Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 56 : Duka Cita


__ADS_3

Hari masih pagi, tapi selimut duka sudah sangat terlihat. Bendera kuning sudah terpasang di depan rumah megah itu, banyak pelayat yang mulai berdatangan. Banyak tamu berdatangan dengan mengenakan pakaian serba hitam, mobil-mobil berderet di sekitar jalanan rumah Saga.


Saga mengenakan kemeja hitam, rambutnya dibiarkan berantakan, Nyonya Rima berada di samping Saga mengenakan pakaian serba hitam juga, mengenakan kerudung di kepalanya dengan warna senada. Mereka duduk melingkar di dekat jenazah Tuan Candra. Mereka berada di sebuah ruangan yang cukup luas di rumah tersebut.


Silih berganti para pelayat membacakan surah Yasin. Ganis duduk agak jauh dari Nyonya Rima dan Saga, dia nampak sibuk menyambut para pelayat.


Nyonya Rima nampak sudah tegar meskipun matanya masih sembab, Saga nampak menunduk sesekali dia melayani para pelayat dan menyampaikan rasa terima kasih karena sudah datang mendoakan.


Di ruangan tersebut juga ada Budhe Sarah dan juga Carolina dengan pakaian serba hitam pula.


            Tepat pukul 11 siang, jenazah diberangkatkan menuju peristirahatan terakhir dengan ambulans, banyak pelayat yang ikut serta ke makam. Saga dan Nyonya Rima berada di ambulans, sedangkan Ganis berada di mobil yang berbeda. Saga masih saja belum mau berbicara padanya.


Tepat setengah jam, iring-iringan mobil telah sampai di pemakaman mewah itu. tenda berwarna putih megah telah berdiri di sana, ada beberapa pelayat yang sengaja datang langsung ke makam. Para pewarta pun banyak yang sudah berada di sana untuk memberitakan meninggalkan salah satu konglomerat di negeri ini, yaitu Tuan Candra.


Hampir semua karyawan Arjuna Group hadir di pemakaman tersebut, sekertaris Li tak pernah berhenti ada di samping Saga. Alex pun nampak hadir di pemakaman Tuan Candra. Semua kolega dan teman lama Tuan Candra juga turut hadir untuk mengantarkan Tuan Candra ke peristirahatan terakhir.


Saga ikut turun ke liang lahat, sementara Nyonya Rima duduk di tepi makam sambil memegangi foto Tuan Candra, Ganis berdiri di samping Nyonya Rima, memegang pundak wanita tersebut.


“Papa…” ujar Nyonya Rima pelan, Ganis kembali mengelus pundak wanita itu untuk menguatkan. Di samping Nyonya Rima, Budhe Sarah juga duduk di kursi sambil memegang tangan Nyonya Rima.


Prosesi pemakaman hampir usai, gundukan tanah sudah mulai meninggi, Saga sudah kembali ke atas, baju hitamnya bercampur dengan tanah berwarna merah, rambutnya tak luput dari tanah merah itu. Nyonya Rima berdiri dari kursinya, mengambil bunga tabur dan menaburkannya di atas gundukan tanah makam itu. Saga mengikutinya, begitu juga dengan Ganis.


Para pelayat satu persatu mulai meninggalkan area pemakaman, Nyonya Rima digandeng Ganis untuk meninggalkan makam, sementara Saga masih berdiam di dekat pusara Tuan Candra.


Ganis menoleh ke belakang, ke arah Saga sebelum benar-benar kembali ke area parkir untuk pulang bersama Nyonya Rima.


            Malam pertama meninggalnya Tuan Candra, layaknya lazimnya, diadakan pengajian untuk mendoakan Tuan Candra. Banyak tamu yang hadir, sementara Budhe Sarah dan Carolina memutuskan untuk menginap di sana. Setelah pengajian selesai, para tamu undangan pamit untuk pulang.


“Sudah aku duga, jika masuk keluarga ini yang awalnya sampah, maka akan menjadi sampah juga” ujar Carolina enteng, kini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga. Nyonya Rima, Budhe Sarah, Saga, Ganis, dan Carolina.

__ADS_1


Ganis meneguk ludahnya, kalimat itu pasti ditujukan untuknya. Saga diam saja mendengar ucapan dari Carolina.


“Stttt” Budhe Sarah menyenggol lengan Carolina yang duduk di sebelahnya.


“Kenapa sih Ma? Memang iya, pasti Om Candra meninggal gara-gara dia, shock dengan perjanjian sampah itu” Carolina memperjelas, entah dari mana dia mendapatkan berita itu.


“Ini keluarga terhormat, berita sekecil apapun akan menjadi heboh, apalagi pernikahan Saga dan gadis sampah itu”


“Sudah..sudah” ujar Nyonya Rima.


“Biarkan tante, biar jelas, dari awal dia datang aku sudah curiga, gadis tidak jelas asal-usulnya, pasti dia punya misi masuk ke keluarga ini” ujar Carolina semakin berapi-api, yang lainnya terdiam.


Ganis meneguk ludahnya, tengorokannya mulai sakit, banyak kalimat yang ingin dia ucapkan, tapi urung. Yang diinginkan dia adalah pembelaan dari suaminya, Saga. Namun Saga hanya terdiam membeku, bahkan acuh tak acuh dengan apa yang diucapkan Carolina.


“Sudah Carolina, kamu apa-apaan? Kita masih dalam keadaan berkabung, jangan menambah suasana menjadi tidak enak” ujar Budhe Sarah.


“Ma…aku sayang ya sama keluarga Om Candra dan Tante Rima, begitu juga Saga. Nah, sekarang apa jadinya? Gara-gara perempuan nggak jelas ini masuk, banyak berita buruk, Om Candra meninggal karena dia, lalu surat perjanjian pernikahan itu? apa? Itu sengaja dia buat karena dia butuh uang!”


Ganis duduk di tepi ranjang, ucapan demi ucapan yang dia dapatkan dari Carolina menghujam hatinya. Bagaimana bisa gadis itu begitu membencinya, bahkan dia tega mengucapkan semua kalimat itu.


            Nyonya Rima melihat Ganis menangis dan berlari ke kamarnya. Saga masih diam saja dengan apa yang terjadi. Kepalanya terasa sangat berat. Lalu dia berdiri meninggalkan ruang tamu, meniti tangga menuju kamarnya di lantai 2.


Dia menutup pintu kamar sembarangan, hinga terdengar sangat keras. Dia tak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Kertas penjanjian itu, lalu meninggalnya Tuan Candra, membuat otaknya panas dan tidak mampu berpikir dengan jernih.


Flashback On


Saga masih jongkok di samping pusara Tuan Candra, hanya tinggal dia sendirian. Sekertaris Li diizinkannya untuk pulang terlebih dahulu. Dia masih ingin berlama-lama dengan Papanya.


Sebuah sentuhan tangan menyentuh pundaknya dengan lembut, Saga menoleh perlahan. Dilihatnya Anaya dengan pakaian serba hitam dan kaca mata hitamnya. Dia ikut jongkok di samping Saga.

__ADS_1


“Aku turut berduka cita dengan berpulangnya Tuan Candra” ujarnya pelan, tangan kanannya mengambil bunga tabur dan menaburkannya di atas gundukan tanah di depannya.


Saga menghela nafas panjang, lalu melirik ke arah kanannya, dia mengangguk pelan.


“Cepat atau lambat aku pasti berada di situasi seperti ini” ujarnya.


“Aku mengerti, hal ini adalah salah satu yang kamu takutkan dalam hidupmu, sehingga kamu memutuskan untuk….”


“Ann..” Saga menyela, dia sedang tidak ingin membahas hal lain saat ini.


“Ok, sorry…, maaf kalau aku terlambat datang”


“Terima kasih sudah datang”


“Aku mengkhawatirkan keadaan kamu” imbuh Anaya, lalu dia berdiri, Saga ikut berdiri. Sudah cukup lama dia berada di makam itu.


Mereka berjalan menuju arah keluar makam.


“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku” ujar Saga sambil mencoba tersenyum hambar.


“Selalu” Anaya tersenyum manis.


Saga menahan segala pertanyaan yang ingin dia utarakan pada gadis itu, tapi urung. Hatinya belum siap untuk menghadapi semua, dia ingin tahu jawaban dari pertanyaan panjang yang selama ini belum dia dapatkan. Mengapa Anaya menyuruh Ganis datang di saat menjelang pernikahannya? Dan hubungan dengan perjanjian kontrak itu. Anaya pasti mengetahuinya.


“Sepertinya kamu ingin berbicara panjang padaku?” tanya Anaya.


“Bukan saat ini” jawabnya datar, kembali dia menyematkan kaca mata hitamnya, lalu masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya. Anaya melepas kepergian Saga, dia masuk kembali ke mobilnya dan pulang.


Flashback Off

__ADS_1


Saga mengguyur tubuhnya dengan air hangat dari shower, mencoba menghilangkan penat yang memenuhi otak dan pikirannya. Rasa kecewa, rasa kehilangan , dan teka-teki yang masih menyelimutinya.


 Terima kasih atas berbagai dukungan para readers...kalau bisa nembus 80 like, besok Author up 2 chapter. hehe. Happy Reading...


__ADS_2