Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
Delapan : Malam Sebelum Pernikahan


__ADS_3

Mendung masih saja menggelayut dan nampaknya sudah siap menumpahkan air yang dia tahan. Sementara itu di rumah Saga, Nyonya Rima sedang bercengkerama dengan putranya. Saga sengaja pulang terlebih dahulu untuk menikmati malam sebelum pernikahan. Selain mengecek persiapan di rumah, Saga juga mendapatkan pesan jika Anaya akan berada di rumahnya malam ini.


“Mama tidak menyangka jika kamu mau menikah, mama masih ingat Ketika kamu kecil, saat kamu hanya bisa merengek dan bermain” ujar Nyonya Rima sambil tersenyum, matanya menatap Saga lekat, putra satu-satunya yang tampan dan besok akan segera menikah. Saga hanya tersenyum tipis mendengar mamanya mengenang masa kecilnya.


“Kamu akan segera menikah pria kecilku” Nyonya Rima terkekeh.


“Apa papa baik-baik saja Ma?”


“Iya, meskipun Kesehatan Papa menurun, tapi dia sangat Bahagia menanti hari esok”


“Syukurlah Ma”


“Oh ya, jadi nggak Anaya datang malam ini?”


“Jadi Ma”


“Tidak masalah bagi Mama jika dia ingin datang malam ini untuk persiapan pernikahan kalian besok, tapia gak aneh saja sih menurut Mama, kan rumah kalian juga tidak jauh”


“Mungkin agar bisa mengecek persiapan Ma” Saga menimpali. Sore tadi Anaya mengabarkan jika caon pengantin akan menginap saja di rumah Saga agar mempermudah persiapan untuk besok.


“Iya juga sih, ya sudah nggak apa-apa”


HP Saga berdering,


Honey calling


Dengan sigap tangan Saga menggeser tombol dan mendengarkan lawan bicara,


“Iya, oh kamu sudah di depan sayang? Oke aku keluar ya” ujar Saga tanpa mematikan HPnya, dia masih tersambung dengan lawwan bicaranya. Saga segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan Mamanya, segera dia menuju pintu utama.


Saga membuka pintu dan melihat mobil warna hitam terparkir di halaman rumahnya yang luas, masih dengan pintu tertutup. Saga mendekati mobil tersebut dan membukakan pintu belakang, berharap Anaya akan turun. Saat pintu di buka, alangkah kagetnya dengan apa yang dilihat, bukan Anaya.


“Halo sayang, kamu di mana? Kamu nggak bareng sama asisten kamu?” tanya Saga masih dengan nada tenang.


“Calon pengantin kamu sudah datang Saga” ucap Anaya.

__ADS_1


“Kamu jangan bercanda sayang, kamu di mana?”


Sementara Anaya masih duduk mematung di dalam mobil, dia cukup jelas mendengarkan Saga sedang menimpali seseorang di balik HP, yang dia Yakini orang itu adalah Anaya.


“Aku belum siap untuk menikah Saga, maaf, kita putus. Menikahlah dengan Ganis atau Papa kamu akan anfal begitu saja mendengar kamu gagal menikah besok”kalimat Anaya terdengar jelas di telinga Saga, beberapa detik Saga terdiam tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


“Sayang, ini tidak lucu, please….keluar dari persembunyianmu” Saga menengok ke kanan dan ke kiri, menyapu pandangan ke arah halamannya yang luas, kemudian dia berlari menuju jalanan, tidak ada mobil atau seseorangpun di sana.


“Maaf Saga, aku harus pergi, kamu tidak ada pilihan lain begitu juga dengan aku, menikahlah dengan Ganis”


Tut…tut…tut….


Sambungan telepon sudah berakhir, yang ada hanya Saga yang masih berdiri di tengah halaman yang luas dengan tatapan mata tidak percaya dengan apa yang dia alami sekarang ini.


Pak Maman keluar dari mobil dan mengeluarkan koper dari bagasi, Ganis juga sudah turun dari mobil. Dia berdiri mematung di samping kopernya, sementara mobil yang dikemudikan Pak Maman mulai meninggalkan rumah Saga.


Hujan mulai turun membasahi bumi dan isinya, jarak Saga dan Ganis hanya sekitar 3 meter. Saga menatap Ganis dengan tajam, begitu juga Ganis menatap Saga, hanya saja tatapan Ganis penuh dengan kehampaan karena tidak tahu dengan situasi yang sedang dia hadapi. Hujan mulai membasahi tubuh mereka berdua. Tidak ada percakapan di antara mereka berdua.


Dalam benak Saga, hal gila apa yang sedang melanda dirinya malam ini, perempuan di depannya, perempuan yang sama sekali tidak dia inginkan dalam hidupnya tiba-tiba muncul dengan label “calon


Sementara bagi Anaya, hal gila ini benar-benar nyata di depannya sekarang. Laki-laki angkuh yang tampan, yang parasnya hanya serasi untuk Nona Anaya_nya, kini lelaki yang ada di depannya itu akan menjadi suaminya esok hari.


Masih ada kesempatan untuk melarikan diri dari situasi ini bagi keduanya, akan tetapi banyak hal yang memenuhi pikiran keduanya. Bagi Saga, menggagalkan pernikahan sama saja akan membunuh Tuan Candra. Bagi Ganis, menggagalkan pernikahan akan sama saja dengan dia harus membayar hutang yang mustahil dia lakukan.


Saga meninggalkan Ganis seorang diri dalam guyuran hujan deras yang mengguyur, Saga memasuki rumah dengan keadaan basah kuyup. Nyonya Rima menghampiri Saga dan kaget melihat putranya basah kuyup seorang diri.


“Di mana Anaya?” Nyonya Rima memegang lengan Saga. Saga hanya terdiam dan berdiri mematung, tubuh jangkungnya seolah beku. Sementara air mengalir membasahi lantai yang dia pijak. Nyonya Rima semakin penasaran dengan mimik wajah putranya yang tidak seceria tadi saat mereka bercengkerama.


“Saga…apa yang terjadi?” ulang Nyonya Rima.


“Ma, jika aku tidak jadi menikah, apa yang akan terjadi?”


“Saga…” Nyonya Rima menutup mulutnya terkejut, dia yakin ada yang tidak beres dengan keadaan ini.


“Mbak..mbak Marni, tolong ambilkan handuk untuk Saga” teriak Nyonya Rima.

__ADS_1


Nyonya Rima menuntun Saga dan menyuruhnya duduk, tangannya dengan cekatan mengambil handuk dari Marni sang asisten rumah tangga dan mengusap tubuh Saga dengan handuk.


“Apa yang terjadi Saga? Ceritakan semua ke Mama”


Saga menghela nafas panjang, menatap Nyonya Rima dengan wajah penuh putus asa. Begitu juga dengan Nyonya Rima, setenang apapun dia mencoba menahan diri, tak kuasa juga dia menahan luka hati diperlakukan seperti ini oleh Anaya.


“Apa yang salah denganmu Saga hingga dia tega melakukan ini?” desis Nyonya Rima. Saga memegang kedua kepalanya, mencoba menenangkan dirinya.


“Oh, bagaimana dengan Ganis?” Nyonya Rima baru saja teringat dengan sosok Ganis yang berada di luar. Nyonya Rima berlari ke arah pintu utama, sebelumnya dia mengambil paying yang ada di guci dekat pintu. Dilihatnya gadis itu masih berdiri di samping kopernya, sudah sangat basah kuyup oleh air hujan yang masih turun dengan derasnya.


Nyonya Rima mendekat dan memayungi Ganis, tangan kanannya memegang pergelangan tangan Ganis dan menariknya agar segera masuk ke dalam rumah.


“Kamu pasti kedinginan, ayo kita bicara di dalam rumah” ujarnya.


***


Malam merangkak naik, harusnya malam ini menjadi malam sebelum pernikahan yang menyenangkan. Tapi kenyataannya tidak.


            Nyonya Rima, Saga, dan Ganis sedang berada di ruang keluarga. Nyonya Rima menjadi tokoh sentral dalam pembicaraan kali ini.


“Tidak ada pilihan lain, kalian harus menikah” Nyonya Rima membuka percakapan.


“Tapi Ma…” Saga ingin membantah.


“Saga, pikirkan Kesehatan Papamu. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah membuat rencana agar Papa kamu tidak terkejut dengan semua ini, yang tiba-tiba kamu harus menikah dengan Ganis, bukan Anaya” Nyonya Rima nampak berfikir keras. Sementara Ganis hanya terdiam.


“Baik Ma, demi Papa” dengan berat hati Saga mengalah dan menerima.


“Kamu harus mengaku jika kamu mencintai dia, bukan Anaya, selebihnya Mama akan bicara dari hati ke hati dengan Papa kamu”


Saga hanya terdiam mendengar rencana Mamanya, begitu juga Ganis. Tanpa bicara pun dia juga harus setuju dan harus menikah dengan Saga.


“Kamu Ganis, bekerja samalah, setidaknya bantu kami, bantu keluarga ini” harap Nyonya Rima, Ganis mengangguk pasrah.


Akhirnya drama malam itu berakhir, dan apakah esok hari mereka akan benar-benar menikah?

__ADS_1


Sedihnya author, yang baca novel ini memang belum banyak, tapi sudah tembuh ratusan sih...tapi nggak ada yang like, gratis kok....biar tambah semangat nih nulisnya....ayo donk...bantu author.....


__ADS_2