Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 57 : Semua Masih Sama


__ADS_3

Deretan karangan bunga duka cita masih berjejer di halaman rumah Saga, hari ini tepat 7 hari meninggalnya Tuan Candra. Meskipun masih merasa kehilangan, namun semua harus bisa merelakan. Nyonya Rima sudah mulai bisa tersenyum dan sudah nampak tegar dengan kepergian belahan jiwanya. Saga sudah bekerja beberapa hari yang


lalu, bahkan lebih sibuk dari biasanya.


Semua masih sama, Ganis masih berada di ruang berbeda dengan Saga. Tidak ada obrolan yang mereka lakukan, seolah jalan sudah buntu. Saga seolah sangat membencinya hingga ketika bertemu di meja makan pun mereka tak saling menyapa, Ganis yang berusaha seperti biasanya, dengan mengambilkan makanan untuknya pun ditolak olehnya.


Hatinya masih beku, rasa kecewa masih belum bisa terungkapkan. Mestinya bisa mencair, namun masih belum bisa dia ungkapkan, diapun sebenarnya jengah dengan dirinya sendiri.


Ganis lebih menyibukkan diri dengan membantu asisten rumah tangga menata keperluan untuk pengajian di hari terakhir, dia lebih suka menyibukkan dirinya sembari menunggu Saga berbaik hati untuk mendengarkan alasannya.


Rasa lelah menjadi obat pelipur laranya saat Saga benar-benar mencapakkannyan saat ini.


“Nona terlihat sangat lelah, jangan ikut membantu Nona..ini pekerjaan saya” ujar Dini. Ganis tersenyum, wajahnya agak pucat.


“Tidak apa-apa mbak Din, aku senang kok bisa membantu” ujar Ganis sambil menata karpet di lantai.


“Sudah pantas kan jadi begitu” serobot Carolina yang tiba-tiba datang dari belakang. Ganis dan Dini menoleh. Dini menatap Ganis iba, tidak tega dengan apa yang dia lihat dan dia dengar.


Dengan angkuhnya gadis itu menatap Ganis rendah, kedua tangannya terlipat di dada. Benar-benar sangat angkuh terlihat.


“Apa kamu lihat-lihat?” bentak Carolina pada Dini, Dini menciut, mengembalikan pandangannya pada karpet yang tengah dia tata.


“Biar saya saja Nona, Nona istirahat saja” ujarnya Dini. Ganis bangkit berdiri.


“Mau kemana? Tugas kamu belum selesai, harusnya kamu memang cocoknya bekerja begini, bukan jadi majikan, sok-sokan jadi istri Saga, nggak pantas!” imbuhnya berapi-api.


Hanya mereka bertiga yang ada di ruangan tersebut, Dini merasa bergidik dengan omelan Carolina terhadap Ganis yang dinilai tidak beradab itu. Sejak dulu, gadis itu selalu saja bersikap kasar, sudah beberapa kali dia mendapat omelan gadis itu ketika sedang berada di rumah Saga.


Ganis berdiri, “Maaf jika aku mengganggu ketentraman hidupmu” ucapnya tegas.


“Hah? Hahaha” Carolina terbahak, tidak menyangka jika Ganis akan berani membalas dengan ucapan. Carolina menarik pergelangan tangan Ganis dan menariknya ke luar, ke taman dekat kolam renang.


“Sebaiknya kamu tinggalkan Saga” ujarnya.


“Atas dasar apa kamu mengatakan itu padaku?” Ganis mengumpulkan keberanian untuk mendebat Carolina.

__ADS_1


“Beraninya kamu” bengisnya.


“Aku memang bukan berada di strata sepertimu, hanya saja aku bukanlah sampah yang berteriak sampah” tandasnya tenang. Carilina menggeram, melotot saat mendengar Ganis mengatakan itu padanya.


“Kamu….!” Carolina menjejakkan kakinya geram, lalu pergi meninggalkan Ganis. Ganis masih berdiri mematung, menghela nafas panjang, setidaknya dia harus melindungi dirinya agar tidak selalu dirundung oleh gadis itu.


***


Pengajian baru saja usai, Ganis kembali menyibukkan diri dengan membantu asisten rumah tangga, tidak peduli semua melarang melakukannya. Namun ini jauh lebih baik daripada harus berbaur dengan Carolina.


Saga duduk di sebuah sofa sambil memainkan HPnya, sekertaris Li baru saja pamit pulang setelah agak lama berdiskusi dengan Saga. Ganis memperhatikan semuanya, sesungguhnya dia sangat merindukan laki-laki itu.


Ganis telah selesai dengan pekerjaannya, kepalanya agak terasa berat. Nyonya Rima telah istirahat di kamarnya, sedangkan Budhe Sarah dan Carolina sudah pamit pulang ke rumahnya sendiri.


“Nona pucat sekali, sakit?” tanya Dini. Ganis menggeleng.


“Tidak mbak, aku baik-baik saja” Ganis menyunggingkan senyum di balik pucat bibirnya. “Apa Tuan sudah makan?”


Dini menggeleng, “Belum, Nona”


“Biar mbak Marni saja, Nona” Dini menyarankan. Memang selama ini yang mengurusi seluk beluk dapur adalah Marni.


“Tidak apa-apa, biar aku saja”


“Baik Nona” Dini mengalah.


Ganis melangkahkan diri ke dapur, dilihatnya Saga masih duduk disofa. Nampaknya sekertaris Li tengah menyampaikan kabar penting. Ganis selesai memanaskan makanan, dilihatnya kembali Saga. Namun sudah tidak berada di tempat. Ganis melirik ke arah lantai atas, melihat pintu kamar Saga.


Ganis mengambil inisiatif mengantarkan makanan ke kamar Saga, saat meniti tangga, terasa keraguan menjalari batinnya, bahkan kakinya terasa berat melangkah. Tibalah dia di depan pintu, tangan kanannya memindahkan piring yang dia pegang ke tangan kiri. Tangan kanan mengepal, bersiap mengetuk pintu. Namun urung, tangan itu masih menggantung di udara.


Ganis menghela nafas panjang sebelum melakukannya, hanya mengetuk pintu saja butuh perjuangan seberat ini baginya.


Tok…tok…tok….


Ganis menunggu beberapa saat, tidak ada jawaban.

__ADS_1


Tok…tok..tok….


Masih tidak ada jawaban, Ganis menunggu hingga beberapa menit.


“Mas…” Ganis memberanikan diri memanggil, namun sama tidak ada jawaban, dia yakin Saga masih terjaga.


Saga yang mendengar pintunya diketuk terdiam, hanya melihat ke arah pintu. Berkali-kali pintu itu diketok. Dia berjalan perlahan mendekati pintu, namun dia tidak membukanya.


“Mas…makan dulu yuk” ujar Ganis, namun masih sama, tidak ada respon.


Saga duduk menyandarkan diri di pintu, Ganis meletakkan piring di meja dekat luar kamar Saga, lalu dia duduk menyandar di luar pintu.


“Mas…aku minta maaf, maaf jika membohongi Mas” dia mulai membuka percakapan, berharap Saga mau mendengarkannya.


“Bukan maksudku Mas, hanya masalah ini terlalu rumit” imbuhnya, dia menundukkan wajahnya, harusnya dia jujur saja dari awal, dia menyesal.


Saga terdiam mendengarkan suara Ganis dari dalam kamar.


“Mengenai surat perjanjian itu…Mas sudah tahu sekarang jika kedatanganku kesini adalah untuk memenuhi surat perjanjian itu, Mas boleh marah dan tidak memaafkanku, tapi aku mohon dengarkan aku menjelaskan semuanya…” Ganis mendongakkan wajahnya, seolah sedang berbicara dengan Saga secara langsung. Ganis tersenyum hambar, nyatanya dia sedang berbicara sendiri.


“Entah mengapa Nona menyuruhku datang malam itu, dan…dan…aku tidak bisa menolaknya karena seperti apa yang Mas baca sendiri di kertas itu, aku…aku butuh uang” ujarnya kelu, Ganis kembali menunduk.


“Aku benar-benar tidak ada pilihan saat itu, aku sendiri tidak mengerti mengapa aku harus berada di sini dan menikah dengan kamu Mas, itu terasa berat buatku, dan tentu…buat Mas”


Ganis hampir saja terjatuh saat pintu itu terbuka, Ganis segera berdiri, betapa bahagianya dia melihat Saga berada di depannya. Wajah laki-laki yang sangat dia rindukan kejahilannya, meskipun setiap hari mereka bertemu, dalam hati Ganis tidaklah cukup sejak hari-hari ini. Ingin rasanya dia memeluk laki-laki itu erat, tapi ketakutannya mengalahkan inginnya.


Tatapan Saga nampak dingin, Ganis menyunggingkan senyum tipis di bibirnya yang nampak pucat.


“Aku butuh ruang sendiri” ucap Saga datar, meskipun lirih, kalimat itu seolah seperti petir yang menyambar.


Saga kembali menutup pintu kamarnya, ada yang terasa berat di dadanya. Begitu juga dengan apa yang dirasakan oleh Ganis, seperti ada sesuatu yang menghujam dirinya. Air matanya meleleh, tapi setidaknya dia sudah mengatakan pada Saga apa yang ingin dia katakan.


Mungin selama ini dia sedang bercanda, harusnya aku tertawa, tapi nyatanya aku malah jatuh cinta. Ganis membatin sembari melangkahkan kakinya meniti tangga turun menuju lantai bawah.


Bukan kamu yang menyakitiku, aku tersakiti oleh harapanku terhadapmu yang terlalu tinggi. Saga mengusap wajahnya sembari berjalan ke arah balkon.

__ADS_1


Author menepati janji, tembus like 80. Hari ini akan up 2 chapter. Eh ini hari senin, saatnya vote rekomendasi nih, akan sangat menyenangkan jika kalian para readers berkenan memberikan vote rekomendasinya untuk Author. hehe Thanks you...and happy reading....


__ADS_2