Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 66 : Aku...


__ADS_3

Beberapa kali Saga nampak tidak berkonsentrasi di ruang meeting, klien menjelaskan proposal proyek yang akan segera dilaksanakan, beberapa kali pula Saga mengulang pertanyaan yang sama.


Sekertaris Li yang ada di samping Saga sedikit curiga dengan Saga, tidak biasanya Saga tidak fokus dengan pekerjaan.


“Apakah Tuan baik-baik saja?” sekertaris Li menoleh ke arah Saga.


“Berapa lama lagi ini akan usai?” tanya Saga berbisik, beberapa kali dia melihat jam tangannya, dirinya sedang tidak tenang. Dia ingin segera pulang.


“Satu paparan lagi Tuan”


“Baik lanjutkan” perintah Saga.


“Baik Tuan”


Meeting selesai satu jam kemudian, Saga menggelengkan kepalanya lalu keluar dari ruang meeting diikuti oleh sekertaris Li.


Saga membanting dirinya ke kursinya, sekertaris Li masih berdiri di seberang meja.


“Apakah Tuan ingin pulang lebih cepat?” sekertaris Li menangkap kegelisahan Saga. Saga memutar kursinya menghadap sekertaris Li.


“Iya Pak Li, saya akan segera pulang, masih adakah pekerjaan penting yang membutuhkan saya?” tanyanya memastikan.


Sekertaris Li menggeleng, “Tidak Tuan, silahkan jika Tuan ingin segera pulang, saya akan menyiapkan mobil”


“Oh tidak usah Pak Li, saya pulang sendiri saja, Pak Li selesaikan urusan kantor saja”


Sekertaris Li mengangguk, “Baik Tuan”


Saga segera berlalu keluar dari ruangannya, menuju lift khusus menuju basement kantor, tak butuh waktu lama, dia sudah berada di mobilnya, lalu perlahan dia keluar dari basement dengan mobilnya menuju rumah.


Sepanjang perjalanan, pikirannya sangat tidak tenang. Jawaban apa yang akan dia peroleh dari Ganis hari ini? Apakah gadis itu akan memutuskan benar-benar pergi?


Saga memijit kepalanya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan memegang kemudi. Dia melirik jam tangannya, jam menunjukkan angka 4. Dia juga sudah memastikan dari Dini jika Ganis sedang berada di rumah.


Ketakutannya tidak bisa dia uraikan, dia benar-benar takut jika Ganis akan pergi meninggalkannya.


Saga menghela nafas, dilihatnya jalan raya yang padat dengan frekuensi kendaraan yang rame. Dia sedang berhenti di lampu merah, kanan kiri ada beberapa pengamen jalanan yang sedang bernyanyi walaupun sumbang.


Tibalah pengamen tersebut berhenti di sebelah pintu kemudinya, Saga menurunkan kaca mobil, dan memberikan uang pada pengamen tersebut.


“Terima kasih Om” ujar 2 orang anak laki-laki dengan umur kisaran 10 tahun. Saga kembali menaikkan kaca mobil, dilihatnya lampu sudah hijau, dia berjalan perlahan membuntuti mobil yang ada di depannya.


Jalanan masih ramai, dia melihat ke kiri dan ke kanan, “Mie Nyemek Joglo”. Tulisan itu terlihat jelas di sebelah kirinya. Ingatannya kembali pada waktu itu, saat dia menikmati waktu bersama Ganis di sana.


            Rumah mewah itu terlihat lengang, Saga masuk ke dalam rumah, lampu sudah menyala karena hari hampir maghrib. Terdengar suara orang sedang berbicang dari samping rumah, Saga perlahan mendekat.


Dilihatnya Ganis sedang berada di sana bersama Nyonya Rima. Saga menampakkan dirinya, Nyonya Rima tersenyum senang melihat Saga datang. Nyonya Rima berdiri, lalu mendekat, memeluk putranya erat.


Rasa senang dan tenang menyusup dalam hati Saga, setidaknya satu kekuatan telah datang untuk membantunya menghalangi Ganis pergi.

__ADS_1


“Mama merindukanmu…” Nyonya Rima melepas pelukannya. “Kenapa wajahmu kusut?” Nyonya Rima mengelus rambut Saga. Saga tersenyum memandang wanita itu.


“Aku juga kangen Ma, Mama tidak pulang-pulang membiarkan aku merana” manjanya. Nyonya Rima tersenyum.


Ganis tersenyum melihat pemandangan yang sedang dilihatnya.


“Mandilah dulu” perintah Nyonya Rima.


“Iya Ma”


Sebelum beranjak meninggalkan mereka, Saga melirik ke arah Ganis. Gadis itu tepat menatapnya, dia menyunggingkan senyum untuk Ganis, gadis itu tersipu.


“Dia sangat berantakan, begitulah saat dia merasa frustasi, tapi dia hampir tidak pernah bercerita tentang isi hatinya padaku” ujar Nyonya Rima sesaat setelah Saga meninggalkan mereka.


“Ganis…seperti yang Mama katakan dan Papamu katakan dari awal, kami sangat menyukaimu” ungkap Nyonya Rima tiba-tiba, seolah sedang menyadarkan Ganis.


“Iya Ma” jawab Ganis singkat, wanita itu seperti menjadi oase di padang pasir. Menyegarkan dan sangat memberikan pencerahan.


“Maafkan Mama yang tidak berdaya kemarin-kemarin, sehingga kalian nampak susah”


“Tidak apa-apa Ma, Mama juga perlu menenangkan diri”


“Maafkan juga atas sifat Saga kemarin”


“Mama….”


Nyonya Rima tersenyum, “Sudah ayo masuk ke dalam, kita tunaikan kewajiban dulu” imbuhnya. Ganis mengangguk.


Tok…tok…tok…


Saga mengetuk pintu kamar Ganis, tak berapa lama Ganis membuka pintu. Dilihatnya Saga sudah sangat rapi dengan pakaian santainya. Ganis menaikkan alisnya.


“Ayo kita pergi” ajaknya, Ganis masih mematung di depan pintu. “Ayo ganti baju dan kita pergi” ujar Saga tanpa menunggu persetujuan Ganis, apakah gadis itu mau pergi atau tidak.


Ganis menutup pintu dan segera berganti baju, mengikuti perinyah Saga.


Mobil melaju perlahan menuju area parkir. Ganis melongokkan kepalanya ke samping. “Mie Nyemek Joglo”.


Saga membuka pintu mobil, sementara Ganis masih duduk di kursinya. Saga mendekati pintu Ganis dan membukakan pintu agar Ganis keluar.


“Ayo” ajaknya.


Ganis melihat area joglo yang sudah banyak orang sedang makan, itu artinya Saga sedang tidak membooking tempat itu. Saga meraih tangan Ganis, menggandengnya memasuki joglo tersebut.


Mereka duduk di meja dengan tulisan angka 1, Ganis meyakini jika Saga sudah memesan meja ini sebelumnya. Seorang pelayan langsung menyajikan anekan makanan di meja mereka.


“Tidak mau lama-lama, takut kamu lapar” ujar Saga, Ganis menyunggingkan senyum tipis.


“Makanlah, aku ingin makan di sini bersamamu”

__ADS_1


Selama makan, tidak ada percakapan di antara mereka, mereka sedang menikmati makanannya dan sedang menikmati perasaannya.


Saga akan mendengar jawaban Ganis malam ini juga, begitu juga Ganis akan mengatakan keinginannya.


    Live musik mulai terdengar, Saga merangsek maju ke arah penyanyi yang kata Ganis mereka adalah youtuber kesukaannya.


Ganis melihat arah Saga, “Mau apa lagi dia?” gumamnya pelan.


Saga berbisik kembali pada gitaris pria dan menyampaikan sesuatu, nampak gitaris itu mengangguk. Saga berdiri di depa mikrofon, melepas maskernya.


Nampak gitaris dan penyanyi terkejut melihat Saga, tidak menyangka jika laki-laki itu adalah Saga. Begitu juga orang-orang yang melihat.


“Cek..cek…” Saga mengecek suara di depan mikrofon. “Ehm…maaf, mohon perhatian” ujar Saga. Semua orang fokus melihatnya.


“Mohon untuk seseorang yang berada di meja 1”


Ganis menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak lain adalah dirinya, beberapa orang bersorak dan melihat ke arah meja nomor 1 yang ditempati Ganis.


“Mohon untuk maju ke sini” perintah Saga. Ganis masih terdiam.


“Maju…maju….” Teriak orang-orang yang ada di sana bersemangat.


Awalnya ragu, karena desakan dan teriakan banyak orang, Ganis menuruti perintah Saga, seorang penyanyi perempuan berambut panjang menjemput Ganis.


Dia kini sudah berhadapan dengan Saga, seolah pertunjukkan semakin seru, banyak pelanggan yang sedang makan di sana pun merangsek maju dan memperhatikan Saga dan Ganis.


“Maaf Bapak dan Ibu yang sedang berada di sini, saya menganggu waktu Anda semua, saya hanya ingin kalian semua menjadi saksi” ucap Saga sambil menatap Ganis yang sepertinya tidak percaya diri, dia terus saja menunduk, sesekali menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


“Saya ingin kalian jadi saksi bahwa saya benar-benar mencintai gadis yang ada di depan saya, saya ingin hidup bersamanya selamanya” ucap Saga to the point.


“Maaf, saya tidak bisa romantis, hanya ini yang bisa saya lakukan untuknya” ucapnya disambut teriakan dan tepuk tangan para pengunjung.


Saga mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna hitam dari saku kantong celananya, lalu dia berlutut di hadapan Ganis. Ganis semakin tersipu malu dibuatnya.


“Piuwiiit” terdengar salah satu pengunjung membunyikan mulutnya untuk menyoraki.


“Terima…terima…..” ucap mereka kompak.


Meskipun sudah menjadi suami istri, tapi Saga menyadari, dia kehilangan momen-momen seperti ini, sehingga dia memiliki ide untuk melakukannya, agar Ganis yakin jika dia serius.


Saga mengulurkan sebuah kotak yang dibuka, berisi satu cincin berlian yang sangat indah.


“Aku mencintaimu, aku ingin kamu tetap tinggal, tetaplah di sini. Berikan jawabanmu” pintanya masih sambil menunduk mengulurkan cincin. Saga menyunggingkan senyum, matanya penuh harap. Baru kali ini dia melakukan hal semacam ini.


“Aku mencintaimu” balas Ganis.


Semua orang bertepuk tangan ikut merasakan kebahagiaan.


Saga tersenyum senang, dia melepas cincin dari tempatnya dan memakaikannya di jari manis Ganis.

__ADS_1


 jangan lupa like dan vote, maaf baru up...baru sempat buka laptop. hehe


__ADS_2