Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 102 : First Meet "Our Baby"


__ADS_3

Nampak sebuah pintu dengan tulisan dr. Lucy Veviana, SpOG (K), Saga sudah menghubungi dokter Lucy sejak pagi tadi untuk pertemuan malam ini, sehingga dia tidak perlu mengantri seperti pada pasien pada umumnya.


Ganis nampak gugup untuk memasuki ruangan tersebut, Saga menggandeng tangan kiri Ganis. Seseorang membukakan pintu untuk mereka berdua, nampaknya orang tersebut adalah salah satu asisten dr Lucy.


"Silahkan masuk" ujarnya mempersilahkan dengan ramah. Ganis mengangguk.


"Terima kasih" balas Saga.


"Seseorang sedang duduk di kursinya dengan memakai jas putih khas seorang dokter, wanita muda berhijab itu nampak tersenyum melihat kedatangan Saga dan Ganis. Mereka berdua duduk di kursi yang berseberangan dengan dokter Lucy.


"Yang tadi pagi ingin konsul secepatnya, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah.


"Iya dokter, ini istri saya, kemarin sudah dites, dan ternyata positif"


"Oh ya, mari kita periksa" ujarnya sambil berdiri ke arah sebuah ranjang. Ganis mengikuti dokter Lucy, seorang asisten dokter Lucy membantu mengarahkan Ganis untuk berbaring di atas ranjang.


dokter Lucy bersiap melakukan USG, Sementara Saga melihat dari kursinya. Nampak sebuah alat sedang menari-nari di atas perutnya Ganis. Sementara di layar terlihat gambar yang sama sekali tidak dia mengerti.


"Benar, selamat ya...ini kantung janinnya, tunggal, dan juga sudah ada detak jantungnya, sejauh ini semuanya baik-baik saja dan sesuai perkembangan usianya" jelasnya.


Saga menghembuskan nafas lega mendengar penjelasan dari dokter Lucy, begitu juga Ganis yang nampak sangat senang mendengarnya, dia amat sangat bersyukur.


"Berapa minggu dokter?" tanya Ganis penasaran.


"7 minggu" jawab dokter Lucy, dia meletakkan alatnya kembali di tempatnya. Ganis turun dari ranjang dan kembali duduk di samping Saga. dokter Lucy juga sudah kembali menempati kursinya.


"Kemarin agak khawatrir karena naik pesawat dok" ucap Ganis, tapi dia lega sekarang karena calon bayinya baik-baik saja.


"Iya, itu harusnya melihat kondisi Nyonya dulu, tapi tidak apa-apa semuanya baik-baik saja"


"Iya dok" balas Ganis.


"Sara resepkan vitamin ya, jika tidak ada keluhan, kita akan bertemu kembali bulan depan, namun jika ada keluhan, silahkan datang kesini" urainya sambil mengambil kertas dan menuliskan resep dengan cepat.


"Oh ya dok, kenapa saya tidak merasa mual ya?" Ganis penasaran.


dokter Lucy nampak tersenyum, "Justru malah bagus, karena makan apapun bisa masuk, sehingga nutrisi bisa masuk ke tubuh ibu hamil, hamil tidak selalu identik dengan mual, dan bersyukurlah Nyonya" jawabnya ramah.


"Oh terima kasih dokter atas penjelasannya, saya senang sekali"


"Ini resepnya, bisa diambil di apotek depan"

__ADS_1


dokter Lucy menyerahkan resep tersebut dan diterima oleh Saga.


"Sekali lagi selamat atas kehamilannya"


"Terima kasih dokter" ucap Ganis dan Saga bebarengan.


" Sama-sama, Terima kasih sudah percaya dan memilih klinik ini"


Saga dan Ganis keluar dari ruangan dokter Lucy dengan perasaan lega, mereka berjalan ke arah apotek untuk mengambil vitamin yang diresepkan.


***


Alex turun dari mobil, kepalanya terasa sangat sakit dan terasa hampir pecah. Dia membuka pintu mobil dan segera turun, bersiap membeli obat sakit kepala di apotek. Dia memarkir mobilnya di pinggir jalan raya.


Dia bersiap masuk ke dalam apotek, langkahnya terhenti saat melihat Saga dan Ganis berada di apotek yang sama. Dia melirik mobil Saga tengah terparkir di halaman klinik, dia mengedarkan pandangan, hanya ada satu dokter yang praktek di klinik ini, yaitu dokter kandungan.


Alex urung masuk, dia menarik ujung topinya agar wajahnya tidak terlihat secara langsung, dia masih berada di luar apotek, menunggu Saga dan Ganis keluar. senyum sinisnya mengembang setelahnya.


Tidak berapa lama Ganis dan Saga mendapatkan vitamin yang sudah diresepkan oleh apoteker, kemudian mereka keluar dari apotek. Alex memalingkan wajahnya dan memunggungi Ganis dan Saga saat keluar dari apotek.


Ganis dan Saga kembali ke mobilnya, Alex masuk ke dalam apotek dan membeli obat yang dia butuhkan. Setelahnya dia keluar dan kembali ke mobilnya. Senyum sinis kembali mengembang di bibirnya.


"Jadi kalian akan punya anak? tunggu saja ya, kita main-main" gumamnya sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Apakah kamu ingin makan sesuatu di luar?" tanya Saga.


"Ehm....apa ya Mas?" Ganis balik bertanya, Saga mengedikkan bahu.


"Tanya tuh sama yang di dalam perut" Saga meletakkan tangan kirinya di perut Ganis sambil mengelusnya perlahan.


"Adek utun mau makan apa?" tanya Ganis sambil tertawa.


"Papa siap membawa kemanapun kalian mau" Saga menimpali"


Mereka tertawa dengan tingkah mereka sendiri.


        Mobil Alex terus saja membuntuti mobil yang ditumpangi Saga dan Ganis, dia ikut berjalan perlahan. Begitu juga saat mobil Saga berhenti di sebuah rumah makan cepat saji sesuai permintaan Ganis. Alex ikut berhenti di sana. Namun dia tidak turun dan masuk ke dalam seperti halnya yang dilakukan Saga dan Ganis.


Alex menyalakan rokoknya, dia membuka jendela mobilnya setengah, sambil tetap memperhatikan keberadaan Saga dan Ganis. Sesekali terlihat dari dinding kaca Saga dan Ganis bercanda dan tertawa. Pemandangan tersebut membuatnya muak, namun tetap saja dilihanya.


Dia menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Nampak kepulan asap tebal memenuhi mobilnya, namun dia tidak peduli. Dia membuang putung rokok sembarangan, lalu mengambil satu batang rokoknya lagi, dan kembali menyalakan.

__ADS_1


Nampak Saga dan Ganis masih berada di dalam dengan keceriaannya, Alex mengambil topi yang tergeletak di kursi sebelahnya, lalu mengenakannya lagi.


Hampir satu jam dia berada di sana, menunggu Saga dan Ganis keluar. Saat Saga dan Ganis keluar, dia buru-buru menutup kembali jendela mobilnya.


Saga terlihat menggandeng mesra Ganis keluar dari rumah makan tersebut, Alex masih melihat dari balik kaca mobilnya.


"Kebahagian kalian tak akan lama, nikmatilah saat ini" gumamnya.


Saga membukakan pintu untuk Ganis, Ganis tersenyum sambil mengerlingkan mata tanda terima kasih pada suaminya, lalu dia duduk di kursinya. Tak lupa dia memakai sabuk pengamannya.


Saga berjalan memutar dan akhirnya dia masuk ke dalam mobil dan mengenakan sabuk pengamannya.


"Sudah klik belum?" tanya Saga memastikan jika sabuk pengaman Ganis sudah aman. Ganis mengangguk.


Mobil perlahan keluar dari tempat parkir rumah makan tersebut, begitu juga dengan mobil Alex. Mobilnya kembali berjalan membuntuti mobil Saga.


"Apakah kamu masih ingin makan sesuatu sayang?" Saga menoleh ke arah Ganis.


Ganis mengelus perutnya sambil menggeleng pelang. "Sudah Mas, aku kenyang, kita pulang saja"


"Ok sayang"


Terdengar nada dering nyaring, Ganis membuka tasnya dan mengeluarkan HPnya, lalu menggeser tombol hijau.


"Iya Ma?" balas Ganis setelah Nyonya Rima menyapa.


"Kita sedang perjalanan pulang Ma, iya pemeriksaan dokter tadi semua baik-baik saja Ma"


"Iya Ma" Ganis mengakhiri panggilan teleponnya, dia menurunkan HP dari telinganya dan kembali menyimpan HPnya ke dalam tas.


"Apa kata Mama?" tanya Saga.


"Ya nanya kita di mana, terus hasil  pemeriksaan tadi juga, dan terakhir...hati-hati, mari kita pulang"


"Iya" Saga mengangguk, tangan kirinya mengelus rambut Ganis.


Mobil yang dikendarai Alex masih membuntuti, Saga melaju kencang di jalanan yang agak sepi agar segera sampai di rumah, nampak Ganis memejamkan matanya.


 


 

__ADS_1


Ayo....gaskeun ya like dan votenya....thank you


__ADS_2