
Pukul 4 sore, 2 mobil berhenti di halaman rumah Budhe Sarah. Nampak beberapa orang dengan pakaian serba batik keluar dari mobil dengan membawwa sesuatu di tangan, seserahan. Nampak pula Pak Haidar beserta seorang perempuan bersanggul, kemungkinan adalah istrinya. Nampak pula seorang laki-laki muda yang kemungkinan besar adalah Andre, kekasih Carolina.
Saga berjalan mendekat ke arah rombongan dan menyambut kedatangan mereka, Pak Haidar merasa tersanjung sekaligus sungkan dibuatnya. Kedatangannya ke rumah saudara Bosnya yang dirasa aneh.
"Selamat datang di rumah kami" sambut Saga dengan senyum kecilnya, Ganis berada di samping Saga menyambut kedatangan keluarga Andrew. Andrew mengenakan kemeja batik warna coklat. Benar-benar tanpa rencana, bahkan baju Andrew dan Carolina tidak serasi.
"Terima kasih Tuan" balas Pak Haidar.
"Mari silahkan masuk" Saga mempersilahkan.
Pak Haidar dan keluarga masuk ke dalam rumah Budhe Sarah, di dalam sana sudah ada Budhe Sarah, Carolina, dan juga Nyonya Rima.
Mereka saling bersalaman dan meletakkan barang seserahan.
Carolina terdiam sambil menunduk, hari yang dinanti tiba, dengan sedikit drama akhirnya Mamanya luluh dan menerima Andrew. Laki-laki muda itu juga nampak diam menunduk, dia duduk bersila di samping Pak Haidar dan Bu Haidar.
"Jadi....mohon maaf atas kejadian sebelumnya, saya sekeluarga benar-benar merasa sangat terpukul dan merasa sangat bersalah atas ulah anak kami" Pak Haidar membuka percakapan. Dia benar-benar merasa malu dengan apa yang dilakukan oleh anaknya, Andrew. Andrew hanya bisa terdiam dan bersedia disalahkan.
"Kami sekeluarga menerima jika pada akhirnya kami adalah orang yang salah, namun izinkan kami untuk memperbaikinya, saya rasa anak saya siap bertanggung jawab dengan apa yang telah dilakukannya"
Suasana hening, Saga masih terdiam mendengarkan penjelasan Pak Haidar, sesekali dia melirik Andrew yang masih diam saja. Begitu juga Carolina.
"Kami ingin meminang putri Nyonya Sarah untuk putra kami" ucapnya akhirnya.
Budhe Sarah diam saja, dia tidak sanggup untuk berkata-kata, dia sudah memasrahkan semuanya pada keponakannya, Saga.
"Pak Haidar, saya mewakili keluarga Budhe saya, Budhe Sarah, awalnya sangat marah dengan kejadian ini, akan tetapi kami tahu bahwa kemarahan tidak akan mengubahnya, jadi saya harap dengan adanya pertemuan keluarga ini semuanya akan menjadi lebih baik"
"Benar Tuan" jawab Pak Haidar.
"Jadi, kami menerima kedatangan Pak Haidar, saya harap ini benar-benar niat tulus dari Andrew untuk bertanggung jawab kepada saudara saya Carolina" Saga menegaskan kalimatnya, jangan sampai Andrew hadir hanya untuk bermain-main dengan Carolina.
"Saya siap bertanggung jawab" ucapnya dengan mantap, membuat semua mata tertuju pada Andrew. Tak terkecuali Carolina. Senyum tipis mengembang di bibirnya.
***
Akhirnya acara pertemuan keluarga usai, Saga dan Ganis berpamitan pada Budhe Sarah dan juga Carolina, Nyonya Rima pulang bersama Isnan.
"Terima kasih atas bantuan kalian" ucap Carolina malu-malu sambil melambaikan tangan pada Saga dan Ganis.
Ganis mengangguk, sementara Saga diam saja dengan wajah datarnya, meskipun begitu Carolina sudah sangat memahami Saga.
"Kita pulang dulu" sahut Ganis.
"Hati-hati" balas Carolina.
Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah Carolina, malam sudah tiba, dan Ganis merasa sangat lega akhirnya selesai sudah acaranya dan berjalan lancar.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mau membantu, terima kasih sudah menghilangkan dendammu pada Carolina" ujar Saga, Ganis menoleh dengan mengerutkan keningnya.
"Kenapa begitu Mas?"
"Iya...karena Carolina pernah jahat padamu, dan kamu berlaku baik padanya"
"Oh itu, aku merasa itu bukan sebuah kejahatan, itu adalah awal pendewasaan dia"
"Kamu terlalu baik" puji Saga.
"Kamu juga Mas, kamu sangat bertanggung jawab dan ternyata sangat menyayangi Carolina seperti saudara kandung" Ganis balas memuji.
Saga tersenyum tipis, "Sebelum sampai rumah, kamu tidak ingin kemana gitu? atau makan apa? atau beli apa wahai istriku?"
Ganis menggeleng, "Aku capek mas, ingin sampai rumah, memelukmu dan tidur"
"Manja sekali" cetus Saga.
"Eh...eh nggak mau ya?" tanya Ganis dengan memanyunkan bibirnya.
"Ha...ha...ha tak hanya memeluk, silahkan lakukan apa yang ingin kamu lakukan" Saga memberikan keleluasaan. Ganis tertawa.
Semenjak hamil, dia semakin merasa ingin berdekatan dengan Saga, ingin setiap saat bermanja dengan suaminya.
"Kapan lagi periksa ke dokter? aku sudah tidak sabar melihat calon anakku"
"Oh baiklah.."
Mobil memasuki pekarangan rumahnya, sementara mobil yang dipakai oleh Isnan dan Nyonya Rima tadi sudah terlihat terparkir di tempatnya.
"Mas mau makan lagi nggak? biar aku bilang Mbak Marni buat nyiapin" tawar Ganis.
"Enggak ah, sudah malam, aku mau tidur saja, kamu makan gih" Saga memerintah sambil mengelus perut Ganis.
"Enggak mau juga mas, aku mau minum susu hangat saja, sudah kenyang nasi tadi di rumah Budhe Sarah"
"Baiklah sekarang kita naik" Saga meraih tubuh Ganis, membopong istrinya menuju kamarnya.
Ganis yang mendapat perlakuan gendongan mendadak agak terkejut, tangannya melingkar erat di leher Saga, takut jika dia akan jatuh.
"Pegangan yang erat wahai kau istriku"
"Tidak berat kah?" tanya Ganis.
"Kamu harus banyak makan lagi"
***
__ADS_1
Rasanya tidak ingin Saga melepaskan pelukan Ganis pagi ini, istrinya nampak tertidur dengan nyenyaknya. Wajahnya yang tenang benar-benar terlihat kelelahan. Saga dengan perlahan melepaskan tangan Ganis di atas tubuhnya, tidak ada pergerakan dari Ganis. Dia masih terlelap tidur, Saga melihat Ganis dan kembali merapatkan selimut ke tubuh Ganis. Dia beranjak dari ranjang dan segera ke kamar mandi.
Perlahan Ganis membuka matanya, sudah tidak ada lagi Saga di sampingnya. Terdengar suara gemricik air dari kamar mandi, Ganis mengulat. merentangkan kedua tangannya ke udara.
Ganis menggeser tubuhnya, perlahan menuruni ranjang.
"Kamu sudah bangun?" Saga melihat istrinya sedang membuka gorden jendela.
"Uhm" Ganis mengangguk. "Mengapa Mas tidak membangunkanku?" tanya Ganis sesaat mendengar Saga menyapanya.
"Kamu terlihat nyenyak, aku takut menganggumu" balasnya. Dia mendekat ke arah Ganis. Tangannya mengusap rambut Ganis yang terlihat agak berantakan. Saga ingin memeluk Ganis. Tapi Ganis menolak.
"Aku belum mandi, bau" Ganis menghindar dan segera berlari ke arah kamar mandi. Saga tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
Saga melanjutkan aktivitas Ganis yang tertunda, membuka jendela balkon kamar. Udara pagi masuk memenuhi kamarnya, terasa sangat segar. Matahari juga belum terlihat.
Saga duduk di kursi balkon sambil menunggu Ganis selesai mandi.
"Mas mau kopi?" seru Ganis sesaat setelah keluar dari kamar mandi.
"Tidak usah, nanti saja sekalian sarapan. Sini!" jawab Saga menoleh ke arah sumber suara.
Ganis masih memegang handuk mengikuti permintaan Saga, dia mendekat ke arah Saga dan bersiap duduk.
Saga tidak membiarkan Ganis duduk di kursi sebelahnya, dia menarik tubuh Ganis dan mendudukkannya di pangkuannya, dia memeluk Ganis erat.
Menikmati setiap bau tubuh Ganis yang baru saja mandi, terasa wangi bunga dari sabun yang dipakai, harum.
"Bahkan tidak makan seharian pun aku akan punya amunisi" kelakarnya sambil terus merasakan wangi tubuh Ganis di balik bathrobe yang dipakai Ganis.
"Gombal" sahut Ganis.
"Eh nanti aku jemput sore, nanti malam acara tunangan Salwa, kamu jangan berangkat sendirian lagi, aku akan menjemputmu"
"Oh...nanti malam ya Mas?" seru Ganis sambil menepuk dahinya.
Saga mengangguk, tidak ingin kejadian buruk terulang kembali, dia akan menjemput Ganis ke rumah.
"Iya nanti malam"
"Tapi Salwa sudah baik-baik saja kan Mas?" Ganis memastikan.
"Iya, dia sudah masuk kerja 3 hari yang lalu"
"Oh syukurlah, iya Mas nanti aku siap-siap, mas hati-hati juga ya.."
"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan"
__ADS_1
Ganis meninggalkan Saga, dia bersiap untuk menyiapkan baju untuk Saga.