
Jam dinding warna keemasan yang menempel di dinding kamar Saga telah menunjukkan hampir jam 11 malam. Ganis belum bisa memejamkan mata meskipun sudah terbaring manis di atas sofa seperti biasa. Saga belum juga datang, atau dia sedang tidak ingin berada di kamar ini dan memilih tidur di kamar yang lain?
Ganis bangkit dari rebahannya, membuka selimutnya dan keluar dari kamar, kepalanya melongok ke lantai bawah. Lampu sudah padam, sepi, dan sepertinya Saga memang belum pulang ke rumah.
“Hah, ngapain juga aku seolah-olah menunggu dia?” gerutunya, lalu dia kembali masuk ke kamar, merebahkan tubuhnya lagi dan menutup selurih tubuhnya dengan selimut.
Berselang 5 menit, terdengar suara pintu terbuka, Ganis mengintip dari balik selimut, benar saja, Saga dengan masih berpakaian lengkap seperti pagi tadi. Seperti biasa, Saga melonggarkan dasi dan melepasnya di sembarangan tempat, membuka kemejanya dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Ganis merapikan baju kotor tersebut dan membawanya ke luar kamar, risih rasanya jika ada baju kotor yang tergeletak sembarangan di kamar. Hampir 30 menit Saga berada di kamar mandi, sementara setelah mengeluarkan baju Saga, Ganis kembali merebahkan dirinya dan membungkus tubuhnya dengan selimut, berharap matanya segera terlelap.
Saga keluar dari kamar mandi dan membuka lemari untuk mengambil piyama, diambilnya piyama warna abu-abu dan memakainya kembali di kamar mandi. Meskipun terlihat Ganis sudah terlelap, dia tidak mau kecolongan jika Ganis melihatnya berganti baju. Tak berapa lama dia sudah berada di atas ranjang, tangannya memainkan HP, mencoba menghubungi nomer Anaya, namun seperti biasa, nihil. Saga membanting HPnya ke atas ranjang, segera dia berbaring di atas ranjang.
Kruuuk….kruuk….Ganis memegang perutnya, benar-benar tidak bisa kompromi, tengah malam begini mengapa
dia berbunyi dengan nyaring.
“Duh…perut lapar di saat yang tidak tepat” Ganis membuka selimutnya kembali, dia membuka meja dekat galon air, mencari mie instan dalam kemasan yang siap dituang air panas. Terdengar bunyi berisik dari kresek yang membungkus.
Saga membuka selimut yang menutup kepalanya dan melihat apa yang dilakukan oleh Ganis tanpa disadari oleh gadis itu. Ganis tengah sibuk membuka bumbu dan menuangkannya ke dalam kemasan mie,
lalu menyiramnya dengan air panas. Setelahnya dia dengan pelan membuka gorden jendela yang berfungsi juga sebagai pintu balkon kamar. Dengan langkah berjingkat dia menuju balkon sambil membawa mie instannya. Dia tidak ingin sama sekali mengganggu Saga yang sedang istirahat.
Ganis duduk bersila di lantai balkon, lampu warna-warni taman samping rumah menambah keindahan malam itu. Ganis meraih mie instan dan memeriksanya, apakah sudah siap untuk disantap.
“Uhh…ternyata enak juga makan di sini” tangannya menyendok mie, meniupnya perlahan lalu melahapnya
__ADS_1
dengan nikmat.
“Siapa yang menyuruh menimbun makanan di kamar ini?” suara yang tiba-tiba itu mengagetkannya, mie masih menggantung di mulutnya, Ganis menengok ke belakang, ke arah sumber suara. Dilihatnya Saga tengah bersedekap dan menyenderkan tubuhnya di pintu kaca.
“Kenapa kamu buat aturan sendiri di kamar orang?” omelnya, dia masih berdiri mematung, mulut Ganis masih penuh dengan mie. Ganis merasa bersalah, dan dia harus mencari alasan mengapa dia membawa mie instan ke kamar Saga. Tapi dia harus memberikan alasan yang tepat, karena dia tahu, suasana hati Saga sepertinya
sedang tidak baik-baik saja.
“Maaf Tuan, aku lapar” itulah kalimat yang meluncur dari mulut Ganis setelah menelan mie yang memenuhi mulutnya.
“Hah…kamu fikir di dapaur tidak ada makanan, kamu tinggal memanaskan, atau kamu panggil Marni, kenapa kamu malah makan di sini, mana nyimpan mie di sana” Saga menunjuk tempat di mana Ganis menyimpan mie tersebut. “Lagian itu makanan nggak sehat, bisa-bisanya kamu” omelnya.
Ganis terdiam sejenak, sudah setahun lalu dia tidak merasakan betapa nikmatnya rasa mie instan, karena Anaya selalu mengontrol ketat Ganis. Menurut Anaya, Ganis harus diet dan tidak boleh makan sembarangan, termasuk mie instan.
“Tuan mau?” Ganis menyodorkan mie instan itu. Omongan apa lagi ini? Muncul begitu saja, di saat Saga ngomel, Ganis malah menawarinya mie.
“Tuan serius?” Ganis seolah tidak percaya jika Saga tidak pernah makan mie instan.
“Apa wajahku seperti orang yang sedang berbohong?”
“Aku lapar, nggak enak malam-malam ngelayap ke dapur, atau membangunkan Mbak Marni, tadi pas keluar beli mie karena sudah lama nggak makan mie, dan ternyata rasanya masih seperti dulu, enak” ujarnya polos. Saga tersenyum sinis melihat tingkah polos Ganis tanpa merasa bersalah telah membawa makanan itu ke kamar Saga.
“Hisss dasar” Saga duduk di samping Ganis.
“Ini” Ganis menyodorkan mie instan di garpunya ke arah mulut Saga, Saga memundurkan kepala, menolak.
__ADS_1
“Tidak ada ceritanya Aku makan dari bekas mulut orang” Saga berteriak. Ganis menarik garpunya dan melahap mienya lagi.
“srup.....srup” terdengar suara Ganis meneguk kuah mie tersebut, nampak wajah puas terpampang di wajah Ganis.
“Aku buatkan ya?” tawar Ganis, Saga melirik tidak mengiyakan atau menolak. Ganis meletakkan gelas mienya dan masuk ke dalam kamar, dengan cekapat membuka kemasan dan mengambil bumbu tersebut, lalu menuangkan air panas. Sembari menunggu mie tersebut siap, Ganis membawanya keluar dan kembali duduk di samping Saga.
“Tunggu dulu Tuan, setelah sekitar 3 menit, mie ini siap dimakan”
“Dasar gadis aneh dan tidak sehat” ujarnya.
“Maaf jika membangunkan Tuan, aku nggak bisa tidur” Ganis memainkan garpu mienya. Saga terdiam, sama halnya dengan dia, dia juga tidak bisa tidur, padahal badannya terasa sangat lelah.
“Apa yang kamu lakukan saat kamu bersedih?”
“Huh?” Ganis menatap Saga, mengapa tiba-tiba laki-laki angkuh itu bertanya hal itu kepadanya?. Ganis melihat mie, apakah sudah siap disantap atau belum, mengaduknya lalu memberikannya pada Saga.
“Cobalah” Ganis mengulurkan mie tersebut, dengan sedikit ragu, Saga menerimanya. Saga mengaduk mie tersebut, meniupi seperti halnya yang dilakukan Ganis tadi, lalu menyuapkan ke dalam mulutnya.
“Enak kan?” Ganis tersenyum menyeringai, tanpa ekspresi, Saga tidak menanggapi, tapi mie itu sudah masuk ke dalam mulutnya sudah lebih dari 3 suapan.
Angin malam berhembus perlahan, Ganis memeluk lututnya sambil menatap langit. Sementara Saga nampaknya sedang menikmati mie instannya.
__ADS_1
Sedih, semangatnya kendur....hehe pada lebih suka jadi silent readers tanpa meninggalkan jejak nih... :(