Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 88 : Duo "Gelap"


__ADS_3

Flashback On


Sudah sekian lama dia merencanakannya, sejak pertemuan pertama dengan Saga waktu itu. memang dia tampan, tapi Anaya meyakinkan dirinya, bahwa dia tak akan jatuh cinta padanya.


Dia benar-benar meyakinkan dirinya sendiri, yang ada di pikirannya adalah bagaimana membuat laki-laki itu tunduk dan mencintainya, hingga melakukan apa yang diinginkannya. Karena dia ingin balas dendam terhadap keluarga Saga yang sudah membunuh kedua orang tuanya.


Itulah anggapan yang sejak awal dia genggam, sejak Barata selalu mengatakan bahwa Tuan Candra lah yang  membunuh kedua orang tuanya, sejak itu pula, tumbuh subur dendam di hatinya, ingin menghancurkan keluarga Saga.


Sudah banyak rencana adda di kepalanya, dia akan menjadi kekasih Saga, lalu dia akan membuat berbagai rencana berjalan sempurna.


Dia melihat Rania yang cantik, akan dia gunakan sebagai alat untuk balas dendam pada keluarga Saga. Namun belum sempat dia mengutarakan niatnya pada Rania, asistennya itu keburu pamit untuk mundur dari pekerjaannya.


Anaya menatap perempuan muda yang ada di kursi seberang mejanya dengan serius, perempuan muda itu memilih untuk mundur menjadi asistennya.


“Kamu sudah yakin untuk mundur Rania?” tanya Anaya serius. Perempuan itu pas harusnya menjadi istri pengganti untum Saga nantinya, seorang yang akan dia gunakan untuk menjadi senjatanya.


“Iya Nona, Ayah saya sakit-sakitan, kebetulan ada tawaran pekerjaan yang dekat rumah, jadi saya harus pulang” Rania beralasan.


Anaya menghela nafas, dia kecewa, dia harus memutar otak kembali untuk menyusul rencana. Apalagi akhir-akhir ini Saga selalu saja mengatakan perihal pernikahan padanya.


“Ada syaratnya jika kamu ingin meninggalkan posisimu” ujar Anaya melemparkan syarat.


“Apa Nona?” tanya Rania.


“Carikan aku seorang gadis cantik”


Rania nampak berpikir sebelum menjawab syarat dari Anaya.


“Kamu tahu kan, aku sudah merasa cocok dengan kamu, jika kamu tiba-tiba meninggalkan posisi kamu, maka siapa yang akan menjadi penggantimu kelak? Aku tidak mau asal-asalan mengambil asisten”. Imbuhnya beralasan. “Harus cantik”


Rania nampak masih berpikir, kata “Harus cantik” membuatnya agak sulit menentukan.


“Apakah Nona mau jika dia dari kalangan biasa seperti saya Nona?” tanya Rania agak ragu.


“Tidak masalah, asalkan dia cantik dan nurut”


“Ehm…sebenarnya saya ada teman Nona”


“Siapa?” sahut Anaya tidak sabar.


“Tapi…”

__ADS_1


“Apa?”


“Ibunya dalam keadaan sakit, menurut saya sudah parah Nona, dia butuh biaya untuk pengobatan Ibunya, dia juga mencari pekerjaan” Rania teringat akan temannya yang ada di kampung tetangga.


“Apakah dia cantik?” tanya Anaya memastikan, karena itu adalah salah satu bagian dari rencananya.


“Cantik Nona” ujar Rania yakin. Anaya mengangguk setuju.


Akhirnya dia menyetujui pengunduran diri Rania, dan keesok harinya dia datang ke alamat yang diberikan oleh Rania bersama sopirnya untuk menemui Ganis.


Anaya menuju sebuah tempat yang jauh dari rumahnya, masuk ke dalam sebuah desa yang masih asri.


Benar apa yang dikatakan oleh Rania, jika Ganis adalah gadis yang cantik, selain itu nampaknya Ganis juga gadis yang polos dan penurut. Dia harus bisa meyakinkan Ganis untuk dapat bekerja dengannya.


Dia rela merogoh kocek untuk membantu biaya pengobatan Ibu Ganis, dan tak berapa lama, Ibu Ganis meninggal. Anaya membawa Ganis ke kota dan bekerja untuknya hingga Ganis menikah dengan Saga.


Flashback Off


Masih teringat jelas ingatan Anaya tentang awal pertemuannya dengan Ganis, hingga kini Ganis seolah menjadi pemenangnya, dan dia meringkuk di penjara. Suatu kesalahan sepele yang dilakukan oleh Barata, setidaknya itu yang ada di pikiran Anaya saat ini.


Dari kemewahan menjadi sesuatu yang amat sederhana saat ini, Iya…suasana penjara yang sangat berbeda dengan kemewahan yang dia rasakan di rumahnya. Anaya harus bersabar dengan ini semua, akibat ulahnya, dia harus mempertanggung jawabkan semuanya.


Jika sebelumnya, apa-apa dia dilayani oleh asisten rumah tangganya, kini dia harus melayani dirinya sendiri. Benar-benar menjengkelkan.


Anaya tersenyum melihat Alex datang menjenguknya, sudah beberapa hari Alex absen menjenguknya. Tepatnya sejak penolakan cintanya.


“Belum menyerah juga” gumamnya lirih saat dia mendekat ke arah Alex yang duduk di kursi.


“Apa kabar?” tanya Alex sambil senyum.


“Yaaaah…seperti yang kamu lihat, di sini jangan tanpa kabar” Anaya mengibaskan tangannya, pertanyaan yang memuakkan di telinganya. Alex melipat kedua tangannya di dada, melihat Anaya yang semakin kurus.


“Ada apa?” tanya Anaya. “Kamu nampak kacau” Anaya menebak jika Alex pasti ada masalah lain.


“Aku dipecat” ujar Alex gamblang. Anaya tertawwa mendengar penuturan singkat Alex, benar saja, Alex sedang menghadapi masalah kali ini.


“Kamu terlalu tamak Lex” ujar Anaya semakin menyalahkan Alex. Masih lengkap dengan jasnya, Alex menuju penjara menemui Anaya. Benar adanya, baru saja Saga memecatnya karena sesuai dengan apa yang dikatakan Saga, jika Alex tidak bisa memulihkan keadaan perusahaan, maka Alex harus mundur.


“Masih untung kamu tidak dilaporkan ke penjara oleh dia” Anaya mengolok.


“Kamu, di saat seperti ini pun masih mencoba menertawakanku” Alex sebal melihat Anaya tersenyum sinis.

__ADS_1


“Ha..ha..ha, ada yang salah? Biarkan sejenak aku tertawa”


Alex mendekatkan wajahnya ke wajah Anaya, melihat ke sekeliling, dilihatnya para sipir sedang sibuk dengan aktivitas di depan komputer.


“Aku akan buat perhitungan buat Saga” bisiknya.


“Gila!” teriak Ganis. Alex mendekatkan telunjuk di bibirnya sendiri, memberikan kode agar Anaya tidak membuat curiga orang yang ada di ruangan tersebut. “Kamu jangan gila Lex” ujar Anaya.


“Biar, biar sekalian, aku sudah muak dengan semua ini”


“Gila Lex, jangan” sergah Anaya.


“Kenapa? Apa setelah kamu dijebloskan ke penjara, kamu masih mencintai dia?” gumam Alex dengan senyum sinis, mencoba memprovokasi Anaya. Anaya terdiam mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Alex.


Saga memang sudah berhasil menjebloskan dia ke penjara, Saga sudah melupakannya, Saga bukanlah kekasih yang sangat mencintainya seperti dulu.


“Iya kan? Saga bukanlah Sagamu yang dulu, lalu apa lagi, Ann?” tanya Alex dengan suara yang masih lirih.


“Kamu akan menyusulku ke tempat ini” imbuh Anaya.


“Itu kalau ketahuan, jika tidak? Aman” Alex nampak sangat percaya diri.


“Apa rencanamu?”


Alex menjauhkan wajahnya dari Anaya, dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi lipat, kedua tangannya kembali melipat ke dada. Dia tidak mengatakan apa yang akan dilakukannya.


“Kita lihat saja nanti” ujarnya.


Anaya menggelengkan kepalanya, Alex memang bengis sejak awal, namun kali ini jauh lebih menakutkan.


“Kamu masih datang kesini setelah aku menolakmu?” tanya Anaya, pertanyaan itu seolah menyentak hati Alex.


“Iya, baru kali ini aku ditolak oleh wanita, dan cukup membuatku patah hati, yaitu kamu” beber Alex jujur. Anaya terkekeh.


“Ayolah Lex, banyak wanita di luaran sana yang tentu mengejar cintamu, tapi bukan aku” Anaya masih saja menolak.


Alex mengangguk, akan mencoba sekuat tenaga untuk melupakan Anaya, meskipun rasanya itu mustahil.


“Aku akan menunggu selama aku bisa menunggu” imbuhnya, dia masih saja percaya diri mampu meluluhkan Anaya.


“Silahkan coba” Anaya seolah memberikan tantangan.

__ADS_1


Alex tersenyum sinis ke arah Anaya, dia yakin jika Anaya akan jatuh ke pelukannya, dia yang akan bisa menerima Anaya apa adanya.


 Hari senin....Ayo donk, vote..vote..dan vote....hehe happy reading readers...sehat-sehat ya...


__ADS_2