
Jantung Ganis hampir saja keluar dari tempatnya, lelaki yang menepuk pundaknya, benar, dia Radian teman sekantor yang akrab saat dia masih bekerja dengan Anaya. Antara senang dan sedih melihat Radian di sini. Tentu saja akan banyak pertanyaan yang muncul nantinya. Apa yang harus dikatakan oleh Ganis nanti terkait dirinya, terkait Anaya.
“Hey, apa kabar?” Radian masih mematung di dekat meja Ganis. Ganis dengan wajah terkejut mencoba tersenyum.
“Mas Radian?”
“Kenapa? Kaget ya?” tanyanya terkekeh. “Boleh duduk?” tanya Radian.
“Oh silahkan”
“Terima kasih, nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini” Radian menarik kursi lalu duduk.
Ganis benar-benar berharap Radian tidak bertanya macam-macam.
“Kamu kemana saja? Sejak Bu Anaya ke Belanda, kamu tidak lagi muncul di kantor, aku kira kamu ikut Bu Ann ke Belanda”
“Oh…eng…enggak mas, aku…aku…ehm…jadi kemarin itu Nona memberikan pilihan, antara ikut kesana atau mencari kerja yang lain gitu” Ganis memberikan jawaban asal. Padahal dia juga tidak tahu sebenarnya Anaya benar-benar ke Belanda atau tidak. “Memangnya Nona belum kembali ke kantor?” Ganis penasaran.
“Belum, semua tugas dilimpahkan di wakil direktur, nampaknya bakalan lama Ibu perginya, entahlah, sepertinya dia sedang ada sesuatu” balas Radian. “Sepertinya dia juga tidak jadi menikah” ujarnya menyayangkan.
Ganis hanya mengangguk, pura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi. Berharap Radian segera berhenti membahas tentang semua hal yang berhubungan dengan cerita hidupnya. Dia belum menyiapkan alasan yang tepat.
“Oh ya, Mas Radian ada acara apa? Bukannya ini masih jam kantor?” Ganis penasaran.
“Sama pacarku” jawab Radian asal.
Deeegg……darah Ganis terasa berdesir, benarkah apa yang diucapkan oleh Radian. Ganis melirik ke kanan dan kiri, kali aja ada wanita cantik yang sedang berada di sekitarnya.
“ha..ha..ha, kenapa? Enggak kok, tadi ada meeting sama klien di luar, terus ini tadi mau balik, eh kok lihat seperti kamu, ya udah kesini deh, dan benar itu kamu, atau instingku memang tajam ya, sudah hafal betul bau kamu” Radian terkekeh, pipi Ganis sedikit memerah mendengar semua ocehan Radian. Laki-laki itu, laki-laki yang paling akrab dengannya, yang banyak membantu dia saat masih bekerja dengan Anaya. Laki-laki berkaca mata yang selalu baik, dan Ganis merasa Radian adalah laki-laki dewasa yang sangat pengertian.
“Eh kirain, kalau iya, seneng dong aku, dan aku bakal minta dikenalin” Ganis mencoba menghempas rasa terkejutnya, dalam hatinya dia senang ternyata Radian hanya bercanda.
__ADS_1
“Ehm…begitu ya? Nanti deh kalau Sudah ada bakal aku kenalin”
***
Sementara Saga baru saja selesai meeting dengan para klien penting di luar kantor, dia datang ditemani oleh sekertaris Li.
“Apa kita langsung kembali ke kantor Tuan?” tanya Pak Li. Dia mengekor di belakang Saga, Saga belum menjawab. Langkahnya mendadak terhenti ketika melihat seorang yang dia kenali sedang berada di meja restoran, Saga berada di ruang yang berbeda yang hanya dibatasi dengan kaca.
“Pak Li kembali ke kantor dulu sama yang lain, saya akan bawa mobilnya sendiri, saya masih ada urusan” jawab Saga tanpa menoleh ke arah sekertaris Li. Sekertaris Li mengangguk lalu meninggalkan Saga.
Saga duduk di kursi yang berjarak tidak terlalu dekat, dia mengenakan kaca mata hitam agar tidak dikenali oleh orang. Setelah memperhatikan dengan seksama, nampaknya dia mengenal laki-laki yang duduk di meja yang sama dengan gadis itu. Iya, tidak lain tidak bukan adalah Radian, dan gadis itu adalah Ganis, istrinya.
“Mau pesan apa pak?” Saga dihampiri oleh pelayan wanita, Saga terkejut dan pura-pura membuka menu makanan. Baru saja dia makan, tapi jika dia duduk tidak memesan apa-apa, maka akan terasa aneh dilihat banyak orang.
“Ini saja” Saga menunjuk minuman sembarangan.
“Ini saja pak?” tanya pelayan itu lagi.
Saga ingin sekali mendengar apa yang sedang Ganis dan Radian bicarakan, karena mereka saling mengenal di kantor Anaya. Dia yakin jika ada informasi penting tentang Anaya, dan mereka sedang membicarakannya. Selang 10 menit Saga duduk di kursi yang jaraknya agak jauh itu, Ganis berdiri dari tempat duduknya, berpamitan dengan Radian lalu meninggalkan restoran tersebut, sementara Radian sudah bersiap juga meninggalkan tempat itu. Dengan sigap Saga mendekati Radian.
Radian sedikit tersentak tiba-tiba ada sosok yang mencegat langkahlah, laki-laki itu berjas rapi tepat 1 meter berhadapan dengannya. Laki-laki itu membuka kaca mata hitamnya, tanpa menunggu lama Radian mengenali siapa yang ada di depannya saat ini.
“Tuan Saga” Radian membungkukkan diri memberikan hormat.
Mereka duduk di tempat yang sama, Radian kembali duduk di kursinya, sementara Saga menempati kursi yang tadi ditempati oleh Ganis.
“Kebetulan sekali bisa bertemu di sini Tuan” ucap Radian membuka percakapan.
“Bagaimana kabar Anaya? Kamu pasti tahu, karena kamu salah satu orang yang dipercaya oleh dia” Saga langsung ke pokok permasalahan.
Radian terdiam sejenak, pertanyaan yang sama yang dia sendiri belum menemukan jawaban yang benar.
__ADS_1
“Terakhir Bu Ann izin ke Belanda Tuan, tetapi…” Radian menggeleng. “Saya sendiri tidak yakin, Bu Ann seperti sedang berada dalam keadaan yang tidak wajar”
“Maksudmu?” Saga terheran, tangannya memainkan kaca mata hitamnya.
“Biasanya jika jika ada kunjungan ke luar negeri, Bu Anaya akan menjadwalkan secara matang, tapi kemarin itu seperti terburu-buru, tidak ada satupun staff yang diberitahu apakah benar beliau ke Belanda atau tidak”
“Lalu bagaimana dengan perusahaan?”
“Seperti biasa Tuan, semua dihandle oleh wakil direktur”
“Saat meminta saya menyiapkan tiket, saya kira itu adalah tiket bulan madu Tuan dan Bu Ann”
Saga terdiam mendengar penjelasan dari Radian, informasi ini sama dengan apa yang dia peroleh dari informan yang dia utus untuk mencari tahu tentang Anaya, rumah Anaya pun sepi, hanya asisten rumah tangga.
“Lalu bagaimana dengan asistennya?” Saga bersandiwara.
“Ganis?” Radian balik bertanya.
“Hehm” Saga berdehem, bahkan dia lupa jika Namanya adalah Ganis, dia mengucap nama itu terakhir kali saat menikah.
“Dia juga tidak tahu keberadaan Bu Ann, Tuan, karena dia juga sudah tidak bekerja dengan Bu Anaya”
“Jika ada informasi apapun tentang Anaya, hubungi saya!” perintahnya.
“Baik Tuan”
Saga mengendarai mobilnya sendiri, sepanjang perjalanan, yang di pikiran hanyalah Anaya. Apa benar yang diucapkan oleh Radian tadi? Jika Anaya sedang dalam keadaan tidak wajar? Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Anaya? Ataukan benar ini dilakukan karena Anaya belum siap untuk menikah dengannya? Atau Ganis yang membuat rencana ini semua?
Saga menggeleng-gelengkan kepalanya, laki-laki yang terlihat sempurna di mata banyak wanita itu dibuat kalang kabut hanya oleh seorang wanita. Banyak wanita yang terang-terangan menyatakan suka dengannya, namun Saga tetaplah Saga, sekali jatuh cinta pada seorang gadis, pantang baginya untuk merubah hatinya untuk orang lain. Begitu juga dengan Anaya saat ini. Kali ini dia benar-benar merasakan patah hati.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, rate, love, share ke teman lain, hadiah ^^ juga boleh, ehehehe. Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca