Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 118 : Nightmare


__ADS_3

Pekat di hatinya perlahan menghilang, meskipun kenangan yang ada tak akan pernah hilang dan tergantikan, namun Radian harus tetap menatap masa depan. Aziza dengan segala kenangan dalam hidupnya akan tetap ada dalam ingatannya.


Sudah sangat lama dia terpuruk dengan penyesalannya, dan melewatkan berita-berita yang beredar, termasuk berita yang berkaitan dengan Ganis tempo hari. Kini selain menyibukkan diri dengan pekerjaannya, dia sudah bisa menyibukkan pikiran untuk peduli dengan orang lain.


Radian membawa oleh-oleh untuk Ganis, seperti biasa dia membawakannya sekeranjang buah, terlebih dia tahu jika sahabatnya itu tengah hamil sekarang. Sudah sekian lama dia tidak bertemu dengan Ganis, terakhir kali saat peristiwa meninggalnya Aziza.


Ganis menoleh ke arah pintu gerbang yang dibuka oleh security rumah, tidak biasanya ada tamu di sekitaran jam 10 pagi, Saga juga sudah berangkat ke kantor sejak pagi, sedangkan Nyonya Rima juga pergi sejak kemarin ada acara di luar kota. Tidak mungkin jika hari ini sudah pulang.


Ganis memperhatikan dengan seksama, sebuah mobil warna silver, tamu tersebut membuka kaca mobilnya dan berbincang dengan security.


Ganis tersenyum saat melihat orang tersebut, Radian. Sudah sangat lama dia tidak berkabar dan tidak berjumpa. Setelah menghentikan laju mobilnya, Radian membuka pintu mobilnya, dilihatnya Ganis berdiri, perutnya sudah kelihatan dia mengandung.


"Apa kabar?" tanya Radian sesaat setelah menutup pintu mobilnya, Ganis berdiri menyambut kedatangan Radian.


"Alhamdulillah baik Mas" ucapnya. Radian menyerahkan sekeranjang buah untuk Ganis.


"Terima kasih Mas, kok repot-repot segala" ujar Ganis sambil menerima sekeranjang buah tersebut, lalu meletakkannya di atas meja.


"Ah enggak sama sekali"


"Ayo silahkan masuk Mas" tawar Ganis.


"Eh nggak usah di sini saja, enak adem" tolak Radian.


"Oh...beneran di sini saja? tidak apa-apa kah? kok rasanya gimana gitu bertamu duduknya di teras" Ganis terkekeh.


"Santai saja..." Radian duduk di salah satu kursi di sebelah meja.


Dini keluar dari rumah saat mendengar Ganis sedang berbicang.


"Eh Mbak Dini...tolong ini dimasukkan" Ganis mengangkat sekeranjang buah, dengan cekatan Dini menyambutnya dan mengambil alih. "Sekalian buatkan kopi untuk Mas Radian ya?" pinta Ganis.


"Baik Nona" Dini mengangguk, lalu dia masuk ke dalam rumah untuk meletakkan buah dan membuatkan minuman sesuai pesanan Ganis.


"Sudah lama banget nggak ketemu kamu, aku senang melihat kamu sehat, dan aku benar-benar minta maaf karena seolah tidak peduli dengan keadaan kamu tempo hari" ucap Radian dengan perasaan menyesal. Ganis memahami apa yang dimaksud dengan kejadian tersebut.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Mas, aku tahu kalau Mas Radian sibuk, aku juga tahu posisi Mas seperti apa, yang pasti sekarang aku baik-baik saja, begitu juga dengan Salwa"


"Salwa?" tanya Radian, kedua alisnya naik.


"Iya, yang tempo hari menolongku"


"Oh...namanya Salwa?"


Ganis mengangguk, ingatannya kembali pada kebaikan gadis itu.


"Mas Radian gimana kabarnya sekarang?"


"Ya...berkat doa orang-orang yang baik, kini aku baik-baik saja, lukaku sudah sembuh" ujarnya senang, Ganis ikut tersenyum senang.


Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah, Dini keluar dengan membawa kopi dan beberapa kudapan di dalam toples.


"Silahkan diminum Tuan" ujar Dini sesaat setelah meletakkan kopi dan toples.


"Oh terima kasih"


Dini kemudian langsung kembali masuk ke dalam rumah.


***


Hampir tengah malam, Ganis beberapa kali terbangun dari tidurnya. Sejak sore tadi Saga sudah mengabarinya jika dia akan terlambat pulang karena beberapa pekerjaan yang sangat penting. Ganis membuka matanya, dia duduk di tepi ranjang. Terasa aneh baginya tidur tanpa Saga, dia mengelus ranjang yang biasanya digunakan Saga untuk merebahkan diri.


"Kok belum pulang juga ya?" Ganis menggumam, dia meraih HP yang ada di atas nakas. Tidak ada pesan dari Saga. Dilihatnya kontak Saga, suaminya itu online terakhir kali jam 7 malam tadi.


Ganis menghela nafas, dia beranjak dari ranjang, mengambil sebuah gelas dan mnegisinya dengan air putih hangat. Sesaat lalu meneguknya hingga habis. Gelas itu diletakkan kembali ke tempatnya, Ganis melirik jam dinding, benar, sudah hampir tengah malam. Ganis mendekati ranjangnya kembali dan merebahkan dirinya, memejamkan mata dan mencoba tidur.


Dia melihat Saga berpakaian serba putih, sedang berada di suatu tempat yang sama sekali asing baginya, dia tidak pernah tahu tempat itu sebelumnya. Dia melihat Saga sedang duduk dengan wajah yang sangat dingin dan datar.


Dia mencoba untuk menyapa, namun Saga tidak menghiraukannya.


"Mas....Mas ngapain di sini? pulang yuk" ajak Ganis. Namun Saga masih saja diam, bahkan meliriknya pun tidak.

__ADS_1


"Mas....mas pulang yuk..."


Masih dengan ekspresi yang sama, Sga beranjak meninggalkan Ganis begitu saja.


"Mas.....Mas....jangan pergi...mas mau kemana?" Ganis mulai terisak, teriakannya untuk mengentikan Saga tak dihuraukan Saga. Kaki Ganis hendak melangkah mencoba menghalangi Saga pergi pun terasa sangat berat, bahkan dia sama sekali tidak bisa bergerak.


"Mas jangan pergi...mas mau kemana?" Ganis benar-benar putus asa, dia terisak dalam tidurnya.


Perlahan tapi pasti, Saga meninggalkanya hingga tidak terlihat sama sekali.


"Mas....mas mau pergi kemana?" igaunya.


        Saga yang melihat istrinya begitu kacau langsung menepuk pipi Ganis.


"Sayang...sayang...bangun....kamu kenapa? bangun" Saga menepuk kembali pipi Ganis.


Ganis membuka matanya, air matanya meleleh di kedua pipinya, masih dengan keadaan berbaring, dia melihat Saga tepat dihadapannya. Tanpa menunggu lama, dia memeluk erat suaminya, sambil terus saja terisak.


"Mas mau kemana? mas jangan pergi" ujarnya masih dengan pelukan yang sangat erat, dia masih saja terisak.


"Hey....aku nggak kemana-mana, lihat aku di sini, kamu sedang mimpi buruk" Saga menenangkan Ganis dengan mengusap punggung istrinya. Ganis masih saja nampak ketakutan, dia masih memeluk erat Saga.


"Tenang ya...sini aku ambilkan minum" Perlahan Ganis melepaskan pelukannya, Saga mengambil air minum untu Ganis.


Ganis meminum air yang diberikan oleh Saga.


"Tenangkan dirimu, ini hanya mimpi buruk, ingat ini hanya mimpi buruk" Saga menegaskan, meskipun dia tidak mengetahui secara pasti hal apa yang menjadikan Ganis nampak sangat ketakutan itu.


"Aku mimpi Mas pergi jauh" gumamnya setelah menghabiskan air dalam gelas, tangannya masih memegang gelas kosong tersebut. Saga segera meraih gelas dan meletakkan di atas nakas, dia duduk di tepi ranjang, tepat di samping Ganis.


"Itu hanya mimpi, maaf jika lembur kerja hari ini membuatmu mimpi buruk sayang" Saga mengelus rambut Ganis. Ganis kembali merebahkan kepalanya di pundak Saga dan melingkarkan kedua tangannya ke tubuh suaminya, seakan tidak ingin terlepas.


"Iya Mas, aku sangat takut, itu sangat nyata"


Saga menggeleng dan menenangkan istrinya kembali.

__ADS_1


"Sayang...aku di sini dan akan tetap di sini untuk istriku, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, ya sudah aku mandi dulu ya, kamu jangan tidur dulu kalau takut. Tunggu aku sebentar" ujarnya. Ganis mengangguk.


Sembari menunggu Saga di kamar mandi, Ganis menyalakan televisi dan menonton sebuah acara komedi yang entah mengapa diputar pada tengah malam. Sejenak ingin melupakan mimpi buruknya yang sangat nyata itu, mimpi buruk yang menakutkan. Dalam hatinya dia berdoa, mimpi tersebut hanyalah sebuah mimpi.


__ADS_2