
Sedingin-dinginnya laki-laki, pada saat kasmaran, dia akan berbeda juga. Tak terkecuali dengan Saga, meskipun terlihat jarang memamerkan senyuman di wajahnya, tapi wajahnya terlihat bahagia. Aura sedang jatuh cintanya terlihat memancar.
Selalu diejek sebagai manusia kaku seperti kanebo kering, Saga mulai berpikir, hal apa yang bisa dia lakukan untuk Ganis. Dia bukan tipe yang romantis yang bisa memanjakan perepuan, dia memang tidak bisa. Bahkan dia tidak bisa menebak apa keinginan dan kesukaan Ganis. Jemarinya memainkan bolpoin, mencoba menerka apa yang mungkin disukai gadis itu. Seingatnya, gadis itu tidak terlalu suka dengan barang-barang mahal, hal itu terbukti dari rekapan transaksi kartu kredit yang dia berikan pada Ganis. Tidak ada satupun barang mewah yang dia beli, bahkan dia sudah membebaskan.
Ganis hanya menggunakan untuk keperluan yang menurutnya sepele, Saga memainkan bolpoin kembali. Haruskah dia mengajka gadis itu pergi ke restoran mahal dan makan malam istimewa malam ini?
“Bahkan dia lebih suka makan mie instan di balkon” ucapnya lirih. Saga meninggalkan bolpoinnya dan meninggalkan kursi miliknya, kini dia berdiri di tepi jendela, melihat pemandangan yang ada di luar, penuh hiruk pikuk.
Ingatannya kembali pada beberapa bulan yang lalu, bagaimana gadis itu datang dan dia sama sekali tidak ingin meliriknya bahkan mengajaknya bicara, kini dia merasa tergila-gila padanya. Nyatanya bukan gadis cantik dan sexy, bukan dia tidak cantik bukan, dia hanya selalu berpenampilan sederhana. Dibandingkan dengan Anaya atau beberapa perempuan yang pernah mendekatinya, mungkin Ganis bisa dikatakan tidak se-sexy mereka. Hanya saja, gadis itu telah merebut hatinya, gadis dengan keserderhanaan dan apa adanya itu. Perasaannya kini terasa ringan
dengan melepaskan apa yang seharusnya dia lepaskan, sejak malam itu dia sudah menganggap Anaya hanya temannya saja.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu diketok.
“Masuk” perintah Saga, laki-laki muda itu memasuki ruangannya.
“Tuan” laki-laki itu memberikan salam dengan membungkukkan badannya.
“Farel,” Saga memanggil nama laki-laki itu, dia adalah salah satu asistennya, salah satu orang kepercayaannya selain sekertaris Li.
“Iya Tuan?”
“Ehm…duduklah, aku ingin berbincang” Farel menuruti perintah Saga dan duduk di kursi seberang meja, mereka berhadapan.
“Apakah tentang kelanjutan pekerjaan yang tadi Tuan?” Farel bertanya, karena pagi tadi mereka sedang membicarakan salah satu pekerjaan.
Saga menggeleng, “Uhm..bukan, ini tentang…”
Farel masih setia mendengarkan, dia tidak ingin salah menebak lagi.
“Kamu sudah punya kekasih? Ehm…pacar?” tanya Saga, sebenarnya berbicara seperti ini bukanlah kebiasaannya, bahkan terasa aneh.
“Iya Tuan, punya” jawab Farel.
__ADS_1
“Ehm…lalu apa kesukaan kekasihmu?”
“Uhm…?” Farel agak terkejut dengan pertanyaan itu. Saga mengusap hidungnya dengan punggung tangannya, bingung bagaimana cara menjelaskannya.
“Ehm…maksudku, hal apa yang kamu lakukan untuk kekasihmu agar dia senang?” Saga mencoba menjelaskan lebih detail, meskipun juga tidak detail, karena gengsi masih menguasainya.
“Oh…” Farel mengerti maksud dari pertanyaan Saga.
“Kukira kamu mengerti apa maksudku” ujar Saga, dia mencondongkan tubuhnya ke depan.
“Iya Tuan, ehm…karena memang terkadang perempuan itu…ehm..maaf Tuan, bukan maksud saya menggurui” imbuhnya, takut jika disangka menggurui.
“Ah, jangan kau pikirkan itu, kita sharing saja, anggap saja bukan atasan dan karyawan”
“Baik Tuan” Farel tersenyum, baru kali ini Saga memanggilnya untuk berbicara santai selain pekerjaan. “Perempuan itu terkadang suka hal-hal romantis, meskipun tidak semuanya, ada yang suka bunga, sekedar jalan-jalan dan makan malam, atau diajak belanja”
“Begitukah?”
“Iya Tuan, biasanya saya mengajak kekasih saya makan malam di tempat favoritnya, dan jika ada momen tertentu, saya memberikan bunga,” ungkapnya, Saga mengangguk.
Haruskah aku mengajaknya makan malam romantis?Saga membatin.
Angin sore menerpa masuk ke dalam kamar, Ganis sengaja membuka pintu balkon dan tidak
menyalakan AC kamar. Dia tertidur lelap di atas ranjang. Saat membuka mata, dirinya tersadar jika siang sudah berlalu. Ganis menguap, memperhatikan sekeliling. Ruangan sedikit gelap, dia menapakkan kakinya di lantai, lalu
perlahan menyeret tubuhnya dan menyalakan lampu, menutup pintu balkon tetapi masih membiarkan gordennya terbuka. Dia segera memasuki kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Saga sudah berada di kamarnya saat Ganis baru saja keluar dari kamar mandi.
“Kapan datang?” Ganis tersentak, untung saja dia membawa baju ganti ke kamar mandi tadi. Dia belum siap jika Saga melihat tubuhnya.
“Sini” Saga mengangkat tangan kanannya. Ganis mendekat lalu meraih tangan kanan Saga dan mencium punggung tangannya. “Bukannya senang suami pulang, malah bengong”
“Ehm…bukan begitu Mas, biasanya kan pulangnya malam” Ganis membela diri, tenggorokannya
__ADS_1
agak gatal saat memanggil Saga dengan panggilan “Mas”, tapi itu harus segera
dia biasakan.
“Kan malam spesial” Saga menaik turunkan alisnya sambil tersenyum jahil, Ganis membulatkan matanya. Dia tahu maksud Saga, pasti Saga akan meminta haknya sebagai suami, secara Saga sudah terang-terangan menyukainya, dan memang mereka adalah pasangan suami istri yang sah. Ganis bergidik membayangkan, dia ssama sekali tidak siap dengan apa yang akan terjadi.
“Kenapa bengong?” cepat ganti baju, kita keluar, pikiranmu jangan jorok” Saga menatap Ganis, lalu menyentil pelan dahi gadis itu dengan jarinya.
“Oh”
Apakah aku salah menduga? Semoga saja.Ganis mengelus dadanya lega.
Saga mengendurkan dasi dan melepas kemejanya, sementara Ganis sudah bersiap dengan memakai gaun. Dia memanfaatkan momen Saga sedang mandi, sehingga dia berganti baju di dalam kamar.
Gaun satin warna biru navy membalut tubuhnya, Saga sudah berpesan jika mereka akan ada acara formal, sehingga dia memilih memakai gaun tersebut. Ganis juga memoles wajahnya dengan make up sedikit glowing. Setidaknya, malam spesial itu akan lebih menyenangkan begini daripada bayangannya.
Apakah akan malam dengan orang-orang penting? Ah entahlah, yang pasti ini jauh lebih menyenangkan daripada bayangannya.
“Kamu sudah siap?” tanya Saga saat keluar dari kamar mandi. Ganis mengangguk, tinggal memoleskan lipstick di bibirnya.
“Sudah”
Saga berjalan mendekati Ganis, tepat berada di belakang gadis itu. Jantung Ganis kembali ingin melompat dari tempatnya, dia benar-benar belum terbiasa dekat dengan Saga seintim ini.
“Kenapa kaku begitu?” tanya Saga, dia berkacak pinggang. “Bahkan aku belum melakukan apa-apa?” Saga tersenyum. Ganis berdiam di tempat yang sama, Saga menjauhkan dirinya dari Ganis.
Iya, dia memang belum terbiasa dengan keintiman yang ditunjukkan Saga, dan terkadang dia lupa jika dia adalah istri Saga.
“Tapi kamu sudah siap untuk malam nanti kan?” lagi-lagi Saga menggodanya, Ganis memutar badannya, menoleh ke arah Saga. Laki-laki itu mengusap rambutnya dengan handuk, senyumnya mengembang.
Saga melemparkan handuk ke arah Ganis, dengan cekatan Ganis menangkap handuk Saga, lalu dia berjalan meletakkan handuk tersebut di tempatnya. Dilihatnya Saga tanpa ragu bertelanjang dada di kamar tersebut, Ganis pura-pura tidak melihatnya, tapi jantungnya berdegup kencang, bagaimana tidak, dada bidang itu terlihat begitu kekar. Ganis menepuk pipinya pelan, agar dia segera tersadar dan tidak berhalusinasi kemana-mana.
“Kenapa, kamu ingin dipeluk suamimu?” Saga merentangkan tangannya, dada bidangnya masih dibiarkan begitu saja. Ganis salah tingkah. Saga mendekat ke arahnya, rentangan tangannya masih terbuka, Ganis bisa mencium aroma parfum Saga yang maskulin itu, terasa memenuhi indra penciumannya, sangat memabukkan.
“Kamu mau begini?” Saga merangkul Ganis dari arah depan, gadis itu seperti miniature, meskipun dia tergolong memiliki tinggi badan tinggi, tapi jika dengan Saga, dia masih terlihat mungil. Ganis tidak bisa berkata apa-apa mendapat perlakuan Saga. Sejak kapan lelaki itu menjadi begitu suka dekat dengan dirinya, dan memeluk tanpa permisi? Tapi Ganis diam-diam menikmatinya.
__ADS_1
Hai teman-teman Readers, terima kasih banyak sudah memberikan vote rekomendasinya dan juga like. yang belum, bisa kali lah ya Author dikasih vote dan like, betapa berartinya itu untuk Author. hehe...thank you....