
“Begitulah, terkadang kita tidak pernah menyangka jika seseorang akan senekat itu kan?” Nyonya Rima membuka percakapan. Ganis sedang menikmati teh di samping rumah sambil memberikan makanan untuk ikan di kolam ikan.
“Meskipun Mama juga belum tahu siapa orangnya, yang pasti dia punya niat yang jahat”
Ganis meletakkan toples berisi makanan ikan di tempatnya, lalu dia kembali ke gazebo di mana Nyonya Rima sudah duduk manis di sana. Tangannya dengan lembut meletakkan cangkir berisi teh.
“Iya Ma”
“Berhati-hatilah, Nis, kita tidak pernah tahu apa yang orang sekitar kita inginkan kepada kita, tapi kita juga tidak harus selalu curiga”
“Waspada ya Ma?”
“Iya betul, waspada boleh, curiga jangan” imbuhnya sambil tersenyum. Nyonya Rima yang selalu Ganis kagumi, wanita lemah lembut yang sangat baik hati kepada siapa saja.
“Tetaplah kuat berada di sisi Saga, Mama sangat senang akhirnya kalian saling jatuh cinta”
Ganis meraih tangan Nyonya Rima dan menggenggamnya erat, senyum tersungging di sudut bibirnya.
“Awalnya, Mama tidak punya keinginan lebih saat kalian menikah, saat itu Saga benar-benar memendam amarahnya, tidak menerima takdirnya untuk tiba-tiba menikah denganmu, tapi Mama sangat bersyukur dengan situasi saat ini. Tetaplah seperti ini, saling jatuh cinta”
“Iya Ma, mohon doa Mama selalu menyertai perjalanan kita” jawab Ganis.
“Selalu, Nis. Dan yang harus kamu ingat, dalam sebuah pernikahan, bukan tidak mungkin akan ada badai dalam biduk rumah tangga, tetaplah saling menguatkan” Nyonya Rima memberikan wejangan yang sangat berarti untuk Ganis.
“Iya Ma”
“Semoga masalah ini segera terungkap” Nyonya Rima berharap masalah yang terjadi kemarin segera selesai, dia sudah cukup sesak dengan apa yang dia lihat.
“Iya Ma, Amin…” harap Ganis.
Saga tergesa-gesa pagi ini, sehabis subuh tadi Attrich menghubunginya dan mengingkan bertemu di suatu tempat. Saga tidak ingin orang lain yang datang, dia ingin memastikan parasit yang berkeliaran itu segera tertangkap, dia sendiri yang akan mengawal kasusnya.
Saga dan Attrich sudah berada di kantor polisi, mereka dimintai keterangan sebagai pelapor. Polisi sudah menyita beberapa bukti, termasuk CCTV.
Selesai melakukan perbincangan dengan polisi terkait dirinya sebagai saksi, sebelum kembali ke kantor, Saga berbincang secara khusus dengan salah seorang petinggi polisi yang kebetulan menangani kasusnya juga.
“Kami sudah melihat CCTV tersebut, Tuan Saga. Semoga tidak lama lagi akan segera terbongkar, anggota kami akan segera bergerak hari ini”
__ADS_1
“Terima kasih Pak, saya pribadi sangat berterima kasih atas respon cepat ini”
“Iya Tuan, jadi di dalam CCTV tersebut sudah jelas bahwa terduga pelaku memang bukan dari karyawan WO yang anda pakai, dia datang dengan sebuah mobil yang nomor polisinya sudah kami kantongi”
“Ah syukurlah Pak, saya benar-benar berterima kasih, semoga benar-benar tertangkap dan tidak menimbulkan keresahan lagi di kemudian hari”
“Siap Tuan, kami memang bekerja melayani masyarakat” imbuhnya tegas, lalu tersenyum.
Attrich yang dari tadi duduk sambil mendengar percakapan Saga dan petinggi polisi tersebut ikut merasa lega, bahwa nama Attrich’s Wedding bisa bersih jika pelaku tertangkap.
Selepas dari kantor polisi, Saga segera menuju kantor. Sekertaris Li sudah mencarinya sejak pagi tadi, ada
informasi penting yang akan disampaikan olehnya.
Para karyawan memberikan hormat kepada Saga saat dia memasuki area perkantoran dengan menundukkan kepala mereka. Seperti biasa, Saga menggunakan lift khusus menuju ruangannya, tak berapa lama dia sudah berada di lantai di mana ruangannya berada.
Tangannya dengan cekatan memegang gagang pintu dan menekannya ke bawah, pintu terbuka, ruangan yang sama, nampak rapi dan lengang. Hanya saja setumpuk dokumen sudah berada di sana untuk segera dia baca dan dia tanda tangani.
Saga melepaskan jasnya, meletakkan di gantungan yang telah tersedia di dekat pintu, mengendorkan dasinya kemudian dia duduk di kursi kebesarannya. Bersiap membuka satu per satu dokumen yang ada di depannya.
Kemudian dia teringat jika sekertaris Li mencarinya sejak tadi, tangannya meraih HP dan bersiap melakukan panggilan.
“Masuk” seru Saga, nampak sekertaris Li memasuki ruangan Saga. Dia memberikan salam dengan menundukkan kepala sebelum duduk di kursi seberang meja Saga.
“Pak Li, ada informasi apakah? Nampaknya sangat penting?” Saga meletakkan kembali HPnya di meja.
“Iya Tuan, maaf jika terlalu lama, ini terkait kasus kecelakaan Nona Ganis beberapa bulan yang lalu” imbuh sekertaris Li. Saga mengubah posisi duduknya agak condong ke depan, sebelumnya dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya.
“Maksudnya?”
“Iya Tuan, jadi dari internal kita, menemukan bukti jika kecelakaan Nona Ganis itu disengaja” internal adalah sebutan bagi para pegawai yang biasanya tergabung dalam bodyguard yang digunakan Saga untuk memata-matai suatu kejadian.
“Mengapa selama ini?” ucapnya kecewa.
“Maaf Tuan, karena minimnya informasi yang kita dapat, tidak ada bukti CCTV yang mendukung, sehingga kami agak kesulitan”
“Hehm” Saga berdehem, dia berdiri meninggalkan kursinya, memasukkan kedua tangannya di saku celananya, dia berdiri di dekat jendela, melihat awan cerah dari balik kaca jendela.
“Kami siap mempertemukan orangnya dengan Tuan, jika Tuan menginginkan”
__ADS_1
Saga membalik badannya, melihat ke arah sekertaris Li. Beberapa saat dia terdiam, masih teringat jelas kejadian saat itu. hampir saja dia tidak bisa memaafkan dirinya karena melihat Ganis celaka.
“Iya Pak Li, aku ingin melihat orangnya” tangan Saga mengepal.
“Baik, Tuan. Besok akan segera dihadapkan ke Tuan”
“Baik Pak Li”
Dia sengaja tidak ingin mempercepat bertemu dengan orang yang dimaksud, dia sendiri tidak ingin tiba-tiba emosi dan menghajar orang tersebut. Dia membutuhkan waktu untuk bertemu orangnya, dan sekertaris Li sangat memahami isi hati Saga.
Sekertaris Li pamit undur diri meninggalkan Saga dan melanjutkan pekerjaannya, Saga menghela nafas panjang setelah sekertaris Li menutup pintu ruangannya, sejenak dia termenung dengan hal yang baru saja dia dengar, sebentar lagi satu masalah akan terkuak.
Saga kembali sibuk dengan dokumen yang ada di depannya, berkonsentrasi meneliti satu per satu dokumen tersebut sebelum menandatanganinya.
Hampir 2 jam Saga berkutat dengan pekerjaannya, dia merentangkan kedua tangannya untuk meregangkan ototnya. Beberapa kali menguap, dia meninggalkan kursinya, tangannya meraih HP yang tergeletak sedari tadi di meja.
“Hallo” ucap Saga sambil membanting tubuhnya di sofa, dia membaringkan tubuhnya.
“Hallo mas, tumben bisa telpon?”
“Aku merindukanmu” ujarnya sambil tertawa kecil.
“Halah gombal”
“Loh serius ini” ujarnya lagi. “Kamu tidak merindukan suamimu ini?” tanyanya.
“Iya, cepatlah pulang”
“Ha..ha..ha, kenapa rindu? Karena aku tampan ya?” sambungnya.
“Terus aja Mas memuji diri sendiri” balas Ganis terkekeh.
“Eh nanti malam sediain nasi liwet ya, jangan lupa ikan gurami goreng, dan sambal tomat yang enak” pinta Saga, pikirannya sudah membayangkan makanan tersebut berada di depannya.
“Siap Bos” jawab Ganis.
“Sudah lama tidak makan nasi liwet buatan istri yang enak banget”
Ganis bersemu merah mendengarkan ucapan Saga, sambungan mereka berhenti. Saga kembali melanjutkan pekerjaannya agar segera bisa pulang, sementara Ganis bersiap memasak makanan yang diminta Saga.
__ADS_1
Yang sudah memberikan vote dan like, serta yang sudah follow Author...Matur Suwun....^^