
Peeet…
Keadaan dalam lift mendadak gelap gulita, tidak hanya itu, lift juga mendadak berhenti. Tangan Saga spontan menggenggam tangan kiri Ganis, matanya terpejam, dadanya terasa sesak. Tidak ada kata yang keluar darinya, dia mencoba berdamai dengan keadaan ini.
Tak hanya Saga, Ganis pun sebenarnya panik dengan keadaan ini, terjebak di lift akan menjadi pengalaman pertamanya dalam hidupnya. Ganis tidak bisa meraih tangan Saga dengan tangan kanannya, karena tangan kanan Ganis harus digendong dengan kain agar tidak banyak bergerak.
“Tuan…Tuan….semua akan baik-baik saja, ada aku di sini, bicaralah, Tuan tidak sedang sendirian di sini”
Masih tidak terdengar suara dari Saga.
“Apakah Tuan tidak membawa HP?” tanya Ganis, jika Saga membawa HP, paling tidak masih ada lampu flash yang akan menerangi mereka.
“Enggak” jawab Saga lirih, perlahan dia bisa menguasai dirinya.
“Ambil nafas Tuan, kita akan baik-baik saja. Ayo ambil nafas” Ganis memberikan perintah. Saga menuruti apa kata gadis itu, dia menghirup nafas perlahan lalu dihembuskan, dilakukan berkali-kali hingga dia agak sedikit tenang.
“Apa Tuan baik-baik saja?” ulang Ganis, genggaman tangan Saga sedikit memudar, pertanda jika kecemasan yang dirasakan Saga menurun.
“Rumah sakit sebesar ini, kenapa bisa kejadian seperti ini?” ujarnya kesal.
Ganis memilih untuk duduk berselonjor di lantai lift.
“Kamu ngapain?” tanya Saga.
“Aku mau duduk Tuan, capek berdiri. Aku yakin sebentar lagi pasti akan segera diperbaiki”
“Kamu…kamu ini selalu menebak”
“Apa Tuan mau aku menakuti Tuan, bahwa kita akan terjebak selamanya di sini?” sindir Ganis, Saga diam saja, akhirnya dia ikut duduk di sebelah Ganis.
“Kamu!”
“Tuan..” Ganis memanggil.
“Hem” sahutan dari Saga yang singkat dan Ganis sudah terbiasa dengan hal tersebut.
“Dunia kadang sebercanda ini, terkadang kita sudah merencanakan apa, dapatnya apa. Mimpiku cukup sederhana, hanya ingin bekerja dan membahagiakan orang tuaku, tapi dunia membawaku ke takdir yang berbeda.”
Saga terdiam mendengar Ganis berbicara, kali ini gadis itu sedang serius.
“Tuan, sejak Ibuku meninggal, aku tidak pernah memiliki impian lagi, seolah semua sirna seiring perginya Ibu. Tapi ternyata takdir membawaku hingga ke sini, aku minta maaf atas kehadiranku yang tiba-tiba. Aku tahu Tuan membenciku, bahkan sampai saat ini mungkin” Ganis tersenyum hambar. Mengapa di saat seperti ini, dia mengatakan isi dalam hatinya.
“Hal terberat dalam hidupku adalah ditinggal mereka yang aku sayangi” imbuh Ganis lagi, dia menoleh ke kiri, ke arah Saga. Laki-laki itu mematung, tidak memberikan respon apapun.
“Tuan…apa Tuan mendengarkanku?”
__ADS_1
“Hem” Saga memberikan respon, gadis di sampingnya yang dari awal dia benci, tapi tidak kini, dia tidak bisa mengartikan hatinya kini untuk gadis itu.
“Jika semua ini akan berakhir, tolong maafkan aku ya Tuan telah mengacak-acak hidup Tuan”
“Kamu bicara apa?” akhirnya Saga memberikan respon lebih dari satu kata, kali ini dia menoleh ke arah Ganis.
“Bukankah ini hanya sandiwara, jadi suatu saat nanti pasti akan berakhir, aku hanya tidak ingin ketika aku pergi, tapi Tuan masih marah padaku”
“Iiissh” desis Saga.
“Mengapa kamu berpikir demikian? Dasar!”
“Pasti Tuan tidak akan seperti ini selamanya kan? Tuan akan menikah yang sesungguhnya dengan orang lain, Tuan akan memiliki istri yang Tuan cintai dan mencintai Tuan, dan Tuan akan memiliki anak-anak yang lucu” imbuh Ganis, entah kenapa kalimat itu meluncur begitu saja, mengiringi lara hati hatinya membayangkan jika hal tersebut benar-benar terjadi.
“Jangan bicara terlalu jauh, jalani saja apa yang ada saat ini, jangan berbicara tentang badai jika hanya saat kamu baru melihat mendung” Saga menimpali, mengapa gadis yang seharian tadi mengerjainya tiba-tiba menjadi begini? Apakah lampu mati dan lift ini membuat otak gadis di sebelahnya tidak waras? Apakah kepanikan yang melanda melebihi apa yang dia rasakan?
“Aku sangat merindukan Ibuku, setelah ini aku ingin berkunjung ke makam Ibu, boleh kan Tuan?”
Saga mengangguk pelan meskipun tidak terlihat oleh Ganis.
Sudah hampir 10 menit mereka terjebak, sama sekali tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk keluar dari tempat ini. Saga mencoba berdiri, tangannya mencoba meregangkan pintu lift, tapi tidak ada hasil.
“Hah sial, apa kita akan terjebak di sini seharian? Atau mungkin tidak ada petugas yang mencoba memperbaikinya?” gerutunya.
“Apakah ini nanti akan jadi berita besar Tuan, “Tuan muda terjebak dan hampir mati di dalam lift”. Ganis terkekeh, Saga kembali duduk.
“Mengapa kamu sangat percaya diri Tuan?” Ganis tertawa.
“Kamu…” Saga tidak melanjutkan kalimatnya.
“Tuan…”
“Hah apa?” ujarnya sebal, dia sudah tidak betah di dalam, dia ingin segera keluar.
“Awalnya aku menganggap Tuan itu orang yang kaku, kaku banget”
“Lalu?”
“Ya memang kaku…, tapi banyak hal yang baik yang ada dalam diri Tuan”
“Kamu jangan coba merayuku di posisi seperti ini, aku tidak akan tergoda” Saga melengos, dalam hatinya dia merasa senang mendengar kalimat itu dari Ganis.
“Akan aku gunakan sihirku untuk menyihirmu Tuan Saga” tangan kiri Ganis terangkat, Saga menatap gadis itu heran, Ganis kembali tertawa. “Akan aku buat Tuan Saga jatuh cinta padaku hingga tidak bisa berpaling pada wanita lain, abracadabra…..” Ganis melanjutkan.
“Kamu aneh sekali”
__ADS_1
“Tuan yang aneh, selalu menganggap aku dukun pelet, kalau saja itu beneran terjadi, maka aku sudah menjadi istri mas Radian” Ganis masih tertawa kecil.
“Kenapa nama itu yang kamu sebut?” Saga cemberut.
“Kenapa? Apa Tuan cemburu?ha..ha..”
“Mana mungkin aku cemburu, kamu terlalu percaya diri, ingat ya…”
“Aku tidak akan pernah jatuh cinta sama kamu” sahut Ganis mendahului.
“Itu kan kalimatku!” Saga tidak terima Ganis menyerobot kalimatnya. Awalnya kalimat itu terasa serius, tapi kini tidak lagi, dia merasa kalimat itu hanya gurauan untuk Ganis saat ini.
“Aku sudah hapal Tuan, jadi Tuan tidak usah repot-repot mengucapkannya, anda harus menghemat tenaga anda, jangan-jangan kita akan terjebak selamanya di sini”
“Kamu jangan bercanda ya di saat seperti ini”
“Tuan tahu nggak kenapa aku kemarin kecelakaan?”
Saga belum tahu cerita di balik kecelakaan Ganis, hanya saja dia sudah meminta kepolisian mengusut masalah tersebut.
“Aku suka senja, dan aku pergi ke bukit yang nggak jauh dari kebun bungam di sana senjanya sangat cantik, nah mungkin karena terlalu asyik menikmati senja, aku terpeleset dan jatuh terguling” Ganis mengingat.
“Dasar ceroboh, hanya karena senja kamu mengorbankan dirimu, untung ada orang yang melihat keberadaanmu, kalau tidak bagaimana? Kamu bisa dimakan binatang buas, terus kamu…” Saga sedikit emosional, luapan kekhawatirannya tumpah sekarang.
“Apa Tuan mengkhawatirkanku?” Ganis mendekatkan wajahnya ke arah wajah Saga, mencoba
melihat kekhawatiran Saga.
“Hiiisssh…lain kali, kalau mau pergi kamu harus sama pengawal, atau sopir, atau siapa, jangan seperti itu lagi”
“Tuan kemana saat itu?” Ganis kembali menyandarkan kepalanya di dinding lift, pertanyaan itu seolah menampar Saga, dia memilih tidak menjawab pertanyaan itu.
“Bahkan nggak tahu kenapa orang yang pertama aku panggil adalah nama Tuan”
Maaf Ganis, ini memang salahku
Lampu menyala dan lift kembali berfungsi, Saga bernafas lega, dia kemudian berdiri, Ganis mengambil posisi akan berdiri juga, Saga memegang tangan kiri Ganis dan membantunya berdiri.
“Maafkan kami Tuan atas ketidaknyamanan ini” ujar seorang staff rumah sakit yang berdiri di depan pintu lift saat terbuka, ada beberapa teknisi juga yang ada di sana. Laki-laki itu semakin terkejut pada saat melihat orang yang baru saja keluar dari lift itu.
“Kalau sampai terjadi sesuatu, aku akan tuntut rumah sakit ini” ujar Saga kesal seraya berlalu.
Ganis menganggukkan kepalanya pada staff rumah sakit itu, sementara Saga berlalu tidak peduli. Ganis berjalan mengekor di belakang Saga.
Aku yang selalu tidak percaya diri dengan tulisanku...
__ADS_1
**hehe Happy Reading ya readers ^^ **