
Ganis dan Saga juga bersiap untuk istirahat malam, mereka memasuki kamar dengan satu ranjang itu. Ganis melirik kanan dan kiri, benar-benar tidak ada tempat untuk tidur selain ranjang itu, memang tidak terlalu lebar ranjangannya, tapi cukup untuk mereka berdua.
“Kenapa? Cari sofa?” tanya Saga, sudah sangat hafal dengan apa yang dilakukan Ganis.
“Iya”
“Kamu jangan aneh-aneh, sudah tidur saja sini” Saga menepuk ranjang, dia sudah duduk di tepi ranjang, bersiap merebahkan diri. “Di luar dingin, mau tidur di mana? Karpet?” ujar Saga lagi, Ganis berpikir sejenak, memang tidak memungkinkan tidur di luar kamar karena hawa dingin benar-benar menusuk tulang, terlebih setelah hujan lebat sore tadi. Mau tidak mau dia akan tidur satu ranjang dengan Saga. Hanya ada dua bantal, tidak ada guling, dan hanya satu selimut di sana.
“Tapi Tuan jangan macam-macam ya…”
Saga membuang nafas panjang, dilihatnya gadis itu lama, lalu dia merebahkan diri di ranjang.
“Terserah aku, kan kamu istriku” goda Saga, matanya terpejam, bibirnya tersenyum jahil. Ganis menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Awas minggir, aku mau naik dulu” Ganis menarik kaki Saga agar tidak menghalanginya naik ke ranjang, karena ranjang ditempatkan mepet ke tembok, dan Ganis harus tidur dengan batasan tembok, sedangkan Saga berada di pinggir. Ini adalah dua kalinya dia tertidur di ranjang yang sama dengan Saga.
Ganis menghadap ke tembok, sedangkan Saga terlentang, melihat gadis itu sejenak, lalu melihat langit-langit atap.
“Kalau mati lampu gimana ya?”
“Tuan jangan mengada-ada, tidak mati lampu saja Tuan sudah mencoba menjahiliku, apa lagi mati lampu, ingat ya Tuan, tidak ada guling di sini, jadi Tuan jangan coba-coba untuk menjadikanku guling” pesan Ganis, Saga tersenyum.
“Aku ingin mati lampu kali ini, seumur-umur baru kali ini aku berharap mati lampu” Saga semakin suka menjahili Ganis.
“Tuuuuuan” Ganis menoleh ke sisi Saga, kini dia bisa dengan jelas melihat wajah Saga dari jarak yang dekat, hidung mancungnya, bibirnya, alisnya, tak bisa dipungkiri, laki-laki yang ada di sampingnya memang memiliki pesona.
“Kenapa? Kamu terpesona denganku? Kamu mulai jatuh cinta pada suamimu?” Saga menoleh, mereka beradu pandang.
Suara jangkrik di luar terdengar riuh dan saling bersahutan, tak hanya suara jangkrik, suara katak pun menambah suasanya menjadi berbeda.
“Terima kasih sudah mengajakku ke sini” Saga tersenyum manis ke arah Ganis. “Aku suka berada di sini, melepas segala kepenatan bekerja”
__ADS_1
“Sama-sama Tuan, oh ya besok aku ajak jalan-jalan keliling kampung, akan kutunjukkan tempat-tempat bermainku saat kecil dulu”
“Boleh”
“Tidurlah Tuan, sudah malam” Ganis menarik selimut, dia juga menyelimuti Saga dengan selimut yang sama.
Saga menatap Ganis lekat, gadis itu sudah memejamkan matanya, perlahan dia juga ikut memejamkan matanya. Tidak ada sekat di antara mereka karena tidak ada bendungan guling di antara mereka.
Apakah aku sudah merasa jatuh cinta padamu? Bahkan aku merasa ini sangat nyaman. Bisik Saga dalam hati.
Keesok paginya, Ganis mengajak Saga berjalan-jalan di kampung tersebut, dia mengajak Saga untuk merasakan lumpur sawah, membantu Bik Janah menyiangi rumput. Agak kerepotan awalnya, karena ini benar benar pengalaman pertama dalam hidupnya, Saga mencoba menikmati. Tidaklah buruk, meski kakinya terbenam lumpur, peluh membasahi tubuhnya, panas matahari membakar kulitnya yang bersih itu.
“Apakah masa kecilmu seperti ini?” tanya Saga menghentikan aktivitasnya, dia sudah menyerah, badannya terasa capek, wajahnya yang putih bersih pun kini menjadi berwarna merah karena kepanasan.
“Iya, bantu Ayah dan Ibu” jawab Ganis, dia berjalan menepi dan mencari aliran air untuk mencuci tangan dan kakinya, Saga mengikutinya. Kemudian mereka duduk di gubuk yang terletak di pinggir sawah. Saga merebahkan dirinya di atas dipan yang terbuat dari bambu.
“Tempat ini menyenangkan”
“Ya begitulah”
“Apa Tuan mau kuajak ke sungai?”
“Jauh?”
“Enggak kok”
Saga menyetujui tawaran Ganis untuk melihat sungai yang katanya bagus, tak lama setelah berjalan kaki sekitar 5 menit, mereka tiba di sungai yang tidak jauh dari tempatnya yang tadi, sungai tersebut nampak sangat jernih, bebatuan kecil maupun besar berada di sana. Persis dengan cerita yang Saga dengar dari Ganis maupun Bik Janah tadi malam. Ganis masuk ke dalam sungai dan memainkan air di sana, Saga ikut masuk ke dalam air.
Ganis menangkupkan kedua tangannya agar membentuk cekungan, lalu dia mengambil air dari tangannya, dan menyiramkannya ke wajah Saga. Saga yang terkejut lalu ikut melakukan hal yang sama dan menyiramkan ke arah wajah Ganis.
“Nih terima ini” Saga dengan cepat melakukannya, hampir seluruh badan Ganis basah karena guyuran air oleh Saga.
__ADS_1
“Tuan nggak boleh curang” Ganis mulai kelelahan.
“Loh siapa yang curang, kan kamu duluan yang mulai?” Saga belum menghentikan aksinya.
“Ampuun…aku kalah, oke Tuan yang menang” Ganis mengangkat tangannya, Saga menghentikan aksinya. Seluruh baju dan celana mereka berdua telah basah dengan air sungai, tapi wajah mereka nampak sangat bahagia.
Gadis biasa itu telah membasa suasana baru dalam hidup Saga, dia mendapatkan kebahagiaan yang belum dia dapatkan sebelumnya dalam hubungan dengan gadis lain.
Apakah aku mulai mengakui jika hubungan kita lebih dari sekedar sandiwara saja? Apakah aku kini telah menerima kamu sebagai istriku? Saga membantin, dia menggandeng tangan Ganis mengajaknya menepi.
“Apakah aku sudah jatuh cinta pada Tuan mudaku? Jika aku jatuh cinta padanya, lalu bagaimana jika waktunya tiba saat aku harus meninggalkannya sebentar lagi? Ganis menggenggam erat tangan Saga, memikirkan untuk berpisah saja terasa sakit batinnya. Ini terlalu indah untuk menjadi kenangan saja, akan tetapi dia juga tidak mau mengingkari perjanjiannya dengan Anaya.
Ganis membenahi rambutnya yang berantakan diterpa angin, mereka sedang duduk di atas batu di bawah pohon rindang, mereka mengamati pemandangan di sekitar sungai. Ada beberapa Ibu-ibu yang sedang memanfaatkan sungai untuk mencuci baju.
“Aku tidak ingin semua ini berakhir” Saga bergumam pelan, Ganis menoleh, ingin memastikan bahwa apa yang dia dengar adalah kenyataan.
“Kapan-kapan kalau Tuan mau, kita bisa kesini lagi” sahut Ganis, hatinya senang mendengarnya, tapi dia tidak mau terlalu percaya diri dengan mengartikan lain kalimat Saga tersebut. Mungkin saja hanya tidak ingin berakhir liburannya di sini, bukan yang lain.
“Begitu ya?”
Ganis mengangguk, senyumnya mengembang.
Sudah terlalu lama dan lelah Saga berkutat dengan pekerjaannya di kantor, liburan kali ini sungguh membuat otaknya kembali segar. Jika dulu Anaya selalu mengajaknya liburan ke luar negeri, tapi kali ini dia sangat menikmati liburan yang sederhana tapi sungguh pengalaman luar biasa yang dia dapatkan.
Author menepati janji, up 2 episode, terima kasih ya sudah membaca dan memberikan like dan vote.
**jangan lupa dukungannya selalu. Happy Reading ^^ **
__ADS_1