
Saga menepati janjinya, sebelum petang dia sudah sampai di rumah menjemput Ganis, Mereka akan pergi ke tempat diselenggarakannya acara pertunangan Salwa. Ganis sudah siap sejak beberapa menit yang lalu, dia menoleh saat pintu kamar terbuka. Menyambut dengan senyum kedatangan suaminya.
"Mas capek?" sapa Ganis lalu berdiri mendekati Saga.
"Kamu sudah siap?" tanya Saga. Ganis mengangguk.
"Iya Mas"
"Baik, aku mandi dulu ya..."
"Mas mau kopi?"
"Tidak usah, tadi aku di kantor sudah ngopi"
"Ini beneran kerjaan Mas sudah beres semua?" Ganis memastikan, dia tidak ingin jika Saga meninggalkan banyak kerjaan.
"Sudah, tadi juga dibantu Pak Li dan Farel"
"Oh baik"
"Kamu cantik sekali" puji Saga sambil memandang lekat wajah istrinya, tangan kanan mengelus pipi Ganis yang merona karena warna blush on. Ganis tersenyum mendengar pujian Saga, pujian yang senantiasa mampu membuat kepalanya terasa berat.
"Duh...kenapa selalu merayu" Ganis mengibaskan tangannya, bibirnya masih mengulum senyum.
"Serius, cantik...." puji Saga kembali.
"Ayo buruan mandi, bau!" cibir Ganis, diikuti oleh suara tawanya.
Saga ikut tertawa, dia memeluk Ganis menggoda.
"Bau nggak? biar sekalian nanti kamu mandi lagi" godanya.
Ganis memukul tubuh Saga pelan, meminta laki-laki itu segera menjauh dan mandi. Bukan karena dia jijik saat dipeluk oleh Saga, hanya saja biar suaminya itu lekas menyegarkan badannya dan lelah yang ada di tubuhnya segera hilang.
"Ok ok sayang...cium dulu donk" Saga memanyunkan bibirnya. Ganis menarik ke belakang kepalanya, menghindar. Namun timbul niat usilnya, dia mendekatkan wajahnya, lalu mengecup pipi Saga bergantian kanan dan kiri, lalu beralih ke bibir dan terakhir kening Saga. Tak ayal, lipstik warna merah yang ada di bibirnya beralih ke wajah Saga. Ganis tergelak melihat wajah suaminya.
Saga yang merasa puas dengan apa yang dilakukan Ganis cengengesan, dia berjalan melewati cermin sebelum masuk ke kamar mandi, langkahnya terhenti di sana, dia memperhatikan wajahnya yang penuh dengan warna lipstik dari bibir Ganis.
Ganis terkikik, Saga memalingkan wajahnya dari cermin ke Ganis, dia mengangkat kedua bahunya, sejurus kemudian dia berlari ke arah Ganis dan membopong istrinya.
__ADS_1
"Mas...lepasin...mau ngapain?" teriak Ganis mendapat perlakuan Saga.
"Mau balas dendam" ujar Saga yang sudah melepas kemejanya, dia bertelanjang dada sekarang. Dengan perlahan Saga membanting tubuh Ganis ke ranjang yang empuk. Kini Saga mengungkung tubuh istrinya, dia berada di jarak satu meter di atas tubuh Ganis.
"Mas...cepetan mandiii" teriak Ganis sambil tertawa, dia berusaha menggelitik pinggang suaminya.
"Aku mau balas dendam dulu, biarin aja nanti kalau mau mandi lagi" gumam Saga sambil menatap istrinya lekat. Ganis menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ampuuunnn" teriaknya sambil tertawa terbahak. Saga mendekatkan wajahnya, semakin dekat dan dekat. Saga juga menyingkirkan kedua telapak tangan Ganis yang menutup wajahnya.
Bibirnya kian mendekat ke bibir Ganis, Ganis yang mendapat perlakuan tersebut tidak bisa berbuat banyak, pesona Saga selalu gagal membuatnya bisa menolak.
Ganis menutup matanya, kini bibir Saga beradu dengan bibirnya. Beberapa detik mereka terhanyut. Hingga akhirnya Saga tersadar, dia tidak tega jika harus melihat istrinya harus mandi lagi, harus kembali berdandan lagi karena ulahnya.
Saga menghentikan aksinya, Ganis berguling ke samping. Lalu dia duduk di tepi ranjang, dia memukul lengan Saga gemas.
"Buruan mandiiiii!" teriaknya.
Saga ikut duduk di atas ranjang, dia tersenyum geli.
"Apa??!" teriak Ganis lagi.
Ganis tertawa kecil melihat tingkah suaminya, tak ayal rambutnya kini berantakan akibat ulah usil suaminya, lipstik yang dari tadi sudah kece pun memudar, bahkan menghilang.
Ganis kembali ke depan meja rias, dia menata rambutnya. Setelah itu menambahkan kembali lipstik di bibirnya.
Ganis mengeluarkan baju yang sama motifnya, yang satu untuknya dan satu lagi untuk Saga. Dari dulu Ganis selalu memilih batik sebagai baju untuk acara formal, baginya terasa lebih elegan. Saga pun tidak pernah protes dengan apa yang menjadi pilihan Ganis, dan tentu pilihan baju untuknya.
"Sudah ya...jangan usil, aku udah dandan dua kali ini" Ganis memperingatkan, Saga yang baru saja keluar kamar mandi tertawa mendengar seruan istrinya.
"Siap bu bos" ucapnya nurut, setelah mengeringkan rambutnya dia berganti baju yang telah disiapkan oleh Ganis. Nampak sangat gagah dan keren dengan kemeja batik dengan corak warna coklat tua.
***
Setibanya di tempat acara, Saga dan Ganis disambut secara khusus oleh panitia acara, mereka mendapat pengamanan lebih pada saat turun dari mobil hingga memasuki tempat acara.
"Maaf Tuan dan Nona, ini pesan dari Nona Salwa" ujar salah seorang yang berada di dekat Saga dan Ganis. Saga tidak mengeluarkan sepatah katapun, dia hanya nurut dengan apa yang dilakukan oleh orang tersebut.
Mereka di antar memasuki sebuah ruangan khusus, ruangan yang cukup mewah untuk tempat tunggu acara dimulai. Saga dan Ganis berada di sebuah ruangan yang dikhususnya untuk keluarga dekat. Di sana nampak beberapa orang yang menyambut kedatangan Saga dan Ganis.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan dan Nona...senang sekali bisa bertemu dengan anda" ucap seorang pria dengan rambut dominasi warna putih, sekilah pria tersebut memiliki wajah hampir sama dengan Salwa. Setelah itu seorang wanita juga mengulurkan tangannya, bersalaman dengan Saga dan Ganis.
"Saya tersanjung dengan kedatangan Anda" ucapnya dengan senyum semringah.
"Sama-sama" ujar Saga, dia membalas uluran tangan kedua orang tua tersebut, bergantian dengan Ganis.
"Silahkan, silahkan duduk" ucap pria tadi.
"Oh terima kasih" jawab Saga. Dia mengajak Ganis duduk di kursi yang telah disediakan. Beberapa saat Saga bercakap dengan beberapa anggota keluarga Salwa.
Terdengar alunan musik dari ruang yang akan digunakan sebagai ruang pertunangan, Ganis mencoba melihat Salwa dari balik ruangan kaca, namun belum terlihat. Hanya hiasan yang mewah terlihat di sana.
"Salwa baik-baik saja kan?" bisik Ganis ke telinga Saga, suara alunan musik membuat suasana agak berisik.
"Baik-baik saja, jangan khawatir" Saga meraih tangan istrinya dan mengenggamnya.
Salwa mendadak masuk ke dalam ruangan tersebut, Ganis melihat sosok wanita yang tidak lain Salwa tersebut, Ganis lalu berdiri dan mendekat.
"Nona Salwa....cantik sekali" ujar Ganis memuji, pakaian yang agak terbuka kembali Salwa tampilkan di salah satu acara penting dalam hidupnya. Ganis tidak mempedulikannya.
Gaun berwarna merah menyala dengan belahan dada rendah menjadi pilihan Salwa, itu sudah menjadi gaya busana Salwa.
"Terima kasih atas kedatangan Nona Ganis dan Tuan Saga, saya pikir kalian tidak akan datang" Salwa menundukkan kepala memberikan hormat.
"Jangan begitu, saya pasti akan datang, eh...Nona baik-baik saja kan?" Ganis nampak masih sedikit khawatir, jangan-jangan Salwa masih terluka dengan kejadian waktu itu.
Salwa menggeleng, "Saya baik-baik saja Nona"
"Syukurlah" Ganis tersenyum lega.
Acara inti pun dimulai, dimulai dari sambutan kedua keluarga lalu ke acara inti yaitu pertunangan Salwa dan kekasihnya.
Nampak kedua wajah calon pasangan tersebut berbahagia, momen pertunangan membawa mereka semakin mendekati rencana pernikahan nantinya.
Saga dan Ganis tak kalah bahagia, Ganis bersyukur acara pertunangan Salwa berjalan sesuai rencana setelah peristiwa memilikan tempo hari itu.
Saga menatap istrinya dengan perasaan agak aneh, "Apakah kamu juga sebenarnya memimpikan hal seperti ini?" bisiknya di dekat telinga Ganis.
Ganis yang memahami situasi hati Saga mendongak, sejurus kemudian dia tersenyum ke arah Saga.
__ADS_1
"Bagiku saat ini aku bahagia sama kamu Mas" gumamnya, Saga tersenyum mendengar jawaban Ganis. Tak ayal dia mencium ujung kepala Ganis, tak peduli dia diperhatikan oleh banyak orang.