Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 59 : Ada Cinta


__ADS_3

Ganis berada di kamarnya, keadaannya masih sama, demamnya masih tinggi. Tadi pagi dokter mengatakan jika dia masih harus beristirahat total, dokter mendiagnosa dia terkena demam berdarah dan juga kecapekan. Dini pamit pagi tadi untuk pulang ke rumah, tinggalah Ganis sendirian di kamar perawatan yang mewah itu.


Ceklek…


Seseorang yang sangat dikenalnya memasuki ruangan dengan wajah khawatir, Ganis terkejut melihatnya. Dari mana dia tahu jika dia sedang sakit? Dia selalu muncul di saat dia berada di ranjang rumah sakit.


“Kamu kenapa lagi?” ujarnya sambil meletakkan keranjang parcel berisi buah di atas meja.


“Mas Radian apa kabar?” Ganis menyambutnya dengan senyuman.


“Kamu yang apa kabar? Kenapa lagi kamu?” tanyanya mengulangi, dia menggeret kursi dan meletakkan di dekat ranjang agar dia bisa berkomunikasi dengan Ganis.


“Aku baik-baik saja Mas” jawab Ganis masih dengan posisi berbaring, dia belum sanggup untuk duduk.


“Kalau kamu baik-baik saja, kita nggak akan mungkin bertemu di rumah sakit lagi”


“Demam berdarah mas” jawab Ganis.


“Hiiish…”


“Mbak Aziza mana mas?”


“Dia di rumah mertua, tidak bisa ikut, kondisinya tidak memungkinkan”


“Sakit?”


“Bukan…”


“Hamil?” Ganis menebak. Radian mengangguk.


“Aih…senangnya, sebentar lagi aku punya keponakan” Ganis tersenyum kembali. Radian terlihat menampakkan ekspresi datar. Dia masih khawatir melihat Ganis terbaring lemah di ranjang.


“Aku minta maaf kemarin tidak bisa ke rumahmu saat Tuan Candra meninggal” sesalnya.


“Tidak apa-apa mas, doanya untuk Papa”


“Nis…” Radian menatap Ganis.


“Ya Mas?”


“Aku dengar…” Radian nampak ragu, dia melepas kacamatanya. Ganis mengerutkan dahi, menunggu Radian melanjutkan pertanyaannya.


“Jadi…kamu menikah dengan Saga karena…”


Ganis memejamkan mata, rupanya berita itu sudah sampai di telinga Radian.

__ADS_1


“Mas Radian tahu?”


Radian mengangguk.


“Apa Nona Anaya yang memberitahu”


Radian menggeleng, dia belum bercerita jika dia sudah tidak bekerja untuk Anaya. Dia sibuk membantu usaha yang dijalankan oleh mertuanya.


“Aku sudah tidak bekerja di sana, tapi entahlah aku harus mendengar berita tentangmu, dan entah mengapa pula aku peduli denganmu” Radian menggelengkan kepalanya.


“Apa yang mas pikirkan tentang aku sekarang?” tatapan mata Ganis menerawang, dia sendiri kecewa dengan dirinya.


“Tidak ada yang salah, aku pikir aku berada di pihakmu” Radian membela. Bukan salah Ganis sepenuhnya jika dia melakukan perjanjian itu dengan Anaya, mengingat keadaan Ganis yang begitu terpojok. “Jadi…kamu menikah dengan Tuan Saga hanya karena surat perjanjian?”


Kepalang basah, mungkin itu juga yang membuat Tuan Candra shock berat. Rasa bersalah kembali menghantui pikirannya.


“Jadi bagaimana sekarang? Bukankah sudah 6 bulan?”


“Tidak tahu mas” Ganis putus asa. Harusnya dia bahagia karena perjanjian itu berakhir, tepat 6 bulan mereka bersama, dan jika merujuk pada perjanjiannya dengan Anaya. Dia akan memutuskan untuk berpisah. Hatinya terasa sakit memikirkan hal itu, ada yang memberatkan hatinya.


“Apa kamu sudah jatuh cinta padanya?” Radian kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Ganis tidak berkutik. Ganis terdiam, rasanya dia ingin menangis mendapatkan pertanyaan tersebut, tidak salah Radian menebak. Yang membuat hatinya berat adalah hatinya, hatinya mulai tidak bisa netral dengan keadaan. Dia mulai jatuh cinta dengan Saga.


Laki-laki yang sejak awal ingin dia jauhi, tidak munafik dia ingin perjanjian itu segera berakhir. Namun kini setelah tepat 6 bulan, dengan berbagai kejadian yang dia lewati, dia merasa tidak bisa melepaskan Saga.


“Aku terlalu lancang jatuh cinta…” Ganis mengela nafas, menahan air matanya yang sudah antri untuk keluar dari sudut matanya.


“Semoga kamu mendapatkan jalan yang terbaik, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik”


“Terima kasih Mas” Ganis berhasil membendung air matanya.


“Kamu mau aku kupasin apel?” tanya Radian, tangannya membuka plastic yang membungkus buah-buahan tersebut.


“Boleh”


Radian mengupas apel untuk Ganis, melihat kejadian tersebut, spontan ingatan Ganis kembali bernostalgia pada Saga saat itu, saat mengupaskan apel untunya.


Apakah dia tidak tahu jika aku sakit? Batinnya pilu.


“Ini” Radian mengulurkan sepiring kupasan buah apel yang sudah dia letakkan di piring keramik itu.


“Terima kasih mas” Ganis mengambil potongan apel dan memakannya sambil berbaring.


Aku merindukanmu… Teriak Ganis dalam hati sambil membayangkan wajah Saga


***

__ADS_1


Saga memutuskan panggilan seketika saat Dini mengabarkan jika Ganis dirawat di rumah sakit. Sekertaris Li melihat Saga dengan tatapan heran.


“Pak Li…”


“Iya Tuan?”


“Lanjutkan apa yang menjadi bagianku, aku harus pulang”


"Tapi Tuan..." sekertaris Li agak keberatan karena bukan kapasitasnya.


"Pak Li pasti bisa, jika ada yang menyulitkan, hubungi saya"


Sekertaris Li mematung sejenak, jika tidak ada hal yang sangat penting maka Saga tidak akan pulang secepat ini.


“Baik Tuan, akan saya urus penerbangan Tuan sesegera mungkin” sekertaris Li segera meninggalkan Saga di tempatnya menginap dan menyiapkan segala keperluan Saga untuk pulang.


            Saga mendapatkankan jam penerbangan pagi seperti rencananya, dia mampu menyembunyikan rasa cemasnya pada wajahnya. Dalam hati dia sangat mengkhawatirkan keadaan Ganis.


Sesampainya di bandara, Saga langsung dijemput oleh salah satu sopir pribadinya menuju rumah sakit di mana Ganis di rawat. Saga mengenakan pakaian santai dan juga kacamata hitam serta mengenakan masker agar tidak terlihat mencolok.


Tidak perlu bertanya pada resepsionis, karena Saga sudah bertanya pada Dini di mana Ganis dirawat. Dia sampai di lantai 4 di mana Ganis dirawat. Dia berjalan melihat nomor yang tertera di pintu kamar, dibacanya sekilas. Tibalah dia di depan kamar dengan nomer 407. Tidak lekas masuk, Saga menghentikan langkahnya saat melihat sesaat dari balik pintu yang ada celah kacanya. Ganis sedang terbaring sambil berbincang dengan seseorang.


Tangan Saga yang semula memegang gagang pintu, kembali diturunkan. Dia sangat mengenal laki-lai yang sedang duduk di kursi dekat ranjang Ganis.


Saga mengepalkan kedua tangannya sebelum meninggalkan tempat itu. hatinya berkecamuk, rindu yang sebenarnya dia pendam tak urung bisa menemukan ruangnya. Orang yang dia rindukan terlihat bahagia tanpanya, setidaknya itu yang dia rasakan dan dia lihat.


Apakah dia benar-benar tidak mencintaiku?


Apakah semua ini hanya harapanku saja?


Saga menapaki lantai menuju lift, dia kembali mengenakan kacamata hitamnya. Ada 2 orang yang ada di dalam lift, mereka bergeser saat Saga memasuki lift, memberikan ruang untuknya.


Lampu tiba-tiba padam, Saga memejamkan mata, melepas kembali kacamata hitamnya agar tidak terasa semakin gelap. Saga mencoba menguasai ketakutannya dengan menghela nafas panjang lalu menghembuskannya, begitu dilakukan berulan-ulang. Bagaimana lift itu tiba-tiba macet.


Kejadian ini tidak asing baginya, ingatannya kembali pada gadis yang sedang terbaring sakit, jika dulu dia terjebak berdua dan Ganis berusaha menenangkannya, kini tidak, dia sedang merasa sendiri meskipun ada teman yang ada di dalam. Saga sengaja tidak mengeluarkan HPnya, dia mencoba belajar menguasai ketakutan pada gelap dengan dirinya sendiri.


Untung saja kemacetan lift segera teratasi hanya dalam tempo waktu 5 menit, Saga keluar dari lift dengan wajah sedikit tegang, tapi dia bersyukur bisa keluar sesegera mungkin dari kegelapan yang membuat nafasnya tersengal, entah karena gelap atau entah karena tanpa ada orang yang bisa menggenggam tangannya.


Saga meraih HP dari saku celananya,


“Iya…ketemu di kafe A”


Saga menutup pembicaraan dan menuju tempat yang dia maksud.


Adakalanya seseorang bertahan bukan karena dia bodoh, Hanya karena ada sesuatu yang belum terselesaikan...

__ADS_1


Terima kasih para readers yang baik hati sudah memberikan vote, like, dan hadiah...^^ ayo tetap vote dan like ya....Happy Reading


__ADS_2