Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
Sembilan Belas : Perasaan Apa Ini?


__ADS_3

“Apakah kamu juga menganggap jika aku adalah orang yang sempurna?” pertanyaan Saga yang terdengar serius membuat Ganis sedikit trekejut, dia perlu waktu untuk menjawabnya. Saga membuka gorden yang menutupi pintu kaca menuju arah balkon, lalu dia keluara menuju balkon, lalu duduk di lantai sambil berselonjor, Ganis mengikuti Saga dan duduk di sampingnya, dengan jarak yang agak jauh.


“Apa ini pertanyaan pribadi Tuan?”


“Lalu apa? Apa kamu bisa melihat jawaban orang-orang?” omel Saga. “Oh atau kamu memang tahu jawaban orang-orang tentang diriku, karena kamu dukun yang serba tahu” ucapnya lagi. Ganis menoleh ke arah Saga.


“Aku juga manusia biasa seperti kalian, seperti kamu” Saga memulai percakapan, yang Ganis rasa ini merupakan jawaban dari pertanyaan yang Saga lontarkan tadi. “Makanya aku tanya, apakah aku terlihat sempurna di mata kamu?”


Jika boleh jujur, maka Ganis akan menjawab IYA, iya Tuan muda Saga sangat sempurna di mata Ganis. Meskipun dia galak, datar, dingin, dan kaku. Tapi dia begitu sempurna dan penuh pesona. Apalagi berita akhir-akhir ini, media begitu luar biasa mengekspos pesona laki-laki yang ada di sampingnya ini. Dia yang kaya raya, dia yang tampan, dan dia yang punya segala-galanya.


“Enggak” ucapan ini yang keluar dari mulutnya. Saga menoleh ke arah gadis itu. “Tuan tidaklah sesempurna yang ada di benakku”


“Kamu ini, kamu adalah orang pertama yang bilang aku tidak sempurna” Saga menyunggingkan senyumnya.


“what? Jadi pertanyaan ini juga kamu lontarkan untuk gadis-gadis di luar sana?” teriak Ganis dalam hati, mulutnya komat-kamit ingin melontarkan secara langsung.


“Karena kamu sudah bilang enggak, sekarang jelaskan apa alasanmu”


Ganis terdiam, memikirkan alasannya, dalam hatinya sebenarnya dia mengatakan jika Saga sempurna di matanya, tapi tidak tahu mengapa kata itu yang keluar. Ganis menutup matanya, rasanya ingin menyudahi percakapan ini.


“Apa kamu juga tidak menemukan celah buruk dari dalam diriku?” tanya Saga berbangga sambil tertawa mengejek. Ganis mengerucutkan bibirnya.


“Tuan itu seperti kanebo kering” ups, mengapa kalimat itu yang meluncur dari mulutnya, Ganis menepuk dahinya.


“Apa? Apa masksudmu kanebo kering? Aku itu orang baik, lemah lembut, dan nggak tegaan” ujarnya membela diri.


Lantas mengapa harus nanya ke aku sih? Dasar narsistik! Ganis membatin.


“Ini” Ganis mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, sebuah kartu kredit. Ganis ingin mengembalikan kartu itu kepada Saga. Tangan Ganis masih di udara, sebab Saga tidak menerima kartu tersebut.


“Kenapa? Kurang? Itu kartu sudah tidak ada limitnya, terserah kamu mau ngapain” Saga melengos, heran dengan gadis yang ada di sampingnya itu, harusnya dia dengan senang hati menerima kartu itu dan membelanjakan sepuasnya, sesukanya. “Apa kamu mau semua media menggosipkan aku ini laki-laki yang tidak bertanggung


jawab kepada istrinya? Begitu?” sewotnya. Ganis menarik kembali tangannya dan perlahan menyimpan kartu tersebut ke dalam celananya.


“Bukan begitu” jawabnya dengan suara pelan. Dia hanya tidak mau jika dituduh macam-macam dan hanya memanfaatkan situasi ini.


“Tanpa kuberi tahu kamu juga tahu sendiri kan, bagaimana media mengeskpos aku dan keluargaku, kamu jangan mencoreng nama baikku hanya karena masalah sepele ini” omelnya lagi, Ganis menunduk seperti anak kecil yang sedang dimarahi Ayahnya. “Siapkan dirimu saat nanti media tahu jika kamu adalah istriku” imbuhnya dengan intonasi yang berbeda, kali ini dengan suara pelan dan seperti menyesal.


“Bukan tidak mungkin kamu akan dikejar media sana sini layaknya artis”

__ADS_1


Ganis melongo seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan Saga.


“Kenapa? Kamu tidak percaya juga?” Saga memelototi Ganis, tidak ada jawaban dari Ganis dengan berondongan ucapan Saga.


“Terima kasih Tuan” ucap Ganis.


“Buat apa?”


“Kartu kredit” jawaban Ganis jujur.


Saga tertawa mendengar kepolosan gadis itu, satu kartu kredit tidak akan membuat dia miskin.


“Bagaimanapun kamu adalah istriku, jadi mana mungkin aku tidak memberimu uang jajan” Saga menepuk kepala Ganis pelan.


Gleeekkk……..


Degup jantung Ganis agak berdetak kencang, antara tepukan tangan ke kepalanya atau kata “istri” yang menjadi latar belakangnya. Hatinya terasa hangat mendapatkan perlakuan seperti itu, pipinya terasa panas, memerah.


“Hey….!” Teriak Saga.


“Ya” Ganis tersentak.


“Iya” sambung Ganis lirih, Saga pun tidak akan bisa mendengarkannya.


“Dan lagi yang harus kamu tahu, kenapa aku suka sponge bob, karena bagiku lucu, aku tidak pernah punya teman akrab sejak kecil, dan yang aku tahu, yang bisa menghiburku hanya itu” Saga menjelaskan tanpa diminta, ini adalah bentuk klarifikasi celana sponge bob warna kuning itu.


“Tu..tuan” Ganis ragu.


“Apa lagi?” Saga sudah melangkah ke arah ranjang.


“Itu tadi Tuan Candra tentang…..” Ganis ragu meneruskan.


“Cucu?” Saga berhenti melangkah dan menengok ke belakang, ke arah Ganis yang masih duduk di balkon, tatapan mereka beradu meski jarak jauh.


“Iya….”


“Kamu jangan berfikir sejauh itu” balas Saga. Tidak ada yang aneh dengan permintaan Tuan Candra, hanya jika mereka adalah beneran pasangan menikah yang saling mencintai, tapi karena mereka hanya bersandiwara, bagaimana mewujudkannya?. “Aku sendiri belum memikirkannya, jadi tidak usah memikirkannya terlalu jauh. Atau….jangan-jangan kamu berharap punya anak dariku?”


“Hah?” pekik Ganis. Mengapa Saga bisa berpikiran jika Ganis seolah meminta itu?. Saga tersenyum, ada rasa senang di hatinya karena gadis itu terlihat konyol.

__ADS_1


Saga membanting dirinya ke atas ranjang, tubuhnya ditutupi dengan selimut. Dia senang akhirnya keadaan Tuan Candra membaik, tapi dia juga tidak habis pikir mengapa Tuan Candra tiba-tiba meminta cucu. Apa yang harus dilakukannya? Menikah sudah, dan kini minta cucu?


Ganis menutup pintu balkon dan menarik gorden agar tertutup semua, lalu dia bersiap untuk tidur, tentu saja dia tidur di sofanya. Kini dia telah berbaring di atas sofa kamarnya, menutup tubuhnya dengan selimut, menutup matanya dan merenung. Cucu? Terdengar konyol.


“Tuan….” Suara Ganis lirih, dia membuka selimut yang membungkus kepalanya.


“Apa lagi?” Saga menjawab dari balik selimut.


“Bolehkah besok aku keluar?”


“Terserah, kamu mau kemana juga terserah”


“Izinnya bagaimana?”


“Kalau ditanya Mama, bilang saja ke rumah teman kan bisa, memangnya kamu mau kemana?”


“Ada janji dengan teman, sebentar”


“Laki-laki atau perempuan?” Saga menyelidik, kali ini tangannya membuka selimut yang menutup kepalanya.


“Laki-laki” jawab Ganis enteng.


Saga terdiam sejenak, melihat Ganis dari kejauhan. “Sejak kapan kamu punya pacar?”


“Hah? Bukan kok…masih teman” balasnya.


“Masih teman? Kamu bilang masih teman?” Saga merubah posisinya, kini dia terduduk di atas ranjangnya. “Jadi kamu berniat pacaran dengan dia?” suara Saga dengan intonasi agak meninggi.


“Kalau tidak boleh juga nggak apa-apa, nggak jadi” Ganis kembali menutup kepalanya dengan selimut, bagaimanapun pecinta sponge bob itu adalah suaminya, jika suaminya tidak mengizinkan, maka dia juga tidak berani untuk keluar rumah. Sebenarnya mereka memiliki kesepakatan, selama ini mereka bebas menyukai siapapun asal bermain dengan rapi dan tidak mengundang kecurigaan dari manapun.


“Kenapa dia marah?” Ganis berbicara pada dirinya sendiri.


“Kamu boleh keluar besok, tapi ingat, jangan buat ulah dan mengundang berita yang aneh-aneh”


Ganis tidak menyahut, dia tersenyum dan mengepalkan tangannya tanda senang karena Saga sudah mengijinkannya untuk keluar besok.


 


Ini sebenarnya urutan yang bener, sekali lagi maaf ya.... untuk lanjutannya, tunggu besok ya...Happy reading ^^

__ADS_1


jangan lupa like, vote....biar tambah semangat menulisnya....


__ADS_2