
Ganis keluar dari ruang ganti, gaun panjang menjuntai berwarna putih sudah membalut tubuhnya, terlihat sangat sempurna. Saga terpana saat pertama kali melihat Ganis berdiri di depannya dengan gaun pengantin tersebut.
“Bagaimana Mas?” tanya Ganis, rambutnya masih terurai. Saga tersenyum sambil mengangkat jempolnya.
“Sempurna” ucapnya. Ganis tersipu malu.
Setelah mantap memilih gaun tersebut, gentian Ganis yang menunggu Saga fitting jas pengantin. Setelah mantap menentukan pilihan masing-masing, mereka berpindah ke tempat yang lain.
“Kita kemana lagi Mas?” tanya Ganis sambil berpegangan di lengan Saga.
“Cincin” ujar Saga singkat.
“Um?”
“Kenapa lagi Nona cantik?”
“Aku kan sudah pakai cincin?” Ganis mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin berlian yang ada di jarinya.
“Itu kamu, aku gimana? Kita harus punya cincin yang sama setelah pesta pernikahan ini, biar semua tahu jika kita benar-benar sudah menikah, biar tidak ada orang yang menganggap kamu aneh-aneh lagi”
“Seserius itu”
“Iya lah, aku tidak mau istriku direndahkan orang lain”
“Ehm…terus nasib mereka jadinya bagaimana Mas?” Ganis penasaran.
“Ya sama saja, aku tidak mau mereka magang di perusaanku manapun”
“Hah?”
“Iya, sebenarnya kasihan, apalagi Papanya kemarin datang, ternyata Pak Wiyana itu pimpinan anak cabang perusahaan, orangnya baik dan loyal sekali, tapi ya bagaimana juga…aku sudah ambil keputusan yang terbaik”
“Sayang sekali, tapi memang begitu ya Mas, jika magang di perusahaan Mas itu sudah menentukan karir bakal bagus?” Ganis ingin memastikan sekali lagi.
“Kata orang sih begitu, makanya aku selalu bilang jangan sia-siakan kesempatan, rugi nanti. Kalau mereka tidak berbuat aneh-aneh, maka aku juga tidak akan semena-mena” ujarnya panjang lebar. Ganis mengangguk-angguk memahami.
“Suamiku keren” Ganis mengangkat jempolnya, Saga mengulum senyumnya. Hal ini dia pelajari dari Tuan Candra semasa hidup dan memimpin Arjuna Group.
***
Beberapa anak kecil laki-laki dan perempuan dengan kisaran umur 9 tahunan keluar menyambut kedatangan Saga dan Ganis. Mereka berebut tangan Saga dan Ganis untuk bersalaman.
Ganis tersenyum melihat keberadaan mereka yang sangat antusias menyambut kedatangannya.
“Gantian, jangan berebut” ucap seorang wanita dari dalam saat melihat anak-anak berkerumun.
“Aku kangen sama om tampan” celetuk seorang anak perempuan berkuncir dua dengan nada menggemaskan. Saga menunduk ke gadis kecil itu.
“Masa?” tanya Saga gemas sambil menowel pipi gadis itu. anak kecil itu mengangguk sambil memperlihatkan deretan giginya, wajahnya sangat ceria.
__ADS_1
“Sudah lama om tidak kesini” protesnya. Saga masih menunduk, kali ini dia mengambil alih tubuh gadis kecil yang ada di depannya, lalu mengangkat tubuh mungil gadis itu. gadis itu nampak sangat senang mendapatkan perlakuan dari Saga. Ganis memperhatikan momen tersebut.
"Disya sudah mandi belum?" tanya Saga, gadis kecil menggemaskan itu bernama Disya.
Sebuah rumah dengan halaman yang sangat luas, ada beberapa mainan khas anak-anak di sana. Tulisan “Panti Asuhan Kasih” terpampang di depan rumah bercat hijau tersebut.
Seorang wanita yang dari tadi berada di pintu segera turun dari anak tangga menuju Ganis dan Saga. Wanita tersebut tersenyum ramah. Ganis menyalami wanita tersebut.
“Istrimu?” tanya wanita tersebut pada Saga yang masih menggendong gadis kecil tadi.
“Perkenalkan, saya ibu panti di sini”
“Oh…salam kenal Bu, nama saya Ganis”
“Iya, istriku Bu” Saga menambahkan. “Maaf baru sempat mengajaknya kesini”
“Tidak apa, Ibu tahu kamu sangat sibuk dengan pekerjaanmu, cantik sekali” pujinya.
“Saya Fatimah, bisa dipanggil Ibu Fatimah”
“Baik Bu” jawab Ganis ramah.
Gadis kecil tadi merangsek minta turun dari gendongan Saga, Saga perlahan menurunkan gadis tersebut. Gadis tersebut kemudian lari dan bergabung dengan teman-temannya di taman bermain. Mereka nampak bahagia bersama.
“Mari masuklah” ujar Bu Fatimah.
“Terima kasih Bu”
Saga tidak menceritakan sebelumnya jika akan mengunjungi panti asuhan tersebut sebelumnya.
“Sebentar, saya ke belakang dulu, tadi ada yang harus saya selesaikan”
“Iya Bu” balas Saga.
Ganis dan Saga berada di ruangan yang tidak ada kursinya, di tembok banyak menempel gambar-gambar karya anak-anak. Ganis memperhatikan satu per satu.
“Mas, apakah ini Yayasan milik Mas?” Ganis penasaran.
“Iya, beberapa tahun lalu Mama yang berinisiatif mendirikannya”
“Mas tidak pernah cerita sebelumnya?”
Saga tersenyum kecil, dia melihat sebuah gambar rumah dengan cat warna biru yang menempel di tempot di depannya. Ada tulisan nama Habibi di pojok kanan gambar tersebut.
“Tidak perlu cerita juga, kan ini kamu sudah aku bawa kesini”
Ganis tersenyum, sama sekali tidak menyangka jika keluarga Saga juga mendirikan sebuah panti asuhan.
“Aku suka anak-anak, tahu jika ada panti asuhan, saat aku menganggur di rumah, aku bisa kesini bersama anak-anak yang ada di sini”
__ADS_1
“Besok-besok kamu bisa melakukannya” Saga senang, ternyata Ganis memiliki keinginan yang tulus pada anak asuhnya.
“Ayo diminum dulu ini tehnya” Bu Fatimah membawa baki berisi dua gelas teh hangat, Ganis membantu Bu Fatimah dengan mengambil alih baki tersebut.
Mereka kembali ke ruang tamu, Ganis meletakkan teh tersebut di atas meja. Saga berjalan mendekati jendela, pandangannya tertuju pada anak-anak yang sedang bermain bersama dengan tawa ceria mereka.
“Apakah semua baik-baik saja, Bu?” Saga masih fokus melihat anak-anak bermain.
“Alhamdulillah, semua baik-baik saja”
Saga tersenyum senang.
“Kemarin ada kedatangan satu lagi”
“Oh ya?”
“Iya, bayi baru lahir, ditinggalkan di sekitar komplek sini”
Ganis tercengang mendengar penuturan Bu Fatimah, dengan mudahnya seorang Ibu membuang bayi yang sama sekali tidak bersalah.
“Tidak ada surat atau tanda lainnya, setelah perdebatan panjang, akhirnya polisi membawanya kesini”
“Urus dengan baik Bu, semoga kelak mereka menjadi anak-anak yang sukses” harap Saga, kini dia membalik badannya, duduk di kursi rotan di samping Ganis.
“Aminnn” ujar Bu Fatimah dan Ganis hampir bersamaan.
Saga meraih gelas berisi teh hangat, tangannya membuka tutup gelas tersebut, menyesap teh hangat yang masih mengepul asapnya. Lalu meletakkan kembali di atas meja.
“Oh ya, perkenalkanlah istrimu, biar kita lebih akrab” pinta Bu Fatimah.
“Bu…bolehkan kapan-kapan saya kesini bertemu anak-anak?”
Mendengar pertanyaan dari Ganis, senyum sumringah Bu Fatimah mengembang. Dalam hatinya dia sangat senang melihat Saga mempunyai istri seperti Ganis.
“Boleh sekali Ganis, anak-anak pasti sangat senang”
“Iya Bu, akan saya agendakan” Ganis tersenyum.
Panti asuhan yang dikepalai oleh Bu Fatimah ini sudah menampung sebanyak ratusan anak yatim, Yayasan yang didirikan oleh Tuan Candra itu juga sangat bertanggung jawab dalam merawat semua anak-anak. Baik dalam kebutuhan sehari-hari maupun Pendidikan mereka.
Ganis salut dengan apa yang baru diketahuinya itu, Saga memang beda, tidak pernah berbicara banyak, namun aksinya membuatnya senang.
“Kita pulang dulu ya?” Ganis berdiri di antara deretan anak-anak yang menyambutnya tadi.
“Kok cepet?” tanya anak laki-laki dengan rambut lurus.
“Iya kok cepet pulangnya?” protes gadis berkepang dua.
“Iya, besok-besok om dan tante akan kesini lagi” ujar Bu Fatimah.
__ADS_1
“Iya” imbuh Saga
Rasa bahagia yang dirasakan Ganis saat bertemu dengan anak-anak adalah salah satu obat bagi ketentraman hidupnya, sama sekali tidak menyangka jika Saga dan keluarganya memiliki yayasan yang sangat mulia.