
Ganis merasakan betapa hebohnya media memberitakan pemberitaan tentang Arjuna Group, tidak disangka sebelumnya jika akan sebesar ini beritanya. Yang membuat dia salut adalah keluarga ini tetap rendah hati, mereka keluarga yang sangat kaya raya, akan tetapi tidak pernah menunjukkan segala yang mereka punya, kehidupan
mereka pun terlihat hangat dan sederhana.
Saga, sebagai pewaris tunggal gurita bisnis, yang bisa melakukan apapun, yang terlihat sangat sombong, ternyata juga tidak seperti apa yang dia duga sebelumnya. Tuan Candra, sang tuan rumah sesungguhnya, begitu manis menerima Ganis di keluarga ini, apalagi Nyonya Rima, sang permaisuri yang sangat-sangat baik. Tidak hanya baik memperlakukan dirinya, tetapi juga para asisten rumah tangga di rumah ini.
Ganis melirik jam dinding setelah mematikan tayangan televisi, kini dia tahu betapa terkenalnya keluarga ini,
betapa bukan sembarang keluarga, keluarga ini sangat berpengaruh di negara ini.
“Apa aku sedang terjebak di dalam film? Mengapa hidupku seperti lakon dalam film?” gerutunya. Segera dia melangkah meninggalkan kamar Saga, jadwal makan malam yang tidak boleh dia lewatkan. Ganis menuruni anak tangga, dilihatnya meja makan, berbagai makanan sudah berjejer rapi di sana, hanya saja Nyonya dan Tuan Candra belum nampak di meja.
“Sini aku bantu Mbak” tawar Ganis, tangannya cekatan mengambil piring yang ada di rak.
“Eh jangan Nona” tolak Mbak Marni.
“Nggak apa-apa mbak”
“Jangan Nona” Mbak Marni masih saja menolak, dia tidak enak jika majikannya harus membantunya mengurus masalah dapur.
“Nggak apa-apa Mbak, sini” Ganis tetap saja mengambil piring tersebut dan menatanya dengan rapi di atas meja makan.
Terdengar derap kaki mendekat, tidak ada suara atau sapaan, dilihatnya sosok itu, Saga yang baru saja pulang dari kantor. Dia segera menuju lantai atas kamarnya.
Sesaat kemudian Nyonya Rima sedang mendorong kursi roda yang tengah diduduki Tuan Candra, mereka datang untuk makan malam.
“Apa Saga sudah datang?” tanya Nyonya Rima sambil menarik kursi untuk dirinya sendiri.
“Sudah Ma, baru saja” Ganis duduk di seberang meja sejajar dengan Nyonya Rima.
“Papa ingin makan bersama-sama” ujar Tuan Candra.
“Oh baik Pa, saya panggil Mas Saga. Ganis berdiri dan menarik kursi agak ke belakang agar leluasa bisa berjalan.
__ADS_1
Kaki Ganis menapaki tangga menuju kamar Saga, tanpa mengetuk terlebih dahulu tangan Ganis memutar handle pintu.
“AAAA……, apa yang Tuan lakukan?” Ganis menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, Saga tak kalah terkejut dengan apa yang dia lihat. Mengapa gadis itu tiba-tiba masuk kamar tanda mengetuk pintu terlebih dahulu. “Sponge Bob” imbuh Ganis lagi. Kali ini Saga sudah berlari ke arah kamar mandi.
“Kamu ngapain masuk kamar sembarangan? Lain kali kalau mau masuk kamar ketok pintu dulu!” teriak Saga dari dalam kamar mandi.
“Maaf Tuan, aku lupa” Ganis menahan tawanya, dia merasa geli dengan apa yang dilihatnya barusan. Seorang calon presdir yang terlihat imut dengan celana kolor warna kuning bergambar sponge bob.
“Jangan tertawa!” teriak Saga lagi.
“Tidak Tuan” balas Ganis, mulutnya berkedut menahan tawa. Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang dia lihat seharian tadi di televisi, wajah tampan, cool, datar tanpa ekspresi, apalagi saat memakai kacamata hitamnya, tampan maksimal. Namun saat berada di rumah, kenapa memakai celana kolor gambar sponge bob? Ganis
cekikikan sambil menutup mulutnya, agar suara tertawanya bisa dia kendalikan.
“Tuan, ditunggu di bawah, Tuan Candra ingin kita makan bersama” imbuh Ganis dengan suara agak keras, takutnya Saga tidak mendengarnya karena sedang mandi.
“Ya” jawab Saga singkat.
Tidak sampai 10 menit Saga sudah turun dan bergabung di meja makan. Melihat Saga duduk di sebelahnya, Ganis kembali ingin tertawa.
“Kenapa?” Saga melirik, dia merasa Ganis sedang meledeknya.
Nyonya Rima dan Tuan Candra memperhatikan kedua orang itu dengan raut wajah heran.
“Apa kalian sedang kasmaran sekali?” tanya Tuan Candra. Saga bersungut-sungut.
“Iya Pa, kas-ma-ran” Saga mempertegas kata kasmarannya.
“KenapaGanis?” Nyonya Rima ikut penasaran dengan raut wajah Saga yang memerah, sedangkan Ganis kembali tertawa.
“Sponge bob Ma” ceplos Ganis, Saga menatap gadis itu, ingin rasanya tangannya membekap mulut gadis itu. Ganis segera menghentikan tawanya dengan cara menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
“Kamu masih memakai celana gambar sponge bob itu?” Nyonya Rima menegaskan. Ingin rasanya Saga kabur dan menghilang saat itu juga. Nyonya Rima ikut tertawa.
__ADS_1
“Lagian apa yang salah sih Ma? Orang nggak merugikan orang lain juga” Saga protes, kali ini dia benar-benar seperti anak kecil yang sedang merajuk. Dari jaman dia kecil dia sangat menyukai sponge bob, apa-apa selalu berkaitan dengan sponge bob, dari mulai kaos, celana, tas, mainan, aksesoris.
“Nggak ada yang salah, hanya saja sebenarnya Mama juga geli saat melihat kamu memakai celana kolor gambar kartun” imbuh Nyonya Rima. “Apalagi sekarang kamu sudah beristri” Nyonya Rima terkekeh.
“Sudah-sudah, ini mau makan atau mau meledekku?” gerutu Saga, sial, bukan maksud tidak bisa move on dari kartun masa kecil dulu, karena terburu-buru tadi pagi, dan hanya terlihat celana kolor itu, jadinya dia memakainya.
Ganis menyendokkan nasi dan lauk untuk Saga, makan malam terjadi begitu hangat. Tuan Candra juga nampak sehat dan Bahagia.
“Saya ingin cucu” ujar Tuan Candra tiba-tiba, air yang ada di mulut Saga hampir saja menghambur keluar, buru-buru dia menutup mulutnya.
“Uhuk…uhuk” Saga terbatuk, untung saja airnya sudah tertelan dan tidak menghambur.
“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Tuan Candra. Ganis dan Nyonya Rima hanya melongo mendengar permintaan tersebut. Saga mengelap mulutnya dengan tisu.
“Tidak Pa, tidak ada yang salah” jawab Saga.
“Nah iya kan, setelah serah terima jabatan nanti Papa ingin kamu segera Menyusun rencana merayakan pesta pernikahan kalian, biar semua tahu jika kamu sudah menikah” imbuhnya.
“Ya nanti bisa diatur Pa” Saga menjawab dengan nada yang diatur lembut dan “nrimo”.
Ganis dan Saga menaiki anak tangga menuju kamar setelah makan malam, Saga berjalan terlebih dahulu, sementara Ganis mengekor selisih sekitar 3 anak tangga. Mereka sudah berada di depan pintu kamar, Saga memegang gagang pintu dan mendorongnya. Kamarnya terlihat berantakan, setelan jas masih tergeletak di sana, begitu juga celana kolor sponge bob.
“Sponge bob…” Ganis kembali menahan tawanya.
“Kamu kenapa sih ketawa terus? Hah!” Saga berkacak pinggang dan menghadap Ganis.
“Bereskan!” perintahnya. Ganis membereskan baju yang berserakan di atas ranjang tersebut, tangannya terasa geli saat dia memungut celana kolor itu. Lalu membawanya keluar kamar.
duuh, maafkan author yang hari ini ada kesalahan up, eposide yang ini ketinggalan, malah episode setelahnya sayang saya up. maaf ya.....
__ADS_1