk sovenirnya aku bingung Mas”


“Ehm…baik, kamu pikirkan dulu nanti di rumah” Saga memberikan masukan.


“Iya Mas”


Hampir 3 jam mereka berada di sana, hari sudah menjelang malam. Mereka keluar dari tempat tersebut.


“Besok setelah makan siang kita fitting baju”


“Iya Mas”


“Terima kasih Mas” Ganis tersenyum senang.


“Buat apa?”


“Buat semuanya, ini bukan mimpi kan? Ini nikah beneran kan Mas?”


“Iya lah, nah kita kan sudah nikah” Saga meletakkan tangan kirinya di kepala Ganis dan mengusap kepalanya.


“Maksudku benar-benar akan terjadi kan Mas?”


“Iya lah, kenapa?”


“Aku trauma” Ganis tersenyum hambar.


“Lupakan masa lalu, aku di sini untukmu, dan ini bukan mimpi, akan aku pastikan jika kamu akan bahagia”


Ganis menatap kembali ke arah Saga, Saga menghadap depan berkonsentrasi ke jalan raya.


Terima kasih Mas, sudah menjadi orang yang menjagaku saat ini.Batin Ganis.


***


Farel mengetok pintu ruangan Saga, tidak menunggu lama Saga mempersilahkan masuk kepada salah satu asistennya tersebut.


“Maaf Tuan, ada tamu”

__ADS_1


“Siapa? Sudah buat janji?”


“Maaf, belum Tuan. Pak Wiyana, Tuan”


“Oh, persilahkan masuk” Saga masih melanjutkan aktivitasnya meneliti dokumen yang ada di depannya.


“Baik Tuan” Farel meninggalkan ruangan Saga dan mempersilahkan Pak Wiyana masuk.


“Selamat pagi Tuan Saga” sapa seseorang yang sudah memutih rambutnya itu, Saga menghentikan aktivitasnya, menutup map dan meletakkan bolpoin di meja.


“Selamat pagi Pak Wiyana, apa kabar?” sapa Saga ramah. “Silahkan duduk” Saga mempersilahkan Pak Wiyana duduk.


“Terima kasih Tuan”


“Bagaimana kabar Divisi yang Pak Wiyana pimpin? Ada masalahkah?” Pak Wiyana adalah salah satu pemimpin di anak perusahaan Saga.


“Oh tidak Tuan, semua baik-baik saja dan lancar”


“Baguslah” Saga tersenyum puas.


“Maaf Tuan, ehm…maksud kedatangan saya kesini untuk…ehm…untuk urusan pribadi” ujarnya dengan nada sopan.


“Oh, ada apakah Pak? Jika saya bisa bantu, maka akan saya bantu” Saga menerima dengan terbuka.


“Anak saya Tuan”


“Anak?” Saga mengerutkan dahinya.


“Iya Tuan, Devina”


“Devina? Siapa itu?” Saga masih mengerutkan dahinya.


“Yang magang Tuan, yang mulai hari ini berhenti magang”


Saga berusaha mengingat, “Oh…iya, sepertinya saya sudah ingat Pak”


“Iya Pak”


“Jadi itu putri Pak Wiyana?” tanya Saga baru ingat apa yang dikatakan Sindi kemarin.


“Iya Tuan…mohon maaf, apa tidak ada keringanan untuk putri saya agar tetap bisa magang di sini? Atau paling tidak di anak cabang yang lain?” tawar Pak Wiyana, wajah laki-laki itu memelas beda dengan putrinya yang kurang attitude itu.


“Apa Pak Wiyana sudah tahu kesalahan putri Bapak?” Saga menyelidik.


“Maaf Tuan, dia tidak mengatakannya”


Saga mengusap wajahnya dengan tangan kanannya, menghela nafas perlahan, lalu memperhatikan wajah Pak Wiyana dengan seksama.


“Maaf Pak, bukannya saya tidak menghargai anda sebagai salah seorang yang berjasa di sini, hanya saja putri Bapak sudah membuat kesalahan, saya tidak mau jika hal tersebut saya biarkan, akan menimbulkan masalah lebih besar nantinya”


“Maafkan putri saya, Tuan” Pak Wiyana menunduk meminta maaf meskipun dia belum tahu kesalahan apa yang diperbuat putrinya tersebut.


“Sebaiknya anda bertanya pada putri anda, namun jika besok belum jujur juga kepada anda, anda bisa bertanya lagi kepada saya” ujar Saga.


“Baik Tuan”


Setelah kepergian Pak Wiyana dari ruangannya, Saga merasa kasihan dengan laki-laki itu, laki-laki yang baik dan sopan, dedikasi di perusahaannya juga tidak diragukan lagi. Tapi mengapa putrinya bisa berbuat seperti itu. Dan keputusan Saga sudah bulat, bahwa Devina tak akan kembali ke Arjuna Group, bahkan untuk magang sekalian.


like yang banyaaak ya....dan vote...terima kasih ^^

__ADS_1


__ADS_2