
Ganis ingin menangis sejadi-jadinya dengan situasi yang baru saja dia terima. Anaya nampak sedang tidak bercanda dengan apa yang diutarakan. Ganis menatap Anaya nanar.
“Nona….” Ganis mengiba.
“Ganis, tidak berat menikah dengannya, hanya menikah, setelah 6 bulan sudah. Tugasmu usai, silahkan kamu bercerai”.
“Nona….” Ganis masih mengiba, berharap ini hanyalah sebuah lelucon belaka.
“Ada lagi tugas kamu, dan ini yang terpenting, buat dia jatuh cinta sama kamu, terserah bagaimana caranya, setelah itu tinggalkan dia”
“Nona…saya tidak bisa” Ganis mulai menolak.
“500 juta kembalikan” Anaya mulai mengancam. Ancaman ini membuat Ganis tidak tidak bisa berkutik. Tidak ada pilihan lagi bagi Ganis, dari mana dia akan mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat?
“Sudah lah, ini mudah, kamu datang, menikah dan buat dia jatuh cinta padanya, lalu tinggalkan”
“Tapi kenapa harus seperti ini Nona, bukankah kalian saling mencintai, dan Nona adalah wanita paling serasi jika bersanding dengan Tuan muda Saga?”
“Tahu apa kamu tentang semua ini, kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupku” urai Anaya mulai menerawang, matanya berkaca-kaca, membuat Ganis semakin tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“Aku berjuang sendirian dari kecil sejak kedua orang tuaku meninggal, keadaan perusahaan yang kolaps gara-gara ulah orang yang tidak punya hati dan perasaan. Kamu tidak tahu apa-apa tentang semua ini Ganis”
“Nona…maaf” Ganis meminta maaf membuat Anaya mulai meneteskan air mata, dengan segera Ganis menulurkan tisu untuk Anaya.
__ADS_1
“Sudah, kamu tanda tangani, selanjutnya kita bertemu jika aku memintamu bertemu, setelah ini silahkan ambil semua barang-barangmu dan tinggalah di hotel hingga pernikahan tiba”
“Bagaimana dengan tuan muda?”
“Nanti aku yang urus”
“Saya tidak yakin dengan semua ini Nona”
“Apa kamu ingin melihatku Bahagia? Lakukan!” nada suara Anaya meninggi.
Dengan tangan bergetar, Ganis menandatangani perjanjian yang telah dibuat oleh Anaya. Entah benar atau tidak dengan hal yang dia lakukan ini, hanya saja dia berada di situasi yang membuatkan kebingungan. Di satu sisi, dia melihat Anaya tersiksa karena ada hal yang tidak bisa dia ketahui, di sisi lain jika dia menolak, maka dia harus mengembalikan uang 500 juta, dan yang paling berat adalah menghadapi Saga. Ya, lelaki aneh menurut Ganis. Lelaki yang menurutnya hanya serasi jika menikah dengan Anaya. Apa jadinya jika dia yang menjadi istri dari Saga, meskipun hanya 6 bulan. Saga yang begitu “Bucin”nya dengan Anaya, dan tugas Ganis harus membuat Saga jatuh
cinta padanya. Ganis menarik nafas panjang sambil menahan air matanya.
“Lalu apa kabar dengan aku?” teriak Ganis dalam hati, hanya saja dia tidak berani menyampaikan secara gamblang, dia sangat menghormati dan menghargai Anaya, Anaya masihlah menjadi malaikatnya.
“Ganis, maaf jika apa yang aku lakukan ini jahat, tapi aku tidak punya pilihan, aku yakin kamu adalah orang yang tepat yang bisa menolongku” Anaya menatap mata Ganis lekat. Ganis semakin tidak memahami arah pembicaraan Anaya.
“Kamu tidak akan mengerti Ganis, tapi mari kita lakukan perjalanan ini dengan baik, suatu hari kamu akan mengerti dengan apa yang aku lakukan ini” Anaya meyakinkan.
Sesampainya di rumah Anaya, rumah yang menjadi tempat tinggalnya selama kurang lebih satu tahun, rumah yang dia rasakan sebagai tempat berlindung, dan Anaya sebagai malaikat yang berbaik hati padanya. Kini dia merasakan berada di suatu keadaan yang sama sekali tidak bisa dia deskripsikan. Tangan Ganis mengambil pakaian satu per satu dari lemarinya, dan memindahkan ke dalam koper warna hitamnya. Tak perlu waktu lama, barang sudah tertata rapi dalam koper. Ganis menerawang melihat seisi kamar yang dia tempati tersebut.
“Terima kasih sudah menjadi tempat aku berlindung selama ini” ujarnya perlahan, seolah kamar tersebut mendengar suara perpisahannya. Ganis menarik kopernya dan membuka pintu kamarnya, nampaknya Anaya sudah menunggu di lantai bawah.
__ADS_1
“Kamu sudah siap? Pak Maman akan mengantar kamu ke hotel. Pak Maman adalah salah satu sopir Anaya.
“Ingat perjanjian kita Ganis, kamu menikah dengan Saga, buat dia jatuh cinta, lalu tinggalkan dia”
Ganis mendekat ke arah Anaya, mereka berhadapan sekarang.
“Nona…saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, saya berada di posisi yang saya tidak mengerti sekarang, tapi…saya akan melakukan apa yang Nona inginkan. Dan….terima kasih Nona sudah menjadi orang baik selama ini buat saya” Ganis membuka percakapan.
Anaya sedikit terhenyak dengan ucapan Ganis, sejatinya dia merasa tidak pantas dianggap sebagai orang baik oleh Ganis.
“Pak Maman akan mengantarmu, aku akan menghubungi kamu sewaktu-waktu, tapi kita tidak akan bertemu”
“Iya Nona” Ganis mengangguk, lalu keluar dengan menarik kopernya. Tidak ada salam perpisahan, tidak ada pelukan perpisahan. Anaya yang dia rasa baik, Anaya yang menjadi pelindungnya selama ini seolah berubah menjadi orang asing.
Kamar hotel dan seisinya yang begitu mewah, tidak bisa menenangkan isi hati Ganis. Ganis meletakkan kopernya begitu saja di salah satu sudut ruangan. Langkahnya perlahan mendekati ranjang, lalu melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Memejamkan mata, ingatannya Kembali pada wajah yang meneduhkan, yaitu wajah Ibunya. Teringat pula masa-masa kecilnya di rumah, cita-citanya. Segala hal masa lalu melintas begitu saja di kepala Ganis saat ini. Dia merindukan masa-masa semua itu, masa yang tenang bersama orang yang dia sayangi.
“Ibu…aku tidak membenci Ibu dengan sakit Ibu, yang membuat aku berhutang pada orang lain, aku hanya rindu Ibu. Andai ada Ibu di sini, semua akan baik-baik saja” bisik Ganis seolah berbicara dengan Ibunya, air matanya mulai meleleh membasahi pipinya. Kini dia merasa sangat lelah dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan, sama sekali. Dia menangis sejadi jadinya, mata indahnya dibiarkan sembab oleh derasnya air mata yang mengalir. Hanya dengan menangis dia bisa mengeluarkan luka hatinya, hanya dengan menangis dia merasa baik-baik saja, hanya air mata yang menjadi temannya saat ini. Sambil memohon kepada Tuhan, jika semua ini adalah mimpi buruk semata.
Keesokan harinya, Selepas maghrib, Anaya memberikan perintah agar Ganis segera meninggalkan hotel, seprti kerbau yang dicocok hidungnya, Ganis hanya bisa bilang “iya” dan menuruti apa yang dikatan Anaya. Selepas merapikan barang-barangnya, Ganis menuju lobby hotel dan menunggu Pak Maman. Ternyata Pak Maman sudah berada di lobby hotel juga. Pak Maman membantu Ganis membawakan kopernya menuju mobil yang akan membawanya ke rumah Saga.
Mendung menggelayut di langit yang mulai menggelap karena malam, pekat dan gelap, layaknya hati Ganis saat ini. Mata Ganis menerawang menyaksikan kendaraan lalu Lalang dari dalam mobil yang dia tumpangi, tidak ada percakapan di antara dia dan Pak Maman. Ganis hanya sibuk Menyusun kata saat tiba di rumah Saga nanti, kiamat apa yang akan terjadi di sana dengan keberadaannya di malam sebelum pernikahan.
__ADS_1
aku doble_inhari ini, karena besok tidak bisa up. eh tapi siapa juga yang nungguin yak? hehehe....