
Saga memasuki kamarnya, sepi tidak ada Ganis di sana, dia mendekati gorden yang menutup arah balkon, tidak ditemukan juga Ganis di sana. Saga mengendorkan dasi dan membuka kancing kemejanya.
“Kemana dia?”
Saga mencoba mengecek isi lemari, baju Ganis masih di sana. Pikirannya terlalu berlebihan, jangan-jangan Ganis kabur dari rumah gara-gara sakit hati melihat kejadian tadi.
“Apa yang aku pikirkan?” Saga menggelengkan kepalanya.
Ceklek…
Ganis memasuki kamar, dilihatnya Saga melepas kemejanya.
“Oh maaf Tuan” Ganis menutup matanya dengan telapak tangannya. Saga tidak peduli, dia masih saja melepas kemejanya dan meletakkan sembarangan di atas ranjang.
“Em…Tuan mau makan apa?” Ganis menawarkan, Saga menoleh ke arah Ganis. Dada bidangnya terlihat jelas, Ganis tidak lagi menutup matanya dengan telapak tangannya. Ternyata gadis itu tampak biasa saja, dia bersyukur melihatnya.
“Em…aku sudah makan tadi”
“Oh” hanya itu yang keluar dari mulut gadis itu.
“Terima kasih” ujar Saga, dia mengurungkan diri untuk mandi, dia duduk di tepi ranjang, melihat Ganis yang sudah membungkus dirinya dengan selimut.
“Untuk apa?” Ganis mengintip di balik selimut.
“Makan siangnya”
Ganis menganggukkan kepala.
“Oh ya, Tuan dapat salam dari Bik Janah, tadi saat aku perjalanan menuju kantor, Bik Janah menelpon”
“Apa katanya?”
“Dia sangat antusias dengan kiriman TV yang Tuan kirim, beliau mengucapkan rasa terima kasihnya, lalu dia begitu menggebu-gebu karena tahu jika Tuan bukanlah orang sembarangan”
Saga tersenyum, mengingat Bik Janah yang begitu polos.
“Bik Janah berlebihan” ungkapnya masih dengan senyum yang sama. Sebenarnya dia ingin menanyakan perihal kejadian tadi, tapi urung. Apa yang dipikirkan Ganis saat melihat dia dipeluk oleh Anaya.
“Aku mandi dulu” pamit Saga.
“Iya” jawab Ganis, Ganis kembali merapatkan selimutnya, ada perasaan canggung yang dia rasakan setelah melihat kejadian siang tadi di kantor. Apakah dia harus menanyakannya atau tidak?
__ADS_1
“Tidak perlu, toh aku tidak punya hak” gumamnya. Ganis membuka selimutnya kembali, lalu duduk di sofa, kakinya menjejak lantai. Ganis menangkupkan kedua telapak tangan di wajahnya.
“Sekarang bagaimana caranya agar aku bisa lepas dari keluarga ini dan kembali hidup normal” imbuhnya pada diri sendiri. “Tapi bagaimana?” Ganis menundukkan kepalanya.
Saga keluar dari kamar mandi lengkap dengan piyama tidurnya, melihat Ganis yang sedang gelisah duduk di sofa.
“Oh ya, mulai sekarang kamu harus lebih sering bersamaku” pinta Saga.
“Um?”
“Ehm…maksudku kalau ada acara-acara, ehm..gathering kantor atau apapun itu”
Ganis terdiam sambil menatap Saga, baru saja dia mencari cara bagaimana agar bisa menjauh, tapi Saga mengatakan sebaliknya.
“Lusa, setelah pertemuan dengan investor, akan ada acara gathering bersama dengan para karyawan perusahaan, ikutlah” imbuhnya, Ganis tidak memberikan jawaban, tapi ini wajib tentunya jika Saga sudah mengatakannya.”Apa yang kamu pikirkan?” Saga melihat ada yang sedang dipikirkan oleh gadis itu.
“Iya Tuan”
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” ulangnya.
“Tidak Tuan, tidak ada” Ganis menggeleng.
Saga mendekatinya, lalu duduk di samping Ganis.
“Ti..tidak”
“Kenapa? Jujur saja? Apa kamu cemburu dengan yang kamu lihat tadi?” Saga dengan percaya diri menyampaikannya.
“Heuh? Kenapa Tuan berpikiran begitu? Tuan jangan terlalu percaya diri!” Ganis mengelak. “Baik Tuan, lusa aku akan ikut Tuan ke acara gathering, dan permisi, Tuan menyingkirlah dari sofa ini, karena aku mau tidur” Ganis bersiap merebahkan diri, Saga dengan terpaksa berdiri.
“Hiiish” omel Saga. “Apa kamu tidak ingin makan mie?”
“Tidak” jawab Ganis singkat.
“Kopi?”
“Tidak Tuan”
Ganis merebahkan diri, membungkus tubuhnya dengan selimut lalu memejamkan mata. Saga menatapnya heran, baru kali ini dia menolak diajak makan mie atau minum kopi di balkon, biasanya kalau diajak nongkrong di balkon sambil makan dia bersemangat.
Ganis membuka mata di bawah selimut, sesungguhnya dia terluka melihat Saga dan Anaya berpelukan, lebih tepatnya Anaya memeluk Saga. Ingin rasanya dia hadir di dekat mereka dan menyingkirkan Anaya dari Saga saat itu juga. Apa yang sebenarnya Saga rasakan? Mungkinkah mereka masih memiliki rasa seperti yang diucapkan Anaya padanya tadi? Jika iya, bolehkah dia merasa cemburu? Karena bagaimanapun juga Saga adalah suaminya.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan perjanjian itu? Dan bagaimana juga dengan permintaan Nona yang memintaku untuk pergi sebelum perjanjian itu berakhir? Apa yang akan terjadi dengan Tuan Candra dan keluarga ini?
Ganis memejamkan matanya erat, kepalanya terasa berat, apa yang harus dia lakukan untuk keluar dari masalah ini?
“Aku yang bodoh” gumamnya.
Club B
Sementara itu, Anaya sedang duduk di meja depan bartender, Alex juga berada di sana. Dia Sengaja menghubungi Alex dan memintanya untuk datang ke Club tersebut.
“Aku tadi ke kantor Saga”
“Lalu?”
“Aku minta balikan sama dia”
“Nekat!” imbuh Alex tersenyum sinis.
“Aku tidak peduli, hanya aku benci sama Ganis, dia merampas semuanya dariku”
“Mengapa kamu mengorbankan orang yang sama sekali tidak bersalah, Ann?”
“Kamu kenapa sih membela dia? Kamu suka sama dia? Bagus lah, ambil dia dari Saga, secepatnya!” Anaya menatap Alex dengan penuh amarah.
“Jangan ngaco kamu Ann, kenapa kamu jadi melibatkan perasaanmu sih? Ayo lah Ann, kembali ke rencana awal” Alex mencoba menyadarkan rencana awal mereka, yaitu menghancurkan keluarga Saga.
“Kamu bodoh atau bagaimana? Sudah aku bilang, aku mengubah rencanaku, semua gara-gara Papa kamu, kalau saja aku tidak kasihan, maka sudah aku hancurkan Papa kamu, termasuk kamu!” Anaya marah, ditegukkan wine langsung dari botolnya. Alex geram mendengar semua amarah Anaya, tapi dia mencoba sabar tidak terpancing dengan kalimat Anaya.
“Mau kamu apa?”
“Aku akan bilang ke media jika akulah yang seharusnya menjadi istri Saga, bukan gadis bodoh kampungan itu”
“Lusa ada acara gathering, bukankah kamu selalu ikut kan?” tanya Alex, ini adalah acara gathering pertama yang akan dia ikuti selama bergabung di perusahaan Saga. Tetapi tidak bagi Anaya, Anaya selalu ikut acara ini dan menjadi bintangnya. Karena memang perusahaan yang dipegang Anaya memiliki salah satu Kerjasama dengan salah satu cabang Arjuna Group.
Anaya kembali meneguk wine. Alex menatap gadis itu, wajahnya sudah bersemu merah, nampaknya dia sudah mulai mabuk. Alex meraih botol di depan Anaya dengan maksud agar Anaya tidak meminumnya lagi.
“Sini” Anaya kembali meraih botolnya.
Alex membiarkan gadis itu kembali minum, dia nampak kasihan sebenarnya melihat keadaan Anaya. Dia mengakui jika Papanya sudah keterlaluan dengan gadis itu, yang sejak kecil didoktrin dengan kebencian pada keluarga Saga. Sebenarnya dia gadis yang baik, pintar, dan pekerja keras. Kini gadis di depannya nampak putus asa dengan keadaannya. Anaya meletakkan kepalanya di atas meja, matanya menutup.
“Andai kamu tahu isi hatiku Ann” ujar Alex perlahan, gadis itu mulai tidak sadar dan tentu tidak lagi mendengar apa yang Alex ucapkan.
__ADS_1
Alex memapah Anaya menuju keluar club, gadis itu sudah teler berat, dengan cekatan Alex memasukkan Anaya ke dalam mobilnya dibantu oleh salah satu petugas keamanan yang tengah berjaga di sekitar sana. Alex menempatan Anaya di deretan kedua mobilnya, dan membawanya pulang ke rumah Anaya.
Terima Kasih yang sudah memberikan vote rekomendasinya dan juga hadiah, serta like ^^