Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 101 : Hadiah


__ADS_3

Ganis tertawa terbahak-bahak saat melihat isi dalam kotak kado tersebut, Saga melihat istrinya heran. Apanya yang


lucu? Begitulah kira-kira yang ada di pikiran Saga.


Ganis mengambil salah satu daster berwarna kuning dengan gambar sponge bob, masih sama, tidak jauh-jauh dari


kartun favorit suaminya.


“Mas…” Ganis hampir tersedak.


“Lucu kan?” ujarnya percaya diri bahwa Ganis akan menyukainya. Ganis mengangguk masih dengan tawanya,


seumur-umur baru kali ini dia punya baju dengan motif sponge bob, kartun yang hampir tidak pernah dia tonton. “Kita bisa kembaran, kamu pakai daster itu aku….” Saga masih menahan kalimatnya.


“Kolor sponge bob” Ganis melanjutkan, tawanya semakin meledak.


Saga melihat istrinya sekencang itu tertawa.


“Nah kan, itu pasti lucu banget” imbuh Saga.


Tidak hanya satu, ada beberapa lagi daster lengan pendek dengan motif sponge bob dan kawan-kawannya dengan warna yang berbeda. Entah ide darimana itu,


"Pakai lah" Saga memerintah, Ganis berhenti tertawa, pipinya terasa sakit.


Saga masih melanjutkan menonton televisi, sementara Ganis kembali ke kamar mandi untuk mencoba salah satu daster hadiah dari Saga. Ganis mengambil daster warna kuning, memang lucu meskipun sedikit aneh baginya, karena selama ini dia jarang mengenakan baju dengan motif kartun.


"Nah kan, lucu dan cocok buat istriku yang manis dan cantik" seru Saga saat melihat Ganis sudah kembali dari kamar mandi.


"Terima kasih ya Mas kadonya, nanti kalau perutku sudah membesar, ini bakalan jadi baju favorit" balas Ganis.


Ini adalah hari terakhir mereka liburan, besok mereka akan pulang.


"Kamu tidak ingin jalan-jalan lagi?" tanya Saga. Ganis menggeleng, kakinya terasa pegal karena seharian mereka sudah menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan.


"Kamu capek ya? sini aku pijitin" tanpa menunggu persetujuan, Saga menarik kaki Ganis yang menjuntai di lantai, dia meletakkan kedua kaki Ganis di pangkuannya dan memijit perlahan.


Terkadang Saga memang suka melakukan sesuatu yang sama sekali tidak bisa ditebak, contohnya hari ini. Sebuah kado yang sama sekali tidak terpikirkan olehnya, sisi romantis yang memang tidak memenuhi jiwa Saga, namun bagi Ganis, Saga lebih dari itu.

__ADS_1


Tidak lama, Ganis tertidur. Saga tersenyum melihat wajah Ganis yang tenang dan mungkin dia sudah bermimpi indah sekarang. Saga masih memijit kaki Ganis perlahan.


Setelah dirasa cukup, Saga menghentikan aktivitasnya. Memindahkan kaki Ganis di sofa, hal tersebut dilakukan dengan sangat perlahan agar Ganis tidak terbangun. Setelahnya Saga mengangkat tubuh Ganis dan memindahkannya ke ranjang, Saga menyelimuti tubuh istrinya.


***


Nyonya Rima sudah bersiap di teras rumah sambil menikmati secangkir teh hangat. Saga memberi tahu jika sore ini akan tiba. Tidak berjumpa dengan Saga dan Ganis beberapa hari membuatnya merindu. Tidak lupa Nyonya Rima memina Marni masak banyak hari ini untuk menyambut kedatangan Saga dan Ganis.


Sebuah mobil memasuki halaman yang luas, Nyonya Rima meletakkan cangkir putih kecil itu kembali ke atas meja. Dia segera berdiri, tak lama Saga keluar dari mobil, diikuti Ganis. Nyonya Rima menghela nafas lega melihat anak-anak tiba di rumah dengan selamat.


Nyonya Rima merentangkan kedua tangannya, Saga memluk Mamanya diikuti Ganis.


Dini dibantu Isnan menurunkan barang-barang yang ada di mobil, sementara Saga dan Ganis masih berbicang kecil dengan Nyonya Rima.


"Mama senang melihat kalian tiba kembali ke rumah dengan keadaan sehat" urainya dengan wajah senang.


"Ganis kangen Mama"


"Sama..." balas Nyonya Rima. "Oh...mandilah dulu, nanti kita ngobrol lagi" perintah Nyonya Rima, Ganis mengangguk patuh.


Ganis dan Saga segera naik ke lantai 2, di kamarnya. Saga membanting dirinya di atas sofa, Ganis melepaskan tas selempangnya dan meletakkan di meja, melepas jam tangannya juga. Setelahnya dia bersiap masuk kamar mandi.


Setelah Ganis masuk kamar mandi, Saga bangkit dari sofa, dia mendekat ke arah pintu balkon, dia menarik gorden yang menutupinya, lalu dia membuka pintunya, ain sore menyeruak masuk. Memenuhi ruang kamarnya yang sengaja belum dia nyalakan ACnya.


Saga beralih ke balkon, duduk di kursi rotan, menikmati langit sore yang mulai memerah karena senja. Sesekali dia memejamkan matanya.


Ganis dan Saga segera turun dari kamarnya untuk makan malam bersama, Nyonya Rima juga baru sampai di ruang makan. Meskipun Saga dan Ganis nampak lelah, mereka tak henti memancarkan aura bahagia.


"Nih, Mama sengaja minta Mbak Marni masak nasi liwet kesukaan kalian, khusus untuk kalian berdua" ujar Nyonya Rima, meja makan hampir penuh dengan berbagai menu.


"Mama tahu saja kalau aku menginginkan ini" timpal Saga. Ganis segera mengambil piring Saga dan mengambilkan nasi untuk Saga. Tiba giliran dia ingin mengambilkan Nyonya Rima, namun Nyonya Rima menolaknya.


"Tidak usah, itu kamu buruan makan yang banyak, nanti Mama ambil sendiri" ujarnya sambil mengembangkan senyum.


Tidak ada percakapan saat mereka makan, mereka benar-benar menikmati  makan malam bersama ini. Hingga akhirnya mereka berhenti karena kenyang.


"Harusnya kemarin Mama ikut liburan kami" urai Ganis setelah dia mengelap mulutnya dengan tisu.

__ADS_1


"Jangan lah, kalian perlu liburan berdua"


"Sayang...." seru Saga sambil mengedipkan mata. Memberikan kode pada Ganis. Ganis melihat ke arah Saga, sejenak dia terdiam belum mengerti maksud Saga.


Ganis masih saja belum paham, Saga mendekatkan wajahnya ke Ganis dan membisikkan sesuatu ke Ganis.


"Tunjukkan ke Mama" bisik Saga.


"Oh" Ganis mengangguk kecil, tangannya merogoh saku bajunya dan mengambil sesuatu.


"Ma..." seru Saga, lalu dia mengambil nafas perlahan. Nyonya Rima melihat Saga.


Dengan perlahan Ganis mengulurkan sebuah tespack ke arah Nyonya Rima. Nyonya Rima yang kebingungan melihat ke arah Ganis dan Saga bergantian, tangannya menerima benda tersebut. Lalu membacanya, terdapat tulisan "yes" pada benda tersebut.


Nyonya Rima tidak berkata apa-apa, dia menatap nanar benda tersebut, lalu dia kembali melihat Saga dan Ganis. Saga mengangguk memastikan.


"Jadi....doa Mama ketika ulang tahun kemarin akan segera terkabul?" mata Nyonya Rima berkaca-kaca, dia nampak sangat terharu.


"Iya Ma" timpal Ganis.


Nyonya Rima bangkit dari kursinya, mendekat ke arah Ganis. Ganis ikut berdiri, Nyonya Rima memeluk Ganis erat.


"Mama akan jadi nenek" ujar Nyonya Rima masih memeluk Ganis, dia mengelus punggung Ganis lembut. Ganis mengangguk.


Saga melihat dua wanita yang sangat dia cintai sama-sama sedang menuangkan isi hatinya, nampak sangat damai baginya. Mereka berada di situasi yang sangat membahagiakan.


"Sudahkah kalian ke dokter?" tanya Nyonya Rima setelah dia melepas pelukannya. Ganis dan Saga saling menatap, karena tentu jawabannya adalah belum. Ganis menggeleng.


"Dan kalian kemarin naik pesawat?" Nyonya Rima menyiratkan kekhawatiran saat Ganis menggeleng menjawab pertanyaannya tadi. "Segeralah ke dokter besok" ucapnya.


"Iya Ma" balas Saga dan Ganis hampir bersamaan.


Nyonya Rima kembali tersenyum, dalam hatinya berdoa agar janin yang dikandung baik-baik saja, dan semuanya berjalan dengan lancar. Ini adalah salah satu hadiah terindah dalam hidupnya.


 


 

__ADS_1


Terima kasih yang sudah memberikan vote rekomendasinya, hari senin nih...yang belum vote bisa vote, biar bisa nembus 200 besar. hehe....


__ADS_2