
“Saya Alex” laki-laki itu mengulurkan tangannya, Ganis menyambut uluran tangan Alex walau agak ragu.
“Ganis” balas Ganis.
Alex duduk di seberang meja, mereka berhadapan. Ganis menoleh ke kanan dan kiri, memang terlihat beberapa meja sudah penuh orang untuk sarapan.
“Saya sangat tersanjung bisa berkenalan dengan istri Tuan muda secara langsung” imbuh Alex, tangannya memainkan sendok kecil yang ada di gelas kopinya. “Saya salah satu pimpinan divisi yang ada di perusahaan Tuan muda” Alex menambahkan. Ganis mengangguk, setidaknya dia lega karena ternyata laki-laki itu bagian dari
rombongan perusahaan Saga.
“Oh…ehm..Tuan…ehm maksud saya suami saya belum sempat bercerita panjang tentang teman ataupun rekannya” Ganis tersenyum, mencoba mengarang. Lagian tak akan pernah itu terjadi.
“Nampaknya Tuan Saga sudah pergi pagi-pagi sekali, saya kira pergi dengan anda Nona”
“Eh…dia ada pekerjaan penting sehingga harus pergi” timpal Ganis sekenanya, dia sendiri
tidak tahu kemana sebenarnya Saga pergi, sekertaris Li tidak memberi tahu.
“Saya sangat memahami kesibukan beliau” Alex meletakkan sendoknya. “Apakah Nona sudah menjelajah tempat ini?”
“Ehm?”
“Ada banyak tempat bagus di sini, saya sudah dua kali kesini” imbuh Alex menjelaskan tanpa diminta.
“Belum semua, ehm…”
“Panggil saja Alex, Nona” balas Alex cepat, menangkap kebingungan yang menerpa Ganis.
“Tidak apa-apa kah?” tanya Ganis ragu. Alex menggeleng lalu menyunggingkan senyumnya.
“Tidak apa-apa Nona, baik Nona, maafkan saya jika kehadiran saya join di meja Nona ini tidak sopan dan menganggu Nona, sampai juma” Alex turun dari kursinya, lalu membungkukkan badan memberikan hormat kepada Ganis sebelum meninggalkan tempat itu.
Ganis memandang Alex pergi hingga turun meniti tangga, dia masih duduk di kursinya, kudapan yang ada di piringnya juga sudah kosong. Ganis merenung sejenak, mengingat-ingat tempat mana yang belum puas dia kunjungi. Dan akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kebun bunga, kemarin dia kesana tapi sudah mendekati waktu tutup, sehingga dia akan kesana setelah ini agar puas melihat bunga-bunga yang indah.
***
Tujuan pertama Ganis hari ini adalah menuju kebun petih buah, merasa sudah bosan berada di sana, dia kembali ke kebun bunga yang kemarin sore dia datangi.
“Silahkan Nona” sambut seorang Bapak setengah baya menyambutnya dengan sangat ramah, senyum merekah di bibirnya. Ganis menganggukkan kepala dan menyunggingkan senyumnya, di kepalanya dia memakai topi warna krem yang lebar agar terlindungi dari sinar matahari yang semakin meninggi.
Ganis berjalan di antara bunga-bunga yang sedang bermekaran, banyak beraneka ragam bunga di sana, Ganis berada di deretan bunga krisan warna warni.
“Maaf jika kemarin sore Nona sangat tidak nyaman” imbuh Bapak penjaga kebun.
__ADS_1
“Ah itu, tidak apa-apa Pak, saya saja yang tidak tahu bahwa kebun akan segera tutup”
“Nona ingin bunga apa?”
“Ehm….bisakah Bapak mencari mawar ungu untuk Mama mertua saya?” Ganis ingin membawa bibit mawar warna ungu untuk Nyonya Rima, dia tahu Nyonya Rima sangat menyukai bunga mawar, dan seingatnya hampir semua warna sudah pernah dilihatnya di kebun samping rumah, hanya ungu yang belum terlihat.
“Oh…silahkan Nona, ke arah sini” Bapak itu menunjukkan arah ke kebun yang dimaksud, Ganis mengikuti langkah Bapak penunggu kebun, meninggalkan deretan bunga krisan warna warni itu.
“Silahkan Nona” tunjuknya, banyak sekali mawar warna ungu bermekaran dengan indahnya.
“Baik Pak, saya pesan 5 ya, nanti biar diambil”
“Iya Nona, ada lagi?”
“Ehm…saya juga ingin bunga potong, akan saya ambil besok, karena saya akan pulang besok”
“Baik Nona, nanti akan saya catat”
Sesudah memesan bunga, Ganis kembali berkeliling kebun bunga sendirian, Bapak tadi sedang melayani pembeli yang lain. Ganis beralih ke kebun bunga anggrek, sejauh mata memandang, bunga yang beraneka ragam itu memanjakan matanya.
“Eh Nona” ujar seseorang dari arah dekatnya. Ganis menoleh, memicingkan mata di balik kaca mata hitamnya.
“Alex” imbuh Alex.
“Iya, mau nyari bunga untuk saudara di rumah”
“Oh…”
“Nona mencari bunga juga?”
“Iya, bunga mawar kesukaan Mama mertua” imbuh Ganis.
“Sudah dapat?” tanya Alex, Ganis mengangguk. Alex mengisyaratkan untuk duduk di tepi kebun, ada bangku-bangku yang berpasangan dengan meja serta atap payung di sana.
“Saudaraku sangat suka bunga, jadi aku akan membawakan untuknya” ujar Alex.
“Manis sekali” sahut Ganis.
“Oh ya, apakah Nona sudah menjelajah semua tempat ini?” tanya Alex, mengulangi pertanyaan pagi tadi saat sarapan. Ganis menggeleng.
“Ada salah satu bukit yang bisa digunakan untuk melihat senja, di sana” Alex menunjuk sebuah tempat yang agak tinggi dari mereka duduk sekarang, tidak terlalu jauh dan bisa dijangkau dengan mudah hanya dengan jalan kaki.
“Oh ya?” Ganis berbinar, selain menikmati matahari terbit, dia juga penikmat senja. Melihat senja membuatnya tenang, entah apa alasannya.
__ADS_1
“Bisa Nona coba, percayalah dia sangat cantik, kalau tidak hujan atau mendung” Alex tertawa kecil, Ganis ikut tersenyum.
“Ok, sebelum pulang aku akan mencobanya nanti”
“Maaf Nona jika saya hari ini berlaku tidak sopan pada anda, anda sebagai istri dari atasan saya, maaf jika mengajak Nona mnegobrol layaknya teman”
“Ah itu, tidak masalah, aku juga sama seperti yang lain” Ganis merendah, haruskah dia menunjukkan kelasnya bahwa dia istri Saga si presiden direktur itu?
“Ternyata istri Tuan Saga sangat mengasikkan dan humble” puji Alex.
Apakah dia sedang merayuku? Ganis tersenyum, agak kurang nyaman dengan pujian itu.
“Beda ya sama suamiku?” Ganis tertawa kecil, Alex tidak menimpali dan ikut tertawa kecil. Saga memang beda dari orang lain, bahkan tidak bisa tertebak apa yang dilakukannya, dan cenderung kaku.
Di sela-sela pembicaraan mereka, terdengar bunyi nyaring HP dari Alex. Alex merogoh saku celananya dan melihat layar HP.
"Sebentar ya” Alex meminta izin untuk mengangkat telp, dia menjauh dari posisi Ganis. Ganis mengangguk, dia beranjak dari tempat duduknya dan mendekati kebun anggrek yang tida jauh dari tempatnya duduk tadi. Sementara Alex masih berbicara serius.
“Nona, saya undur diri dulu, ada urusan yang harus saya selesaikan” Alex menganggukkan badannya, Ganis mengangguk.
“Jangan lupa menyambut senja” Alex melambaikan tangannya.
“Iya” Ganis hanya mengangguk. Dia memutuskan akan pulang ke resort setelah dia melihat senja sore ini, karena besok dia akan segera pulang.
Ganis berjalan keluar dari kebun bunga, dia berjalan menuju tempat yang ditunjuk oleh Alex tadi untuk menikmati senja, senja hampir tiba, Ganis berdiri di tepi, jika melongok ke bawah, maka tempat tersebut lumayan curam dengan bebatuan di bawah. Matahari nampak sangat besar dan menguning khas senja, Ganis berdiri memandang
matahari yang akan bersiap keperaduannya.
“Cantik sekali” Ganis tersenyum, tiba-tiba ada sesuatu dari belakangnya yang menabrak dirinya dan akhirnya dia terjatuh.
Bruuuuk……
“Tolong……!”
"Tuan Sa...ga, Tolong..." Suara Ganis mulai melemah. Nama itu spontan yang keluar dari setengah ketidaksadarannya.
Tangan Ganis mencoba meraih batu untuk dijadikan pegangan, tapi tidak berhasil, dia berguling ke bawah, badannya terantuk batu. Kini dia tak bisa lagi berteriak minta tolong, kesadarannya lama-kelamaan tidak bisa dikendalikan. Hingga dia benar-benar tidak mengingat apa-apa. Hari mulai gelap, senja telah menghilang. Ganis tergeletak di semak-semak dengan keadaan tidak sadarkan diri.
Happy Reading ^^
__ADS_1
Terima kasih yang sudah setia membaca, sayang kalian.