
Dengan senang hati Ganis memasak untuk Saga, setelah membuatkan sarapan nasi goreng tadi pagi untuk Saga. Saga berpesan juga untuk siang ini agar Ganis ke kantor, membawakannya makan siang dengan menu gado-gado. Ganis mempersiapkan sebaik mungkin, jangan sampai makanan yang dia bawa tidak enak. Beberapa kali dia
memastikan makanan yang dimasaknya enak, Marni dan Dini menjadi juru icip di dapur.
“Apakah Mas Saga memang suka makanan ini? ehm...maksudku sering minta menu makanan ini?” tanya Ganis sambil memasukkan aneka sayuran ke dalam rantang mungil.
“Ehm…sepertinya belum pernah, Nona?”
“Hah? Serius mbak Marni?” Ganis kembali heran, lalu kenapa Saga meminta dia mengirimkan gado-gado ke kantornya.
“Tapi mungkin Tuan muda sering makan menu lain di kantor, mungkin gado-gado salah satunya, Nona” Dini menimpali.
“Oh” Ganis mengelap rantang tersebut dengan tisu lalu menutupnya, siap untuk dibawa.
“Nona sama Isnan kan?” tanya Dini, Ganis mengangguk.
“Mbak Dini mau ikut?”
Dini menggeleng, tidak mau menganggu acara kencan siang Nona dan Tuan mudanya.
“He..he ya sudah, aku berangkat dulu ya, keburu Mas Saga lapar” Ganis mengangkat rantang tersebut ke atas, Dini dan Marni tersenyum melihat Ganis dengan wajah yang ceria.
Ini adalah kedua kalinya Ganis mendatangi kantor Saga. Semoga kedatangannya kali ini lancar dan tidak seperti kedatangan yang sebelumnya. Ganis dengan santai masuk ke dalam kantor, security dan resepsionis sudah mengenal Ganis. Mereka memberikan sapaan dan membungkuk saat Ganis masuk.
“Selamat siang Nona” ucap resepsionis ramah.
“Siang mbak” balas Ganis, lalu dia berjalan menuju lift. Pintu lift terbuka, sudah ada 2 wanita muda yang ada di dalam sana, Ganis memencet tombol angka 20 menuju ruangan Saga berada.
Ganis tidak mempedulikan 2 wanita muda yang sedang berbisik-bisik itu.
Mereka berdiri sejajar, jarak mereka dekat, sama-sama memakai rok pendek dan atasan kemeja ketat. Sepatu hak tinggi berada di kakinya.
“Eh tahu nggak sih kalau predirnya sini itu cakeeep banget?” ujar seorang wanita muda dengan kemeja biru muda. Ganis memasang pendengarannya sebaik mungkin.
“Katanya sih begitu, tapi sudah nikah”
“Katanya istrinya nggak begitu cantik sih” timpal temannya. Ganis mendelik tanpa menoleh ke arah mereka berdua.
"Masa sih? jadi penasaran, katanya pernah nongol di televisi tapi aku nggak begitu peduli sih" Mendengar ghibahan dua wanita muda yang ada di sebelahnya, Ganis kemudian melirik dengan tatapan tajam, namun dia diam saja, lalu kembali melihat ke depan.
“Bisa kali lah nanti kita caper sama pak bos” wanita kemeja hijau tertawa kecil, membuat Ganis kembali menoleh.
Awas saja kalau berani. Gumamnya dalam hati.
“Mungkin dia OB kali ya” ujar wanita muda dengan kemeja warna biru muda pada temannya yang memakai kemeja hijau. Ganis menoleh tanpa memberikan tanggapan, sekarang dia yakin mereka berdua sedang membicarakannya.
__ADS_1
“Mbak…” sapa wanita dengan kemeja hijau. Ganis kembali menoleh.
“Saya?” Ganis menunjuk dirinya sendiri.
"Iya lah, kan di dalam sini cuma kita bertiga mbak"
“Kalau mau pesan makanan di mbak, gimana caranya ya? Bisa ya mbak kantor berkelas gini pengirim makanan macam mbak bisa masuk?”
“Soalnya kami baru mau mulai magang di sini, malas keluar, malas repot-repot gitu” ujarnya dengan lagak centil.
“Iya mbak, kita mau donk, lumayan kan kalau sampai di antar ke kantor begini, jadi kami bisa tinggal makan gitu” imbuh yang pakai baju biru muda.
Ganis mendengus, tangannya memegang rantang dengan erat.
“Mbak mau ke lantai 20 ya? Bukannya itu ruang pak presdir?”
“Wah, pak presdir saja pesan makanannya di mbak ini, pasti enak nih”
Pintu lift terbuka, Ganis keluar terlebih dahulu meninggalkan dua wanita tersebut. Kalau saja sampai Saga tahu dia lewat lift umum, maka dia akan mendapat protes. Saga meminta dia lewat lift khusus yang biasa dia gunakan.
Andai saja dia mengikuti saran Saga, maka dia tidak akan bertemu dengan dua wanita tadi yang memasang wajah merendahkan, bukan hanya sekedar tentang memesan makanan.
Saga memutar kursinya saat mendengar pintu diketuk.
“Masuk” perintahnya, Ganis memegang gagang pintu dan menekannya ke bawah, lalu mendorongnya. Kepalanya masuk ke ruangan, lebih tepatnya melongok untuk mengecek keadaan.
“Ganis meringis, lalu masuk ke ruangan Saga. Kembali dia menutup pintu. Saga masih duduk di kursinya, Ganis memberikan senyum terbaiknya seraya mendekat ke meja Saga.
“Istriku memang terbaik” Saga memuji, Ganis meletakkan rantang kecil tersebut di atas meja, di depan Saga. Lalu dia meletakkan tasnya juga di sana, lalu bersiap duduk di kursi yang ada di seberang meja dengan Saga.
“Tidak ada yang menyuruh kamu duduk di sana” Saga mencegah, Ganis yang hampir mendaratkan tubuhnya di kursi menahan badannya.
“Ehm…” Ganis menarik tubuhnya, tidak jadi duduk.
Saga tertawa kecil melihat ekspresi kebingungan dari Ganis.
“Sini” Saga melambaikan tangan kanannya.
Ganis masih berdiri mematung di seberang meja.
“Sini” Saga mengulang lagi, kini tangan kanannya menepuk pangkuannya.
Karena lama tidak direspon, Saga berdiri, dengan cepat dia menarik Ganis, dia kembali duduk di kursinya, dan Ganis tepat berada di pangkuannya. Saga melingkarkan tangannya dengan sempurna di perut Ganis.
“Mas…jangan, nanti ada yang masuk” Ganis mengingatkan, namun Saga tidak peduli.
__ADS_1
“Siapa yang berani masuk ke ruanganku tanpa persetujuanku? Hah?” Saga mencium rambut Ganis, gadis itu terdiam mendapatkan perlakuan Saga.
“Nanti Pak Li masuk ke sini” ujar Ganis lagi.
“Hehm…pak Li sedang keluar ke divisi lain, Farel juga”
“Oh” Ganis membiarkan Saga melakukan apa yang dia inginkan.
Saga mengangkat Ganis, dan mengubah posisinya, kini dia memangku Ganis berhadapan dengan dirinya. Terlihat dengan jelas wajah Ganis yang cantik, mata indahnya, bibirnya. Beberapa detik dia terdiam melihat Ganis, tangan kanannya mengusap lembut pipi Ganis, kemudian merapikan anak rambut yang sedikit berantakan di dahi Ganis.
“Makanannya, katanya jangan telat” Ganis mengingatkan Saga untuk segera makan siang.
“Aku masih ingin melihatmu” godanya. Pipi Ganis bersemu merah. Saga mendekatkan wajahnya ke wajah Ganis, perlahan mengecup bibir Ganis. Cukup lama mereka menikmati kemesraannya, hampir saja terbawa suasana.
“Mas…jangan ah, kan ini kantor, malu ih” Ganis memegang kedua pipi Saga. Wajah mereka masih sangat dekat. Saga menahan nafsu yang sudah menguasai dirinya. “Makan dulu”
Saga kembali mendekatkan wajahnya ke arah Ganis, mengecup pipi Ganis sebelum mengikuti permintaan Ganis.
Ganis membuka rantang tersebut, aroma bumbu kacang menyeruak, Saga mengangguk-angguk tidak sabar menikmati gado-gado buatan Ganis.
“Ini buatan kamu kan? Bukan mbak Marni kan?” Saga ingin memastikan, Ganis mengangguk mantap, dia mengambilkan sendok untuk Saga. Saga mencicipi makanan yang ada di depannya.
“Gimana?” Ganis penasaran, dia ingin tahu penilaian Saga tentang menunya kali ini.
“Enak…”
“Serius?” tanya Ganis ragu.
“Iya, enak…daripada yang biasanya dibelikan sama OB sini di tempat lain, bahkan ini jauh-jauh lebih enaaaak” Saga mengangkat kempolnya. Ganis tersanjung. Sejak kapan Saga pandai membahagiakan dia?
“Kamu sudah makan?” tanya Saga.
“Sudah tadi”
“Sini” Saga menyodorkan sendok yang berisi potongan kentang. “Ayo aaaaa”
Ganis menurut, Saga menyuapinya. Mereka makan berdua.
“Enak sekali punya istri, semua serba dilayani”
“Bukannya dari dulu kamu dilayani semua asisten mas?”
“Beda lah…”
“He…he..he…”
__ADS_1
Sesudah selesai makan, Ganis merapikan alat makan dan meletakkan di meja yang berbeda. Saga kembali menarik Ganis, kali ini mereka berada di sofa yang tidak jauh dari meja kerjanya. Saga terlampau kasmaran, Saga tidak peduli di manapun tempatnya, menikmati waktu berdua dengan istrinya.