
Ganis sudah mengemasi barang-barangnya ke dalam koper, Bik Janah yang sedang berdiri di pintu kamar yang ditempati Ganis nampak sedih, karena dia akan merasa kesepian lagi.
“Kapan kesini lagi?” tanya Bik Janah.
“Bibik gantian ke rumah kita” ucap Saga, Bik Janah tersenyum mendengar Saga menyahut demikian.
“Lain kali ya Bik kita kesini lagi” ucap Ganis, dia sendiri ragu dengan apa yang dia ucapkan, apakah masih ada lain kali? Atau hanya dia sendiri yang akan datang ke kampung ini untuk kembali menetap di kampung ini tanpa Saga. Setelah perjanjiannya dengan Anaya usai, rencana yang paling realistis adalah tinggal kembali di kampung ini.
“Iya Bik, kita pasti kesini lagi” ujar Saga mantap, sama sekali bukan seperti sedang akting. Ganis menoleh ke arah Saga, matanya terlihat tidak sedang berbohong, senyum laki-laki itu tulus ke Bik Janah, sedang mengucapkan janji yang akan dia tepati.
Saga menyeret kopernya menuju teras rumah Bik Janah, jalan setapak yang kemarin
terendam lumpur kini mulai mengering, sehingga Saga dan Ganis tidak harus melepas sepatu saat melewatinya.
Bik Janah memeluk Ganis erat. Ganis mengusap punggung Bik Janah lembut.
“Baik-baik ya Nis, jaga Kesehatan, dan jangan lupa, jangan lama-lama menunda punya anak” bisik Bik Janah, disambut tawa Ganis.
“Terima kasih nak Saga, tolong jaga Ganis ya, kasian dia tidak punya siapa-siapa sekarang” Bik Janah menjabat tangan Saga. "Meskipun Bibik baru mengenal nak Saga, tapi nggak tahu...kok Bibik sangat senang sekali dan percaya nak Saga bisa menjaga dan membimbing Ganis"
“Pasti Bik” Saga menyunggingkan senyum, hati Ganis kembali berbunga, ucapan mantap yang keluar dari mulut laki-laki itu seolah benar adanya.
Tuan, tolong jangan buat aku jatuh cinta padamu, aku tidak mau jika ini akan menyakitkan untukku suatu saat nanti. Ganis menggigit bibirnya, hatinya terasa kelu.
Bik Janah mengantar Saga dan Ganis hingga sampai di tempat mereka memarkir mobil. Ganis dan Saga sudah berada di dalam mobil, Ganis membuka kaca jendela, melambaikan tangan perlahan kepada Bik Janah.
“Hati-hati” Bik Janah membalas lambaian tangan Ganis.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
“Apakah semua orang yang ada di sana baik-baik seperti Bik Janah?” Saga penasaran, baru kali ini dia mengetahui ada tetangga yang sebaik itu, sudah menganggap Ganis seperti anak sendiri, bahkan pada dirinya yang baru sekali dilihatnya. Ganis mengangguk, hampir semua orang yang berada di sana memang baik dan ramah, persaudaraan mereka erat meskipun tidak ada hubungan darah.
“Pantas saja, tapi kamu harus berhati-hati jika dengan orang yang baru kamu kenal di lingkunganmu yang sekarang”
“Kenapa?” Ganis penasaran, dia paham kata lingkungan yang disampaikan Saga barusan.
“Karena tidak semua yang baik terhadap kamu itu punya niat baik” imbuhnya.
“Maksudnya?” Ganis tidak mengerti arah pembicaraan Saga.
“Nyonya Rima baik, Tuan Candra baik, Pak Li..” Ganis mengabsen.
__ADS_1
“Bukan…bukan, bukan mereka, orang asing yang belum kamu kenal dengan baik, kalau hanya sekali melihat dan berbicara akrab dengannya, jangan langsung menganggap orang itu baik”
“Oh” Ganis mengangguk.
"Bukan berarti mereka jahat juga, jadi waspada saja" imbuhnya. Ganis mengangguk, selama ini dia selalu ramah dan memang menganggap semua orang baik.
Mobil sudah melaju ke jalan raya, Saga membelokkan mobilnya ke salah satu toko elektronik.
“Mau apa Tuan?” Ganis keheranan, dilihatnya Saga sudah membuka pintu mobilnya, Ganis mengikutinya.
Mereka masuk ke dalam toko elektronik dan disambut karyawan toko tersebut dengan ramah, Saga berkeliling dan bertanya kepada karyawan tersebut untuk mencari sebuah televisi untuk ukuran ruang yang sedang.
"Bagaimana dengan yang ini?" Saga menunjuk sebuah televisi layar datar.
"Ini keluaran terbaru Tuan, bisa touch screen" sebut karyawan tadi.
“Saya mau yang ini” akhirnya Saga menunjuk pilihan televisi layar datar.
“Baik Tuan, ada yang lain yang bisa saya bantu Tuan?”
“Sudah itu saja”
“Mau dikirim ke mana Tuan?” tanya karyawan tersebut sambil membawa secarik kertas untuk mencatat.
“Beritahu alamat rumah Bik Janah” ujar Saga memerintah Ganis, Ganis yang awalnya bengong, tapi akhirnya Ganis mengucapkan alamat kepada karyawan tersebut.
“Jangan lama-lama, saya mau hari ini barang ini sampai dengan selamat ke alamat tersebut”
“Baik Tuan”
Setelahnya mereka keluar dari toko tersebut, Ganis masih terbengong-bengong dengan apa yang dilakukan Saga. Sebegitu perhatiannya dia kepada orang yang baru dia kenal.
“Baik sekali, terima kasih Tuan” Ganis tersenyum lebar, mewakili rasa terima kasih Bik Janah. “Ternyata Tuan tidak sekaku kanebo kering”
“Hehm…apa kamu bilang?” Saga menoleh, Ganis menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
Beberapa hari lalu Saga meminta Farel, salah satu asistennya untuk memesan satu tempat penginapan di tepi laut. Malam ini dia akan menginap di sini, sembari menghabiskan libur yang memang tinggal hari ini saja.
“Kita mau kemana lagi Tuan? Bukankah kita akan pulang?” Ganis mengamati sekelilingnya, nampak hamparan pantai, Saga memarkir mobilnya, lalu turun dari mobil. Tanpa menunggu aba-aba, Ganis mengikuti Saga.
Nampak seorang karyawan penginapan tersebut mengambil koper dari mobil Saga, lalu membawanya ke kamar yang dipesan. Ganis berlari kecil mengikuti Saga yang sudah berjalan duluan. Pantai yang indah, dengan air laut yang berwarna biru.
__ADS_1
“Woow” pekik Ganis sambil terus berjalan. Mereka tiba di depan sebuah kamar yang bangunannya tepat berada di atas air laut. Baru kali ini Ganis melihat tempat seperti ini, dia nampak senang sekali.
“Jangan norak” ledek Saga, Ganis memanyunkan bibirnya. “Ayo masuk”
“Ya Tuan” Ganis perlahan memasuki kamar tersebut, meskipun berada di atas laut, tapi kamar tersebut mewah seperti hotel-hotel yang ada di daratan. Ganis membanting tubuhnya di atas kursi yang menghadap ke laut, udara sore masuk melalui jendela yang dia buka.
Saga membuka sepatunya dan bersiap untuk mandi.
“Ambilkan baju gantiku” perintah Saga, Ganis menghentikan aktivitasnya melihat laut saat Saga menyuruhnya, dia bergegas membuka koper dan mencarikan baju ganti untuk Saga. Setelah menerima baju yang dipilihkan Ganis, Saga menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
“Tuan, aku mau keluar, sebentar lagi matahari terbenam” izin Ganis, Saga masih berada di kamar mandi. Belum ada jawaban dari Saga.
“Tuan…!” teriaknya.
“Hei..hei jangan kabur, tunggu!” Saga membalas dengan teriakan juga.
Ganis menurut, dia kembali duduk di kursi tadi sambil menunggu Saga keluar dari kamar mandi.
“Mau pergi sendiri lagi? Terus kejebur ke laut?” Safa bertanya datar.
Mengapa dia jadi seposesif ini? Batin Ganis sambil memperhatikan Saga.
“Sudah, ayo kalau mau melihat matahari terbenam” Saga berjalan ke arah pintu, Ganis masih mematung di atas kursinya. “Ayo, jadi apa tidak?” Saga mengulangi ajakannya. Ganis segera bangkit dari kursinya dan keluar.
Angin sore bertiup kencang, rambut Ganis nampak berantakan disapu oleh angin, beberapa kali jemarinya membenahi rambutnya. Matahari hampir terbenam, Ganis memilih duduk di tepi pantai sambil benar-benar menikmati senja, di sampingnya Saga juga diam-diam menikmatinya. Sesekali dia mencuri pandang ke arah Ganis yang hanya diam dan memandang senja.
“Tuan tahu tidak kenapa senja itu terdengar lebih romantis dari fajar?”
“Memangnya seperti itu?” Saga menoleh ke arah wajah gadis di sebelahnya.
“Bagiku iya” Ganis menatap senja yang hampir menghilang. “Karena perpisahan akan lebih mudah dikenang daripada pertemuan” ujar Ganis mengulas senyum.
“Oh ya?” Saga tidak percaya, dia menikkan kedua alisnya. Ganis mengangguk
“Kamu terlalu suka berfilosofi dan berandai-andai” Saga bangkit dari duduknya, senja sudah mulai berganti gelap, malam akan segera menggantikannya.
“Ayo kita kembali ke penginapan, kita butuh makan malam” Saga berjalan perlahan, dia heran mengapa Ganis selalu membahas tentang perpisahan? Apakah dia benar-benar akan pergi setelah situasi mengizinkan? Jika Ganis merasa demikian, mengapa dia merasa berbeda, bahkan dia tidak sedikitpun terbersit untuk berpisah.
"Tuan tunggu!" Ganis berlari kecil mengejar langkah Saga yang lebar itu. Saga tetap berjalan, kedua tangan masuk ke dalam saku celananya, bibirnya menyunggingkan senyum.
Bisa nggak ya tembus 25 like? hehe kalau bisa, besok aku update 2 episode. Bantu like dan vote ya...
__ADS_1
Happy reading readers ^^