
Ganis kembali melihat ke belakang, mobil dengan warna dan plat yang sama masih membayangi di belakang. Dia memilih menyimpan kekhawatiran itu sendiri tanpa mengatakannya pada Isnan yang tengah sibuk mengemudi.
Ganis nampak gusar. Dia memainkan jemarinya, sesekali dia mengelus perutnya. Ada rasa tegang, namun dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini bukanlah hal yang buruk, atau tidak akan ada hal buruk yang menimpa dirinya.
Isnan terlihat tenang mengemudi, Ganis menghela nafas panjang menenangkan dirinya.
Dia melihat ke samping, jalanan lengang. Jika tadi melewati jalan raya yang kanan dan kirinya dipenuhi dengan gedung dan bangunan. Kini mobil yang dia tumpangi berada di jalur yang sepi, sepanjang jalan hanya pepohonan kering.
"Kenapa Bu?" tanya Isna saat melihat Ganis terlihat aneh.
"Oh..." Ganis menggeleng. "Nggak apa-apa, aku hanya ingin segera sampai" balasnya, dia masih tidak menceritakan apa kecemasannya.
"Oh..iya Bu, kita akan segera sampai, saya kira Ibu butuh sesuatu yang mendesak" Isnan mencoba mengurai kegelisahan majikannya tersebut, jawaban itu seolah tidak menjawab pertanyaannya. Namun dia tidak berani bertanya lebih panjang lagi.
HP Ganis berdering. Ganis menggeser tombol hijau.
"Iya Mas..." sapa Ganis saat menerima panggilan telepon yang ternyata dari suaminya tersebut.
"Sampai mana?" tanya Saga. Dia menyempatkan bertanya di sela-sela kesibukan meetingnya yang belum usai juga.
"Sampai mana ya...?" Ganis nampak celingukan karena dia tidak tahu ini sampai mana. "Sampai mana mang ini?" tanya Ganis pada Isnan.
"Jalan Poros Bu namanya Bu" sahut Isnan.
"Oh..." Ganis mengangguk. "Jalan poros Mas" jawab Ganis setelah mendapatkan jawaban dari Isnan.
"Ok hati-hati ya sayang, kasih tahu Isnan jangan ngebut"
"Iya Mas, sudah selesai Mas urusannya?" tanya Ganis.
"Belum, ini masih nunggu Salwa datang"
"Salwa?" tanya Ganis menyelidik, dia mengerutkan keningnya.
"Hem...jangan salah paham, kan urusan pekerjaan sayang"
"Oh...." balas Ganis, hanya mengucapkan itu.
"Ya sudah, hati-hati ya..."
"Ok" ucap Ganis singkat, dia dengan segera mematikan sambungan telponnya.
__ADS_1
Isnan menghentikan mobilnya, dia menepikan di pinggir jalan raya.
"Kenapa mang?" tanya Ganis cemas.
"Sepertinya ada masalah di mesinnya Bu" jawabnya, mendengar hal tersebut Ganis menghela nafas berat. Apa ini firasatnya tadi, tiba-tiba mobil mogok di jalanan yang sepi lalu lalang kendaraan.
"Sebentar Bu, saya cek dulu" Isnan membuka sabuk pengamannya, lalu dia membuka pintu mobil dan keluar dari mobil, mengecek mesin. Ganis kembali menoleh ke belakang, mobil hitam yang sedari tadi dilihatnya tidak kelihatan lagi.
***
Kepadatan arus kendaraan membuat Salwa berkali-kali berdecak sebal dibuatnya, semakin dia lama sampai di kantor pusat, maka semakin lama pula.
Hari semakin sore, tadi beberapa waktu lalu sekertaris Li juga kembali menghubunginya, memastikan agar dia segera datang.
Salwa memacu kendaraan sesaat setelah berada di jalur jalan poros. Dia ingin segera sampai dan segera melakukan pekerjaan tersebut secepat mungkin agar agenda acaranya malam ini tidak berantakan.
HP Salwa kembali berdering nyaring, kali ini Saga yang menghubunginya secara langsung.
Salwa menghela nafas dalam-dalam, kali ini bos besar sendiri yang turun tangan. Tapi mau bagaimana lagi ini bukan kesalahannya, dia sudah mengusahaka agar dia juga lekas sampai di kantor.
"Iya Tuan...?" sapa Salwa seramah mungkin.
"Sampai mana?"
"Baik" ucapnya datar lalu memutus sambungan teleponnya. Salwa menarik nafas panjang, dia merasa bersalah karena menjadi yang ditunggu-tunggu kehadirannya kali ini, tapi dia juga tidak bisa berkutik karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya.
"Bukan salahku" gumamnya mencoba membela dirinya sendiri.
Sekertaris Li mejelaskan jika ada salah satu investor asing yang sekiranya mau memberikan investasi besar pada anak cabang yang dipegangnya, hanya saja ini adalah hari terakhir dan investor tersebut tidak mau tahu harus bertemu hari ini juga dengan dia.
Salwa kembali melajukan kendaraannya dengan kecepatan agak tinggi, jarak menuju kantor pusat tak lama lagi. Matanya tertuju pada pemandangan sore yang ada di pinggir jalan, dia kembali memelankan laju mobil hitamnya.
Sementara itu mobil yang dikendarai Alex menjaga jarak dari mobil yang dikemudikan oleh Isnan. Dia nampak tersenyum puas dengan apa yang dilihatnya. Meskipun jaraknya tidak dekat, tapi dia yakin jika mobil yang ditumpangi oleh Ganis sedang mengalami masalah.
"Nasibku baik hari ini, benar-benar rejeki" ujarnya sambil tergelak. "Kalau sudah takdir mau bagaimana lagi, keadaan benar-benar berpihak padaku" Alex mengenakan topinya, dia membuka tas kecilnya, diambilnya sesuatu dari sana.
Dia kembali melajukan mobilnya, dia ingin melihat lebih dekat. Namun dia tidak gegabah, dia melihat Ganis sedang turun dari mobil, nampak perempuan itu berbicara pada Isnan yang tengah memeriksa mesin mobil.
Alex tetap menjaga jarak mobilnya agar tidak mencurigakan, jalan poros memang agak lengang sore ini, hanya ada sesekali mobil yang lewat sore ini. Berasa mendapatkan durian runtuh, Alex benar-benar kegirangan.
Alex turun dari mobilnya, tangan kanannya menggenggam kunci mobil, sebelum dia menyimpannya di saku celananya, tangan kiri memegang sebuah pisau lipat.
__ADS_1
Dia berjalan mengendap-endap, bahkan Ganis dan Isnan yang tengah sibuk di depan tidak menyadarinya.
"Apanya mang?" tanya Ganis tidak jauh dari Isnan.
"Kurang tahu Bu, sepertinya kita butuh bengkel" Isnan menggeleng pasrah, "Ibu di dalam saja Bu, banyak debu" Isnan menganjurkan. Ganis masih saja berdiri di sana.
"Wah...bagaimana ini, mana jalanan sepi, bisa nggak ya mang pesan pakai aplikasi gitu?"
"Bisa Bu, saya pesankan ya Bu..." Isnan menawarkan.
"Eh...nggak usah mang, biar aku pesan sendiri saja" Ganis menolak, dia segera kembali masuk ke dalam. Al;ex bersembunyi di belakang mobil Ganis. Dia mengamati Ganis sedang kembali masuk ke kendaraan.
Alex berjalan dengan cara berjongkok. Ganis memegang HPnya dan mengambil tasnya, dia bersiap untuk kembali keluar dan memesan taksi online. Sengaja dia tidak mau menelpon Saga, takut menganggu.
Ganis keluar dari mobilnya, dan kembali berdiri di dekat Isnan. Alex akan beraksi saat melihat Ganis, namun urung karena melihat serang perempuan mendekati Ganis.
"Nona...?" sapa Salwa.
Ganis melihat siapa yang menyapanya, dia mencoba mengingat sosok perempuan tersebut.
"Saya Salwa Nona..." ucap Salwa ramah.
"Oh" Ganis mencoba tersenyum, mengapa Salwa bisa berada di sini sekarang. "Nona Salwa" sapanya.
"Kenapa Nona? ada yang bisa saya bantu? Nona mau kemana?"
"Eh...ini...aku mau ke kantor suami, ternyata ada masalah sedikit dengan mobilnya, sehingga berhenti di sini" jawab Ganis. "Nona dari mana mau kemana?" tanya Ganis mencoba berbasa-basi, sebenarnya dia tahu jika Salwa akan ke kantor Saga.
"Oh ini Nona, saya mau ke kantor pusat, kebetulan ada pekerjaan mendadak, saya tadi melihat Nona dari jauh, eh ternyata benar itu anda, mari Nona bareng dengan saya" tawarnya.
"Eh...nggak usah Nona Salwa, saya sudah memesan taksi online kok" Ganis mencoba menolak.
"Tidak apa-apa Nona, kita searah"
Alex merangsek, sebelumnya dia merapatkan topinya agar tidak memperlihatkan wajahnya secara jelas, senja juga semakin mulai menyamarka cahaya sore ini. Alex mengeluarkan sebuah pisaunya dan berlari merangsek ke arah Ganis.
Terlihat tetesan darah di tubuh itu, jerit tangis menggema di tepi jalan sore itu.
Ok, penasaran? wait besok ya....^^
__ADS_1