Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 52 : Malam Panjang


__ADS_3

Saga membawa Ganis ke sebuah restoran mewah, dimulai dari karpet merah yang menyambut kedatangan mereka, ditaburi dengan bunga mawar. Namun Ganis heran dengan apa yang dilihatnya. Hanya mereka berdua yang ada di tempat tersebut. Ganis dan Saga disambut oleh pelayan restoran dengan begitu mewahnya, seorang


pelayan memberikan buket bunga super besar kepada Ganis, bahkan Ganis sampai kerepotan harus membawa buket berisi bunga mawar merah tersebut.


Pelayan yang lain mempersilahkan mereka duduk di sebuah meja dengan view yang sangat bagus, terlihat lampu berwarna warni seperti bintang yang berkelip di luar sana. Saga memperhatikan Ganis, menebak apa yang sebenarnya dirasakan oleh gadis itu.


Sukakah dia dengan apa yang dia lakukan? Atau merasa tidak nyaman, entahlah, Saga belum nememukan jawabannya. Ganis duduk berhadapan dengan Saga. Berbagai hidangan makan malam mewah dikeluarkan satu per satu, mereka dilayani bak raja dan ratu.


“Kamu membooking khusus restsoran ini mas?” tanya Ganis tak tahan lagi bertanya. Karena hanya mereka yang ada di restoran ini. Saga mengangguk.


“Kamu suka?” tanya Saga. Ganis menggeleng. Saga mengernyitkan dahi, bagaimana gadis di depannya itu dengan terang-terangan tidak menyukainya.


“Terlalu boros” imbuhnya, Ganis meletakkan buket bunga di meja yang masih kosong.


“Kamu…hisssh” Saga membulatkan matanya.


“Tapi terima kasih Mas, hanya saja besok-besok jangan seperti ini, tapi…aku tersanjung” Ganis menyunggingkan senyum manisnya, dilihatnya Saga ikut tersenyum.


“Bahkan aku tidak tahu apa kesukaanmu, selain mie dan kopi”


Ganis tersenyum, seharusnya dia tidak mengatakannya dengan gamblang jika dia kurang suka dengan perlakuan seperti ini, tapi dia tidak tahan juga, takut jika suatu saat nanti Saga akan suka melakukan hal seperti ini.


“Maaf jika kamu tidak suka, Ganis…” ucap Saga. Ganis menggeleng.


“Bukan seperti itu Mas, seperti yang aku katakan tadi, aku tersanjung, hanya saja aku terbiasa menjadi orang biasa, jadi bagiku ini terlalu berlebihan” Ganis tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang putih.


“Tidak apa-apa kan sekali-kali menjadi real istri presdir?” Saga menunjukkan kelasnya, Ganis menatapnya, lalu mengangguk kecil. Dia harus terbiasa dengan statusnya sekarang. Tapi bukan berarti dia harus bergaya hidup hedonis.


Mereka menikmati makan malam romantis di restoran tersebut hingga larut malam. Sesungguhnya, Ganis lebih suka menghabiskan waktu bersama dengan Saga di balkon dengan secangkir kopi dan seporsi mie, baginya itu sudha cukup romantis.

__ADS_1


Anaya


Sementara itu, Anaya terlihat kacau, matanya sembab, rambutnya terlihat awut-awutan. Sejak kemarin dia menyerahkan urusan kantor kepada Pak Wawan, dia belum siap untuk berangkat ke kantor. Patah hati yang dia rasakan sangat dalam, entah…bukan pertama kali ini dia merasakan patah hati, tapi tidak sesakit ini. Perbincangannya malam itu dengan Saga membekas di benaknya.


Rokok elektrik teronggok di meja kecil di depannya, sudah berapa kali dia menyesapnya. Seorang asisten rumah tangga jalan mendekatinya dan membawakannya makanan. Karena sejak kemarin Anaya tidak mau menyentuh nasi sama sekali, dia hanya ingin rokok dan juga wine. Rasa khawatir nampak di wajah asisten rumah tangga yang sudah bekerja cukup lama untuk Anaya itu.


“Aku tidak ingin makan Bik” ujar Anaya sambil kembali mengambil rokok elektrik yang ada di depannya, pandangannya cuek.


“Maaf, tapi Nona harus makan”


Terdengar bunyi nyaring dari HPnya, Anaya melihat layar ponselnya. Tangannya mengibas, memberikan kode agar asisten rumah tangganya meninggalkannya.


Alex calling


            Anaya bangkit dari kursinya, makanan masih sama, tetap utuh. Baru saja Alex mengajaknya untuk keluar mencari angin, tidak ada salahnya. Dia sudah beberapa hari terpuruk di rumah tidak melakukan apapun.


Alex sudah berada di halaman rumahnya, menunggu di dalam mobil hingga Anaya menampakkan batang hidungnya, meskipun nampak sayu, setidaknya dia terlihat cantik karena berdandan. Wajahnya terpoles make up sempurna, rambutnya dibiarkan tergerai.


“Ayolah Ann, mana kamu yang dulu? Hanya karena patah hati kamu seperti ini” Alex mencoba memprovokasi. Annaya menyesap rokoknya, dan menyembulkan asap ke atas.


“Aku merasa baik-baik saja sekarang, hanya saja…entahlah, mengapa sesakit ini, mungkin karena aku yang membuatnya terlalu rumit, dan juga…hah….sudahlah”


“Papa kirim salam buat kamu, dia merasa bersalah, bahkan pesan dan telepon darinya kamu abaikan begitu saja” Alex menambahkan. Sesungguhnya dia dia juga menyesalkan mengapa Barata melakukannya, dengan seperti ini, maka rencana Alex pun akan terasa berat.


Anaya menghela nafas panjang, memainkan rokoknya, kutek merah yang menempel di kukunya nampak merona. “Aku sedang tidak ingin berbicara dengan Papamu”


Alex tersenyum, ikut merasakan kekecewaan yang dirasakan Anaya terhadap laki-laki itu. “Mungkin nanti, jika rasa ingin membunuhnya sudah menghilang, tapi sepertinya tidak mungkin” umbar Anaya, diikuti tawa dari Alex.


“Aku harus buat rencana lain, mungkin ini cara terakhir” Anaya menekan putung rokok ke dalam asbak. Alex mendongak, tangan kanannya mengambil cangkir berisi kopi, lalu menyesapnya, pandangannya kembali menatap gadis itu.

__ADS_1


Ternyata gadis di depannya itu belum menyerah, Alex menghela nafas. Dia harus lebih sabar lagi.


Dia sangat mengenal Anaya, jika menginginkan sesuatu, maka demi apapun, dia harus mendapatkannya dengan caranya. Sejak kecil mereka bersama, seperti saudara, kemana-mana bersama dengan asuhan yang sama.


Masih teringat jelas, pada saat mereka usia SD. Anaya bukanlah gadis yang lemah, saat itu dia dibully oleh teman-teman sekelasnya, mendapat perundungan membuat Anaya kecil yang awalnya hanya bisa menangis, tiba-tiba dia berontak dan memukul serta mencaci teman-temannya, hingga tak ada lagi teman yang berani membullynya.


SD hingga SMA mereka berada di sekolah yang sama, Anaya kecil yang tumbuh remaja menjadi gadis kuat. Dia memiliki banyak teman dan dia selalu menjadi pusat perhatian di antara teman-temannya, tidak hanya itu, dia selalu seolah menjadi ketua geng dalam pertemanannya.


Dia harus menjadi kuat agar bisa membalaskan dendam kematian orang tuanya kala itu,


“Aku sudah lama tidak melihatmu dengan Sheila?”Anaya membuyarkan lamunan Alex, laki-laki itu tersentak.


“Hem?”


“Sheila? Di mana dia?” Sheila adalah kekasih Alex. “Apa kamu sudah mencampakkan dia?” Anaya juga sudah hapal, Alex si pemain wanita. Alex tersenyum, tebakan Anaya benar. Bahwa hubungannya dengan Sheila hanya main-main saja.


“Atau kalau kamu mau, ayolah dekati gadis bodoh itu” imbuh Anaya.


Alex mengerutkan kening.


“Siapa lagi kalau bukan Ganis” Anaya memperjelas.


Alex menaikkan alisnya, tidak ada keinginan sama sekali baginya untuk mendekati Ganis. Setidaknya dia tidak akan membuat ulah pada Saga.


“Kenapa? Nggak berani? Dia cukup polos, tidak jelek juga kan?”


“Kamu terlalu banyak minum, jadi kamu ngelantur” Alex tersenyum sinis. Anaya tertawa.


Benar saja, obrolan malam ini dengan Alex cukup membuat dadanya tak lagi sesak, tapi rasa ingin bersama Saga tidak terhapus begitu saja. Lagu-lagu dari kafe tersebut masih mengalun, langit malam juga sangat cerah. Anaya kembali menyalakan rokoknya, memanggil pelayan untuk kembali memesan kopi. Malam ini dia habiskan dengan membuang rasa sesak di dadanya bersama dengan Alex.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah memberikan vote, like, dan hadiah pada Author. Tetap setia membaca, dan jangan lupa like, vote dan hadiahnya ya. ehehe...thank you....


yang suka baca doang, hihihi tolong dong klik jempol, gratis kok...


__ADS_2