Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 85 : Kamu Tidak Sendiri


__ADS_3

Mata Ganis nanar melihat seorang laki-laki yang sangat dia kenal sedang terduduk sambil menunduk, memegang kepalanya, pandangan laki-laki itu jatuh ke lantai. Ganis melangkah perlahan.


“Mas” Sapa Ganis berdiri tepat di depan laki-laki itu. Perlahan Radian mengangkat kepalanya, matanya berwarna merah, kelelahan hingga semalaman tidak bisa tidur.


“Apa yang terjadi?” tanya Ganis lirih, matanya melirik ke arah sebuah ruangan dengan tulisan ICU.  Radian mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


Radian bergeser, memberikan tempat agar Ganis duduk di sampingnya. Ganis memberanikan diri menepuk punggung Radian menenangkan. Laki-laki itu nampak kacau.


Radian memandang tembok yang ada di depan mereka dengan jarak beberapa meter dengan nanar. Ganis menurunkan tangannya dari pundak Radian.


“Awalnya aku tidak pernah menyangka jika akan menikah dengannya” Radian membuka percakapan, dia tidak ingin bertanya terlebih dahulu. Membiarkan Radian melepaskan gundah hatinya.


“Kamu tahu kan kami menikah karena taaruf?” Radian menatap Ganis, Ganis mengangguk kecil, ingatannya masih sangat jelas beberapa bulan lalu saat itu.


“Kita dijodohkan oleh orang tua, awalnya aku menolak karena aku tidak mengenalnya”


Ganis masih setia mendengarkan.


“Hingga tanpa bertemu aku mengiyakan permintaan orang tuaku untuk menikah, dan maaf untuk hal yang dulu, aku menyuruhmu menyiapkan semuanya” senyumnya pias. Ganis menggeleng, memberikan arti dia tidak apa-apa mendapatkan perlakuan masa lalu dari Radian.


“Hingga akhirnya kami menikah” Radian menarik nafas kuat-kuat, menguatkan dirinya dengan situasi yang dia hadapi.


“Perjalanan waktu, aku belum juga mencintainya”


Pengakuan itu membuat Ganis terperangah, tidak tahu jika inilah cerita yang sebenarnya dari hubungan Radian dan Aziza. Ganis masih saja terdiam, dia tidak ingin menyela.


“Akhirnya dia hamil, tapi aku masih setengah hati” tatapannya kembali pada tembok.


“Dan…kejadian ini sama sekali tidak aku harapkan, Nis, dia belum sadarkan diri dari kemarin” Radian memejamkan mata, meskipun Radian mengatakan bahwa dia setengah hati bersama Aziza, tapi dalam hati tidak bisa bohong jika Radian menempatkan Aziza di lubuk hatinya yang terdalam.


“Dia kecelakaan kemarin”


“Aku turut sedih mendengarnya Mas” ucap Ganis tulus.


“Saat itu dia memintaku mengantarkannya belanja, tapi karena aku ada pekerjaan, aku memintaanya untuk menundanya, tapi dia berangkat sendiri” kenangnya.


Ganis berdiri, melihat celah kecil yang bisa dia lihat ke ruang dalam ICU, nampak Aziza sedang terbaring di ranjang dengan berbagai selang yang menunjang kesehatannya.


“Anak kami meninggal” ujar Radian getir, Ganis menutup mulutnya, berharap apa yang dia dengar bukan nyata.


“Iya, anakku meninggal, dokter langsung mengoperasinya tadi malam” imbuhnya.


“Mas Radian sabar ya…” Ganis kembali duduk di samping Radian. Dia yakin kata sabar yang dia ucapkan belum bisa menyembuhkan luka di hati Radian.


“Semoga masih ada keajaiban setelah kami kehilangan anak kami”


“Amiiiin”


“Terima kasih sudah datang” Radian memandang ke arah Ganis berusaha tersenyum.

__ADS_1


“Sama-sama Mas, Mas Radian sudah makan?”


Radian menggeleng.


“Makan dulu Mas, tadi aku bawakan makanan dari rumah”


“Nanti saja, Nis”


“Mbak Aziza butuh Mas, jadi Mas harus menjaga Kesehatan” Ganis mengulurkan rantang berisi makanan ke arah Radian, tangan Radian perlahan menerimanya.


“Terima kasih kembali Nis”


“Mas Radian kalau butuh apa-apa bilang saja Mas, Insyaallah aku siap membantu. Oh ya…dapat salam juga dari Mas Saga dan Mama, maaf belum bisa kesini”


Radian kembali tersenyum, itu artinya Ganis dan Saga baik-baik saja.


“Mas tetap semangat, banyak berdoa semoga Mbak Aziza segera sadar dan sehat kembali”


Mata Radian kembali menerawang, teringat perkataan dokter tadi malam. Cedera serius di otak Aziza memberikan sedikit peluang untuk sadar.


“Aku berharap apa yang diucap dokter semua salah, aku berharap bisa memulai dari awal dengan Aziza”


“Iya Mas, semoga”.


***


Sekertaris Li masuk ke dalam ruangan Saga.


“Tuan muda” sapa sekertaris Li sambil membungkukkan badan.


“Ada berita apa Pak Li?” Saga memijat kedua pelipisnya.


“Tuan Alex sudah tiba Tuan, dia ada di anak perusahaan”


Saga melepaskan tangannya dari pelipisnya, suatu berita yang dia tunggu-tunggu, tidak harus menunggu 3 hari.


“Langsung suruh kesini, kita adakan rapat terbatas” perintahnya.


“Baik Tuan”


Sekertaris Li langsung menghubungi sekertaris Alex dan meminta Alex ke kantor pusat di mana Saga berada.


Tidak menunggu lama, dengan santainya Alex datang ke kantor Saga didampingi oleh beberapa orang dari anak cabang perusahaan tersebut.


Saga tengah menunggu kedatangan Alex di ruang rapat, raut wajahnya nampak menahan kesal. Bukannya semakin membaik, namun citra dari anak perusahaan transportasi semakin merosot tajam.


Alex membungkukkan badan memberikan hormat kepada Saga, begitu juga yang lainnya. Saga mempersilahkan mereka duduk di kursinya masing-masing.


“Alex, kamu saya percaya sebagai nahkoda yang memimpin divisi transportasi, mengapa semua ini terjadi?” ujar Saga tanpa basa basi, semua orang yang ada di sana terdiam mendengar Saga bicara.

__ADS_1


Alex menarik nafas panjang, mencoba merangkai kata untuk menjawab pertanyaan Saga.


“Maaf Tuan, dari tim kami, memang kami menaikkan tarif dari transportasi online” jawab Alex.


Saga membulatkan matanya, sejak kapan Alex dengan seenaknya mengambil keputusan tanpa menunggu persetujuan darinya.


“Maaf Tuan, ini memang keputusan saya”


“Maksud kamu apa? Seharusnya kamu tahu jika semua yang ada di anak perusahaan harus dengan persetujuan saya?” Saga berbicara dengan nada tinggi. “Sekarang, banyak komplain dari customer, mereka ramai-ramai berpindah, yang lebih parah lagi para investor sudah tidak percaya lagi dengan kita”


Alex terdiam, dia sengaja melakukannya, karena dia butuh banyak uang, sehingga dia mencoba mengubah tatanan perusahaan sesuai keinginannya tanpa diketahui oleh Saga.


“Saya tidak mau tahu, kalian harus bertanggung jawab” ujar Saga dengan nada marah, dia sudah menahan kesal selama beberapa hari.


“Akan saya perbaiki, Tuan”


“Jika dalam waktu 3 hari tidak ada perubahan, maka kamu harus berjiwa kstaria keluar dari perusahaan ini” ancam Saga.


Alex nampak tenang, dia sudah menduga bahwa inilah endingnya, tapi setidaknya dengan melihat salah satu anak perusahaan Saga hancur, dendamnya sedikit terbalaskan. Saga sudah menghempaskan mimpinya untuk memiliki Anaya.


Saga keluar dari ruang rapat, tidak banyak yang dia ucapkan, setidaknya itu sudah cukup untuk Alex.


Alex masih duduk di kursinya, sementara yang lain sudah keluar dari ruang tersebut. Alex nampak kacau meskipun terlihat tenang. Saga benar-benar berani mengancamnya, bahkan tak segan mendepaknya.


            Saga kembali masuk ke dalam ruangannya, melepaskan jasnya dan meletakkannya di sofa. Selertaris Li menutup pintu ruangan Saga, melihat Saga tengah berdiri di dekat jendela kacanya.


“Bagaimana bisa dia seolah melawanku? Apakah dia punya dendam pribadi denganku?” Saga curiga.


“Maaf Tuan, setelah kami teliti ulang, ternyata Tuan Alex ada hubungannya dengan Tuan Barata” ujar sekertaris Li. Saga spontan menatap sekertaris Li tajam.


“Ini juga, mengapa merekap data saja tidak beres? Dulu kan aku sudah bilang selidiki!” Saga setengah berteriak.


“Maafkan kami, Tuan” sekertaris Li membuka buku agendanya, melihat catatan yang dia selipkan di buku agenda, dia baru saja mendapatkannya dari Farel tadi.


“Apa?” tanya Saga.


“Bahwa kemungkinan Tuan Alex adalah putra dari Tuan Barata salah satu sahabat Tuan Candra”


“Apakah Pak Li menyimpulkan jika ini juga ada hubungannya dengan Anaya? Dengan dendam?” sahut Saga menyelidiki.


“Kemungkinan iya Tuan”


Jawaban sekertaris Li semakin membuat Saga kacau, dia menggeleng-gelengkan kepalanya, ada penyusup sekian lama di perusahaannya dan dia baru tahu.


“Berarti benar, dia ada maksud datang kesini” Saga mendesah.


 


Tak terasa sudah berada di penghujung bulan Ramadhan, dengan setulus hati Author mnegucapkan mohon maaf lahir dan batin untuk semua para readers. Sehat-sehat semua ya....

__ADS_1


__ADS_2