Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
Tiga Puluh Satu : Jalan Berbeda


__ADS_3

Tidak ada kata lagi yang keluar dari mulut Saga, dia berdiri mematung melihat gadis yang ada di depannya. Gadis itu tersenyum dengan manis.


“Apa kabar?” tanya Anaya masih dengan senyumannya.


Sejenak Saga menguasai dirinya, ingin rasanya dia marah, memaki, dan sekaligus ingin memeluk gadis yang ada di depannya.


“Kamu” ujar Saga masih dengan tatapan datarnya, tak lagi manis seperti dulu saat mereka masih menjadi sepasang kekasih.


"Kamu masih sama, kaku” ujar Anaya.


Mereka kini duduk di salah satu kursi yang ada di sana, Saga masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Gadis yang beberapa bulan ini menghilang entah kemana, tiba-tiba muncul tanpa permisi.


“Apa kamu merindukanku?” tanya Anaya tanpa rasa berdosa.


“Kamu kemana saja?” tanya Saga masih dengan wajah datarnya.


“Nggak kemana-mana, hanya melihat kamu dari jauh”


Jawaban Anaya tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan, Saga menatap gadis itu tajam. Sesungguhnya masih ada rindu di hatinya, hanya saja dia juga membutuhkan jawaban gadis itu. Mengapa dia meninggalkannya begitu saja dan menyuruhnya menikah dengan asistennya.


“Aku salut dengan keberaniannmu memproklamirkan hubungan pernikahan kalian” kalimatnAnaya terdengar sarkatis di telinga Saga. Anaya membuka HPnya dan menunjukkan pada Saga. Berita tentang hubungan Saga dan Ganis, mereka nampak berfoto mesra dengan Ganis. Tangan mereka saling bertaut menggenggam.


“Aku tidak butuh kamu membahas ini”


“Apakah Tuan Candra menyukai kedatangan Ganis secara tiba-tiba dalam kehidupanmu? Ehm….aku minta maaf, hanya karena aku belum siap menikah, sehingga aku harus mengambil jalan ini” Anaya beralasan.


“Tapi bukan begini caranya” Saga protes. Anaya meninggalkan kursinya, semua duduk mereka berseberangan saling menghadap, kini Anaya menarik kursi dan duduk di samping Saga, jarak mereka sangat dekat.


“Aku minta maaf sayang” Anaya merangkulkan tangannya di pundak Saga, kepalanya kembali bersandar di bahu Saga. “Melihatmu baik-baik saja aku menjadi tenang” imbuhnya.


“Kamu tidak tahu bagaimana penderitaanku, dan kamu datang begini dengan tiba-tiba” Saga membiarkan Anaya bergelayut manja padanya, hal yang sudah lama tidak dilakukan Anaya.


“Oh ya selamat ya sudah resmi menjadi presiden direktur Arjuna Group, anda selalu keren sayang” Anaya mengerlingkan matanya, Saga tersenyum kecil.


“Aku pikir aku akan kehilangan kamu selamanya” Saga meraih tangan Anaya.


“Sudah kubilang, aku melihat kamu dari jauh, tak akan kemana-mana”


Saga meneguk kopinya yang masih tersisa, sekarang hanya gelas kosong yang ada di depannya, malam semakin larut.

__ADS_1


Saga memasuki kamarnya, dilihatnya Ganis masih tertidur dengan lelap di atas ranjang, hanya posisinya yang berbeda dari yang tadi, kini gadis itu tidur dengan posisi miring. Saga meletakkan makanan yang sengaja dia bawa, berjaga jika gadis itu tiba-tiba bangun dan kelaparan, namun nampaknya tidak akan, gadis itu sudah benar-benar terlelap.


Saga berganti pakaian, lalu dia merebahkan diri di ranjang yang sama, sesaat dia menatap punggung Ganis, dan akhirnya dia menarik selimut dan juga mengambil posisi yang sama dengan Ganis, saling memunggunggi. Saga memejamkan mata, ingatannya kembali pada pertemuan tadi dengan Anaya, bagaimana gadis itu tahu


jika dirinya ada di sini? Mereka terlelap hingga pagi.


***


Rencana pagi ini berubah, awalnya Saga akan mengajak Ganis untuk berlibur berkeliling tempat ini berdua, kini berubah Haluan, Saga akan pergi bersama Anaya hari ini. Sebelum Ganis terbangun, Saga sudah bangun terlebih dahulu, dia tidak ingin Anaya menunggunya. Setelah mandi dan berganti baju dengan pakaian kasual, dia meminta sekertaris Li datang. Saga menitipkan beberapa pesan kepada sekertaris Li sebelum dia pergi hari ini.


Ganis menguap, mengucek matanya, nampaknya matahari pagi belum terlalu tinggi, Ganis mengusap rambutnya yang berantakan, kini dia sudah bersila di atas ranjang.


“Hem…perasaan tadi malam aku tidur di sofa” dia memperhatikan ranjang yang dia tempati, mengelus dengan tangannya. Saga juga sudah tidak ada di tempatnya.


“Apa dia tidak tidur di sini semalam?” Ganis menguap. “Apa dia memilih untuk menyewa kamar yang lain?” gumamnya.


Ganis merapikan selimut dan menuju kamar mandi untuk menyegarkan badannya, ingatannya kembali pada kejadian malam tadi.


Siapa yang memindahkan aku dari sofa ke ranjang? Apakah Tuan Saga? Ah mana mungkin.


Ganis menggosok giginya sambil bercermin.


Lalu di mana dia sekarang? Apa masih ada pekerjaan hari ini? Dan meninggalkan aku tanpa pesan?


Ganis membuka pintu kamarnya, sekertaris Li tengah berdiri di samping pintu. Membuat Ganis agak terkejut.


“Pak Li” sapa Ganis sambil tersenyum, dia membungkukkan badannya memberi salam, bagaimanapun sekertaris Li adalah orang tua yang harus dia hormati sebagaimana menghormati Ayahnya, karena kebetulan, umur sekertaris Li juga seumuran dengan Ayahnya.  Sekertaris Li membalas salam Ganis dengan membungkukkan badannya.


“Nona”


“Iya Pak Li, Tuan muda…ehm…maskdudku mas Saga” tenggorokan Ganis agak gatal saat memanggil Saga dengan “mas”. “Mas Saga sudah tidak ada di tempat Pak Li, ada pesan?” tanya Ganis. Sekertaris Li tersenyum.


“Maaf Nona, saya ingin menyampaikan pesan Tuan muda untuk Nona”


“Oh” Ganis tersenyum menahan malu, rupanya sekertaris Li sudah tahu jika Saga sedang tidak ada di tempat, dan rupanya sekertaris Li sengaja menunggu di depan kamar hanya untuk menyampaikan pesan padanya.


Kenapa tidak mengirim pesan saja, kenapa harus menyuruh Pak Li menungguku di sini, kan aku jadi nggak enak…


“Iya Pak Li, ada apa?” tanya Ganis.

__ADS_1


“Tuan sedang ada kegiatan mendadak, sehingga jika Nona ingin berjalan-jalan di area sini, ada sopir yang akan mengantar Nona kemanapun Nona inginkan” Pak Li menjelaskan, Ganis mengangguk paham.


“Oh iya Pak Li, ehm…mungkin aku akan ke sekitar area sini saja yang bisa saya jangkau dengan berjalan kaki” Ganis meringis, dia tidak terbiasa apa-apa diantar oleh sopir pribadi.


“Maaf Nona, itu perintah Tuan muda, sayang sekali saya tidak bisa mengantar, karena ada beberapa pekerjaan yang harus saya kerjakan”


“Tidak apa-apa Pak Li, Pak Li selesaikan saja pekerjaan Bapak, saya tidak apa-apa, saya akan jalan-jalan di sekitar sini saja Pak Li”


“Baik Nona, Tuan Muda juga menganjurkan Nona agar segera sarapan di lantai 2”


“Iya Pak Li” tanpa pesan dari Saga pun dia akan menuju tempat tersebut, perutnya sudah sangat lapar karena semalaman lagi-lagi dia melewatkan makan malamnya.


Sekertaris Li membungkukkan badan bersiap pergi meninggalkan Ganis.


“Pak Li, tunggu” Ganis sedikit berteriak. Sekertaris Li menghentikan langkahnya dan berbalik arah.


“Iya Nona, ada yang bisa saya bantu?”


Ganis menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal, Ganis merogoh HP yang ada di saku celana biru mudanya, menggeser layar dan menunjukkan berita yang dia baca sejak kemarin, menunjukkan pada sekertaris Li.


“Apakah beritanya memang seheboh ini pak Li?” ekspresi Ganis nampak khawatir. Sekertaris Li tersenyum.


“Sudah aku duga pasti akan banyak reaksi yang muncul tentang hubungan Tuan muda dan Nona, dan bahkan dari kalangan pengguna media sosial Nona, kuatkan hati Nona, semua akan baik-baik saja, bahkan saham dari Arjuna Group juga menguat, ini berita sangat bagus” sekertaris Li kembali tersenyum. Ganis mencoba menyunggingkan senyum, mencoba mencerna hubungan publikasi hubungan pernikahan Saga dengan harga saham perusahaan.


“Itu tandanya mereka menerima berita ini Nona, dan semua akan baik-baik saja” Sekertaris Li seolah mengetahui apa yang ada di hati Ganis. Ganis menutup HPnya dan menyimpannya ke dalam tasnya. Sekertaris Li pamit undur diri, Ganis menuju lantai 2 untuk sarapan.


Ganis menikmati sarapannya, dia duduk sendirian di kursi pojok dekat pagar, pemandangan di sini sungguh indah.


“Permisi Nona” ucap seseorang dengan suara agak berat, Ganis menolah ke sumber suara. Dilihatnya seorang laki-laki muda berdiri di depannya.


“Iya” balas Ganis.


“Boleh bergabung? Saya sangat mengagumi anda” ucap laki-laki itu.


Siapakah dia? Apakah hanya karena publikasi pernikahanku lalu dengan sekejap ada orang yang mengagumiku? Ah, betapa magisnnya pesona Saga.


“Si…silahkan” ucap Ganis agak ragu.


 

__ADS_1


 


Enjoy...Happy Reading....


__ADS_2