
Saga sudah bersiap, hari masih terlalu pagi untuk beraktivitas, bahkan matahari belum juga memunculkan sinarnya, baru saja dia melakukan panggilan untuk sekertaris Li.
“Selesaikan pekerjaan hari ini Pak Li, aku mau pergi, dan setelah dia bangun nanti, bilang suruh sarapan di ruang VIP saja, jangan di lantai 2, takutnya dia jadi pusat perhatian jika sendirian” pesan Saga.
“Baik Tuan”
“Dan lagi, jika dia ingin bepergian, bawalah sopir untuk mengantar sekaligus mengawalnya”
“Iya Tuan”
Saga meninggalkan sekertaris Li, dia mengendarai mobil sendiri tanpa didampingi sopir. Arah mobilnya menuju hotel dekat resort tempat dia menginap, di sana Anaya sudah menunggu di lobi hotel.
Mereka sudah berada di mobil yang sama, sesuai pembicaraan pada tadi malam, mereka akan jalan berdua, menikmati hari libur saat weekend.
“Sudah lama kita tidak jalan berdua” Anaya membenahi bulu matanya, tangannya memegang cermin kecil. “Belanda tidak indah tanpa kamu” imbuhnya sambil tersenyum.
“Jadi selama ini kamu di sana?” Saga bertanya datar, dia tidak terkejut. Pandangannya melihat ke jalan raya.
“Aku menenangkan diri sayang, mencari keputusan terbaik. Oh ya bagaimana dengan Ganis?”
Saga terdiam sesaat, gadis itu, gadis yang tiba-tiba muncul dalam hidupnya.
“Kenapa?” tanya Saga dingin.
“Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia menjadi istri yang baik? Dan apakah kamu mencintainya?” Anaya menyelidik.
“Jadi kamu mengajak pergi hanya untuk membahas dia?” tanya Saga, wajahnya masih datar. Anaya terkekeh, dia hanya ingin tahu, apakah Saga mencintai asistennya itu.
“Enggak sayang, aku hanya penasaran saja, dan aku menyesal meninggalkan kamu, aku ingin…”
“Kamu mau sarapan di mana?” tanya Saga sebelum Anaya melanjutkan ucapannya.
“Terserah kamu, aku tidak hafal daerah sini”
Saga membelokkan mobilnya di sebuah restoran yang cukup mewah di daerah tersebut, dengan pemandangan yang masih sama, pemandangan pegunungan yang masih berkabut, matahari baru saja memunculkan sinarnya.
Apakah gadis itu sudah bangun? Apakah dia juga sudah sarapan? tiba-tiba wajah Ganis muncul di ingatannya.
__ADS_1
Saga mengoleskan selai di rotinya, Anaya tengah sibuk membenahi rambutnya, dia memilih sarapan buah saja.
“Kamu masih sama, selai kacang dan roti” Anaya terkekeh melihat Saga menikmati sarapan yang hampir sama setiap harinya.
“Setelah ini kamu mau kemana?”
“Liburan dong sayang, jalan-jalan, aku kangen banget sama kamu, dan aku ingin menghabiskan waktu bersamamu sepanjang hari” ucap Anaya manja, sama seperti dulu. Saga menanggapinya dengan biasa, bahkan terkesan dingin, tidak seperti saat mereka masih menjadi sepasang kekasih.
“Hem…ya sudah terserah” Saga meneguk segelas susu, piringnya sudah kosong. Dari tempat mereka sarapan, mereka bisa melihat matahari terbit dengan indahnya.
“Oh ya, kapan kamu pulang?” tanya Anaya.
“Besok”
“Wah kita nggak bisa liburan lagi” Anaya mengerucutkan bibirnya. “Ehm..atau aku samperin ke kantormu?”
Saga menatap Anaya tajam, posisi mereka sudah berbeda sekarang, apalagi sudah bukan rahasia lagi jika dia sudah menikah dengan orang lain. Apa kata mereka jika Anaya akan datang ke kantor.
“Aku rasa bukan ide yang bagus” Saga menolak.
“Kenapa?” Anaya seolah tidak mempedulikan status Saga.
“Tapi kan…”
“Ann, kita sudah berbeda” Saga menatap Anaya tajam. Anaya terdiam, mencoba memahami posisi Saga. Semua salahnya, jadi dia harus menerima resikonya.
“Ok…baik, ini semua salahku sayang, jadi aku sangat-sangat minta maaf, aku sendiri sekarang tidak tahu harus berbuat apa” Anaya menerawang.
Saga menarik nafas panjang, mengapa Anaya kembali hadir dalam hidupnya, tanpa ada rasa bersalah. Setelah dia berhasil menyembuhkan luka batinnya, setelah dia berjuang untuk melupakan kenangan bersama Anaya, ketika dia sudah mencoba menerima kehadiran Ganis. Anaya menggenggam tangan Saga dan menatapnya lekat.
“Aku salah mengambil keputusan” mata Anaya berkaca-kaca.
Sepanjang perjalanan, tidak ada bahasan yang mengarah pada masa lalu mereka, Anaya membuka percakapan lain mengenai bisnis dan juga hal-hal yang menyenangkan. Saga sesekali menimpalinya dengan senyum, gadis itu agak sedikit berubah, kini dia lebih mencair daripada dulu.
“Aku mau ke salon ya, aku belum sempat memanjakan diri setelah penerbangan kemarin” pinta Anaya.
“Iya”
__ADS_1
“Kamu tungguin ya” imbuhnya manja. Saga terdiam, tanpa mengatakannya, dia menyetujui permintaan gadis itu.
Mereka tiba di sebuah salon kecantikan, Anaya memulai perawatan, sedangkan Saga duduk di ruang VIP untuk menunggu Anaya, tangannya mengeluarkan HP dari saku celananya. Membuka kunci layar, ada beberapa pesan yang masuk, tidak ada satupun pesan dari Ganis.
“Sedang apa dia? Bahkan mengirim pesan pun tidak” gerutunya. HP nya diletakkan di meja, kini dia meraih
sebuah majalah di atas meja. Membuka acak, dan wajahnya terpampang di salah satu halaman majalah tersebut dengan judul, “Menanti Kemunculan Istri Presdir Baru Arjuna Group”. Saga mengangkat kedua alisnya, seberapa pentingnya masalah itu? Saga menarik nafas panjang, menjadi presdir dari perusahaan besar tidak
semudah yang dibayangkan. Nama baik harus benar-benar dia jaga, karena bagaimanapun juga, para investor akan mempertimbangkan hal tersebut.
“Aku sudah selesai” Anaya menghampiri Saga, Saga meletakkan majalah tersebut dengan posisi terbuka, judul dari majalah tersebut dapat terbaca. Anaya melirik sejenak tulisan tersebut, kini dia duduk di samping Saga.
“Bagaimana penampilanku dengan rambut baruku?” Anaya memegang rambutnya, yang dicat agak pirang. Saga menangkat kedua alisnya tanpa berkomentar lebih banyak.
“Kamu sepertinya sedang banyak pikiran” imbuh Anaya.
“Sudah, kamu mau kemana lagi?”
“Makan, aku lapar” jawab Anaya. “Ada tempat makan di dekat salon ini, kata mbaknya tadi” Anaya menarik lengan Saga dan mengajaknya keluar dari salon.
Sepanjang mencari tempat makan, Anaya menggamit lengan Saga dengan manja. Saat melintasi salah satu food court, Saga melihat aneka menu mie di sana. Sejenak dia menghentikan langkahnya. Anaya ikut berhenti, menoleh ke samping, memperhatikan wajah Saga.
“Sejak kapan melirik menu mie?” Anaya menatap Saga heran.
Mie, makanan yang tidak pernah dia makan sebelumnya, namun semenjak mengenal Ganis, sesekali dia menyantap mie tersebut, Ganis seolah mengajarkannya untuk menikmati hidup, makan mie di balkon kamarnya sambil melihat langit, terkadang mereka makan mie dan ngobrol hingga larut malam, hanya sekedar melepas penat
setelah seharian lelah di kantor. Mie sudah menjadi teman, dan Ganis lah yang menjadi jembatannya, itu adalah salah satu terapi yang dia lakukan pada saat dia patah hati. Melihat kedai mie, ingatannya kembali pada gadis itu. Sedang apa dia sekarang? Harusnya dia bersama dia dan mengajaknya berlibur, tapi pertemuannya dengan Anaya tadi malam membuat rencana itu berlalu begitu saja. Saga kembali berjalan, dan akhirnya mereka memilih makanan western di restoran.
HP Saga tak henti bergetar, sekertaris Li yang melakukan panggilan. Hari sudah mulai malam, Saga masih berada di suatu tempat bersama Anaya, Anaya sedang ingin ditemani shopping oleh Saga.
“Hallo Pak Li”
Wajah Saga yang tadi terlihat datar tiba-tiba nampak panik dan menegang mendengar semua informasi yang disampaikan sekertaris Li.
“Aku segera ke sana Pak Li” Saga mengakhiri panggilan telponnya.
“Aku harus pulang sekarang!”
__ADS_1
“Kenapa?” Anaya masih memilih baju, Saga meninggalkannya begitu saja.
Dan sepanjang perjalanan pulang, hati Saga terasa kalut, kecepatan mobil yang dia kendarai melebihi kecepatan normal, yang dia inginkan cuma satu, ingin segera sampai di tempat yang dikatan oleh sekertaris Li.